Stop Mengeluh! Yang Kamu Benci Hari Ini, Akan Kamu SYUKURI Di Masa Depan! | SUARA BERKELAS #188 — Transcript
Full transcript
- 0:00Pengalaman bukan guru terbaik. Guru
- 0:02terbaik itu adalah keterampilan membaca
- 0:04pengalaman.
- 0:05Wah,
- 0:06keterampilan mengambil pelajaran dari
- 0:08pengalaman. Sebab ada dua orang
- 0:10mengalami pengalaman yang sama, tapi
- 0:12satunya jadi sangat bijak, satunya tetap
- 0:14berjalan di tempat.
- 0:15He.
- 0:16Karena apa? Karena cara dia mengelola
- 0:18pengalaman tidak benar. Kita tuh enggak
- 0:20harus selalu paham dengan takdir yang
- 0:22menimpa kita pada hari ini. Itu penting
- 0:25banget. Sekarang Bang Bilal ingat aja
- 0:27tiga capaian paling Bang Bilal syukuri
- 0:30dalam hidup itu apa? Coba bayangkan tuh
- 0:33saya bisa begini, [musik] saya
- 0:35memperoleh ini, saya ini. Tiga aja.
- 0:37Insyaallah salah satunya ada latar
- 0:40belakangnya adalah takdir yang kita
- 0:41tidak sukai di masa lalu.
- 0:43Wah,
- 0:44cara memandang [musik]
- 0:46Islam seperti orang luar yang baru
- 0:48pertama kali melihat Islam saja itu akan
- 0:50mengubah perspektif kita, akan mengubah
- 0:53semangat kita dalam beragama. Ah, belum
- 0:55lagi beberapa hal yang keliru tentang
- 0:57agama. Bagaimana kita menyerap agama itu
- 1:01hanya sebatas informasi. Jadi kalau kita
- 1:04ditanya, "Siapa Tuhan kamu?"
- 1:07Kita bisa jawab, "Tuhanku Allah gitu."
- 1:10Tapi seberapa pengetahuan itu memberi
- 1:13perubahan bagi kita?
- 1:16Halo semuanya, kembali lagi di podcast
- 1:18Suara Berkelas. Hari ini aku happy
- 1:20sekali karena kita kedatangan tamu
- 1:22berkelas, orang yang bakal bantu
- 1:24teman-teman di sini untuk lebih mindful
- 1:26menghadapi hari-ha hari kalian. Ada
- 1:29Ustaz Fariz Beki. Asalamualaikum, Ustaz.
- 1:31Waalaikumsalam warahmatullah wabakatuh.
- 1:32Masyaallah,
- 1:34Bang Bilal, terima kasih.
- 1:35Terima kasih, Ustaz
- 1:36sudah undang kita di suara berkelas.
- 1:38Masyaallah.
- 1:39Banyak anak-anak muda di zaman sekarang,
- 1:42terutama di daerah perkotaan, Ustaz.
- 1:44Iya.
- 1:45Itu cemas sekali setiap harinya.
- 1:48Padahal karena ada akses internet, kita
- 1:51harusnya tahu dong solusi kecemasan ini
- 1:52harusnya solusinya seperti apa gitu.
- 1:54H
- 1:55tapi kita malah semakin buntu.
- 1:57Iya.
- 1:58Bagaimana Ustaz Faris sendiri melihat
- 2:00fenomena tentang anak muda urban ini
- 2:04dengan kecemasan?
- 2:06Baik. Masyaallah.
- 2:09Kita itu memang enggak didesain untuk
- 2:12menyerap banyak informasi.
- 2:14Justru semakin banyak informasi kita
- 2:16semakin cemas.
- 2:18Makanya kita harus menyaring informasi.
- 2:22Quran enggak bilang kita supaya banyak
- 2:25mendengar, bukan. Tapi bagaimana kita
- 2:28menyaring apa yang kita dengar,
- 2:30memfilter apa yang kita dengar. Jadi
- 2:33konsep bahwa pendengaranmu diminta
- 2:36pertanggungjawaban,
- 2:37lisanmu diminta pertanggungjawaban,
- 2:39penglihatanmu diminta
- 2:40pertanggungjawaban, berarti Allah pengin
- 2:43kamu harus punya penglihatan yang
- 2:44berkelas.
- 2:45Hm.
- 2:46Punya pendengaran yang berkelas.
- 2:48punya lisan yang berkelas. Jadi kita
- 2:50memfilter itu. Bahkan menuntut ilmu pun
- 2:54kita tidak harus menyerap segala
- 2:56sesuatunya. Tidak. Saya belajar dari
- 3:00kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir. Jadi
- 3:03Nabi Musa waktu mau ikut Nabi Khidir,
- 3:05Nabi Musa itu bilang, "Boleh enggak aku
- 3:08belajar sebagian?"
- 3:10Qala lahu Musa hal attabiuka.
- 3:13Ya, Musa berkata kepada Khidir, "Boleh
- 3:15enggak aku mengikuti kamu?" Ya, supaya
- 3:20aku bisa belajar, supaya engkau bisa
- 3:22mengajarkan kepada lituallimani
- 3:24mimmaimta rusyda. Mimma itu ada kata min
- 3:28itu dalam kaidah bahasa Arab menunjukkan
- 3:30sebagian. Kita enggak harus menyerap
- 3:31semua. Nah, makanya dikunci di Quran itu
- 3:34disebut kata rusyah. Sesuatu yang
- 3:36bermanfaat untuk jadi petunjuk bagi
- 3:37kita. Sebab banyak informasi itu sampah
- 3:40gitu loh.
- 3:41Hm.
- 3:43Jadi, Mas Bilal kita cerita sedikit Bang
- 3:45Bilal.
- 3:45Oke.
- 3:47Kita punya ekosistem belajar namanya
- 3:49Iman Path
- 3:50Urban Muslim Life itu
- 3:52itu by riset. Kita meriset perilaku
- 3:54orang-orang urban.
- 3:56apa yang mereka dengar, apa yang mereka
- 3:58tonton, apa yang mereka supaya nanti
- 4:01dakwah kita kepada mereka, bagaimana
- 4:03mereka memandang agama, bagaimana mereka
- 4:05beragama itu benar-benar relevan
- 4:07dengan teks-teks agama tadi.
- 4:10Maka kita lihat misalnya pada saat kita
- 4:12melakukan riset ini, ini tahun 2012.
- 4:14Oke,
- 4:15kita melakukan itu misalnya tayangan
- 4:17infotainment di Jakarta waktu itu sehari
- 4:21semalam itu 52 jam
- 4:23dari semua stasiun TV
- 4:26sehari semalam itu ada 52 jam tayangan
- 4:28infotainment.
- 4:30kebayang ya bagaimana kita mau
- 4:32menciptakan generasi yang ee
- 4:36baik kalau yang mereka dengar mereka
- 4:39serap berita tentang perselingkuhan,
- 4:42perceraian, konflik
- 4:44gitu-gitu. Nah, itu yang didengarkan.
- 4:47Orang tua yang sibuk, ayah mereka kerja,
- 4:50ibu mereka kerja, mereka sama asisten
- 4:52rumah tangga di rumah nontonnya itu.
- 4:54Anak-anak terpapar itu. Nah, mendengar
- 4:57tidak selektif ini menjadi musibah awal
- 4:59bagi kita semua.
- 5:00Sebenarnya begitu.
- 5:03Mengkonsumsi sesuatu tanpa seleksi dulu
- 5:05itu justru menjadi musibah awal. Kalau
- 5:07kata anak sekarang itu information
- 5:09overload ya.
- 5:10Kita justru kebanyakan informasi
- 5:12sehingga kita enggak bisa memilah lagi
- 5:14gitu. atau sesimpel ketika Bilal buka
- 5:17TikTok atau Instagram misalnya
- 5:19itu kan ada konten-konten yang tujuannya
- 5:20bukan Bilal ingin konsumsi tapi emang
- 5:23disajikan oleh mereka tapi kita enggak
- 5:24bisa mengelak
- 5:25kita terus terus
- 5:27konsumsi karena kita enggak bisa
- 5:29berdamai dengan kebosanan ketika kita
- 5:30sendiri
- 5:31i
- 5:31makanya kita jatuh ke lubang yang sama
- 5:34terus gitu ya tapi gimana cara bisa
- 5:37lebih berkelas untuk selektif memilih
- 5:39mana yang baik untuk kita, Ustaz karena
- 5:42sekarang kan banyak sekali informasinya
- 5:43gitu. Ya. Iya. Ya. Tentu saja pertama
- 5:47kita kalau kita melihat ya bagaimana
- 5:52konsep Islam tentang memilih pergaulan
- 5:55gitu kemudian menyerap informasi itu kan
- 5:58berarti kita memang harus ada proses
- 6:01memfilter itu. Itu yang pertama. Yang
- 6:04kedua, dari dalam diri kita juga harus
- 6:05punya imun. Bagaimana ketika
- 6:08konten-konten negatif itu datang, itu
- 6:10tidak mempengaruhi kita.
- 6:12Jadi ee makanya ketika seseorang di
- 6:15masyarakat urban itu ada orang tua yang
- 6:19mendidik anaknya itu dengan sistem
- 6:23gimana sterilisasi anaknya itu dijaga
- 6:26betul jangan bergaul dengan ini, jangan
- 6:27mendengar ini, itu sejauh mana bisa
- 6:30efektif. Tapi ada orang tua yang konsep
- 6:35parentingnya itu imunisasi.
- 6:38kita tinggal milih aja nih mau
- 6:39sterilisasi atau imunisasi dalam
- 6:42pergaulan begitu. Ketika kita dapat
- 6:45memilih itu, misalnya anak-anak
- 6:47pesantren deh ketika di pesantren,
- 6:49bagaimana perilaku mereka ketika
- 6:51liburan, jangankan ketika mereka sudah
- 6:53tamat, ketika liburan saja mereka sudah
- 6:56gimana ketika bertemu dengan itu karena
- 6:58tidak siap.
- 6:59Hmm. Kalau Nabi bilang begini, seorang
- 7:02mukmin yang bergaul dengan manusia
- 7:06lalu dia bersabar dengan perilaku
- 7:07mereka, itu lebih baik daripada seorang
- 7:10muslim yang tidak bergaul karena tidak
- 7:12sabar dengan perilaku mereka.
- 7:14Hm.
- 7:14Dari hadis ini saya belajar bahwa pola
- 7:17pendidikan yang imunisasi itu lebih
- 7:21efektif daripada sterilisasi.
- 7:24Di era begini itu harus begitu. Jadi,
- 7:26bagaimana kita membuat diri kita itu
- 7:28punya imun ketika terpapar hal-hal yang
- 7:31begitu.
- 7:32I
- 7:32hal-hal yang negatif itu bukan cuma
- 7:35secara kasat mata langsung kita lihat,
- 7:36oh ini tidak baik.
- 7:37He.
- 7:38Tapi ada yang dikemas mem-mem yang
- 7:40kelihatan bagus tapi bertentangan dengan
- 7:42akidah.
- 7:43Hmm. Ya,
- 7:44itu ternyata jadi racun bagi kita. H
- 7:46dan itu racun banget gitu. Misal, misal
- 7:50satu contoh kita kasih.
- 7:53Selama ini orang-orang banyak yang
- 7:55menyebutkan bahwa ee
- 7:59usaha tidak mengkhianati hasil.
- 8:00Iya,
- 8:02itu hoax ya. Karena sering banget kita
- 8:05nih dikhianati oleh usaha
- 8:09gitu.
- 8:10Konsep dalam Islam benar enggak seperti
- 8:12itu? Nah, kalau terpapar terus-menerus
- 8:14seperti itu, itu kan membuat seseorang
- 8:17ketika dia merasa dia sudah berusaha
- 8:18maksimal lalu dia sukses, dia pasti
- 8:22terjebak pada kesombongan.
- 8:23Hm.
- 8:24Karena ini hasil usaha gue gitu loh.
- 8:26Iya.
- 8:26Tapi kalau dia
- 8:29gagal, dia akan bilang, "Dunia enggak
- 8:30adil."
- 8:31Hm.
- 8:31Karena dia sudah serius, dia sudah
- 8:34menyiapkan segalanya dengan baik. Tapi
- 8:36kok hasilnya seperti ini? Kita sering
- 8:39dengar, aku sudah jadi orang baik di
- 8:41kantor, tapi kok difitnah.
- 8:43Emang siapa yang menjamin kalau kamu
- 8:45jadi orang baik, kamu tidak akan kamu
- 8:48akan bebas dari fitnah?
- 8:49Ya,
- 8:50aku sudah sungguh-sungguh, kenapa aku
- 8:52bisa gagal? Siapa yang menjamin bahwa
- 8:54sungguh-sungguh itu pasti pasti gagal?
- 8:57Ah, hal-hal seperti itu filter paling
- 9:00kuat dalam diri kita itu keimanan.
- 9:04Hm.
- 9:04Tauhid, konsep wahyu. Karena itu enggak
- 9:07mungkin salah.
- 9:09kita kalau menjadikan ukuran sesuatu
- 9:10yang berubah-ubah itu kita enggak bakal
- 9:13bisa ee bisa konsisten.
- 9:16He.
- 9:17Kalau Bang Bilal parkir mobil di
- 9:21tanjakan misalnya ya,
- 9:23terus habis itu mau lihat mobilnya
- 9:25mundur apa enggak.
- 9:26Itu kan kita jadi patokannya adalah
- 9:28pohon atau pagar rumah. Sesuatu yang
- 9:30diam.
- 9:31Jadi kita mau melihat satatu itu sesuatu
- 9:32yang diam. Nah, yang diam yang tidak
- 9:34berubah itu Allah.
- 9:35Hm.
- 9:35Yang tidak berubah itu aturan agama.
- 9:38Kalau ukuran kebaikan manusia, ukuran
- 9:40kesuksesan manusia, kita akan formo,
- 9:44kita akan anxiety, kita akan
- 9:45overthinking. Tapi kalau kita menjadikan
- 9:48sesuatu yang tepat tadi, oh itu imun.
- 9:50Hm.
- 9:51Jadi menjadikan ini sebagai ee apa ya?
- 9:53Tonggak.
- 9:55Iya.
- 9:55Ukuran segala sesuatu itu.
- 9:57Iya. [tertawa] Iya. Dalam tanda kutip
- 9:59imunisasi ini atau punya keimanan yang
- 10:02kuat itu bikin kita even ketemu dengan
- 10:05sesuatu yang buruk, even ketemu di
- 10:06lingkungan yang toksik, kita siap gitu.
- 10:09Kita punya ketahanan mental yang beneran
- 10:11kuat sekali
- 10:12daripada dari awal langsung memutuskan,
- 10:14"Wah, dia jahat, ini yang buruk sekali."
- 10:17Tapi hal-hal yang terjadi di zaman
- 10:19sekarang justru kadang orang memolesnya
- 10:21itu dengan kacamata positif,
- 10:24konten-konten yang sangat-sangat baik
- 10:25gitu. Padahal pelan-pelan itu
- 10:27menggorogoti hati dan jiwa kita ya.
- 10:29Iya.
- 10:29Dan di situlah butuh imunisasi kita.
- 10:31Oh iya. Iya. Itulah gunanya bagaimana
- 10:34keimanan itu berdaya.
- 10:36Hm.
- 10:37Di mana dia berenergi menghadapi hal-hal
- 10:39yang kita lihat dikemas dengan baik.
- 10:41Ternyata itu racun.
- 10:43H.
- 10:43Itu yang paling penting.
- 10:45Tadi Bilal menarik karena tadi Ustaz
- 10:49menggali tentang relevansi ya dan beliau
- 10:51penasaran untuk membahas itu tentang
- 10:54pendekatan dakwah mungkin. He he.
- 10:56Tadi ada urban research juga ya.
- 10:58Iya. Iya.
- 10:59Yang dari 2012 mencari tahu tentang oh
- 11:02ternyata infotainment itu gampang sekali
- 11:04dikonsumsi dalam jangka waktu yang
- 11:06sangat lama. Even dalam sehari bisa
- 11:07ditotali 52 jam gitu ya. I.
- 11:10Nah, berjalan waktu sejak riset itu
- 11:13sampai di jam di era sekarang, bagaimana
- 11:15pendekatan relevannya ustaz berdakwah
- 11:17dengan teman-teman Ustaz sendiri yang di
- 11:19mana bisa lebih mudah dipahami oleh
- 11:21teman-teman yang menonton ini gitu.
- 11:22Iya. Jadi kita tuh bikin ada tiga poros
- 11:26riset. Poros yang pertama itu bagaimana
- 11:30kita melihat kehidupan orang urban itu
- 11:32seperti apa. Dan itu unik-unik banget.
- 11:35Termasuk temuan tentang 52 jam tayangan
- 11:37infotainment.
- 11:38Hm.
- 11:39Temuan lain misalnya
- 11:42berapa lama sih anak-anak di Jakarta itu
- 11:45ketemu sama ayahnya?
- 11:47Wah menarik tuh.
- 11:48Kan kita kalau lihat daerah-daerah
- 11:51penyangga seperti Depok.
- 11:53Bogor, Tangerang, Bekasi. Itu
- 11:55orang-orang tua mereka itu sudah pergi
- 11:58itu pagi banget. Kadang anaknya belum
- 12:00bangun. Pulang nyampai ke rumah juga
- 12:02sudah malam. Jadi ketemu itu cuma kurang
- 12:05dari 2 jam waktu itu.
- 12:08Itu pun ketika pulang masih buka laptop,
- 12:10masih cek email, masih urusan pekerjaan.
- 12:13Jadi ada jutaan anak yatim secara the
- 12:16jur ya.
- 12:17Iya.
- 12:17Walaupun secara de facto ayah mereka
- 12:19ada.
- 12:19Iya. [tertawa] Iya. Dan ini ternyata
- 12:21musibah besar lagi gitu. H
- 12:23ketidakhadiran sosok ayah dalam
- 12:25pendidikan itu kan musibah lagi.
- 12:29Jadi ini problem-problem apa yang mereka
- 12:31baca, gimana mereka di jalan, gimana
- 12:34mereka di kantor itu kita baca. Jadi by
- 12:37riset.
- 12:38Hasil riset dari poros pertama ini kita
- 12:40bawa ke teman-teman sarjana agama. Kalau
- 12:44yang tadi kita melibatkan sarjana
- 12:45sosiologi, psikologi gitu ya.
- 12:49lalu dibawa ke poros riset yang kedua.
- 12:52Kita bilang ke teman-teman ya,
- 12:53teman-teman tamatan dari Alazhar, dari
- 12:55Libia, dari Madinah waktu itu. Ini
- 12:58problem orang kota-kota besar.
- 13:01Hm.
- 13:02Kalau kamu bilang Islam itu sebagai
- 13:04solusi, mana solusinya dari Islam, dari
- 13:07problem-problem ini?
- 13:09Lalu ketika dikumpulin hadisnya,
- 13:11ayatnya, loh ini mereka sudah akrab.
- 13:15mereka tuh sudah dengar gitu loh. Misal
- 13:17di Jakarta itu sangat kompetitif di
- 13:20kantor bagaimana urusan ee pekerjaan dan
- 13:23seterusnya. Terus ayatnya bagaimana kita
- 13:26bersikap kooperatif. Watawanu alal birri
- 13:29wat taqwa. Saling tolong-menolonglah
- 13:31dalam kebaikan, dalam ketakwaan. Ayat
- 13:34ini mereka sudah dengar.
- 13:35H
- 13:36atau sulit sekali nyari orang tulus.
- 13:39Segala sesuatu itu pasti ada maunya. Oh
- 13:41hadisnya innamal amalu bin niat. Hm.
- 13:44Amal itu tergantung dengan niatnya.
- 13:46Gimana kita melakukan karena Allah
- 13:47Subhanahu wa taala. Hadis-hadis,
- 13:50ayat-ayat yang mereka dapat, yang mereka
- 13:52sampaikan ini, kumpulkan ini, ternyata
- 13:55ayat-ayat dan hadis-hadis yang sudah
- 13:56biasa mereka dengar. Berarti ada gap
- 13:59dong antara kehidupan mereka dengan teks
- 14:02agama.
- 14:02I
- 14:03gap inilah kita bangun path. Makanya
- 14:05iman path kita sebut.
- 14:07Oh, oke.
- 14:08Nah, gimana membangun path itu?
- 14:12dengan cara mengemas ulang. Gimana kita
- 14:15mengemas ulang hadis innamal a'mal
- 14:18binniat ini biar nyampai ke mereka.
- 14:21H
- 14:22urusan repackaging. Nah, ini kita bawa
- 14:24ke poros ketiga itu sampai kita
- 14:26melibatkan orang advertising.
- 14:28Hm.
- 14:28Gitu ya. Sampai orang-orang media gitu.
- 14:31Gimana kita mengemas itu? Kemasan ini
- 14:33penting Mas Bilal. Tapi banyak orang
- 14:34yang tidak memperhatikan ini secara
- 14:37baik.
- 14:39Coklat itu paling terkenal dari mana?
- 14:41dari Swiss.
- 14:42Swiss.
- 14:43Di Swiss itu enggak ada sebatang pohon
- 14:45coklat pun. Iya.
- 14:47Jadi mereka ambil murah dari Brazil,
- 14:49dari Ethiopia, dari kita juga.
- 14:52Lalu kemudian direpackaging sama mereka.
- 14:55Dibuat bentuk hati, dibuat ini, dibuat
- 14:58kemasan buat Valentine, dibuat begitu
- 15:01sama mereka. Lalu dijual kan gitu.
- 15:03atau ikan di wartek dengan ikan di Hotel
- 15:06Bintang sama gedenya, nama ikannya sama
- 15:09gitu ya, hidup di laut yang sama. Tapi
- 15:12harga begitu.
- 15:14Lebih lebih gampangnya begini
- 15:17kita dulu ya, saya enggak tahu nih era
- 15:19Bang Bilal nih, kalau kami dulu sakit
- 15:21masih kecil, orang tua itu akan membelah
- 15:24parasetamol itu.
- 15:26He.
- 15:26Lalu dihancurin ke sendok gitu ya. Kita
- 15:28disuruh minum obat gitu ya. Kita enggak
- 15:31mau karena kita tahu itu pahit.
- 15:32Iya. Walaupun orang tua kasih tahu
- 15:35manfaatnya, H
- 15:36tapi kita enggak mau. Nah, produsen obat
- 15:39sekarang dengan sangat kreatif membuat
- 15:41kontennya sama, isinya sama, tetap
- 15:43parestamol, tapi dibuat rasa jeruk, rasa
- 15:46stroberi, rasa
- 15:47anak saya satu sakit, yang satunya mau
- 15:49juga kan gitu tuh.
- 15:52Nah, banyak orang yang melihat agama itu
- 15:54seperti saya dulu melihat parasetamol
- 15:57hmm
- 15:58pahit gitu loh. Agama itu beban
- 16:00membebani mereka. Enggak enak bagi
- 16:03mereka. Gimana sih kita mengemas hadis
- 16:06tolongmenolonglah kamu? Ee ayat wat
- 16:09taawanu al bir wat taqwa ini rasa jeruk.
- 16:12Gimana kita menggemas ee apa ya berbuat
- 16:17tulus itu rasa stroberi.
- 16:20Bersabarlah kamu. Minta pertolonganlah
- 16:22kepada Allah melalui salat dan sabar
- 16:25sehingga ini nyampai kepada mereka. Ini
- 16:27pentingnya pengemasan. Ini yang kita
- 16:28lakukan. Jadi sebenarnya dakwah yang
- 16:30kita kemas itu kekuatannya pada
- 16:32repackaging itu.
- 16:34Hmm. Dari perjalanan keilmuan Ustaz
- 16:36sendiri ya,
- 16:38ada enggak momen di mana banyak anak
- 16:40muda sekarang tuh keliru terhadap Islam
- 16:43tuh
- 16:44sehingga Ustaz ng package itu agar mudah
- 16:47diterima?
- 16:48Kalau ada mungkin ada satu studi kasus
- 16:50yang menarik yang aku kepo banget,
- 16:52Ustaz.
- 16:54Ya, pertama melihat cara mereka melihat
- 16:57Islam aja itu harus benar dulu. Saya
- 16:59berikan ee dua analogilah.
- 17:02Ada seorang anak dari kampung karena
- 17:05pintar gitu ya, tamat dari pesantren,
- 17:08nilainya bagus, dapat beasiswa kuliah di
- 17:11luar. Saya kuliah di Kairo gitu ya.
- 17:13I
- 17:14terus dia pertama kali nih ke luar
- 17:15negeri bahkan pertama kali ke kota
- 17:17besar.
- 17:19Perjalanannya transit di kota Dubai.
- 17:22Pertama kali dia lihat Dubai, dia wih
- 17:24kok ada dunia seperti ini
- 17:26kok megah banget kok gedung-gedung bagus
- 17:28begini. Bisa orang bikin begitu. Satu
- 17:31lagi adalah anak orang Dubai sendiri
- 17:35yang sudah lahir di situ, besar di situ.
- 17:37Setiap hari dia ngelihat itu yang mereka
- 17:39lihat objeknya sama.
- 17:41Hm.
- 17:42Tapi bagi orang Dubai tadi ini biasa aja
- 17:45memang begini kehidupan. Tapi bagi orang
- 17:47yang pertama kali melihat karena ada di
- 17:48kampung tadi dia ngelihat segitu gitu.
- 17:50Nah, gimana kita jadi orang kampung dulu
- 17:52untuk melihat kemegahan Islam?
- 17:54Hm.
- 17:55Kita dari kecil karena melihat Islam
- 17:58tentang konsep kebersihannya,
- 18:00anggota-anggota wudu yang
- 18:01dibersihkannya,
- 18:03bangun tidur waktunya bagaimana di
- 18:05diatur, itu sebenarnya megah banget.
- 18:08Tapi karena dari kecil kita ngelihat
- 18:10itu, kita enggak merasa ini suatu yang
- 18:13luar biasa. Nah, kita tuh pengin orang
- 18:15ngaji itu lihat, "Wah, ternyata Islam
- 18:17tuh Dubai banget ya." Kira-kira gitu. I.
- 18:19Nah, kita melihat kemegahan itu. Cara
- 18:23memandang Islam dengan ee seperti orang
- 18:27luar yang baru pertama kali melihat
- 18:29Islam saja itu akan mengubah perspektif
- 18:31kita, akan mengubah semangat kita dalam
- 18:33beragama. H
- 18:35ah.
- 18:35Belum lagi beberapa hal yang keliru
- 18:37tentang agama.
- 18:39Kelirunya mungkin begini. Bagaimana kita
- 18:43menyerap agama itu hanya sebatas
- 18:45informasi.
- 18:47Jadi kalau kita ditanya siapa Tuhan
- 18:49kamu?
- 18:50H
- 18:51kita bisa jawab Tuhanku Allah gitu. Tapi
- 18:54seberapa pengetahuan itu memberi
- 18:57perubahan bagi kita?
- 19:00Mar rbuka. Siapa Tuhanmu? Rabb itu kan
- 19:02Tuhan yang mengatur segala sesuatu. Tapi
- 19:05dalam kehidupan kita ingin mengatur,
- 19:07kita ingin mengontrol segala sesuatu.
- 19:09Itu membuat kita lupa siapa kita. Dan
- 19:12itu sumber segala kecemasan dalam hidup.
- 19:16kita tuh enggak bisa ngatur apa-apa,
- 19:17Mas. Saya bilang
- 19:18ya.
- 19:19Kita bisa ee mengatur dalam diri kita
- 19:22saja itu sudah keren banget.
- 19:23H
- 19:24anggota-anggota tubuh di dalam diri kita
- 19:26itu bekerja secara autopilot. Orang
- 19:29bilang jantung kita memompa, ginjal kita
- 19:33menyaring, lambung kita menggiling.
- 19:36Itu siapa yang ngatur? Bukan di bawah
- 19:39kendali kita. 87% organ di dalam ini
- 19:42bekerja secara autopilot.
- 19:44Hm. kata orang sekarang, tapi enggak
- 19:47mungkin dia bekerja sendiri kan ada yang
- 19:49mengatur itu. Tapi kenapa kita mau
- 19:51mengatur yang lebih besar? Kenapa kita
- 19:53ingin mengendalikan segala sesuatu?
- 19:55Orang tua menjadi cemas bahwa anakku
- 19:57nanti 3 tahun lagi biar bisa diterima di
- 19:59sini, dia harus sekolah di sini. Oh, dia
- 20:02punya tabungan segini dia kan begitu.
- 20:04Itu cara kita menempatkan diri kita
- 20:07siapa?
- 20:09Itu adalah cara kita memandang agama
- 20:13secara keliru. Agama itu kan intinya
- 20:16adalah
- 20:17membuat kita merasa paling hamba,
- 20:21membuat kita berada pada posisi yang
- 20:23benar. Sebenarnya kita ini siapa? Biar
- 20:26kita tahu kelemahan kita apa, wilayah
- 20:28kita di mana, wilayah Allah di mana.
- 20:32Kita kalau mau campur tangan urusan
- 20:34Allah, kita bakal pusing.
- 20:36Hmm.
- 20:37Misalnya begini, ibu-ibu
- 20:41habis jemur pakaian, pakaiannya itu ya
- 20:45baru mau kering, tiba-tiba hujan. Mereka
- 20:47lagi asik ngobrol, mereka tuh pada
- 20:50susah bilang, "Aduh, hujan lagi, jemuran
- 20:53mau kering lagi." Itu kenapa mereka
- 20:55susah? Mereka mengatur urusan Allah.
- 20:57Nurunin hujan itu urusan Allah, bukan
- 20:59urusan kalian.
- 21:00Hm.
- 21:01Urusan mereka ringan banget ngangkat
- 21:04jemuran.
- 21:04Iya. Cuma itu loh. Nah, kita tuh sering
- 21:07enggak tahu mana wilayah kita, mana
- 21:08wilayah Allah.
- 21:09Iya.
- 21:10Nah, tauhid itu mengatur itu. Maka
- 21:13ketika Bani Israil dikejar oleh Firaun,
- 21:16di depan mereka ada laut, mereka bilang,
- 21:18"Eh, kita tamat ini. Innal mudrakun.
- 21:21Kita tamat. Sudah selesai Firaun di
- 21:22belakang." Kata Nabi Musa, "Enggak, aku
- 21:24punya Tuhan."
- 21:26Innabi sayahdin. Tuhanku pasti akan
- 21:28kasih aku jalan keluar di situ. Jadi
- 21:32tahu bahwa posisi kita sebagai hamba,
- 21:34Tuhan nyuruh kamu lari. Tuhan nyuruh
- 21:36kamu menyelamatkan diri. Kalau nanti ada
- 21:39sesuatu di luar kendalimu, biar urusan
- 21:41Tuhan yang bekerja, gitu. Jadi melihat
- 21:44segala sesuatu dari kacamata tauhid itu
- 21:46mewah.
- 21:48Hm.
- 21:48Jadi saya ngelihat Ka'bah dengan melihat
- 21:51COVID-19
- 21:53dari kacamata tauhid. Itu yang saya
- 21:54ajak, Teman-teman. Karena ada pesan
- 21:56tauhid di segala sesuatu.
- 21:58Hmm.
- 21:59Kita lihat Ka'bah, rumah Allah. Kebayang
- 22:03enggak, Bang Bilal,
- 22:05kenapa sih Allah buat rumahnya di bumi?
- 22:08Allah kan enggak butuh rumah di bumi.
- 22:10Iya.
- 22:11Nah, tapi Allah buat itu untuk manusia.
- 22:13Di Quran Allah sebutkan, "Kami buat awal
- 22:17bangunan di bumi ini adalah Ka'bah. Itu
- 22:20untuk manusia, bukan untuk Allah.
- 22:23Kenapa? Bukankah Allah dekat? Kita bisa
- 22:27minta kepada Allah di mana saja. Tapi
- 22:29kenapa harus melakukan perjalanan jauh
- 22:31ke Makkah? Kenapa?
- 22:32H
- 22:33karena kita adalah makhluk yang juga
- 22:35terdiri dari entitas fisik. Kita bukan
- 22:37cuma jiwa, kita bukan cuma akal.
- 22:40Kita adalah makhluk yang terdiri dari
- 22:41tulang, dari daging, dari otot. Maka
- 22:44kita butuh merasakan pengalaman fisik
- 22:47menuju Allah.
- 22:48Hmm. H
- 22:49ah Allah buat itu supaya hidupmu
- 22:51berpusat semuanya kepada Allah Subhanahu
- 22:53wa taala. Bahkan Allah menempatkannya di
- 22:55Makkah. Emangnya Allah enggak mampu
- 22:58membuat Ka'bah ini di Swiss?
- 23:00Hm.
- 23:02Tempat yang hijau, dingin, kan? Kenapa
- 23:05dibuat di Makkah? Enggak ada estetika
- 23:07fisiknya sama sekali.
- 23:08Hm.
- 23:09Supaya enggak tercampur antara orang
- 23:11yang pengin wisata dengan orang yang
- 23:12pengin Allah Subhanahu wa taala.
- 23:14Hm.
- 23:15Itu pesan tauhidnya. Jadi kita bukan
- 23:17cuma melakukan perjalanan umrah,
- 23:19perjalanan haji, tidak. Apa pesan tauhid
- 23:21di balik itu?
- 23:21Hm.
- 23:22Covid-19 juga begitu. Dari mana pesan
- 23:25tauhid Covid-19?
- 23:28Misal kita tahu belajar, menurut saya
- 23:30pelajaran tauhid sangat besar dari COVID
- 23:33itu adalah pelindung sejati kita itu
- 23:35adalah Allah Subhanahu wa taala. Pada
- 23:38saat pandemi kemarin, ada orang-orang
- 23:41sangat disiplin pakai masker, menjaga
- 23:44protokol kesehatan gitu. Tapi kena
- 23:46COVID. Tapi Bang Bilal lihat orang. Saya
- 23:50ke Aceh ketika pandemi itu tiga kali.
- 23:52Oh iya.
- 23:53Itu di Aceh seperti enggak pandemi.
- 23:55Iya. Lagi
- 23:56malam malam lama gitu enggak kena mereka
- 23:58aman gitu loh. I.
- 24:00Nah itu bahwa
- 24:01pelindung sejati itu adalah Allah.
- 24:03H
- 24:04gitu. Tapi nanti kita akan kena nanti.
- 24:06Oh kalau gitu kita enggak usah berusaha.
- 24:07Itu bab lain ya.
- 24:08Kita akan lihat bahwa kamu sudah
- 24:10berhati-hati pun kalau Allah bilang
- 24:11kena, kena.
- 24:12Tapi urusan pakai masker itu kewajiban.
- 24:14Kalau enggak pakai kita berdosa.
- 24:16H
- 24:16itu urusan lain. Tapi ini urusan
- 24:19bagaimana kita memilah mana wilayah
- 24:20kita, mana wilayah Allah.
- 24:23Satu lagi pelajaran COVID adalah
- 24:25penyembuh sejati adalah Allah.
- 24:29Puluhan juta, ratusan juta orang terkena
- 24:31COVID dan sampai hari ini obat COVID itu
- 24:33enggak ditemukan.
- 24:35H
- 24:35tapi 91% sembuh. Allah ingin kasih tahu
- 24:38yang ngasih sembuh itu aku, bukan obat.
- 24:41Kamu kalau sakit wajib berobat. itu
- 24:43syariat, itu bentuk ketaatan. Tapi yang
- 24:46menyembuhkan adalah Allah. Ini banyak
- 24:49banget bukti dalam kehidupan dan ini
- 24:50juga membantah usaha tidak mengkhianati
- 24:52hasil.
- 24:53Hmm.
- 24:54Ya, contoh dua orang, satu dari keluarga
- 24:58mampu, satu dari keluarga biasa. Ketika
- 25:01dia sakit, yang satu bisa pergi ke rumah
- 25:04sakit yang paling bagus, ke dokter yang
- 25:06paling terkenal, ya dengan penanganan
- 25:08medik yang paling mutakhir, tapi
- 25:10meninggal dunia.
- 25:12Hm. Satu lagi karena enggak mampu dia
- 25:14cuma bisa beli obat-obat herbal. Dia
- 25:16beli minum rebusan daun apa gitu terus
- 25:19sembuh. Lalu orang bilang, "Oh, kalau
- 25:21sakit A enggak usah ke rumah sakit minum
- 25:25ini aja." Oh, enggak.
- 25:27Iya.
- 25:27Berobat itu wilayahmu, tapi menyembuhkan
- 25:30itu wilayah Allah.
- 25:31Hm. H
- 25:32menurut saya kalau kita dapat
- 25:34memilah-milah mana wilayah kita dan mana
- 25:36wilayah Allah itu sudah selesai
- 25:40urusan-urusan
- 25:41ee isu-isu kesehatan mental itu bekerja
- 25:44dalam diri kita. Makanya kita sampai
- 25:47nanti kalau kita benar tauhidnya kita
- 25:50sampai kepada kesimpulan yang menarik
- 25:52bahwa
- 25:54ada masalah dalam keimananmu sampai kamu
- 25:58merasa bahwa kamu adalah orang yang
- 26:00paling bahagia di dunia. Enggak ada
- 26:02orang yang lebih bahagia dari kamu,
- 26:03kecuali dia lebih kenal Allah dibanding
- 26:05kamu.
- 26:06Hm.
- 26:06Dia lebih bagus tauhidnya dibanding
- 26:08kamu. Enggak ada itu. Enggak mungkin
- 26:10ada. Jadi saya yakin bahwa saya adalah
- 26:13orang yang paling bahagia. Yang bisa
- 26:14ngalahin saya adalah orang yang lebih
- 26:16kenal Allah dibanding saya. [tertawa]
- 26:19Wah. Saya catat poin-poin penting,
- 26:22Ustaz. Yang pertama, saya penasaran
- 26:24sekali konsep bahwa agama itu membuat
- 26:27kita merasa paling hamba. Kan?
- 26:29Iya.
- 26:30Apakah dalam konteks Islam sendiri
- 26:32ketika kita salat, kita ada sujudnya
- 26:35Heeh. Heeh.
- 26:35Itu membuat siapapun mau jabatan kamu
- 26:37yang paling hebat, mau siapapun kamu,
- 26:39kamu tetap bersujud karena kamu adalah
- 26:41hamba.
- 26:42Apakah itu relevan sekali untuk
- 26:44teman-teman memahami ini?
- 26:45Iya. Ya, itu dalam konteks bagaimana
- 26:48ibadah ritual
- 26:50ee menguatkan pesan-pesan itu.
- 26:52Hm. Tapi dalam kehidupan sehari-hari
- 26:55kita tuh banyak sekali dikuatkan oleh
- 26:58hal-hal seperti itu. Misalnya bagaimana
- 27:02Allah merusak hukum sebab akibat dalam
- 27:05kehidupan merusak dalam terdapat. Ini
- 27:07buku lagi saya tulis
- 27:0910 hukum sebab akibat
- 27:11beyond mindfulness
- 27:12gitu ya.
- 27:14Allah
- 27:15membuat hukum sebab akibat itu cuma
- 27:19untuk menjadi aturan bagi kalian hamba,
- 27:21bukan untuk membatasi kuasaku. Kira-kira
- 27:24pesan Allah itu begitu. Aku ciptakan
- 27:26hukum sebab akibat itu cuma jadi pedoman
- 27:28untuk kalian. Kalau enggak ada hukum
- 27:30sebab akibat, kita hidupnya enggak waras
- 27:32karena enggak ada pedoman. H
- 27:33misalnya gini, hari ini api dibuat
- 27:35panas, besok sama Allah dibuat dingin,
- 27:38besoknya hangat gitu ya. Bang Bilal
- 27:40tanya ke mamanya, "Mama, hari ini masak
- 27:43apa? Besok masak apa, Mah?" Ya,
- 27:44tergantung api. Panas apa enggak?
- 27:47Tapi kita tahu kalau mau bakar sate, mau
- 27:50masak soto, pakai api. Kenapa? Karena
- 27:52ada hukum sebab akibat. Tapi Allah
- 27:55sering ngingatin kita, hukum ini buat
- 27:57kalian ya, bukan buat gua. Allah tuh
- 27:59bilang, "Bukan buat aku tuh." Maka Allah
- 28:02sering merusak hukum sebab akibat.
- 28:04Hmm.
- 28:06Misal kadang ada sebab tapi tidak ada
- 28:09akibat.
- 28:11Misalnya Nabi Ibrahim dibakar ke api
- 28:13sebab
- 28:14ya
- 28:15tapi enggak terbakar. Allah mau kasih
- 28:17tahu yang punya hukum sebab akibat kan
- 28:19aku.
- 28:19I
- 28:20jadi walaupun ada sebab kalau aku bilang
- 28:22enggak jadi akibat enggak jadi. Kadang
- 28:25tanpa sebab terjadi akibat.
- 28:28Misal hukum sebab akibat bilang untuk
- 28:30jadi seorang anak manusia harus terjadi
- 28:32pertemuan antara sel sperma dan ovum di
- 28:34masa subur.
- 28:35H
- 28:35Nabi Isa diciptakan Allah tanpa itu.
- 28:37Hm.
- 28:38Aku bisa ciptakan akibat tanpa sebab.
- 28:41Karena aku pemilik segala sesuatu.
- 28:44Dalam hidup kita juga begitu. Ada banyak
- 28:46orang yang menikah laki-lakinya sehat,
- 28:49perempuannya sehat, bertahun-tahun
- 28:51enggak punya anak. H
- 28:52Allah mau kasih tahu anak itu urusan
- 28:54aku.
- 28:56Hm.
- 28:57kita kuliah di bidang apa, dapat
- 28:59rezekinya di mana?
- 29:01Ya,
- 29:02itu enggak selalu sebab akibat tadi
- 29:04bekerja secara paralel dalam hidup kita
- 29:08supaya mengembalikan kita. Kamu harus
- 29:11menjalankan sebab-sebab ikhtiar,
- 29:14tapi kamu enggak boleh menuhankan sebab.
- 29:16Dan itu wilayah kita untuk mengupayakan
- 29:18itu ya.
- 29:18Iya. Bekerja dalam
- 29:21hukum sebab akibat itu wilayah manusia
- 29:23wajib. Nabi bilang, "Ikat untamu lalu
- 29:27tawakal sama Allah."
- 29:29Wilayah ikhtiar tuh.
- 29:31Hm.
- 29:32Berkata katalah, "Dakwahlah kepada
- 29:34Firaun dengan bahasa yang lembut. Itu
- 29:37wilayah kita. Manusia lebih mudah
- 29:40tersentuh dengan bahasa yang lembut."
- 29:41Ya,
- 29:42tapi Allah sejak awal sudah tahu Firaun
- 29:44ni enggak bakal beriman.
- 29:47Tapi kan Musa enggak peduli dengan
- 29:48wilayah Allah. Yang penting Allah
- 29:50perintahkan aku, aku menjalankan
- 29:51perintah. Jadi,
- 29:54anak sakit kita bawa ke dokter itu
- 29:58karena kita menjalankan sebab,
- 30:01tapi kita jangan menuhankan itu.
- 30:04H
- 30:04yang menyembuhkan Allah. Makanya kalau
- 30:06nyuruh anak minum obat, jangan bilang,
- 30:08"Minum obat, Nak, biar sehat." Jangan
- 30:11minum obat, Nak. Karena ini perintah
- 30:12Nabi.
- 30:14Begitu anak sehat, syukur sama Allah,
- 30:15Nak. Allah yang kasih kesehatan biar
- 30:17anak enggak menuhankan obat.
- 30:19Hmm.
- 30:20Ibu-ibu enggak bisa ngomong ke anaknya,
- 30:22"Papa kerja ya cari duit." Jangan. Papa
- 30:25kerja karena ini perintah agama. Papa
- 30:28cari rezeki yang halal karena ini
- 30:30perintah Allah. Ketika ayah pulang bawa
- 30:32uang enggak boleh bilang ini hasil ayah
- 30:34kerja. Enggak. Ini rezeki dari Allah
- 30:36Subhanahu wa taala. Jadi anak enggak
- 30:38bakal flexing,
- 30:39enggak bakal sombong karena rezeki itu
- 30:41dari Allah. Dan dia punya keteladanan
- 30:43bahwa ayahnya adalah seorang pejuang.
- 30:45nafkah sanggup pergi pagi letih, capek
- 30:50tapi apa? Tapi untuk anak-anaknya dia
- 30:52bekerja untuk anak-anaknya tapi rezeki
- 30:54dari Allah Subhanahu wa taala. Ini harus
- 30:55kita bedain tuh.
- 30:59Udah
- 31:00oke.
- 31:02Aku lagi sibuk nulis. So, bagi
- 31:04teman-teman yang juga lagi aktif nulis
- 31:07dan mau hasilin du sampai 3 digit
- 31:09sebulan dari nulis dan kalian enggak
- 31:10tahu caranya, tenang. Aku ada satu
- 31:13website simpel yang bisa bantu kamu
- 31:14monetisasi hasil tulisanmu. Karena aku
- 31:17udah ngerasain dari nol sampai di fase
- 31:19sekarang tulisanku diuntungi oleh banyak
- 31:21orang. Fitur blog di link bisa jadi
- 31:23solusinya. Kamu bisa tulis artikelmu
- 31:26insight, cerita, atau edukasi panjang
- 31:28langsung di satu halaman yang rapi.
- 31:31Jadi, ketika ada audiens yang mau
- 31:32belajar lebih dalam tentang isi kepalamu
- 31:34atau tentang cerita-cerita kamu, kamu
- 31:36tinggal arahin mereka ke blog yang kamu
- 31:38tulis di Linkin. Daripada kamu harus
- 31:40balasin DM satu persatu, WA satu
- 31:42persatu, kamu tinggal balas aja. Aku
- 31:44udah nulis kok di Linkit. Lebih praktis,
- 31:47lebih profesional, dan konten kamu atau
- 31:49tulisan kamu tuh jadi punya rumahnya
- 31:51sendiri. Karena kadang ya yang kamu
- 31:53butuhkan itu bukan cuma kontenmu atau
- 31:55tulisanmu yang viral dan rameai, tapi
- 31:57konten atau tulisan yang bisa terus
- 32:00ditemukan oleh audiensmu. So, langsung
- 32:02aja cobain fitur blog di Linkit.
- 32:05Tadi Ustaz menyinggung tentang pesan
- 32:08tauhid itu sebenarnya bisa kita lihat di
- 32:10segala sesuatu ya.
- 32:11Iya. Kalau saya hubungkan pesan tauhid
- 32:13itu atau kacamata tauhid melihat situasi
- 32:15anak-anak Buddha sekarang yang terus
- 32:18mengejar validasi,
- 32:19ingin diakui oleh keluarganya dan
- 32:21teman-temannya,
- 32:22kerja keras terus sebagai kuda sehingga
- 32:25enggak ada waktu untuk dirinya sendiri
- 32:27sehingga kemari lagi ke looping burn out
- 32:30stress overthinking. Ya, bagaimana
- 32:33kacamata tauhid bisa melihat fenomena
- 32:35ini, Ustaz?
- 32:36Iya.
- 32:39Allah punya standar, manusia punya
- 32:41standar.
- 32:43Kita kalau mengikuti standar manusia itu
- 32:45akan berubah-ubah terus.
- 32:46He.
- 32:47Tapi kalau kita mengikuti standar Allah
- 32:50itu akan damai kita. Jadi melihat segala
- 32:54sesuatu dengan kacamata tauhid itu akan
- 32:57menggeser kita dari pola kehidupan yang
- 33:00egosentrik kepada kehidupan yang Allah
- 33:03sentrik.
- 33:06Gampangnya begini, egosentrik itu
- 33:09menjadikan diri sebagai pusat segala
- 33:11sesuatu. Poros kehidupan itu adalah
- 33:13diri. Jadi ketika Bang Bilal ditawarkan
- 33:16satu project atau satu jabatan, Bang
- 33:19Bilal kalau masih nanya saya dapat
- 33:22berapa?
- 33:24Untungnya bagi saya apa?
- 33:26Berapa lama BEP ini bisnis gitu ya,
- 33:29selalu menjadikan diri kita sebagai
- 33:31sentral tuh ukuran standar.
- 33:35itu pasti kita akan khawatir.
- 33:37Hmm.
- 33:38Kalau tiba-tiba enggak dapat, kalau
- 33:40tiba-tiba dikhianati, kalau tiba-tiba
- 33:42kan begitu. Tapi kalau kita sudah
- 33:44bergeser kepada Allah sentrik ketika
- 33:46datang tawaran seperti tadi, Bang Bilal
- 33:48nanyanya, "Allah rida enggak dengan
- 33:51model bisnis begini ke Allah dulu?
- 33:55Ada enggak hak manusia yang aku zalimi
- 33:58kalau aku terima jabatan ini?"
- 34:00Wow.
- 34:02Ada enggak batas-batas syariah yang kita
- 34:04langgar kalau kita tetap jalan?
- 34:07Jadi ketika keuntungannya di depan mata
- 34:10itu dalam kalkulasi manusia sangat
- 34:12besar,
- 34:13tapi itu tidak diridai sama Allah, kita
- 34:15nolak
- 34:17gitu. Dalam hukum sebab akibat tadi ya,
- 34:21ada hukum yang saya tulis tuh hukum ke
- 34:22berapa tuh? Tentang ee hukum moral.
- 34:26Hukum moral itu bagaimana kita
- 34:28mendahulukan
- 34:30sebab akibat yang dibuat oleh Allah,
- 34:34sebab akibat dari informasi wahyu
- 34:36dibanding sebab akibat yang sudah
- 34:37berjalan berdasarkan kultur. Misalnya
- 34:40begini,
- 34:41kalau di negara kita katakan misal
- 34:45untuk lancarnya satu project dengan
- 34:47pemerintah misalnya,
- 34:48he
- 34:49itu harus nyuap, harus nyogo.
- 34:54Sementara kita tahu itu secara moral
- 34:55agama haram.
- 34:58Orang bilang begini, "Kalau enggak
- 35:00nyogok enggak bakal dapat projek ini."
- 35:03Oke, enggak apa-apa. Kita memang enggak
- 35:05dapat projek itu. Hukum sebab akibat
- 35:07secara kultural, ya, kita enggak bisa
- 35:10dapat kecuali dengan nyogok. Tapi ada
- 35:13hukum sebab akibat yang dikasih tahu
- 35:14sama Nabi, siapa yang meninggalkan
- 35:16sesuatu yang haram karena Allah, maka
- 35:19Allah akan ganti yang lebih besar lagi.
- 35:21H.
- 35:22Jadi, kita maju aja.
- 35:24dengan ee standar-standar kehalalan yang
- 35:27sudah jelas tadi. Kita enggak melakukan
- 35:29pelanggaran-pelanggaran agama. Tidak.
- 35:32Sekiranya kita tidak dapatkan itu karena
- 35:34kita meninggalkan hal yang haram, Nabi
- 35:37sudah janji deh sama kita
- 35:39bahwa ada sesuatu lagi. Itu membuat kita
- 35:42insyaallah enggak burn out ya.
- 35:44H
- 35:45karena kita tahu bahwa segala sesuatu
- 35:46sudah dicatat oleh Allah Subhanahu wa
- 35:48taala. Ya, kita cuma menjalankan
- 35:50perintah-perintah. Nah, perintahnya ini
- 35:52harus tidak kelar dari jalur-jalur itu.
- 35:56Jadi, menjadikan Allah sebagai sentrik
- 35:57ini kita buat semacam ada garis imaginer
- 36:00dalam kehidupan. Garis imaginer itu
- 36:04startnya adalah Allah, finish-nya adalah
- 36:06Allah, ya. Jalannya, garisnya juga
- 36:09sesuai dengan ee syariat-syariat Allah,
- 36:12batasan-batasan Allah. Jadi sebelum kita
- 36:14jalan itu kita tanya dulu diri kita ini
- 36:17kita lakukan karena Allah apa tidak?
- 36:20Lalu ketika kita jalan sesuai enggak
- 36:21dengan aturan-aturan Allah?
- 36:23Hm.
- 36:23Apakah kita melakukan karena Allah atau
- 36:26tidak? Finishnya Allah apa tidak?
- 36:29Karena yang melelahkan dalam hidup itu
- 36:31karena kita harus mengikuti ekspektasi
- 36:34banyak pihak.
- 36:35I
- 36:36tapi kalau kita cuma mengikuti
- 36:38ekspektasi Allah itu kita menjadi jauh
- 36:41lebih tenang.
- 36:43H
- 36:44misal tujuan kalau tujuannya banyak kita
- 36:46pasti capek.
- 36:48Tujuan kita itu cukup satu yaitu Allah
- 36:49Subhanahu wa taala.
- 36:51Ustaz kalau kita kerja gitu wawancara
- 36:54sama ee HRD, kamu kerja di sini untuk
- 36:57apa? Lillahi taala diketawain.
- 36:59He. Ya.
- 37:00Kita kerja untuk apa? Enggak apa-apa.
- 37:02Punya tujuan lain dalam hidup enggak
- 37:03apa-apa.
- 37:04Selagi itu mengantarkan kita kepada
- 37:07tujuan yang sesungguhnya. Kamu kerja
- 37:10untuk apa? Untuk dapat duit. Kita
- 37:12kerjanya untuk dapat duit, tapi enggak
- 37:15boleh duit ini menjadi final
- 37:16destination. He.
- 37:18Harus terus. Duitnya untuk apa? Duit ni
- 37:21biar aku bisa terkenal. Oke, enggak
- 37:23apa-apa. Tapi terkenalnya untuk apa?
- 37:26Supaya bisa mempengaruhi orang lain
- 37:28melakukan kebaikan.
- 37:29Hm.
- 37:29Sebab kalau orang lain dapat pahala
- 37:31karena aku, aku juga dapat pahala. Ah,
- 37:33itu karena Allah.
- 37:34Iya. I
- 37:35kamu kerja untuk apa? Untuk dapat uang.
- 37:38Uangnya untuk apa? untuk menyelamatkan
- 37:41keluargaku dari rezeki yang tidak halal.
- 37:43Hm.
- 37:43Untuk berbakti kepada kedua orang tua
- 37:46karena rida Allah ada pada rida orang
- 37:48tua itu ke Allah.
- 37:49I.
- 37:49Jadi kita harus mengubah idol-idol dalam
- 37:53hidup itu berubah menjadi tools.
- 37:55Hm.
- 37:55Kalau selain Allah jadi tools, kita
- 37:57capek.
- 37:59Hm.
- 38:00Kamu kuliah untuk apa? Biar dapat
- 38:02ijazah. Oke. Kalau ijazahnya jadi idol,
- 38:04kita capek.
- 38:05I. Tapi kalau ijazah itu kita ubah jadi
- 38:08tools
- 38:09dengan ijazah ini, aku bisa dapat
- 38:11kepercayaan lebih besar dari orang.
- 38:13Ketika aku dapat kepercayaan, aku
- 38:14gunakan ini untuk begitu terus.
- 38:16Kenapa kamu mengejar jabatan ini? Oh,
- 38:19supaya aku lebih berpengaruh. Tanda
- 38:20tanganku bisa kubuat untuk bermanfaat
- 38:22bagi orang. Karena menurut Nabi yang
- 38:24paling bermanfaat, yang paling baik di
- 38:25sisi Allah, Allah lagi tuh.
- 38:27Hmm.
- 38:28Jadi kita melangkah itu terus ke Allah
- 38:30terus.
- 38:31Hmm.
- 38:32Itu
- 38:32wah wah bagus banget, Ustaz.
- 38:35Kalau ditanya Bilal, kenapa bikin
- 38:36podcast gitu untuk ngobrol dengan orang
- 38:38berkelas?
- 38:38Oh iya.
- 38:39Tapi idealnya bukan itu, yaitu
- 38:41menyampaikan pesan-pesan kebaikan kepada
- 38:43orang-orang yang menontonnya secara
- 38:44gratis. G
- 38:44jadi pertemuan ini adalah tools,
- 38:47studio ini adalah tools, kamera adalah
- 38:49tools, team kita adalah tools. Itu yang
- 38:52harus kita lakukan.
- 38:53H.
- 38:53Jadi kita harus ubah segala sesuatu di
- 38:56luar Allah, enggak boleh jadi idols.
- 38:58Wah. He
- 38:59jujur menarik sekali ketika membahas
- 39:00tentang tadi ego sentrik harusnya ke
- 39:02Allah sentrics. Karena
- 39:03i
- 39:04ada momen di tahun lalu ustaz bulan
- 39:07Oktober saya berangkat umrah.
- 39:08Oke.
- 39:092 hari sebelum berangkat umrah
- 39:11ada tawaran pekerjaan yang besar sekali
- 39:14dan selama ini saya impikan dari saya SM
- 39:16saya impikan pekerjaan itu gitu.
- 39:17Oke.
- 39:18Projek besar.
- 39:19Iya. Iya.
- 39:20Terus saya mikir
- 39:22enggak mungkin saya cancel umroh kali
- 39:23ini. Gitu karena besar kali projjectnya.
- 39:26Oke.
- 39:26Saya diskusi dengan teman saya.
- 39:27Heeh.
- 39:28Dia ngaji juga dan dia bilang, "Umrah
- 39:31aja setelah ini ya lebih besar akan
- 39:33datang." Saya penuh kecemasan memikirkan
- 39:36hal itu. Saya selalu istikarah dan
- 39:37Iya
- 39:38benar
- 39:38karena menjadikan pekerjaan idols.
- 39:40Iya. 6 bulan kemudian benar datang lu
- 39:42projek lebih besar dar. Wow. Itu rileks
- 39:45sekali Ustaz.
- 39:46Iya. Iya.
- 39:48Makanya kita jangan tergesa-gesa paham
- 39:50dengan semua kerja Allah.
- 39:52Hm.
- 39:52Jangan.
- 39:53Kita tuh enggak harus selalu paham
- 39:55dengan takdir yang menimpa kita pada
- 39:57hari ini.
- 39:59Itu penting banget. Sekarang Bang Bilal
- 40:01ingat aja tiga capaian paling Bang Bilal
- 40:05syukuri dalam hidup itu apa? Coba
- 40:08bayangkan tuh saya bisa begini, saya
- 40:10memperoleh ini, saya ini. Tiga aja.
- 40:13Insyaallah salah satunya ada latar
- 40:16belakangnya adalah takdir yang kita
- 40:18tidak sukai di masa lalu.
- 40:20Wah,
- 40:22[tertawa]
- 40:22makanya kita jangan tergesa-gesa untuk
- 40:24paham.
- 40:25Saya tanya ada orang, "Bapak, apa yang
- 40:27capaian paling Bapak syukuri?" "Saya
- 40:29punya istri, Ustaz." Masyaallah,
- 40:33patuh, salehah, jaga anak-anak bagus,
- 40:36pendidikan, wah, rumah jadi sangat surga
- 40:38bagi saya. Bapak kenal di mana nih sama
- 40:41istri? Ah, kawan kuliah ustaz. Dia
- 40:43bilang, "Kuliah di mana, Pak?" "Kampus
- 40:46swasta, Ustaz. Kampusnya juga sudah
- 40:47tutup." Kok bisa? Saya bilang, "Saya
- 40:50tuh, Ustaz, ranking satu terus di SMA.
- 40:52Tapi waktu ujian masuk perguruan tinggi,
- 40:55teman-teman di bawah saya banyak yang
- 40:56keterima di perguruan tinggi. Saya
- 40:58enggak keterima.
- 41:00Waktu keterima itu, Bapak senang apa
- 41:02enggak?" "Enggak. Saya sampai nganggur
- 41:04dulu, tahun depan saya ikut lagi."
- 41:07Enggak lulus lagi. Akhirnya saya masuk
- 41:09kampus swasta ini. Di situ saya ketemu
- 41:11istri saya.
- 41:13Kalau waktu bisa dimundurin, Bapak mau
- 41:15enggak keterima di PTN tapi enggak
- 41:16ketemu sama istri? Oh, enggak. Enggak
- 41:17mau, Ustaz.
- 41:19Dia menikmati itu sekarang karena takdir
- 41:22buruk yang dulu dia enggak suka.
- 41:27Saya terharu, Ustaz. Karena the moment
- 41:29saya kuliah itu, saya enggak bersyukur
- 41:32kuliah di situ gitu pada waktu itu ya.
- 41:34Kayak ini bukan target saya kuliah di
- 41:36sini gitu.
- 41:36He.
- 41:37Tapi karena saya kuliah di situ saya
- 41:38bisa dapat program beasiswa ke Jepang.
- 41:40di Jepang saya ketemu dengan orang yang
- 41:42bikin event-event yang kemudian sampai
- 41:44sekarang masih connecting dosnya. Oh,
- 41:45ternyata rencana Allah lebih indah.
- 41:47I
- 41:48pada waktu itu saya enggak senang gitu.
- 41:49Pada waktu itu saya bisa aja memikirkan
- 41:51bahwa
- 41:51kenapa harus ini ya? Kenapa ya Allah
- 41:53gitu?
- 41:54Pengalaman itu ngajarin saya ketika ada
- 41:56suatu yang pahit dalam hidup saya.
- 41:58Nanti 10 tahun lagi Allah ungkapin kok
- 41:59kenapa begini.
- 42:00Wow.
- 42:012 minggu lagi Allah kasih tahu kok
- 42:02kenapa begini.
- 42:03Wah [tertawa]
- 42:04itu bagus banget. Mungkin ini yang
- 42:06teman-teman butuhkan untuk menyerap
- 42:09informasi ini. Karena mungkin mereka
- 42:11lagi di fase seperti kita tadi gitu.
- 42:12Mungkin hari-hari kamu hari ini mungkin
- 42:15tidak sesuai dengan plan kamu. Kamu bisa
- 42:17aja membenci hari-harimu. Kamu bisa aja
- 42:19mempertanyakan kenapa seperti ini ya
- 42:21Allah. Tapi sabar
- 42:23ya
- 42:23mungkin jawabannya belum sekarang. Nah,
- 42:25by the way itu yang kita lakukan di
- 42:27kelas-kelas di ekosistem belajar iman
- 42:29pas ini.
- 42:30Jadi, bagaimana mereka belajar tentang
- 42:32takdir, bahasan ini kita bahas tentang
- 42:34takdir. H.
- 42:35Karena kalau belajar secara teoritik
- 42:37takdir itu membingungkan sekali. Tapi
- 42:40ketika melihat ini relate banget dengan
- 42:42kehidupan mereka, mereka baru merasa
- 42:43bahwa eh gua enggak ada ruang untuk
- 42:45bersangka buruk kepada Tuhan kalau gua
- 42:48paham konsep iman kepada takdir dengan
- 42:51baik.
- 42:52Hmm.
- 42:53Gitu. termasuk tentang jodoh, termasuk
- 42:56tentang rezeki, termasuk tentang umur.
- 42:59Itu semua di mana kita menempatkan
- 43:01wilayah kita sama wilayah Allah aja deh.
- 43:03Banyak teman-teman yang sering curhat di
- 43:05suara berkelas, Ustaz,
- 43:07tentang
- 43:07kalau entar undang Ustaz Faris tuh
- 43:10ngomongin tentang pernikahan kan ya.
- 43:12Dan ada data yang saya kaitkan bahwa
- 43:15data BPS menunjukkan angka pernikahan di
- 43:17Indonesia itu katanya menurun setiap
- 43:19tahun, Ustaz.
- 43:21H
- 43:21karena anak muda sekarang itu kan
- 43:23terlalu cemas memikirkan tentang wah
- 43:25risiko finansialnya sehingga pernikahan
- 43:28itu ditunda. Ya.
- 43:29Oke.
- 43:30Kalau dikaitkan dengan keilmuan ustaz
- 43:31dan apa yang kita bahas sejak menit awal
- 43:33tadi sampai di menit sekarang.
- 43:35He.
- 43:36Bagaimana harusnya teman-teman memahami
- 43:39pemahaman tentang pernikahan itu sendiri
- 43:41bagi teman-teman yang belum menikah
- 43:43bahkan.
- 43:44Iya. Iya. Saya ngelihat justru generasi
- 43:47sekarang itu sebenarnya lebih realistis.
- 43:50Jadi ketakutan mereka itu juga real gitu
- 43:53loh. Wajar mereka punya ketakutan itu.
- 43:56Tapi kalau kemudian ketakutan itu
- 43:59membuat dia tidak membuat satu keputusan
- 44:02tanpa batas waktu, itu jadi masalah.
- 44:06Hm.
- 44:06Kalau ketakutan itu membuat dia harus
- 44:08merasa sempurna dulu di berbagai bidang,
- 44:10itu bermasalah.
- 44:11Hm.
- 44:12Rasa takut itu nikmat dari Allah loh.
- 44:16Ya, yang menyelamatkan kita itu rasa
- 44:18takut. Kalau enggak ada rasa takut
- 44:20penting nikah aja nanti pokoknya. Oh,
- 44:21enggak bisa begitu.
- 44:24Kita kalau anak masih kecil ajak ke
- 44:25taman safari misalnya ketika sampai di
- 44:29tempat hewan buas dia lihat harimau
- 44:30bagus sekali warnanya atau apa, kita
- 44:33buka pintu mobil dia enggak takut. Dia
- 44:34pergi ke situ kan enggak selamat.
- 44:36H
- 44:36kalau kita takut kenapa? Karena kita
- 44:38tahu gitu. Itu kan ketakutan yang
- 44:41menyelamatkan kita
- 44:42ya.
- 44:43Jadi dalam pernikahan itu memang ada
- 44:44batas-batas ketakutan yang memang harus
- 44:46kita jaga.
- 44:48Gimana kita menjalankan hukum sebab
- 44:49akibat tadi? Gimana kita berpikir
- 44:52rezeki, gimana kita berpikir gitu. Tapi
- 44:54itu enggak enggak berarti kita harus
- 44:57menyempurnakan segala sesuatu.
- 44:59Hm.
- 45:00Karena ketika kita paham tentang wilayah
- 45:02kita dan wilayah Allah tadi, kita tahu
- 45:05kita itu cuma diwajibkan untuk berusaha
- 45:09semaksimal yang kita bisa aja
- 45:12karena enggak bakal sempurna. Nah,
- 45:14menyempurnakannya itu adalah wilayah
- 45:15kita berserah ke Allah.
- 45:18Ada hal yang menarik nih, Bang. Ini
- 45:20termasuk tentang pernikahan, tapi ini
- 45:22bicara tentang peperangan.
- 45:24Oke.
- 45:24Di Quran tuh ada persamaan ketika Allah
- 45:27membahas tentang pasangan, ketika Allah
- 45:29bahas tentang peperangan. Bisa jadi kamu
- 45:32benci sesuatu tapi itu baik bagi kamu.
- 45:35Bisa jadi kamu benci sesuatu tapi Allah
- 45:37simpan kebaikan di situ. Itu bicara
- 45:39tentang perempuan, pasangan, bicara
- 45:42tentang peperangan.
- 45:43Gimana kita menyiasati hal-hal yang
- 45:45enggak mungkin kita bisa menyiapkan
- 45:48secara sempurna. Emangnya ada peperangan
- 45:51yang sesuai dengan rencana dari sejak
- 45:52awal. Amerika nyerang Iran enggak
- 45:54nyangka bahwa bakal banyak kejutan.
- 45:56Ya.
- 45:57Israel ketika menyerang Gaza enggak
- 45:59menyangka bahwa begitu gitu loh. He.
- 46:01Nah, umat Islam juga begitu dalam urusan
- 46:04pernikahan juga begitu. Jadi kamu cukup
- 46:07siapkan saja semampu kamu. Nanti Allah
- 46:10yang menyempurnakan. Tentang perang itu.
- 46:13Allah bahas begini.
- 46:16Di surah Al-Anfal Allah bicara tentang
- 46:18perang Badar. Perang Badar ini perang
- 46:20luar biasa. Salah satu dari 10 perang
- 46:22yang mengubah wajah dunia.
- 46:24He.
- 46:25Di ayat ke-60 Allah bilang, "Siapkan
- 46:28semampu kamu kekuatan. Waidu lahum
- 46:32minah." Kamu siapkan kekuatan semampu
- 46:34semaksimal mungkin yang kamu bisa
- 46:35lakukan. Tapi di ayat ke-17 Allah
- 46:38berkata sejak awal, "Falam taqtuluhum
- 46:41wakinallaha qatalahum w ramaita id
- 46:44ramaita wakinallaha rama." Bukan kamu
- 46:46yang bunuh, Allah yang bunuh. Bukan kamu
- 46:48yang melepaskan anak panah, tapi Allah
- 46:50yang melepaskan anak panah. Jadi di satu
- 46:52ayat Allah bilang, "Siapkan semampu kamu
- 46:55semaksimal mungkin, seolah-olah
- 46:57kemenangan dari usaha." Tapi di ayat
- 46:59yang satu Allah bantah enggak? Semua itu
- 47:02adalah kerja Allah.
- 47:05Nah, makanya menarik ketika Allah
- 47:07memerintahkan kita siapkan kekuatan,
- 47:09Allah bilangum
- 47:11minah sesuai dengan kemampuan kamu saja.
- 47:14Allah enggak bilang begini. Waidu lahum
- 47:17quatihim quah. Siapkan kekuatan selevel
- 47:21dengan kekuatan musuh atau fauq quatih
- 47:24kuah. Siapkan kekuatan di atas kekuatan
- 47:27musuh. Enggak.
- 47:28Jadi kalau musuh punya kekuatan A, B, C
- 47:30sampai Z, kamu cuma bisa menyiapkan
- 47:34sampai E sampai F. Cukup kamu sampai F.
- 47:37Allah nanti yang menyempurnakan G H I JK
- 47:40sampai Z-nya itu.
- 47:41Ya.
- 47:41Nah, kita kalau memaksa diri melakukan
- 47:45persiapan-persiapan di luar kemampuan
- 47:47kita, kita enggak nikah-nikah dong kalau
- 47:49begitu.
- 47:50Hm. Saya tuh ada satu nasihat ya waktu
- 47:52sebelum nikah dulu dia bilang ee adalah
- 47:56senior bilang gini Mas Faris dia bilang
- 48:00kalau saya bilang walaupun Mas Faris
- 48:02bisa punya uang sebelum nikah untuk beli
- 48:04rumah jangan beli rumah dulu beli rumah
- 48:07itu setelah menikah supaya istri itu
- 48:10enggak merasa menumpang seumur hidup.
- 48:12Kalau segalanya sudah sempurna lalu kita
- 48:14menikah istri masuk ke rumah kita, itu
- 48:16dia akan merasa dia menumpang di rumah
- 48:18kita sepanjang hidup. Tapi dengan rumah
- 48:20yang mulai dibangun dari awal, dipilih
- 48:22secara bersama-sama,
- 48:24di renovasi, dibentuk, itu beda banget.
- 48:29Jadi ada wilayah-wilayah yang memang
- 48:31harus kita siapkan, harus ada ketakutan
- 48:33yang realistis juga, tapi enggak boleh.
- 48:36Kita harus sempurna dulu segala sesuatu
- 48:38baru menikah.
- 48:39Hmm. Itu sempa jadi pertanyaan saya sih,
- 48:42Ustaz. kayak kalau segala hal sesuatu
- 48:45itu sempurna dan tiba-tiba kita menikah,
- 48:47maka apa yang harus diupayakan bersama?
- 48:50Bagaimana menikmati proses bersama
- 48:52pasangan tadi? Ya, kayak kita hilang
- 48:53momen di prosesnya itu ya. Karena di
- 48:55sini sudah siap gitu, sudah siap
- 48:56segalanya
- 48:57dan kalau ada hal-hal yang bersinggungan
- 48:59kayak kita tuh bisa aja punya ego yang
- 49:01besar untuk bilang, "Ah, kamu kan
- 49:02numpang, kamu tiba-tiba orang baru yang
- 49:04hadir di hidupku yang sempurna ini,"
- 49:06gitu ya. Oh, itu paling menarik ya.
- 49:08Tapi bukan berarti teman-teman tidak
- 49:09harus berupaya, jadi kalian harus
- 49:11berupaya. Iya.
- 49:12Atau kalian harus mempersiapkan gitu di
- 49:14level A sampai
- 49:15se semaksimal apapun kita menyiapkan itu
- 49:17enggak bakal sempurna.
- 49:18Hmm.
- 49:19Karena nanti kesulitan-kesulitan yang
- 49:21kita temukan di jalan rumah tangga itu
- 49:22justru sydunya di situ. Sama seperti
- 49:25perjalanan ya perjalanan umrah kemarin
- 49:28Bang Bilal. Yang paling ingat yang mana?
- 49:29Pasti yang paling susahnya, yang paling
- 49:31capeknya.
- 49:32Iya. [tertawa]
- 49:32Iya. Kuliah di Jepang dulu mana yang
- 49:34paling diingat? pasti part-part yang
- 49:36tidak enaknya itu.
- 49:37Tapi itu akan berubah jadi kenangan,
- 49:39berubah jadi cerita, berubah jadi itu
- 49:41yang kita nikmatin.
- 49:43Hmm. Setuju sekali. Saya masih ingat
- 49:45mom-momen di mana pahitnya menikmati
- 49:47hidup, pahitnya berjuang dan itulah yang
- 49:50bikin hidup ini indah, Ustaz. Untuk
- 49:51dikenang gitu ya.
- 49:52Iya dong.
- 49:53Iya. Apa
- 49:56insight baru ke teman-teman di sini yang
- 49:59belum menikah atau yang sudah menikah
- 50:00juga tapi ingin tahu dari kacamata ustaz
- 50:04sendiri tentang bagaimana harusnya
- 50:07menjalani hidup setelah menikah,
- 50:08bagaimana konsep pembagian
- 50:12suami dan istri gitu ya. Mungkin
- 50:14wilayah-wilayah apa yang harus kita tahu
- 50:15juga, Ustaz.
- 50:16Oke. Oke. Oke. [tertawa]
- 50:18Jadi ketika kita menjalankan peran-peran
- 50:20dalam hidup nih, kita nih dalam hidup
- 50:22nih punya banyak peran. H
- 50:23punya banyak identitas. Begitu kita
- 50:26lahir, kita menjalankan peran sebagai
- 50:27anak, sebagai warga negara Indonesia.
- 50:30Lalu kita sekolah sebagai siswa. Lalu
- 50:32kita mengajar sebagai guru. Lalu kita
- 50:35berdagang sebagai pedagang. Lalu kita
- 50:36beli sebagai pembeli. Kan gitu. Ketika
- 50:38menikah kita menjalankan peran sebagai
- 50:40suami, sebagai istri gitu. Kita mesti
- 50:43tahu peran inti dalam kehidupan itu apa.
- 50:48Sehingga peran-peran yang kecil itu
- 50:50harus menguatkan peran inti. Misalnya
- 50:52gini, peran inti kita ini adalah hamba
- 50:54Allah. Itu peran utama kita. Maka peran
- 50:58apapun yang kita jalani harus menguatkan
- 51:00peran itu. Peran sebagai hamba Allah.
- 51:03Jadi saya bilang ke istri saya, "Aku
- 51:05akan menjalankan peranku dengan baik
- 51:07sebagai suami, tapi di atas itu aku
- 51:10menjalankan peranku sebagai hamba. Kalau
- 51:13dia minta sesuatu yang bertentangan
- 51:15dengan perintah Allah, mohon maaf aku
- 51:18enggak mau merusak peran yang lebih
- 51:19tinggi tadi."
- 51:20Hm.
- 51:21Orang tua minta kita melakukan sesuatu
- 51:24yang dilarang oleh Allah. Kita walaupun
- 51:26menjalankan peran anak, tapi sebelum aku
- 51:28menjadi anakmu, aku adalah hamba Allah.
- 51:31I
- 51:31jadi kita baik kepada pasangan itu bukan
- 51:34karena takut sama istri, tapi karena
- 51:36takut sama Allah. Kita menjaga peran
- 51:38kita sebagai hamba Allah.
- 51:40Hm.
- 51:40Istri taat kepada suami nanti jangan
- 51:43karena dia menafkahi kamu, tapi kamu
- 51:46menjalankan perintah Allah karena kamu
- 51:48hamba Allah. kita berbakti kepada kedua
- 51:51orang tua bukan karena orang tua baik,
- 51:53tapi karena itu adalah perintah Allah.
- 51:57Jadi kalau kita melakukan ee hormat
- 52:00kepada suami, taat kepada suami
- 52:01berdasarkan uang belanjanya, ketika
- 52:03diuji urusan ekonomi, kita enggak taat
- 52:05dong. Begitu juga seorang suami kepada
- 52:09istri ketika istrinya melakukan
- 52:11kesalahan atau ketika ya ada satu kasus
- 52:14dalam kehidupan, dia kemudian jadi jahat
- 52:17kepada pasangannya. Padahal Allah
- 52:19perintahkan kamu harus baik kepada
- 52:21pasangan, kamu harus baik kepada anak,
- 52:24kamu harus baik kepada orang tua. Jadi
- 52:26apapun yang kita lakukan menjalani
- 52:28peran-peran sosial pun itu hakikatnya
- 52:30untuk menguatkan peran kita sebagai
- 52:32hamba Allah Subhanahu wa taala.
- 52:34Sehingga stabil kita
- 52:36ya
- 52:37ketika suami uang belanjanya lebih atau
- 52:39kurang tetap taat. Karena kita
- 52:42menjalankan peran kita sebagai hamba
- 52:43Allah yang memerintahkan kita untuk taat
- 52:46sama suami.
- 52:47Hmm.
- 52:48simpelnya seperti peran Nabi Ibrahim
- 52:51sebagai hamba Allah, tapi pada hari itu
- 52:54dia mendengar perintah Allah itu
- 52:57menyembelih anaknya sendiri gitu.
- 52:59Padahal itu anaknya, anak kandungnya
- 53:00sendiri. Tapi Allah punya rencana lain
- 53:02gitu ya.
- 53:02I betul.
- 53:04Iya. Betul. Betul. Jadi di atas peran
- 53:06ayah dia adalah hamba Allah.
- 53:09Kalau kita lebih dalam lagi masuk ke
- 53:12peran seorang laki-laki, Ustaz, karena
- 53:14banyak sekali mental head problem di
- 53:16zaman sekarang itu laki-laki yang enggak
- 53:19tahu cerita ke siapa gitu. Laki-laki
- 53:22yang punya banyak trauma
- 53:23sehingga jatuhnya ke fenomena suicide
- 53:27gitu. Banyak sekali orang-orang yang
- 53:28mengakhiri hidupnya
- 53:30karena enggak tahu cerita ke siapa.
- 53:32Karena ini ngerasa bahwa kayaknya enggak
- 53:35ada yang support aku gitu. H
- 53:37karena aku punya banyak trauma. Jadi
- 53:38segala macam di pikirannya terus
- 53:41berkotat sehingga pakai victim
- 53:43mentality, membenci hari-harinya, enggak
- 53:45percaya lagi ke Tuhannya. Itu harusnya
- 53:47peningkatan strategis atau tadi kalau
- 53:50bahasanya Iman Pet tadi ada relevansi
- 53:52atau dakwah yang relevan ke anak-anak
- 53:53yang mendengar ini, laki-laki mendengar
- 53:55ini seperti apa, Ustaz? Iya.
- 53:59Kadang begini ya, saya teringat
- 54:02kita itu kadang sebenarnya yang membuat
- 54:06tidak stabil itu karena perkataan
- 54:07manusia sebenarnya.
- 54:09H
- 54:09karena kita tidak pengin mengkhianati
- 54:12ekspektasi banyak orang sebenarnya.
- 54:15Misalnya begini, kita sudah keluar rumah
- 54:19semangat, vibe-nya positif, pengin kerja
- 54:22dengan penuh spirit pada hari itu gitu.
- 54:25sampai di kantor ketemu sama satu orang,
- 54:29nasib kita tidak ditentukan oleh orang
- 54:30itu. Hanya dengan satu ucapan dari dia
- 54:33itu mengubah mood kita sehari.
- 54:35Dia bilang, "Kita enggak mau lagi ah
- 54:38main sama El langsung berubah itu." Itu
- 54:41kata-kata manusia.
- 54:44Begitu kuatnya mengubah mood yang
- 54:45sebelumnya positif jadi negatif.
- 54:49Tapi kenapa kata-kata Allah yang bilang
- 54:52ke kita, "Kalau hambaku bertanya tentang
- 54:55aku, aku dekat ya." Kenapa enggak
- 54:57mengubah kita?
- 54:59Saat kita sedang terpuruk, saat kita
- 55:01merasa bahwa tidak ada teman untuk
- 55:03bercerita, kenapa kata-kata Allah yang
- 55:06terbukti, tidak bisa diubah, terbukti
- 55:09kebenarannya sudah belasan abad sampai
- 55:12sekarang itu? Itu enggak ngaruh ke dalam
- 55:14diri kita.
- 55:16Di mana kedudukan Allah di dalam diri
- 55:18kita tuh?
- 55:20Itu cara kita tadi memandang segala
- 55:23sesuatu tadi. Allah enggak mungkin salah
- 55:25dong. Allah enggak mungkin ngingkarin
- 55:27janji. Enggak mungkin gitu.
- 55:31Tapi kan orang tidak kenal Allah
- 55:33sehingga merasa bahwa dia ditinggalkan
- 55:35oleh Allah. Gitu. Kalau manusia memang
- 55:38bisa ninggalin kita kok.
- 55:40Hm.
- 55:41Kamu bisa mencintai siapapun dalam
- 55:42hidup, tapi pada saatnya dia bakal
- 55:45pergi.
- 55:47Tapi kalau sama Allah, dia enggak pernah
- 55:48pergi.
- 55:50Allah ngingatin Nabi itu indah sekali.
- 55:52Ma waddaak rbuka w qalaq. Allah enggak
- 55:55mungkin pamit sebentar aja. Wadda itu
- 55:57artinya pamit sebentar loh.
- 55:59He.
- 55:59Bukan Allah bilang Allah enggak mungkin
- 56:01ninggalin kamu. Enggak. Allah pamit
- 56:03sebentar aja dalam hidupmu itu enggak
- 56:04pernah.
- 56:05Hmm.
- 56:06Apalagi Allah membenci kamu. Jadi cara
- 56:10kita membaca
- 56:12Allah Subhanahu wa taala, cara kerjanya,
- 56:16sifat-sifatnya,
- 56:17pengalaman kita selama ini dengan Allah
- 56:19Subhanahu wa taala itu menentukan
- 56:22kita akan bercerita kepada siapa, akan
- 56:26mengadu kepada siapa.
- 56:27H
- 56:28gitu. Kalau kita kehilangan itu, kita
- 56:30kehilangan kebahagiaan di masa depan.
- 56:34Hm.
- 56:35Oke. Oke. Gitu.
- 56:37Ustaz Faris sudah menulis del buku dan
- 56:40menjebahkan lebih dari 20 buku. Tapi
- 56:43kalau boleh B tahu apa benang merahnya
- 56:47Ustaz dari keilmuan Ustaz ini? Apa
- 56:49benang merahnya yang bisa Ustaz share
- 56:51kepada kita terhadap pemahaman Islam
- 56:54yang lebih baik tentang definisi kita
- 56:56sebagai hamba? Apa benda merahnya,
- 56:58Ustaz? Yang kita butuh tahu sebelum kita
- 56:59masuk ke kna
- 57:02apa? Ya, saya itu suka nulis apa saja
- 57:05yang saya lihat, apa saja yang saya
- 57:06rasakan. Terus saya ngambil pelajaran
- 57:08dari situ. Karena saya percaya ya ee
- 57:11Bang Bilal,
- 57:14pengalaman bukan guru terbaik.
- 57:16Guru terbaik itu adalah keterampilan
- 57:18membaca pengalaman.
- 57:20Wah,
- 57:21keterampilan mengambil pelajaran dari
- 57:22pengalaman. Sebab ada dua orang
- 57:25mengalami pengalaman yang sama, tapi
- 57:27satunya jadi sangat bijak, satunya tetap
- 57:29berjalan di tempat.
- 57:30He.
- 57:31Karena apa? karena cara dia mengelola
- 57:32pengalaman tidak benar.
- 57:34Hm.
- 57:34Jadi, ada satu buku receh banget saya
- 57:36nulis ketika saya kuliah di Turki,
- 57:38Letters from Turkey.
- 57:42Surat-surat dari Turki itu tentang apa
- 57:44yang saya lihat keseharian. Terus apa
- 57:46pelajaran yang dapat saya ambil?
- 57:48Misalnya saya ngelihat orang Turki, cara
- 57:49mereka minum teh. Turki itu unik sekali.
- 57:52Jadi teknya itu ada dua tingkat. Air
- 57:55panas biasa dan induk atau biang teh
- 57:58yang kental banget. Nah, ketika dia
- 58:00menyajikan ke orang-orang itu dia akan
- 58:03sesuaikan dengan selera. Ada yang suka
- 58:05tehnya muda, maka dikit aja biangnya,
- 58:08air panasnya yang banyak. Ada yang suka
- 58:10tehnya tua, maka biangnya lebih banyak
- 58:13tapi air panasnya yang sedikit.
- 58:14Hm.
- 58:15Itu kan tentang klasifikasi sikap yang
- 58:18kita berikan tetap teh, tapi semua orang
- 58:21senang. Jadi ketika kita bergaul dengan
- 58:23setiap orang yang berbeda dengan cara
- 58:25yang berbeda itu bukan munafik.
- 58:29Tapi klasifikasi sikap
- 58:32Nabi bergaul kepada Utsman beda dengan
- 58:35kepada Abu Bakar kepada Umar. Nabi
- 58:37pernah duduk di rumah tersingkap
- 58:39sebagian pahalanya. Waktu Abu Bakar
- 58:41masuk, Umar masuk, Nabi biarin begitu.
- 58:44Tapi begitu tahu yang minta izin masuk
- 58:46Utsman bin Affan, Nabi tutupin dulu baru
- 58:48Nabi silakan masuk.
- 58:50Waktu pulang Aisyah tanya, "Ya
- 58:51Rasulullah, kenapa kamu memperlakukan
- 58:53itu ke Utsman?" Enggak ke Abu Bakar, ke
- 58:54Umar. Kata Nabi, "Gimana aku enggak malu
- 58:57pada orang yang Allah pun malu
- 58:58kepadanya?"
- 59:00Itu kan klasifikasi sikap. Nabi takut
- 59:02karena Utsman punya itu. Dunia ini
- 59:04tenang banget kalau kita enggak minta
- 59:05kepada orang pelit. Orang itu kan pelit
- 59:07kalau diminta.
- 59:08Iya.
- 59:09Kalau kita enggak nakut-nakutin orang
- 59:10penakut.
- 59:11Iya.
- 59:11Kalau kita enggak ngelitikin orang yang
- 59:13gelian gitu kan. Itu itu aman dunia.
- 59:16E hal-hal yang seperti itu sih yang rece
- 59:18itu saya tulis juga dalam kehidupan
- 59:21sampai masalah-masalah tauhid tentu saja
- 59:23ya ada beberapa. He.
- 59:28Gimana obrolan kami tadi? Seru banget
- 59:30kan? Tenang, tenang, jangan skip dulu
- 59:32ya. Ini bukan iklan. Aku butuh ketemu
- 59:35dengan orang-orang yang serius mau
- 59:36belajar proses kreatif suara berkelas
- 59:38dari 0 sampai punya 1 juta subscribers.
- 59:42Mulai dari gimana aku menemukan ide,
- 59:44gimana scriptingnya, gimana eksekusi
- 59:47long form podcast-nya, long form
- 59:49contentnya, gimana kemudian eksekusi di
- 59:51short form-nya sampai ke kita belajar
- 59:53detail tentang content waterfall dan
- 59:55yang paling penting gimana caranya kita
- 59:58bisa monetisasi semua hal tentang proses
- 1:00:02kreatif dari nol kita akan kita bedah
- 1:00:04detail di So, tunggu apaagi? Langsung
- 1:00:07aja klik link di deskripsi.
- 1:00:11Tiga pertanyaan Ustaz dari teman-teman
- 1:00:12suara berkelas. Pertanyaan pertama dari
- 1:00:15FZFTri.
- 1:00:18Saya melihat teman-teman saya yang
- 1:00:19mualaf itu lebih rajin belajar tentang
- 1:00:22Islam dibandingkan saya. Tapi bagaimana
- 1:00:24pendekatan kita yang terlahir sejak Tapi
- 1:00:27bagaimana pendekatan kita yang terlahir
- 1:00:28muslim malas belajar tentang dasar-dasar
- 1:00:31Islam.
- 1:00:34Saya itu sebenarnya lagi bimbing juga
- 1:00:36beberapa orang
- 1:00:39ya,
- 1:00:41kalangan terkenal lah di Indonesia.
- 1:00:43Cuma harus dirahasiakan
- 1:00:44ya.
- 1:00:45Ada yang mualaf, ada yang dalam proses
- 1:00:48menuju itu gitu ya. Menarik. Ada yang
- 1:00:51bilang begini ke saya tuh, itu Bang
- 1:00:54Bilal kenal semua kenal ini orang. dia
- 1:00:56masih rahasiakan itu.
- 1:00:57I
- 1:00:59dia bilang, "Saya tuh menemukan
- 1:01:01jawaban-jawaban dalam kehidupan saya itu
- 1:01:03dalam Islam.
- 1:01:06Dia menemukan banyak jawaban dari
- 1:01:08persoalan-persoalan hidupnya itu dari
- 1:01:10Islam. Makanya dia tertarik untuk
- 1:01:12belajar Islam.
- 1:01:14Tapi membuat saya ragu untuk syahadat
- 1:01:17adalah banyak banget kewajiban di dalam
- 1:01:20Islam."
- 1:01:20Oke.
- 1:01:21Apakah nanti saya begitu masuk saya
- 1:01:23harus menjalankan semua kewajiban itu?
- 1:01:26Nah,
- 1:01:27ini hal yang paling mendasar. Gimana
- 1:01:30kita melihat perintah Allah itu bukan
- 1:01:32beban,
- 1:01:35Bang Bilal,
- 1:01:36kita di iman pet itu
- 1:01:40mengemas belajar Islam itu harus dari
- 1:01:42dasar. Segala sesuatu itu harus
- 1:01:44dipelajari dari mulai hal-hal yang
- 1:01:46fundamental. Kita tuh enggak pengin
- 1:01:48orang belajar Islam itu seperti nonton
- 1:01:50bioskop,
- 1:01:51hanya menjadi wisata spiritual. Dia cari
- 1:01:53tuh mana judul yang paling menarik. Hm.
- 1:01:57Aktor yang paling terkenal gitu ya,
- 1:01:58ustaz yang paling viral gitu. Enggak.
- 1:02:01Kita pengin you harus ngambil Islam nih
- 1:02:02semua. Tapi kita bertanggung jawab untuk
- 1:02:06melihat sisi mana sebenarnya yang
- 1:02:09menarik dari setiap
- 1:02:11pembahasan-pembahasan pada dasar-dasar
- 1:02:13Islam.
- 1:02:14Kita ketika bicara keimanan kepada
- 1:02:16Allah, kita bicara bagaimana tentramnya
- 1:02:20ketika kita merasa bahwa hidup kita ini
- 1:02:22diatur oleh Allah. Ketika kita bicara
- 1:02:24keimanan kepada malaikat,
- 1:02:27hari ini, Bang Bilal itu ngerasain
- 1:02:28enggak kehadiran malaikat dalam
- 1:02:30aktivitasnya?
- 1:02:33Allah buat apa sih cerita Jibril datang
- 1:02:35ke Maryam? Kemudian Maryam merasa takut.
- 1:02:38Jibril bilang, "Itu Allah ingin kita
- 1:02:40juga merasakan pengalaman yang sama.
- 1:02:43Bagaimana malaikat hadir dalam hidup
- 1:02:44kita. Hadis-hadis Nabi tentang misalnya
- 1:02:47tentang di majelis ilmu malaikat datang
- 1:02:51mendoakan itu biar kita merasakan
- 1:02:52kehadiran malaikat.
- 1:02:54Hm.
- 1:02:55Ketika kita keluar rumah mengucapkan
- 1:02:57bismillahi tawakaltu alallah la haula
- 1:02:58wala quata illa billah itu ada malaikat
- 1:03:00loh yang membisikkan kita. Laqad hudita
- 1:03:03wa kufita wauqita. Kamu sudah dapat
- 1:03:05petunjuk, kamu sudah dicukupkan, kamu
- 1:03:08sudah dijaga sama Allah. Lalu setan
- 1:03:10ngajak temannya pergi. Pergi kita buat
- 1:03:12apa kita mengikuti orang yang sudah
- 1:03:15dijamin, digaransi oleh Allah? Enggak
- 1:03:17bakal bingung, enggak bakal kekurangan,
- 1:03:20enggak bakal celaka.
- 1:03:23Kita ngerasain itu
- 1:03:25ya. Bagaimana kita dalam setiap
- 1:03:27aktivitas kita itu disertai oleh
- 1:03:29malaikat. Begitu juga ketika bicara
- 1:03:32tentang iman kepada Nabi, gimana sih
- 1:03:34kita membangun jembatan nabi yang hidup
- 1:03:361500 tahun yang lalu dengan kita pada
- 1:03:38hari ini? Apa
- 1:03:41yang menghubungkan kita dengan Nabi?
- 1:03:43Hal-hal yang seperti itu
- 1:03:45supaya kita paham bahwa betapa sayangnya
- 1:03:48Allah ketika Allah memberikan syariat,
- 1:03:51Allah menurunkan Al-Qur'an, Allah
- 1:03:53mengutus para nabi dan rasul.
- 1:03:56Kita mulai dari logika paling dasar nih,
- 1:03:58Bang Bilal. Apa tujuan kita ada di dunia
- 1:04:02itu? Benar enggak kita bisa menjawab?
- 1:04:06Karena penting
- 1:04:08kita seberapa sih sering bertanya kepada
- 1:04:09diri kita. Tujuan kita ada di dunia ini
- 1:04:11apa? Saya contohkan. Ada orang pertama
- 1:04:15kali datang ke Aceh.
- 1:04:16He.
- 1:04:17Lalu tanya ke Bang Bilal,
- 1:04:19"Rekomendasi dong tempat-tempat ke Aceh
- 1:04:22ke mana saya harus pergi?" Bang Bilal
- 1:04:24jawab apa coba?
- 1:04:25Pantai Lampuk.
- 1:04:26Pantai Lampuk. Terus
- 1:04:29musim tsunami.
- 1:04:30Musim tsunami. Ya, itu menarik. Bagus.
- 1:04:32I
- 1:04:32Masjid Ray Baiturrahman.
- 1:04:33Masjid Rayabiturrahman. Oke.
- 1:04:36Padahal jawaban yang paling tepat adalah
- 1:04:38tanya dulu dia ke Aceh itu untuk apa?
- 1:04:42Oh,
- 1:04:43kalau dia datang untuk melanjutkan
- 1:04:45pendidikan,
- 1:04:47Bang Bilal kasih tahunya kampus-kampus
- 1:04:49rekomendasi di Aceh.
- 1:04:50Hm.
- 1:04:51Kalau dia datang untuk bisnis, Bang
- 1:04:53Bilal kasih tahu tempat-tempat
- 1:04:55sentral-sentral bisnis yang bisa dia
- 1:04:56lakukan. Kecuali dia datang sebagai
- 1:04:59turis. Oke, kita kasih tahu
- 1:05:00tempat-tempat wisata tadi.
- 1:05:02Kalau sekiranya dia datang sebagai
- 1:05:04pelajar, lalu Bang Bilidal ajak ke
- 1:05:05tempat-tempat yang tadi memang dia puas,
- 1:05:07memang dia merasakan keindahan, tapi
- 1:05:09pulang papanya nanya, "Sudah ketemu
- 1:05:11belum kampus?"
- 1:05:12Hm.
- 1:05:12"Berhasil enggak?" Kan enggak. Jadi,
- 1:05:14kita harus pertanyaan yang paling
- 1:05:16mendasar nih tentang agama.
- 1:05:17Hm.
- 1:05:18Untuk apa kita ada di bumi? Untuk apa
- 1:05:20kita diciptakan? Ini karena enggak
- 1:05:22menjawab. Sehingga orang melihat agama
- 1:05:24itu beban. Ya.
- 1:05:26Nah, kita diciptakan, kita semua tahu
- 1:05:29kita diciptakan untuk menghamba sama
- 1:05:31Allah. Oke, itu udah clear. Wama
- 1:05:35khalaqtul jinna wal insa illa lya'budun.
- 1:05:38Tidak diciptakan jin. Aku tidak ciptakan
- 1:05:40jin dan manusia kecuali untuk mengabdi,
- 1:05:42menghamba kepadaku. Berarti apapun
- 1:05:45aktivitas kita harus bentuk penghambaan
- 1:05:48kepada Allah.
- 1:05:49H. kita bekerja, kita liburan, kita
- 1:05:53ngopi.
- 1:05:55Gimana? Itu bentuk ibadah. Kita bisa
- 1:05:57konversi itu. Karena kalau ibadah
- 1:05:59dipahami yang sempit, cuma salat, cuma
- 1:06:01puasa. Loh, berarti 23 jamnya,
- 1:06:0522 jamnya enggak ibadah dong. Padahal
- 1:06:08kita nih enggak diciptakan kecuali untuk
- 1:06:09itu. Artinya tidurmu harus dikonversi
- 1:06:12punya nilai ibadah,
- 1:06:13ya.
- 1:06:13Liburanmu harus dikonversi jadi nilai
- 1:06:15ibadah. Nah, tapi Bang Bilal ini baru
- 1:06:18separuh dari kehidupan
- 1:06:21Allah menciptakan kita supaya kita
- 1:06:23menghamba ke Allah.
- 1:06:25He.
- 1:06:26Bang Bilal pernah enggak kepikiran dari
- 1:06:28sisi Allahnya? Allah tuh ciptain kita
- 1:06:30mau ngapain kita sih? Kalau menghambakan
- 1:06:34diri beribadah itu dari kita ke Allah.
- 1:06:37Tapi dari Allah ke kita, Allah tuh
- 1:06:39nyiptain kita, dia mau ngapain kita?
- 1:06:43Jawabannya ada dalam surat Hud ayat 119.
- 1:06:47Allah menciptakan kita untuk menyayangi
- 1:06:50kita, untuk mencintai kita. Illa man
- 1:06:54rahimbuk walidzalika khalaqahum. Kecuali
- 1:06:57yang dicintai oleh Tuhanmu, disayang
- 1:06:59oleh Tuhanmu. Karena untuk itulah Allah
- 1:07:01menciptakan kamu. Kalau tadi dari sisi
- 1:07:05kita ke Allah menghamba, berarti apapun
- 1:07:07aktivitas kita harus bentuk penghambaan
- 1:07:09kepada Allah.
- 1:07:11Nah, sekarang kita balik. Karena Allah
- 1:07:14menciptakan kita untuk menyayangi kita,
- 1:07:17maka apapun dari Allah itu pasti bentuk
- 1:07:20sayang Allah ke kita.
- 1:07:22Apa sih dari Allah ke kita itu? Ada
- 1:07:24tiga. Pertama adalah ciptaan-ciptaannya.
- 1:07:29Yang kedua adalah
- 1:07:32ketetapan takdirnya. Yang ketiga adalah
- 1:07:34syariatnya.
- 1:07:37Langit, bumi, air, ya kan? Semua orang
- 1:07:40tua kita, anak-anak itu dari siapa? Dari
- 1:07:43Allah. Allah berikan itu bentuk sayang
- 1:07:45Allah kepada kita. Oke. Kita punya otak,
- 1:07:49kita punya pernafasan yang baik, kita
- 1:07:51punya tangan yang bekerja sempurna. Itu
- 1:07:54kan ciptaan Allah, bentuk Allah sayang
- 1:07:55ke kita. Nah, takdir dari siapa? Juga
- 1:08:00dari Allah. Karena Allah sudah state.
- 1:08:03Allah menciptakan untuk menyayangi,
- 1:08:05untuk mencintai. Maka takdir pun bentuk
- 1:08:08sayang Allah ke kita.
- 1:08:09baik yang kita suka ataupun yang enggak
- 1:08:11kita suka.
- 1:08:12He.
- 1:08:13Jadi, segala sesuatu yang ditetapkan
- 1:08:15dalam hidup kita pasti itu bentuk sayang
- 1:08:17Allah sama kita.
- 1:08:18Hmm.
- 1:08:20Kita kecelakaan kecil bentuk sayang
- 1:08:21Allah menyelamatkan kita dari kecelakaan
- 1:08:23yang lebih besar. Kita ditahan. Jadi
- 1:08:27Allah ketika memberi bentuk sayang,
- 1:08:30ketika menahan juga bentuk sayang.
- 1:08:33Ketika melebihkan bentuk sayang, ketika
- 1:08:35mengurangi juga bentuk sayang. Ketika
- 1:08:37mempercepat bentuk sayang, ketika
- 1:08:39menunda juga bentuk sayang. Karena Allah
- 1:08:41menciptakan ketetapan takdir itu untuk
- 1:08:44sayang sama kita.
- 1:08:45Hmm.
- 1:08:46Yang ketiga, syariat.
- 1:08:49Allah menciptakan syariat ini juga
- 1:08:51bentuk sayang Allah ke kita. Kita tuh
- 1:08:54enggak boleh nuduh Allah, mengambil
- 1:08:56kepentingan dari apa yang kita lakukan
- 1:08:58ke Allah.
- 1:08:59H.
- 1:09:00Kita kan sering begitu. Buktinya bilang
- 1:09:02begini, "Ya Allah, aku sudah puasa
- 1:09:03sunah, aku sudah rajin sedekah. Aku
- 1:09:06sudah rutin salat duha, tapi kenapa
- 1:09:08rezekiku masih pas-pasan?
- 1:09:11Padahal salat sunah itu sendiri adalah
- 1:09:15bentuk sayang Allah. Nikmat Allah kepada
- 1:09:18kita yang menggerakkan hati kita untuk
- 1:09:20ibadah itu juga nikmat dari Allah
- 1:09:21Subhanahu wa taala.
- 1:09:23Jadi syariat Allah itu Allah enggak
- 1:09:25ngambil kepentingan apa-apa. Allah tuh
- 1:09:27enggak enggak menguntungkan bagi Allah
- 1:09:29sedikit pun sujud kita.
- 1:09:30He
- 1:09:31sedekah kita itu enggak menguntungkan
- 1:09:33Allah. Semuanya untuk kita semua.
- 1:09:36kita sujud, kita berhaji, kita sedekah,
- 1:09:39itu untuk kita semua. Oh, itu banyak
- 1:09:42sekali. Bisa dilihat dari berbagai halah
- 1:09:44kita belajar di master kelas Iman Pet
- 1:09:46itu kita belajar salat itu apa saja
- 1:09:50kebaikan-kebaikan Allah dalam perintah
- 1:09:52salat.
- 1:09:53Hm.
- 1:09:54Apa saja kebaikan Allah dalam perintah
- 1:09:56puasa, kan gitu. Jadi, puasa itu bukan
- 1:09:59hanya menyehatkan fisik,
- 1:10:01tapi kemampuan mengendalikan diri itu
- 1:10:03bagaimana menyelamatkan manusia.
- 1:10:06Kemampuan mengendalikan diri itu
- 1:10:07menyelamat relasi sosial.
- 1:10:09I
- 1:10:10kemampuan menahan diri itu membuat anak
- 1:10:12tidak punya luka pengasuhan. Kemampuan
- 1:10:15itu dari puasa dididik. Begitu juga kita
- 1:10:17melihat yang lain.
- 1:10:19Jadi kita pengin
- 1:10:21setiap muslim melihat
- 1:10:22kewajiban-kewajiban dari Allah itu
- 1:10:23adalah gift.
- 1:10:25Y
- 1:10:26adalah kado dari Allah Subhanahu wa
- 1:10:27taala. Itu
- 1:10:29bagus enggak, Ustaz? Bagus. Satu
- 1:10:30pertanyaan yang merangkum segalanya
- 1:10:31sebenarnya.
- 1:10:33Kita ke pertanyaan kedua ya dari
- 1:10:37C I Fah.
- 1:10:40Ustaz, saya mau nanya. Menurut Ustaz
- 1:10:42sendiri pernikahan yang dihasilkan dari
- 1:10:45pacaran itu bagaimana ya, Ustaz?
- 1:10:49Iya.
- 1:10:53Setiap orang itu punya ruang kelam masa
- 1:10:56lalunya masing-masing.
- 1:10:57He.
- 1:10:59Allah Subhanahu wa taala tidak melihat
- 1:11:01masa lalu. Ya, kita memang paham bahwa
- 1:11:06banyak sekali perkara-perkara negatif
- 1:11:09yang dihasilkan dari pacaran termasuk
- 1:11:12bagaimana hubungan setelah mereka sudah
- 1:11:15menikah.
- 1:11:17itu kalau pola pacaran yang bebas itu
- 1:11:19membuat rasa percaya kepada pasangan
- 1:11:21setelah menikah itu berkurang.
- 1:11:24Hm.
- 1:11:25Cara kita ee
- 1:11:29menyikapi pasangan, ekspektasi ketika
- 1:11:32pacaran karena yang ditampilkan adalah
- 1:11:34hal-hal yang baik. Lalu kemudian setelah
- 1:11:37menikah tahu aslinya seperti apa,
- 1:11:39kekecewaan itu juga membuat pernikahan
- 1:11:41rapuh. itu harusnya menjadi pelajaran
- 1:11:44bahwa kita jangan mengulangi
- 1:11:47hal yang sama dalam kehidupan kita.
- 1:11:50Umur kita kan terlalu pendek untuk trial
- 1:11:53and error. Jadi kalau kita sudah dapat
- 1:11:55kasusnya dari orang lain, udah lu enggak
- 1:11:56usah
- 1:11:57enggak usah nyoba udah udah terbukti
- 1:12:00begini gitu loh. Tapi bagi orang yang
- 1:12:02sudah terlanjur enggak ada kata
- 1:12:04terlambat sebelum kita menghembuskan
- 1:12:07nafas terakhir.
- 1:12:09Maka apa yang di perintahkan oleh agama?
- 1:12:12Pertama kita bertaubat. Menyesali bahwa
- 1:12:15kita paham hal-hal buruk banyak sekali
- 1:12:17terjadi ketika pacaran.
- 1:12:19Yang kedua, bagaimana kita mengikuti
- 1:12:21keburukan-keburukan itu dengan
- 1:12:23kebaikan-kebaikan.
- 1:12:25Jadi, kalau dulu dosa dilakukan oleh
- 1:12:28tangan, maka sekarang perbanyak tangan
- 1:12:30kita melakukan kebaikan. Tangan yang
- 1:12:32sama melakukan kebaikan. Dulu dosa
- 1:12:35dilakukan oleh mata, maka sekarang kita
- 1:12:37gunakan mata untuk hal-hal yang sifatnya
- 1:12:39kebaikan. ya. Begitu juga dilakukan oleh
- 1:12:43ee anggota-anggota tubuh yang lain itu
- 1:12:45harus kita
- 1:12:47ee gunakan untuk hal-hal yang positif
- 1:12:50supaya menghapus hal-hal yang negatif
- 1:12:52tadi, gitu. Jadi, kita enggak boleh juga
- 1:12:55terlalu ee dibebankan oleh
- 1:12:59sejarah masa lalu yang kelam itu. Karena
- 1:13:02bagi Allah yang penting adalah bagaimana
- 1:13:04sisa hidup ke depan yang akan kita
- 1:13:06jalani itu, gitu loh.
- 1:13:08Hmm.
- 1:13:10Kita ke pertanyaan ketiga. Pertanyaan
- 1:13:13ketiga dari Anggia Sarasfati.
- 1:13:17Dia nanya, "Ustaz, saya cuma mau curhat.
- 1:13:20Saya sedang berada di lingkungan kerja
- 1:13:22yang tidak supportif. Bagaimana strategi
- 1:13:25simpel untuk menjaga benteng iman saya
- 1:13:28agar tidak ikut ternadai?" Ya, tanpa
- 1:13:31saya harus mengisolasi diri saya dan
- 1:13:33unsos.
- 1:13:37Iya. Iya.
- 1:13:40Komunitas itu kan bukan dibentuk oleh
- 1:13:43satu keadaan saja. Jadi kalau kamu punya
- 1:13:46komunitas di kantor yang toksik, kamu
- 1:13:49kan masih juga punya circle-circle lain
- 1:13:51yang positif. Itu yang dikuatkan.
- 1:13:54Jadi semakin seseorang memiliki banyak
- 1:13:57komunitas dalam hidupnya, dia menjadi
- 1:14:00lebih bijaksana.
- 1:14:01H
- 1:14:02kalau kita merasa dunia kita
- 1:14:03satu-satunya adalah pertemanan di
- 1:14:05kantor, begitu ini selesai kiamat
- 1:14:07kehidupan kita. Ya
- 1:14:09Allah mendidik Rasulullah ini keren
- 1:14:11banget ya. Dalam usia kurang dari 10
- 1:14:14tahun Nabi punya sampai enam komunitas
- 1:14:16yang berbeda.
- 1:14:18Hmm.
- 1:14:18Di rumah ibunya, di rumah Suwaibah, di
- 1:14:22rumah Halimatus S'diyah, di rumah Abdul
- 1:14:25Muthalib, di rumah Abu Thalib. Lima. Dan
- 1:14:28itu punya ee apa pola yang berbeda-beda
- 1:14:32semua. sehingga Nabi ngambil pelajaran
- 1:14:34apa saja di situ. Itu yang membuat
- 1:14:37seorang cerdas emosi. Jadi karena kita
- 1:14:39tidak bisa mengontrol lingkungan seperti
- 1:14:41apa, maka yang kita kontrol adalah diri
- 1:14:43kita dong. Kecerdasan emosi ketika kita
- 1:14:46berhadapan dengan hal-hal yang tidak
- 1:14:48ideal dalam hidup. Nah, kecerdasan emosi
- 1:14:51itu kemampuan mengendalikan diri,
- 1:14:54kemampuan berempati,
- 1:14:56kemampuan untuk mendengar suara hati.
- 1:14:59Itu jangan sampai mati dalam diri kita.
- 1:15:01Hidup ini kan aktivitas saling mewarnai.
- 1:15:04Yang penting warna kita lebih tua
- 1:15:06daripada warna lingkungan. Itu yang saya
- 1:15:07sebut imun tadi.
- 1:15:09Oh.
- 1:15:09Kalau warna kita lebih tua, maka apapun
- 1:15:11yang masuk ikut kita dong.
- 1:15:13I
- 1:15:13warna hitam itu masuk warna kuning ya
- 1:15:15dia jadi hitam. Masuk warna merah jadi
- 1:15:17hitam gitu.
- 1:15:18Nah, jadi aktivitas saling mewarnai itu
- 1:15:21kita warnai, kita kuatkan diri kita
- 1:15:23supaya kita yang mewarnai lingkungan
- 1:15:25bukan lingkungan yang mewarnai kita. Ya.
- 1:15:28Dan balik lagi ke level keimanan kita
- 1:15:30juga punya state atau pola kemampuan
- 1:15:35diri di mana banyak orang yang mungkin
- 1:15:37toxic tapi kita tetap kuat dengan mental
- 1:15:38kita sendiri bahwa ya saya seperti ini
- 1:15:40gitu. Saya seperti ini.
- 1:15:41I iya iya iya.
- 1:15:43Kita sudah menyelesaikan tiga pertanyaan
- 1:15:48terakhir dari saya Ustaz. Iya, kayak
- 1:15:51berat ini.
- 1:15:51Berat biasanya. [tertawa]
- 1:15:53Dan tiba-tiba the worst advice yang
- 1:15:55pernah Ustaz Faris terima.
- 1:15:58Hmm.
- 1:16:01Kita adalah apa yang kita pikirkan.
- 1:16:03Wah, kenapa tuh? [tertawa]
- 1:16:06Jadi kalau kamu berpikir bisa, pasti
- 1:16:08kamu bisa.
- 1:16:10Kalau kamu berpikir positif, alam akan
- 1:16:12positif kepadamu. Itu sampah tuh menurut
- 1:16:14saya. [tertawa]
- 1:16:15Kenapa, Ustaz?
- 1:16:16Karena saya sering berpikir bahwa saya
- 1:16:18bisa, ternyata enggak bisa.
- 1:16:19Hm.
- 1:16:21Ini kata-kata seolah-olah motivasi yang
- 1:16:23sangat indah ya. Bagaimana kita menjaga
- 1:16:26mindset positif dalam diri kita. Jadi
- 1:16:29alam semesta itu akan bersekutu sesuai
- 1:16:31dengan kemampuan kita. Tapi ini
- 1:16:33bermasalah dari agama, bermasalah dari
- 1:16:37realita, dan bermasalah untuk ketahanan
- 1:16:39mental kita.
- 1:16:42Ini perkataan seolah-olah sakti sekali,
- 1:16:44tapi dia bertentangan dengan konsep
- 1:16:46takdir di dalam Islam.
- 1:16:49Kalau kita percaya bahwa apapun yang
- 1:16:51kamu pikirkan itu pasti bisa kamu
- 1:16:53lakukan, itu kita seperti aliran
- 1:16:56qadariah. Kita yang mengcate takdir.
- 1:16:59Hm.
- 1:17:00Asal kita berpikir begini pasti kita
- 1:17:02bakal bisa lakukan itu. Dalam Islam
- 1:17:05enggak begitu. Karena kehendak kita
- 1:17:08tetap di bawah kehendak Allah.
- 1:17:09He.
- 1:17:10Kita mesti berpikir positif, tapi ketika
- 1:17:13gagal pun kita harus positif,
- 1:17:16gitu.
- 1:17:17Jadi yang paling penting kita lihat
- 1:17:20dalam agama itu bersama kesulitan ada
- 1:17:23kemudahan, bersama kesulitan ada
- 1:17:25kemudahan sampai diulang sama Allah dua
- 1:17:26kali. Artinya bersama satu kesulitan itu
- 1:17:29setidak-tidaknya ada kemudahan. Itulah
- 1:17:32optimisme seorang mukmin.
- 1:17:34Hm.
- 1:17:35Optimisme di Barat itu bilang begini,
- 1:17:37"Seburuk apapun hari ini ada besok yang
- 1:17:41cerah.
- 1:17:43Segelap apapun malam ini bakal terbit
- 1:17:45fajar yang terang.
- 1:17:47Iya. Kalau bagi orang yang melewati
- 1:17:49malamnya dengan tenang, semalam itu
- 1:17:52pendek.
- 1:17:53Tapi bagi orang yang cemas, semalam itu
- 1:17:55bisa keputusan bunuh diri.
- 1:17:57Iya.
- 1:17:58Dalam Islam optimisme itu enggak
- 1:17:59mengenal delay. Seburuk apapun hari ini,
- 1:18:02besok. Oh, baru besok. Kalau dalam Islam
- 1:18:04enggak. Seburuk apapun kamu melihat hari
- 1:18:08ini pasti ada kebaikan di dalamnya.
- 1:18:10Di hari itu juga ya.
- 1:18:11Di hari itu juga. Jadi kita belajar
- 1:18:14menerima gitu bahwa keputusan Allah itu
- 1:18:17yang terbaik, ketetapan Allah itu yang
- 1:18:20terbaik. Saya berusaha
- 1:18:23untuk positif dalam berpikir, dalam
- 1:18:27berusaha, berstrategi. Karena itu
- 1:18:29kewajiban kita sebagai hamba.
- 1:18:31Kita diamanahi akal, kita diamanahi bisa
- 1:18:34membaca pola-pola, kita diamanahi
- 1:18:37kemampuan skill-skill dalam kehidupan
- 1:18:39itu kita gunakan sebagai bentuk amanah
- 1:18:41kita. H.
- 1:18:43Tapi kalau urusan hasil, udah itu
- 1:18:45serahin sama Allah. Enggak usah kamu
- 1:18:47campuri urusan Allah. Pusing kamu gitu.
- 1:18:51Hmm.
- 1:18:53[tertawa]
- 1:18:54Terima kasih banyak, Ustaz Faris sudah
- 1:18:55berkelas.
- 1:18:56Alhamdulillah.
- 1:18:56Jujur ini daging sekali.
- 1:18:58Semoga teman-teman juga bisa mencatat
- 1:19:00poin-poin hari ini dan semoga kalian
- 1:19:02bisa menerapkan juga di hidup kalian.
- 1:19:04Terima kasih banyak. Terima kasih
- 1:19:05semuanya. Asalamualaikum.
- 1:19:06Waalaikumsalam. Yeah.
About this transcript
This page contains the full transcript of Stop Mengeluh! Yang Kamu Benci Hari Ini, Akan Kamu SYUKURI Di Masa Depan! | SUARA BERKELAS #188 by SUARA BERKELAS, generated from the public captions YouTube serves with the video. The transcript has 10,558 words across 2,210 segments, with the original timestamps preserved so you can click any line to jump to that moment in the embedded player.
What you can do with it
Use the transcript to take notes, quote the speaker, build a study guide, generate a summary with ChatGPT or Claude via the YouTube Summary tool, or export it as a timed subtitle file with YouTube to SRT. You can also re-open it in the transcriber to translate the transcript into 100+ languages.
Free YouTube transcript tool
YouTube2Text is a free YouTube transcript generator — no signup, no daily limit. Paste any YouTube link and get the full transcript instantly, with timestamps, click-to-jump, translation to 100+ languages, AI prompts for ChatGPT, Claude, and Gemini, and exports to TXT, SRT, VTT, or Markdown.