TKK DOMAIN KOGNITIF — Transcript
Full transcript
- 0:03Oke, bismillahirrahmanirrahim.
- 0:05Asalamualaikum warahmatullahi
- 0:07wabarakatuh,
- 0:09rekan-rekan mahasiswa. Kita akan
- 0:11melanjutkan lagi ya pembahasan mengenai
- 0:14domain dan kali ini kita akan membahas
- 0:17mengenai domain kognitif.
- 0:21Oke.
- 0:23Nah, apa sih domain kognitif itu? Nah,
- 0:27di pembahasan kali ini itu akan membahas
- 0:30domain kognitif atau kadang disebut juga
- 0:32domain pengalaman ya. Intinya adalah
- 0:35usaha memahami manusia dari sisi pikiran
- 0:38dan pengalaman sadarnya gitu. Nah, kalau
- 0:41sebelumnya biologis itu tentang otak,
- 0:43sistem saraf. Kalau di domain ini kita
- 0:45akan bicara bagaimana cara seseorang
- 0:49berpikir, merasakan, menginginkan
- 0:51sesuatu dan memaknai hidupnya sendiri.
- 0:55Dan fokusnya adalah pada pengalaman
- 0:58sadar seseorang dari sudut pandangnya
- 1:00sendiri. Artinya kita tidak menilai
- 1:03orang dari luarnya aja, tapi berusaha
- 1:06memahami bagaimana mereka memandang
- 1:09dunia di sekitarnya.
- 1:14Nah, kita akan lihat bagaimana satu
- 1:17pengalaman bisa mencerminkan seluruh
- 1:20proses kognitif seseorang. Nah, baik itu
- 1:23apa yang dia rasakan dan
- 1:25diperhatikannya, bagaimana dia
- 1:27menafsirkan peristiwa itu dan apa tujuan
- 1:30serta rencana yang ia buat untuk masa
- 1:33depannya gitu ya. Nah, dengan kata lain
- 1:36nanti s cara seseorang berpikir dan
- 1:39memberikan makna pada hidup akan sangat
- 1:41menentukan arah kepribadiannya ke depan.
- 1:47Nah, ini ada pembahasan pertama dulu.
- 1:48kita akan membahas tentang topik
- 1:50kognitif dalam kepribadian gitu ya. Nah,
- 1:54poinnya adalah setiap orang itu berbeda
- 1:56dalam cara mereka berpikir dan
- 1:58menafsirkan pengalaman hidupnya. Ya,
- 2:01ibarat kata dua orang yang sama-sama
- 2:03menghadapi tekanan kuliah. Ada yang satu
- 2:07bilang, "Aku harus lebih semangat
- 2:09belajar, tapi ada yang bilang, "Kayaknya
- 2:11aku enggak bisa deh." gitu. Nah,
- 2:14perbedaan dalam cara menafsirkan
- 2:15peristiwa itu menunjukkan adanya
- 2:17perbedaan proses kognitif. Nah, otomatis
- 2:20juga akan menggambarkan perbedaan dari
- 2:23kepribadian.
- 2:25Nah, yang nantinya juga adalah orang
- 2:28yang menggunakan strategi kognitif yang
- 2:31berbeda juga untuk menyelesaikan
- 2:33masalah. ada yang reflektif ya, ada yang
- 2:37reflektif, ada juga yang suka
- 2:39menganalisis dulu, ada juga yang lebih
- 2:42spontan gitu ya dan juga langsung
- 2:44bertindak gitu. Nah, jadi kalau di
- 2:46domain ini kepribadian itu dilihat dari
- 2:49sifat yang stabil ya. Ingat ya, stabil
- 2:52dan ee di sini menyoroti bahwa bagaimana
- 2:55seseorang itu berpikir menafsirkan dan
- 2:57juga memecahkan masalah dalam kehidupan
- 3:01nyatanya.
- 3:03Nah, di sini kita bahas dulu nih aspek
- 3:05yang pertama dari domain kognitif yaitu
- 3:07ada persepsi. Persepsi itu adalah cara
- 3:10kita menangkap dan memaknai informasi
- 3:13dari lingkungan.
- 3:15Jadi, persepsi ini penting banget. Cara
- 3:18seseorang memaknai lingkungan itu akan
- 3:20mempengaruhi bagaimana ia bersikap dan
- 3:23juga bereaksi.
- 3:25ya. Nah, dari persepsi itu bukan cuma
- 3:30soal melihat sesuatu dengan matanya aja,
- 3:33tapi melihat dengan pikiran dan
- 3:35pengalaman kita sendiri. Nah, kalau
- 3:38teman-teman lihat di sebelah kanan nih
- 3:41ada kubus ya, mungkin sebagian dari
- 3:44kalian merasa bidang merahnya itu berada
- 3:46di depan. Tapi sementara sebagian yang
- 3:50lainnya mungkin melihat bahwa di bidang
- 3:53merah ini itu justru di belakangnya.
- 3:56Nah, jadi menarik ya gambar ini
- 3:58sebenarnya tidak berubah sama sekali,
- 3:59tapi otak kita yang bergantian
- 4:02menafsirkan posisi bidang merahnya itu.
- 4:05Kadang kita melihatnya maju ke depan
- 4:07atau kadang mundur ke belakang. Nah,
- 4:09dari sini kita belajar bahwa persepsi
- 4:12itu bukan sekedar hasil dari stemulus
- 4:14visualnya aja, tapi melibatkan proses
- 4:17aktif dalam otak kita untuk menafsirkan
- 4:20informasi tersebut. Nah,
- 4:25dari otak itu kita selalu berusaha
- 4:27mencari makna membentuk gambaran yang
- 4:30masuk akal gitu ya. Tapi kalau
- 4:33stimulusnya ambigu yang seperti ini gitu
- 4:35ya, interpretasinya pun bisa
- 4:37berubah-berubah. gitu ya. Tergantung
- 4:39lagi pada fokus kita, pengalaman kita,
- 4:42dan harapan kita gitu. Jadi dari Neker
- 4:46Cube ini ya menunjukkan bahwa persepsi
- 4:49itu bersifat subjektif dan juga
- 4:52konstruktif gitu ya. Jadi kita tidak
- 4:54hanya melihat dengan mata, tapi juga
- 4:56melihat dengan pikiran.
- 5:00Oke. Nah, selanjutnya setiap orang itu
- 5:03memiliki perbedaan dalam memberikan
- 5:04persepsi. Perbedaan persepsi ini yang
- 5:07dimiliki dapat menjadi sesuatu yang
- 5:09stabil, konsisten ya, dan terkait dengan
- 5:13ruang lingkup kehidupan lainnya gitu.
- 5:16Jadi cara kita memberi makna terhadap
- 5:18dunia di sekitar kita mencerminkan nih
- 5:20siapa diri kita
- 5:23yang akan diungkapkan di sini sebenarnya
- 5:25ada dua. Kita bahas dulu yang pertama
- 5:28gitu ya, bagaimana sih mengungkapkan
- 5:31kepribadian dari persepsi? Yang pertama
- 5:33di sini ada feel dependence or
- 5:37independence ya. Jadi ini merupakan gaya
- 5:40perseptual atau dengan kata lain cara
- 5:44seseorang mengamati dan memproses
- 5:47informasi dari lingkungan sekitarnya.
- 5:50Nah, dari gaya ini itu bisa memungkinkan
- 5:53sekali gitu ya mempunyai implikasi
- 5:55penting perihal gaya belajarnya seperti
- 5:59apa dan juga nanti pilihan karirnya.
- 6:02Nah, ini yang akan dibahas selanjutnya
- 6:05nanti ada kemudian
- 6:08ada tentang pain tolerance dan sensation
- 6:12reducing. Nah, ini sebenarnya berkaitan
- 6:15dengan yang pembahasan sebelumnya
- 6:19sensation ya. Jadi ini berkaitan dengan
- 6:24ee
- 6:28berbahas tentang bagaimana sih seseorang
- 6:31itu
- 6:33memiliki perbedaan individu dalam
- 6:35kepekaan terhadap rangsangan sensoriknya
- 6:38gitu ya. Kalau kemarin ada yang
- 6:40sensasinya itu dia langsung ee merasakan
- 6:44adanya ee yang menggebu-gebu, tapi ada
- 6:48orang juga yang dikasih stimulus gitu ya
- 6:51atau rangsangan dia beda lagi reaksinya.
- 6:55Nah, perbedaan individu ini yang akan
- 6:57mempengaruhi gitu ya perkembangan
- 7:00perilaku yang bermasalah terkait dengan
- 7:02mencari rangsangan
- 7:05tuh.
- 7:09Nah, di sini ada sebuah tes ya.
- 7:14Di sini ada sebuah tes mengenai
- 7:17test field dependence or independence.
- 7:21Kalau teman-teman lihat di sebelah kiri
- 7:23gitu ya, ee kira-kira jawabannya yang
- 7:26mana? Mungkin teman-teman bisa melihat
- 7:29dari sudut kayak daunnya atau
- 7:32lingkarannya ya. Nah, di sini jawabannya
- 7:35itu yang A.
- 7:37gitu. Nah, sementara kalau misalkan
- 7:40seseorang tuh butuh waktu yang lama gitu
- 7:42ya, merasa bingung karena terlalu banyak
- 7:45garisnya itu lebih ke field dependence
- 7:49gitu ya. Field dependence itu cenderung
- 7:52melihat gambaran sebagai satu kesatuan
- 7:55atau sulit memisahkan bagian kecilnya.
- 8:00Tapi kalau orang yang cenderung memiliki
- 8:04feel independent,
- 8:07mereka itu bisa fokus pada detailnya dan
- 8:09mengabaikan gangguan dari pola di
- 8:11sekitarnya. Kalau teman-teman lihat
- 8:13sebelah kanan ya, itu kan cuman kayak
- 8:15garis gitu ya. Nah, itu bisa
- 8:18mencerminkan bagaimana sih seseorang itu
- 8:20melihat dari sudut gambar satu
- 8:22figural-figural ini gitu. kita coba
- 8:26lanjut lagi.
- 8:32Nah, dari sini gitu ya, kita coba
- 8:35membandingkan di dua field dependen dan
- 8:38juga independen ini kalau ee dua tipe
- 8:42ini kan gaya persepsi yang bukan cuma
- 8:45berpengaruh saat kita melihat gambar aja
- 8:48tadi itu, tapi juga berpengaruh pada
- 8:51cara kita belajar, berinteraksi
- 8:54dan serta memilih pekerjaan bahkan
- 8:57jurusan di perguruan tinggi. Nah, kalau
- 9:00misalkan feel dependent itu cenderung
- 9:04melihat dunia secara menyeluruh,
- 9:06kontekstual. Mereka lebih mudah memahami
- 9:09sesuatu. Kalau ada perihal konteks
- 9:13sosial, ya dia lebih bagus ke interaksi
- 9:17sosial dan cenderung pemilihan jurusan
- 9:20itu yaitu tadi berkaitan dengan hubungan
- 9:23dengan orang lain. Misalkan psikologi,
- 9:26ilmu sosial,
- 9:28komunikasi. dan mereka itu lebih nyaman
- 9:32bekerja dalam kelompok, senang interaksi
- 9:35gitu ya. Nah, dia juga sering meminta
- 9:39pendapat orang lain sebelum mengambil
- 9:41keputusan
- 9:43tuh. Nah, berbeda dengan yang feel
- 9:47independent.
- 9:49independent ini dia cenderung lebih ee
- 9:53analitis,
- 9:55objektif, dan juga mandiri dalam
- 9:58berpikir
- 9:59gitu. Nah, mereka itu suka memecahkan
- 10:03masalah secara logis tanpa perlu lagi
- 10:06nih tanya-tanya pendapat orang lain
- 10:08lagi. Nah, biasanya
- 10:11itu pemilihan jurusannya adalah
- 10:13cenderung menyukai ilmu alam,
- 10:15matematika, dan juga yang teknik gitu.
- 10:20Nah,
- 10:22jadi perlu diingat ya, bukan berarti
- 10:24mereka tidak peduli dengan orang lain,
- 10:27tapi hanya saja ini tuh lebih fokus pada
- 10:30isinya gitu daripada konteks sosialnya.
- 10:35Nah,
- 10:39kita lanjut lagi ke field dependent. Di
- 10:42sini ada root and frame test. Jadi, root
- 10:47ini adalah sebuah batangnya. Kemudian
- 10:51kalau frame-nya ini adalah bingkai
- 10:54perseginya.
- 10:56Lalu tugas masing-masing nih ya
- 10:59mahasiswa untuk menyesuaikan batang mana
- 11:02sih yang ee benar-benar tegak lurus gitu
- 11:06ya. meskipun posisi bingkainya itu
- 11:08miring.
- 11:10Jadi kalau diperhatikan lagi di sebelah
- 11:13kiri
- 11:15itu ada yang field dependent cenderung
- 11:18terpengaruh oleh kemiringan bingkanya.
- 11:20Jadi saat mereka berusaha untuk ee
- 11:24membuat batangnya tegak mereka tanpa
- 11:26sadar menyesuaikan juga nih dengan
- 11:28posisi bingkai yang miring gitu. Nah,
- 11:32tapi kalau yang di sebelah kanan orang
- 11:34yang feel independent itu tidak
- 11:36terpengaruh oleh bingkainya. Mereka
- 11:39justru memusatkan perhatiannya
- 11:42pada batangnya aja.
- 11:44Jadi menyesuaikan agar benar-benar
- 11:46vertikal meskipun tadi bingkainya itu
- 11:50condong ke samping. Nah, ini merupakan
- 11:53tes ya untuk mengukur seberapa kuat sih
- 11:56seseorang itu terpengaruh oleh konteks
- 11:59visual di sekitarnya.
- 12:06Oke. Nah, tadi kita lanjut lagi ke
- 12:08prehal pain tolerance and sensation
- 12:12reducing gitu ya. Ini eh ya sama seperti
- 12:16pembahasan kita kemarin yang sensation.
- 12:18Setiap orang itu ee memiliki perbedaan
- 12:21untuk toleransi rasa sakit yang mereka
- 12:23alami ya. Jadi ee perbedaannya itu
- 12:27penting bagi perkembangan perilaku
- 12:29bermasalah. yang terkait dengan mencari
- 12:32rangsangan. Nah, contohnya kalau di sini
- 12:35itu ada merokok dan juga ee penyelanggah
- 12:40penyalahgunaan
- 12:42narkoba. Nah, tapi teman-teman kalau
- 12:45dilihat dari sebuah gambar di sebelah
- 12:47kanan itu ada yang warna pink sama biru.
- 12:50Nah, yang di pink itu dikasih satu
- 12:53tusukan aja dia bisa teriak.
- 12:56Nah, sampai yang warna biru ini, orang
- 12:59yang biru itu kebingungan kenapa dia
- 13:01teriak gitu. Padahal dia ini punya
- 13:05tusukan biasa aja kan ada beberapa
- 13:09tusukan.
- 13:11Nah, ini sama aja dengan realita kita
- 13:14yang memang setiap orang itu merespon
- 13:17stimulus itu beda-beda. Ada yang dikasih
- 13:19rangsangannya sedikit, ada yang ee ada
- 13:23yang rangsangan sedikit tapi dia
- 13:24langsung sensitif. Tapi ada juga yang
- 13:27responnya itu berlebihan. Jadi, ada juga
- 13:29yang dikasih rangsangan itu lebih, tapi
- 13:32dia merasakan respon yang biasa-biasa
- 13:34aja kayak di contoh gambar ini.
- 13:38Gitu.
- 13:42Nah, tadi kita sudah membahas tentang
- 13:46persepsi
- 13:48mengolah datanya. ee lalu kita
- 13:52coba sensasinya seperti apa. Nah, setiap
- 13:56proses kinerja otak kita akan membawa
- 14:00kita untuk bisa interpretasi informasi
- 14:04apa sih yang kita peroleh gitu ya.
- 14:07Definisi dari interpretasi sendiri itu
- 14:10kan memberikan makna terhadap peristiwa
- 14:12yang kita alami gitu ya. ya. Nah,
- 14:15contohnya misalkan
- 14:18mm teman-teman dikasih nilai C di mata
- 14:22kuliah kalian menafsirkan bahwa ee dosen
- 14:27ini kayaknya enggak suka sama saya deh.
- 14:29Jadinya kalian kesal tuh dan mungkin
- 14:32jadi malas belajar. Tapi kalau kalian
- 14:36punya penafsiran lain, oh berarti saya
- 14:40harus lebih gate lagi belajarnya, lebih
- 14:45punya cara yang lebih efektif yang
- 14:47justru nantinya akan termotivasi
- 14:51gitu. Nah, jadi yang membedakan bukan
- 14:53peristiwanya tapi cara kita nih memaknai
- 14:57itu sendiri. Nah, yang peristiwa yang
- 15:01sama tadi tapi punya makna yang berbeda
- 15:05itu akan mempunyai pertanyaan yang
- 15:07reflektif.
- 15:09Jadi, apa sih sebenarnya arti jadi arti
- 15:12dari kejadian ini gitu ya? Kok bisa
- 15:17gitu? Bagaimana kejadian ini bisa
- 15:19terjadi
- 15:20dan bagaimana sih hasilnya atau
- 15:23dampaknya bagi saya
- 15:26itu?
- 15:29Nah, jadi di sini ada tiga mengungkapkan
- 15:32kepribadian berdasarkan interpretasi.
- 15:35Yang pertama di sini itu ada pembentukan
- 15:38kepribadian Kelly yang akan dibahas
- 15:42di kelompoknya lima. Kemudian ada bahas
- 15:46tentang lokus control ya, bagaimana
- 15:49seseorang itu ee mempunyai persepsi
- 15:55seseorang tentang tanggung jawab atas
- 15:58peristiwa atau kendali dalam hidupnya,
- 16:01baik itu secara internal ataupun secara
- 16:05eksternal. Dan yang terakhir itu ada
- 16:09perihal ketidakberdayaan
- 16:12atau helplessness.
- 16:15kita bahas satu-satu selanjutnya.
- 16:21Nah, yang di sini itu ya kita ee akan
- 16:25bahas mengenai
- 16:27personal konstruk teori dari George
- 16:32Kelly ya menjelaskan bahwa pada dasarnya
- 16:36ee manusia itu pada dasarnya selalu
- 16:39mencari penjelasan untuk setiap
- 16:42peristiwa dalam hidupnya.
- 16:45Ibarat kata itu seperti seorang ilmuwan.
- 16:50Ilmuwan itu kan mencari penjelasan
- 16:52tentang fenomena alam dalam laboratorium
- 16:55gitu ya. Kalau kita mencari penjelasan
- 16:58fenomena dalam kehidupan kita seperti
- 17:00apa sih gitu. Nah, Kelly ini menggunakan
- 17:05istilah konstruk untuk bisa
- 17:07menggambarkan cara seseorang
- 17:10mengkelompokkan, memberikan makna pada
- 17:13pengalamannya.
- 17:15Jadi konstruk ini sebagai kacamata
- 17:18kognitif yang kita gunakan untuk
- 17:20menafsirkan dunia. Jadi kayak kita
- 17:24misalkan ketemu teman baru di kelas
- 17:26gitu, apa yang kira-kira kita yang
- 17:29kira-kira kita perhatikan? Mungkin gaya
- 17:32bicaranya
- 17:33atau cara berpakaiannya
- 17:36atau bahkan sikapnya. Nah, dari situ
- 17:39pasti kalian punya bentuk ee sebuah
- 17:43kesan awal kan. Nah, misalkan kayak
- 17:46kayaknya dia orangnya pendiam deh atau
- 17:49dia kayaknya
- 17:51orangnya ambisius nih gitu. Nah, itu
- 17:54contoh dari bentuk dari personal
- 17:57konstruk gitu ya. Cara otak kita
- 18:00memberikan makna dan memprediksi
- 18:03bagaimana seseorang akan bersikap. Nah,
- 18:06ada ciri konstruk pribadi yang bersifat
- 18:09bipolar. Ini menarik artinya itu selalu
- 18:13punya dua sisi yang berlawanan.
- 18:17Ada orang yang pintar, kemudian ada yang
- 18:19tidak pintar. Ada yang atletis, ada yang
- 18:21tidak atletis. Kemudian ada yang hangat,
- 18:25ada yang dingin, ada yang menarik, ada
- 18:27yang tidak menarik. Jadi saat kita ee
- 18:31menilai seseorang sebagai pintar secara
- 18:33tidak langsung kita sedang membandingkan
- 18:36dengan konstruk sebaliknya yaitu tidak
- 18:39pintar.
- 18:40Oke, dapat. Jadi menurut Kelly di sini
- 18:44itu kepribadian
- 18:46terbentuk dari kumpulan konstruk pribadi
- 18:49yang kita bangun sepanjang hidup
- 18:52tuh.
- 18:54Nah, selanjutnya di sini ada Locus of
- 18:58Control
- 19:00yang dikembangkan oleh Julian Rotter
- 19:04pada tahun 1950-an.
- 19:07Nah, yang nantinya berkembang jadi teori
- 19:10belajar sosial.
- 19:12Kalau dalam teori ini, Julian Rter itu
- 19:15percaya bahwa orang yang belajar itu
- 19:18akan ada ee penguatannya atau
- 19:22inversement.
- 19:24Ya, jadi nanti pembelajaran itu
- 19:25tergantung pada sejauh mana sih orang
- 19:28itu tersebut mengharapkan penguatan
- 19:32gitu ya, bahwa mendapat hadiah berada di
- 19:35bawah kendali mereka.
- 19:37Nah, kalau teman-teman harus tahu juga
- 19:39locus of control ini kan ada dua ya,
- 19:42dari internal dan juga eksternal. Kalau
- 19:45yang internal itu secara singkatnya
- 19:49dia percaya bahwa hasil yang diperoleh
- 19:52itu
- 19:54dalam hidup kita nih ya tergantung pada
- 19:56usaha, kemampuan, dan juga keputusan
- 20:00diri sendiri.
- 20:02Nah, tapi sebaliknya kalau seseorang
- 20:04yang punya
- 20:06locus of control-nya eksternal,
- 20:10dia percaya bahwa segala sesuatu hasil
- 20:13hidupnya itu ditentukan oleh faktor luar
- 20:16seperti nasib gitu ya atau keberuntungan
- 20:20atau karena orang lain. Misalkan kalau
- 20:23misalkan saya gagal itu karena emang
- 20:26sial bukan karena saya jadi menyalahkan
- 20:29orang lain gitu. Jadi bedanya terletak
- 20:32pada cara menafsirkan sebab dari suatu
- 20:36peristiwa.
- 20:38Nah, kemudian di sini ada juga
- 20:41penjelasan mengenai
- 20:44generalized expasi
- 20:47ya. Jadi harapan umum seseorang terhadap
- 20:51hasil dari tindakannya.
- 20:54Artinya ketika seseorang menghadapi
- 20:58situasi baru, dia punya keyakinan umum
- 21:02tentang apakah tindakannya akan
- 21:04mempengaruhi hasil atau tidak.
- 21:07Nah, kalau seseorang terbiasa merasa
- 21:10setiap usaha saya itu biasanya
- 21:13bisa mengubah keadaan, maka dia punya
- 21:17harapan internal dan lokus of
- 21:19control-nya itu internal. Tapi kalau
- 21:23seseorang itu sering berpikir, "Enggak
- 21:26ada yang bisa saya lakuin deh." Semua
- 21:28itu sudah ditentuin gitu ya. Ya, maka
- 21:31harapan umumnya itu adalah eksternal.
- 21:35Jadi, itu yang punya locus of
- 21:37control-nya itu cenderung yang
- 21:38eksternal. Nah, dari sini gitu ya, dari
- 21:41cara berpikir ini terbentuklah
- 21:44pengalaman-pengalaman sebelumnya. Apakah
- 21:47dia merasa usahanya nih selama ini tuh
- 21:50dihargai? atau tidak
- 21:54tuh.
- 21:59Nah, tadi ya kalau misalkan seseorang
- 22:03terus-menerus merasa
- 22:06bahwa semua hal dalam hidup itu
- 22:09ditentukan oleh faktor luar gitu ya,
- 22:12dari nasib, keberuntungan atau orang
- 22:15lain, maka lama-kelamaan muncul perasaan
- 22:18tidak berdaya
- 22:20atau disebut dengan learn helplessness
- 22:23gitu ya atau ketidakberdayaan yang di ee
- 22:27pelajari yang dirasakan. Nah, konsep ini
- 22:31itu dikembangkan oleh Martin Segman
- 22:35gitu ya, melalui eksperimen psikologi.
- 22:39Nah, di sini itu
- 22:42Martin ini dia menggunakan
- 22:46neliti hewan anjing ya. Jadi yang
- 22:48diberikan kejutan listrik gitu ya ee di
- 22:52kakinya ketika dia berusaha untuk bisa
- 22:55melepaskan dirinya
- 22:58si anjingnya itu ya. Nah, karena udah
- 23:01ada pengalaman tersebut tuh ya udah
- 23:03pernah si anjing itu ee dikejutkan pakai
- 23:06setrum gitu ya, setrum listrik ke
- 23:08kakinya. Nah, dari pengalaman tersebut
- 23:12ketika si anjing ini ee diikat pakai
- 23:16tali biasa bukan setrum gitu ya, dia
- 23:19akan tetap stay di sana karena takut
- 23:22ketika dia bergerak dia akan kesetrum
- 23:24lagi gitu. Jadi ini sama kayak kehidupan
- 23:27kenyataan kita yang sering mengalami
- 23:29ketidakberdayaan ini gitu ya. merasa
- 23:32kejebak dalam kondisi tertentu,
- 23:35terkadang juga kejebak situasi yang
- 23:37tidak menyenangkan gitu ya. Yang mereka
- 23:40pikir itu semua di luar kendali mereka
- 23:43gitu ya. Padahal segala sesuatu yang ada
- 23:47di bawah kendali kita gitu ya tanpa
- 23:51mereka bisa merasa tidak berdaya gitu
- 23:53ya. Jadi maksudnya harusnya sih mereka
- 23:56merasa berdaya tuh.
- 24:04Nah, tadi kita sudah bahas mengenai
- 24:08ee persepsi interpretasi gitu ya.
- 24:11Sekarang kita bahas bagaimana
- 24:14seseorang itu bisa menetapkan dan
- 24:18berusaha mencapai tujuan.
- 24:25Nah, karena pada dasarnya setiap orang
- 24:28pasti punya goal ya dalam hidup gitu ya,
- 24:31entah disadari atau tidak. Tapi yang
- 24:35membedakan satu orang dengan orang
- 24:38lainnya adalah bagaimana cara mereka
- 24:40berpikir, bertindak untuk bisa mencapai
- 24:43tujuan itu. Nah, di sini ada dua, ada
- 24:46personal project analysis dan juga
- 24:49cognitive social learning theory,
- 24:53gitu ya. Nah, jadi yang pertama ini itu
- 24:56ya
- 24:57tujuannya itu menentukan diri dan
- 25:00strategi gitu ya. terus ee untuk bisa
- 25:03mengejar tujuan tersebut. Jadi em
- 25:07orang-orang yang mempunyai personal
- 25:10project analisis ini dia itu lebih
- 25:12terstruktur. Dia itu menggunakan tolis
- 25:15untuk bisa mencapai tujuannya
- 25:19gitu ya. Terus kalau misalnya yang
- 25:21cognitive social learning theory gitu
- 25:24ya, ini menggabungkan antara
- 25:27em kognisi cara berpikir dan juga
- 25:30pembelajaran sosial. Adanya harapan ee
- 25:34strategi, kemudian keyakinan terkait
- 25:37dengan kemampuan seseorang yang nantinya
- 25:40kita akan jelaskan di slide berikutnya.
- 25:49Nah, yang di sini adalah
- 25:52ee project personal project analisis
- 25:55gitu ya. Melihat kepribadian dari apa
- 25:57yang orang lakukan dan perjuangkan dalam
- 26:00kesehariannya gitu ya. Nah, di sini tuh
- 26:04lebih kayak melihat apa sih yang sedang
- 26:07kamu usahakan dan bagaimana kamu
- 26:09menjalaninya
- 26:10gitu ya.
- 26:13Jadi ee contohnya gini deh.
- 26:17Mm
- 26:19jadi kalian punya proyek proyek pribadi
- 26:22ya untuk lulus tepat waktu. Nah, cara
- 26:25kalian mengelola proyek itu bisa sangat
- 26:28beda-beda nih. Ada yang sangat
- 26:30terencana, rajin mencatat progres apa
- 26:33aja selama ini. Tapi ada juga yang
- 26:36fleksibel, santai, tapi tetap maju. Ada
- 26:40juga yang sering nunda tapi tetap
- 26:43optimis aja di akhir. Nah, gaya kalian
- 26:47dalam menjalankan proyek pribadi ini
- 26:49sebenarnya menunjukkan kepribadian
- 26:51kalian.
- 26:52Nah,
- 26:54lebih lanjut lagi dijelaskan bahwa
- 26:58kebahagiaan seseorang dalam hidup itu
- 27:01sangat terkait dari cara dia mengelola
- 27:05proyek pribadinya.
- 27:07Orang yang bahagia biasanya
- 27:11merasa mampu mengendalikan proyek
- 27:13pribadinya. Jadi, punya sense of
- 27:16control-nya gitu ya. Tidak merasa
- 27:19terlalu terbebani gitu ya atau tertekan.
- 27:22Punya keyakinan positif bahwa proyeknya
- 27:26itu akan berhasil.
- 27:29Tapi kalau seseorang yang merasa
- 27:32proyeknya di luar kendali misalkan
- 27:34terlalu sulit, penuh tekanan, nah ya
- 27:38udah dia bisa merasa frustasi atau
- 27:41kehilangan e motivasinya.
- 27:48Nah, lanjut lagi kita perihal dengan
- 27:50cognitive social learning theory. Ini
- 27:53kayaknya di pembahasannya
- 27:56kelompok 6 ya.
- 27:58Jadi di sini itu menjelaskan bagaimana
- 28:02sih pikiran, lingkungan, sosial, dan
- 28:05perilaku saling mempengaruhi satu sama
- 28:07lain dalam proses pembelajaran dan
- 28:09membentuk kepribadian.
- 28:12Gitu. Jadi intinya Bandung itu bilang
- 28:15bahwa manusia itu tidak hanya belajar
- 28:19dari pengalaman langsung,
- 28:22tapi juga belajar dari mengamati orang
- 28:24lain. Nah, teori yang paling terkenal
- 28:28juga adalah selfasi
- 28:31atau efikasi diri. Ada yang tahu efikasi
- 28:34diri?
- 28:37Nah, jadi efikasi diri ini keyakinan
- 28:40seseorang bahwa dirinya itu mampu
- 28:43melakukan tindakan tertentu untuk bisa
- 28:46mencapai tujuan tertentunya.
- 28:49Nah, misalkan ya konteks akademik gitu
- 28:52ya, mahasiswa yang punya efekasi diri
- 28:55yang tinggi biasanya dia percaya diri
- 28:57nih untuk bisa menghadapi ujian.
- 28:59Kemudian konsisten belajarnya
- 29:02kemudian punya performa akademik yang
- 29:04lebih baik. Tapi sementara nih kalau
- 29:08misalkan mahasiswa yang efikasi dirinya
- 29:11ee rendah gitu ya, cenderung merasa
- 29:15cepat merasa cemas gitu ya, takut gagal
- 29:20dan akhirnya kurang optimal dalam
- 29:22berusahanya.
- 29:25Nah, sama lagi lebih lanjut yang
- 29:27terkenalnya adalah mengenai efikasi diri
- 29:30itu bisa ditingkatkan melalui adanya
- 29:33proses pemodelan modeling. Mungkin
- 29:36teman-teman tahu juga ya, kita tuh bisa
- 29:38belajar dengan melihat orang lain
- 29:40berhasil
- 29:42seperti itu.
- 29:47Lanjut lagi kita bahas kekonsepan lain
- 29:50yang dikembangkan oleh Carol Dek ya.
- 29:54Theory of mastery orientation.
- 29:58Jadi teori ini bahas bagaimana keyakinan
- 30:01seseorang itu terhadap kecerdasannya
- 30:05bisa mempengaruhi cara dia menghadapi
- 30:07tantangan terutama dalam konteks
- 30:10belajar.
- 30:12Jadi menurut Carol ini setiap orang itu
- 30:16punya pandangan yang berbeda-beda
- 30:19tentang kecerdasan ataupun kemampuan
- 30:22mereka.
- 30:24Jadi ee ada yang berpikiran kecerdasan
- 30:27itu tetap bawaan dari lahir dan enggak
- 30:30bisa diubah. Itu disebut dengan fixed
- 30:33mindset gitu ya atau mindsetnya tetap.
- 30:36Tapi ada juga yang percaya bahwasanya
- 30:39kecerdasan itu bisa berkembang kalau
- 30:42kitanya mau berusaha dan juga berlatih
- 30:46ya. Nah, itu biasa disebut dengan growth
- 30:49mindset gitu ya atau mindset yang
- 30:52berkembang. Ini ada bukunya loh.
- 30:54Barangkali teman-teman udah ada yang
- 30:57tahu ya atau udah ada yang sudah baca
- 31:00juga atau ada yang belum baca ya. Ini
- 31:03bagus sekali pembahasannya.
- 31:06Kita lanjut lagi
- 31:11mengenai
- 31:13dari ee Tory Higins gitu ya. masih
- 31:17berhubungan dengan bagaimana sih
- 31:19seseorang itu ee mengharapkan
- 31:22perilakunya untuk mencapai tujuan.
- 31:26Jadi kalau tadi yang pertama keyakinan
- 31:29diri dari Bandura, mindset dari Du gitu
- 31:33ya. Sekarang kita lihat dari sisi fokus
- 31:35tujuannya
- 31:38yaitu ada regulatory focus theory. Jadi
- 31:42intinya adalah
- 31:45menjelaskan bahwa orang itu bisa berbeda
- 31:49dalam cara mereka berusaha mencapai
- 31:51tujuan.
- 31:53Di sini ada dua jenis regulatory
- 31:56fokusnya.
- 31:58Yang pertama ada fokus promosi ya
- 32:01tentang kemajuan, pertumbuhan dan juga
- 32:05pencapaian gitu ya. Tapi kalau misalkan
- 32:08yang pencegahan dia cenderung menekankan
- 32:11keamanan, stabilitas,
- 32:14kemudian tanggung jawab gitu ya dan
- 32:17lain-lain sebagainya. Jadi mereka itu
- 32:20lebih berhati-hati dan berusaha
- 32:22menghindari kegagalan atau hal negatif.
- 32:26Nah, dua fokus ini sebenarnya enggak ada
- 32:29yang salah ya. Jadi, keduanya itu bisa
- 32:33samasama efektif tergantung konteksnya.
- 32:37Kalau misalkan orang yang ee fokus
- 32:40promosi itu optimis, kreatif ya, mau
- 32:45terbuka pada pengalaman baru. Tapi kalau
- 32:47misalkan fokus pencegahan tadi disiplin,
- 32:50teliti dalam pengambilan keputusan.
- 32:54Jadi ini perbedaan yang menunjukkan
- 32:57kepribadian itu bisa mempengaruhi cara
- 33:00kita merespon tujuan dan situasinya.
- 33:10Kita lanjut lagi
- 33:12ke cognitive social learning theory yang
- 33:16dikembangkan oleh welter
- 33:21miskel missel ya. Nah, ini biasa disebut
- 33:25dengan caps
- 33:28ya.
- 33:30Teori ini menjelaskan bahwa kepribadian
- 33:33seseorang itu tidak bisa dilihat hanya
- 33:35dari diri sifat-sifat tetapnya
- 33:39seperti rama, introvert, perfeksionis,
- 33:42tapi harus dilihat sebagai sistem yang
- 33:44dinamis gitu. Jadi, bagaimana pikiran
- 33:47dan emosi seseorang bekerja bersama-sama
- 33:51saat menghadapi situasi tertentu.
- 33:57Nah, proses kognitif dan efektif ini
- 33:59bisa terdiri dari aktivitas mental
- 34:02seperti konstrual, tujuan, harapan,
- 34:06keyakinan, dan perasaan serta standar
- 34:11pengaturan dirinya, kemampuan, rencana,
- 34:14dan strategi. Ya, ini merupakan komponen
- 34:19utamanya ya dalam CAPS
- 34:23atau enggak CAPS.
- 34:27Nah, selain itu kita akan masuk ke aspek
- 34:33berikutnya. Inteligen
- 34:37kecerdasan.
- 34:38Nah, kecerdasan ini enggak kalah
- 34:40pentingnya nih karena berhubungan
- 34:42langsung dengan cara seseorang berpikir,
- 34:44memecahkan masalah, mengambil keputusan
- 34:47gitu. Nah,
- 34:51ee kita bisa langsung masuk aja ya.
- 34:54perihal intelegensinya. Jadi, ada
- 34:57beberapa pandangan utama tentang
- 34:58kecerdasan. Yang pertama itu ada
- 35:01achievement view of intelligence gitu
- 35:04ya. Ini eh berkaitan dengan pencapaian
- 35:09gitu ya. Pandangan ini menilai
- 35:11kecerdasan itu dari seberapa banyak
- 35:13pengetahuan dan juga keterampilan yang
- 35:16sudah yang berhasil diperoleh seseorang
- 35:19gitu ya. dan ee ini secara relatif gitu
- 35:23ya dan berdasarkan dengan kelompok
- 35:26usianya.
- 35:28Kemudian kalau aptitude view of
- 35:31intelligence-nya
- 35:34kita akan melihat bagaimana
- 35:37the intelligence itu akan dilihat dari
- 35:41sudut pandang keberbakatannya.
- 35:44Kalau di sini itu dijelaskan bahwa pada
- 35:47dasarnya individu itu kan punya
- 35:49kemampuan untuk jadi terpelajar ya. Jadi
- 35:52masing-masing itu punya kemampuan
- 35:54ataupun punya bakat dalam belajar.
- 35:57Nah, untuk melihat aptitude view of
- 36:01intelligence ini itu dibutuhkan tools
- 36:05kecerdasan tradisional
- 36:07atau biasanya kita tahu ada tes IQ, tes
- 36:11psikotes,
- 36:13ya.
- 36:14Nah, kemudian selanjutnya kecerdasan itu
- 36:17bisa dilihat dari faktor tunggal.
- 36:20Teman-teman mungkin ada yang ingat juga
- 36:22di psikodiagnostik
- 36:24general intelligence atau G faktor dari
- 36:28teori siapa?
- 36:31Ingat? Oke, diingat-ingat lagi ya.
- 36:34Selain itu
- 36:36ada
- 36:38inteligen bisa membantu memecahkan
- 36:41masalah. Di sini dijelaskan proses
- 36:44belajar dan mencapai tujuan yang
- 36:48dihargai oleh individu dan budaya dari
- 36:52Howard Garner.
- 36:54Ya, jadi
- 36:56inteligency itu bukan ngomongin lagi
- 36:59akademik aja sebenarnya, tapi ada tujuh
- 37:03jenis kecerdasan yang mempengaruhi
- 37:05seseorang.
- 37:07Nah, itu katanya nanti dibahas ya di
- 37:09psikodiagnostik.
- 37:13Kita lanjut lagi.
- 37:17Nah, di sini ada emosi dan kepribadian
- 37:19yang memang dianggap sebagai keadaan
- 37:23juga sebagai trait. Yang keduanya adalah
- 37:26pola pengalaman, perubahan fisiologis,
- 37:29dan perubahan perilaku.
- 37:34Nah, ini ee dibagi dua ya perbedaannya,
- 37:38Teman-teman. ada yang keadaan emosional
- 37:40dan juga sifat emosional. Kalau misalkan
- 37:43keadaan emosional itu bersifat sementara
- 37:47dan sangat bergantung pada situasi
- 37:50eksternalnya.
- 37:52Misalnya
- 37:56kemarin kemarin itu ee kemarin pagi atau
- 38:00tadi malam misalkan kalian pergi, tapi
- 38:03dalam proses perginya ada berita yang
- 38:06enggak enak nih dari kelompok kalian.
- 38:09Nah, terus kalian kesal jadi enggak
- 38:11mutuh untuk nanti belajarnya. Nah, itu
- 38:14disebut dengan sebagai keadaan
- 38:16emosional.
- 38:19Nah, tapi beda lagi
- 38:21kalau sifat emosional itu ini beda
- 38:24banget ya sama keadaan emosional. Kalau
- 38:27sifat emosional itu dia cenderung stabil
- 38:31ya, menetap, konsisten dari waktu ke
- 38:35waktu.
- 38:40Nah, ada tiga komponen emosi. Di sini
- 38:43ada emosi itu memiliki perasaan
- 38:45subjektif, kemudian disertai dengan
- 38:48perubahan tubuh, ya. Ee kemudian yang
- 38:53biasanya perubahan tubuh itu berkaitan
- 38:54dengan pernapasan, detak jantung,
- 38:56ketegangan otot, dan sebagainya gitu ya.
- 39:00Kemudian biasanya emosi itu disertai
- 39:03dengan kecenderungan tindakan yang
- 39:05berbeda
- 39:07itu ya. Kalau kita bahas sebelumnya,
- 39:09setiap manusia itu punya respon yang
- 39:12beda-beda. Ada yang fight, light gitu
- 39:16ya, ada yang freeze
- 39:18ini.
- 39:22Nah, karena jenis pengalaman emosional
- 39:24itu jadinya beda-beda gitu ya. Ada yang
- 39:27emosinya
- 39:30itu menyenangkan,
- 39:32ada yang tidak menyenangkan.
- 39:34Jadi, emosi
- 39:37ee yang menyenangkan atau tidak
- 39:39menyenangkan itu masuk ke konten-konten
- 39:41emosional nih. Nah, dari ee
- 39:45konten-konten emosional ini nantinya
- 39:47akan diekspresikan dengan gaya-gaya
- 39:50emosionalnya
- 39:51yang merupakan cara khas seseorang
- 39:53mengalami emosi.
- 39:56Nah, nantinya konten dan gaya
- 39:58berinteraksi ini di dalam seseorang itu
- 40:01menghasilkan variasi
- 40:04kehidupan emosional yang berbeda-beda.
- 40:07Nah, makanya kan kalau teman-teman bisa
- 40:09lihat juga ada orang-orang yang mm lagi
- 40:13marah langsung reaktif.
- 40:16Ada yang cenderungnya pasif aja tapi ada
- 40:20juga orang yang lagi marah-marah. dia
- 40:24bisa mengungkapkan secara asertif
- 40:27sehingga setiap orang punya gaya
- 40:30emosional yang beda-beda.
- 40:37Nah, kita udah bahas tentang konsep
- 40:40muncullah self. Tadi kita sudah
- 40:44nyinggung sebenarnya ada self efikasi ya
- 40:46kalau teman-teman masih ingat gitu ya.
- 40:49Ada banyak the self yang harus kita
- 40:51pahami untuk bisa memahami
- 40:55bagaimana karakteristik kepribadian yang
- 40:57dimiliki seseorang.
- 41:00Yang pertama di sini ada self konsep.
- 41:04Jadi kalau kita bicara self konsep,
- 41:06bagaimana kita memahami diri kita
- 41:09mengenai apa yang kita alami, cerita
- 41:13tentang hidup kita gitu ya. dan di mana
- 41:17konsep diri ini dimulai sejak masa bayi
- 41:21ketika anak pertama kali membuat
- 41:24perbedaan antara tubuhnya dengan tubuh
- 41:26orang lain. Jadi konsep diri ini itu
- 41:31akan berkembang melalui kesadaran diri
- 41:35yang berulang-ulang.
- 41:39Nah, kemudian self yang kedua adalah
- 41:42self esteem. Kemampuan seseorang
- 41:45mengevaluasi.
- 41:47Apa sih yang dievaluasi? Yaitu self
- 41:50konsep mereka. Jadi mereka akan menilai
- 41:53nih self-self-nya itu secara negatif
- 41:55atau positif. Yang nantinya self esteem
- 41:59ini juga berkaitan dengan bagaimana cara
- 42:02seseorang
- 42:03menghadapi kegagalan, bagaimana
- 42:07seseorang itu menghadapi rasa malu dan
- 42:11sebagainya.
- 42:15Dan terakhir adalah kita sudah banyak
- 42:17selfasi, self konsep, self esteem. Nah,
- 42:21sudah terbentuk nih self-self lainnya
- 42:23terbentuklah identitas diri kita atau
- 42:27self identity. Ini bagian dari diri kita
- 42:30ya sendiri yang kita gunakan untuk bisa
- 42:32menciptakan pesan supaya orang tahu
- 42:36siapa sih kita dan apa sih yang bisa
- 42:40mereka harapkan dari kita gitu ya.
- 42:43Sehingga kita tahu nih ketika muncul
- 42:45seseorang tubuhnya bagaimana. Ah, ketemu
- 42:48tuh oh si A, si B, si C
- 42:52gitu rekan-rekan semuanya.
- 42:56Itu saja yang saya sampaikan.
- 42:58Mudah-mudahan dapat dipahami.
- 43:02Jika ada yang mau ditanyakan bisa
- 43:05diajukan di
- 43:07grup kelas ya.
- 43:10Terima kasih.
About this transcript
This page contains the full transcript of TKK DOMAIN KOGNITIF by atika rahmania, generated from the public captions YouTube serves with the video. The transcript has 4,211 words across 856 segments, with the original timestamps preserved so you can click any line to jump to that moment in the embedded player.
What you can do with it
Use the transcript to take notes, quote the speaker, build a study guide, generate a summary with ChatGPT or Claude via the YouTube Summary tool, or export it as a timed subtitle file with YouTube to SRT. You can also re-open it in the transcriber to translate the transcript into 100+ languages.
Free YouTube transcript tool
YouTube2Text is a free YouTube transcript generator — no signup, no daily limit. Paste any YouTube link and get the full transcript instantly, with timestamps, click-to-jump, translation to 100+ languages, AI prompts for ChatGPT, Claude, and Gemini, and exports to TXT, SRT, VTT, or Markdown.