Spiritualitas dan Kesehatan Mental Sesi 2 — Transcript
Full transcript
- 0:18sudah bisa Pak kita mulai.
- 0:20Silakan, Bu.
- 0:26Ee selamat pagi. Asalamualaikum
- 0:28warahmatullahi wabarakatuh. Shalom. Om
- 0:31swastiastu. Namo buddhaya. Salam
- 0:34kebajikan untuk kita semuanya.
- 0:38Puji syukur kepada Tuhan yang maha esa
- 0:40karena pada hari ini kita masih dalam
- 0:42keadaan sehat dan diberi kelapangan
- 0:45waktu sehingga kita dapat melakukan
- 0:48kegiatan kita rutin di Universitas ST
- 0:52Terabineka
- 0:53yaitu pada mata kuliah keberagamaan
- 0:56kuliah umum dengan tema spiritualitas
- 1:00dan kesehatan mental perspektif agama di
- 1:03Indonesia.
- 1:05Yang kami hormati para narasumber yang
- 1:07sudah hadir bersama kita semuanya. Ada
- 1:10Bapak Rudianto. Terima kasih, Pak, untuk
- 1:13kehadirannya.
- 1:15Kemudian kepada Bapak Andre Genta
- 1:18Sanjaya yang sudah berkenan meluangkan
- 1:20waktunya sebagai narasumber kami pada
- 1:22hari ini.
- 1:24Untuk memulai kegiatan kita pada hari
- 1:26ini
- 1:28ee saya akan memperkenalkan diri saya
- 1:31adalah Astuti Purwasari sebagai dosen
- 1:33keberagamaan beserta tim teaching yang
- 1:35lain dengan Pak Josua, Pak Muhammad
- 1:39Irfan dan Pakin. Kemudian ada Bu Ernida
- 1:42sebagai dosen pengampu mata kuliah
- 1:44keberagamaan.
- 1:46Sebelum kuliah umum kita mulai, mari
- 1:49kita awali dengan doa lintas agama
- 1:52terlebih dahulu.
- 1:54Doa akan dibawakan oleh mahasiswa lintas
- 1:57agama dari agama Islam, agama Kristen
- 2:01Protestan, agama Katolik, agama Buddha,
- 2:06dan agama Hindu. Kita mulai dulu sesuai
- 2:10dengan urutan yang saya sebutkan. Kepada
- 2:12pembaca doa
- 2:14kami persilakan untuk mengambil tempat.
- 2:22Doa dalam agama Islam.
- 2:25Bismillahirrahmanirrahim.
- 2:28Alhamdulillahirabbil
- 2:31alamin. Wasalatu wasalamu ala asrofili
- 2:34wal mursalin waa alihi wasbihi ajmain.
- 2:39Billahib w islami wuhammadi abhabilah.
- 2:56Amdulillahil alamin.
- 3:02Doa agama
- 3:08doa agama Kristen.
- 3:11Aduh
- 3:15doa agama.
- 3:18Budam saran gacami
- 3:22dam saran gacami
- 3:26sanggam saran gacami
- 3:30dutiampi budang saran gacang
- 3:36dutiampi dama saran gacang
- 3:41dutiampi sanggam saran gacang
- 3:46hati tiampi budam saran gacami
- 3:51tatiampi dam saran
- 3:57tatiampi
- 3:58saran gacami
- 4:02sabe sat bautus kitata semoga semoga
- 4:05hidup bagi sadu sadu sadu
- 4:16doa dalam agama Hindu.
- 4:19Om
- 4:22om
- 4:27buruaswa
- 4:29tatsabituramgasimahi
- 4:34yoyona prodayat
- 4:37omurwatamahi
- 4:44dio yona prodayat
- 4:47omur
- 4:56Prodanti
- 5:03do agama Kristen Protestan. Dalam mari
- 5:06kita bers dalam doa. Terima kasih Bapa.
- 5:08Terima kasih Yesus karena berkat dan
- 5:09rahmat-Mu kami berhasil melaksanakan
- 5:12kegiatan kuliah tamu kami ini ya Bapa.
- 5:14Ya Bapa, Engkau hadirlah di
- 5:15tengah-tengah kuliah tamu kami ini dari
- 5:17awal pertanggah hingga akhir ya Bapa. Ya
- 5:19Bapa, kami berdoa kepada pemateri dan
- 5:21kepada teman-teman kami supaya materi
- 5:23bisa kami laksanakan di kehidupan kami
- 5:25masing-masing ya Bapa. Dalam nama
- 5:27anak-Mu dan syukur amin.
- 5:32Saya akan membawakan doa dalam agama
- 5:34Katolik. Dalam nama Bapa dan Putra dan
- 5:35Roh Kudus. Amin.
- 5:36Ya Tuhan puji dan syukur kami haturkan
- 5:38kepada-Mu atas berkat dan rahmat yang
- 5:40telah Engkau berikan kepada kami. Terima
- 5:42kasih ya Tuhan. Engkau telah memberikan
- 5:43nafas kehidupan buat kami sehingga kami
- 5:45dapat mengikuti kegiatan kuliah tamu
- 5:46pada hari ini. Ya Tuhan, berkatilah
- 5:48narasumber kami pada hari ini. Semoga
- 5:50apa yang disampaikan, ilmu yang
- 5:51diberikan kepada kami, pengalaman dan
- 5:53juga wawasan mereka dapat menjadi
- 5:55bermanfaat untuk
- 5:57dan juga berkati kedua orang tua kami
- 5:59agar selalu diberikan kesehatan dan juga
- 6:01rezeki yang banyak juga dosen-dosen
- 6:02pembimbing kami selalu ya Tuhan. Inilah
- 6:05doa yang kurang sempurna hendaklah Kau
- 6:06sempurnakan. Amin. Dan Bapa dan Putra
- 6:08dan Roh Kudus. Amin.
- 6:12Terima kasih kepada para pembaca doa.
- 6:15Oke. Baik. Selanjutnya kita akan
- 6:17mendengarkan
- 6:19eh kata sambutan dari Direktor
- 6:22Center for Inter and Mulm
- 6:26Studies University Satraineka dalam hal
- 6:29ini akan diwakili
- 6:31oleh Bapak
- 6:34Zainudin Abu Hamid. Kepada Bapak kami
- 6:36persilakan.
- 6:42Baik, terima kasih kesempatannya Bu
- 6:44Astuti.
- 6:45Selamat pagi. Asalamualaikum
- 6:47warahmatullahi wabarakatuh. Shalom. Om
- 6:49swastiastu. Namo buddhaya. Salam
- 6:51kebajikan.
- 6:54Eh, kepada
- 6:56Bapak Rudi, kemudian Pak Andre.
- 6:58Sebelumnya saya ucapkan terima kasih
- 7:01telah berkenan menghadiri kuliah umum
- 7:03pada pagi ini. Ee saya mewakili Pak
- 7:07Irfan Sarhindi selaku Direktur Center
- 7:09for Inclusivity Interface and Multiporal
- 7:11Studies menghaturkan terima kasih
- 7:14banyak-banyaknya karena eh ya sudah
- 7:16berkenan menghadiri kuliah umum kali
- 7:18ini. Mohon maaf dari direktur kami
- 7:21sendiri Pak Irfan Sarhindi belum bisa
- 7:23hadir dalam kuliah umum kali ini karena
- 7:26beliau sedang berlokasi di UK dan saat
- 7:30ini mungkin jamnya masih terlalu pagi
- 7:32jadi belum bisa bergabung
- 7:36ya. ee sebagai konteks ee Bapak-bapak
- 7:40serta mahasiswa sekalian ee untuk di
- 7:43Universitas Sateraneka sendiri mengenai
- 7:47pendidikan keagamaan itu kami ee
- 7:54men-deliver atau menyelenggarakannya itu
- 7:57tidak secara terpisah Bapak-bapak
- 7:58sekalian. Tapi ee kami ee
- 8:02menyelenggarakannya dalam satu mata
- 8:03kuliah yang sama yaitu keberagamaan. di
- 8:06mana mata kuliah ini diikuti oleh
- 8:09seluruh mahasiswa terlepas dari ee
- 8:11background agama. Nah, ini bukan
- 8:13bermaksud untuk mencampuradukan agama.
- 8:15Tentunya ee kami juga memiliki
- 8:17batasan-batasan mengenai teologi dan
- 8:19sebagainya. Hanya saja di mata kuliah
- 8:22ini kami lebih melihat ee
- 8:26shared values atau kesamaan nilai dari
- 8:30berbagai eh agama-agama yang ada di
- 8:32Indonesia seperti itu. Khususnya
- 8:34mengenai ee aspek-aspek sosial. Nah,
- 8:37oleh sebab itu dalam mata kuliah ini
- 8:39kami membahas banyak hal ee dimulai dari
- 8:44isu toleransi, kemudian mengenai isu
- 8:49ee budaya popatan mental. Nah, ee
- 8:54kebetulan untuk pada kuliah umum kali
- 8:56ini kita mengangkat tema spiritualitas
- 8:59dan kesehatan mental. di mana ini
- 9:01merupakan topik yang sangat menarik. Di
- 9:03mana di Indonesia ini sendiri biasanya
- 9:07agama itu seringki ee dipertentangkan
- 9:10dengan isu spiritual spiritualitas atau
- 9:13kesehatan mental seperti itu. Nah, oleh
- 9:15sebab itu kami ingin mendengar dari
- 9:17perspektif Bapak-bapak sekalian dari
- 9:19berbagai agama yang berbeda mengenai isu
- 9:22ini gitu. Apakah memang benar kesehatan
- 9:25mental itu merupakan sesuatu yang
- 9:26bertentangan dengan agama atau
- 9:27bagaimana? Lalu apa sih ee tantangan
- 9:30yang dihadapi oleh umat beragama
- 9:33mengenai isu kesehatan mental ini? Jadi
- 9:36sekali lagi saya ucapkan selamat datang
- 9:38Bapak Rudi dan juga ee Pak Andre. Ee
- 9:41kami ee sangat senang dan kami tidak
- 9:44sabar menantikan insight-insight yang ee
- 9:48menarik dari Bapak-bapak sekalian. Baik,
- 9:50mungkin itu saja pembukaan dari saya.
- 9:52Terima kasih. Saya kembalikan kepada Bu.
- 9:55Baik, terima kasih Pak Zen untuk
- 9:57sambutannya.
- 9:59Nah, adik-adik mahasiswa sekarang saya
- 10:02akan memperkenalkan narasumber kita yang
- 10:05sudah berkenan hadir pada hari ini. Hari
- 10:08ini narasumber kita ada dari agama
- 10:10Buddha dan ada dari agamacul
- 10:14ya. Untuk agama Buddha, kita akan
- 10:17mendengarkan nanti
- 10:20eh sharing session dari Bapak Rudianto
- 10:24Tanwijaya.
- 10:26Selamat pagi, Pak. Salam ketemu kembali
- 10:29nih di Universitas Satera Bhineka.
- 10:33Senang sekali rasanya hari ini bisa
- 10:35mendengarkan tema yang baru ya, Pak,
- 10:38spiritualitas dan kesehatan mental.
- 10:41Nah, beliau adalah ya terima kasih, Pak.
- 10:45Ee beliau merupakan kepala SMA swasta
- 10:49Buddhis di Budiita Medan tahun 2008
- 10:52sampai sekarang dan juga merupakan dosen
- 10:55di sejumlah perguruan tinggi swasta di
- 10:57Kota Medan. Kemudian beliau saat ini
- 11:01merupakan sekretaris dari pengurus
- 11:03Daerah Majelis Budayana Indonesia
- 11:06Provinsi Sumatera Utara dan Pandita
- 11:08Agama Buddha Budayana yang aktif
- 11:11memberikan pelayanan ceramah di berbagai
- 11:13daerah di Sumatera Utara maupun di luar
- 11:16negeri. Nah, jadi hari ini adik-adik
- 11:19bisa berkesempatan untuk sharing kepada
- 11:22Pak Rudianto terkait masalah
- 11:24spiritualitas dan kesehatan mental. Oke,
- 11:27kemudian selanjutnya ada narasumber kita
- 11:29yang kedua
- 11:31eh Bapak Andre Genta Sanjaya. E Bapak
- 11:36Andre Genta Sanjaya ini adalah ee coach
- 11:41ee dari
- 11:44ee ataupun peserta trainer juga,
- 11:46research juga speaker juga. Wah, luar
- 11:49biasa nih hari ini. Pokoknya jangan
- 11:51disia-siakan narasumber yang luar biasa
- 11:53hebatnya.
- 11:54Beliau ini ee sudah lama menjadi
- 12:00ee coach ya, Pak Andre ya. Kami
- 12:02manggilnya coach atau Andre nih biar
- 12:05lebih akrab nih.
- 12:06Manggilnya Kok Andre juga boleh kok.
- 12:10Baik. Bebas Kak Andre. Andre bebas biar
- 12:14lebih mudah.
- 12:16Oke, boleh disesuaikan nanti ya, Ko atau
- 12:20Coach juga boleh. Baik, nanti kita akan
- 12:22mendengarkan nih sharing session dari
- 12:24kedua narasumber kita pada hari ini.
- 12:26Oke, baik. Ee tanpa memperpanjang kalam,
- 12:30kita akan mulai kegiatan kita pada hari
- 12:33ini. Mohon para adik-adik mahasiswa
- 12:35mendengarkan narasumber dan ada yang hal
- 12:39yang penting boleh dicatat sebagai bahan
- 12:41untuk diskusi kita pertemuan
- 12:43selanjutnya. Nah,
- 12:46baik Bapakbapak narasumber, materi kita
- 12:50hari ini adalah spiritualitas dan
- 12:52kesehatan mental. Nah, kita ketahui
- 12:54bahwa spiritualitas di dan agama di
- 12:57Indonesia itu berperan sebagai pilar
- 12:59pilar utama justru dalam membangun
- 13:02kesehatan mental. Nah, generasi Z yang
- 13:06kita kenal pada saat ini ee cukup
- 13:09berbeda nih ke dalam hal eh mental
- 13:13health-nya. untuk generasi-generasi
- 13:15sebelumnya. Nah, jadi ee banyak hal yang
- 13:18mempengaruhi nih kira-kira ee apa sih
- 13:21yang mempengaruhi kesehatan mental pada
- 13:24generasi Z saat ini? Apakah agama juga
- 13:26menjadi salah satu halnya? Kira-kira
- 13:29nanti kita akan ee mengkaji ini. Nah,
- 13:33jadi saya ada beberapa hal yang menjadi
- 13:35pertanyaan nih, Pak. Kira-kira ini ee
- 13:38bagaimana Bapak melihat spiritualitas
- 13:40dan kesehatan mental secara umum? Saya
- 13:43mau ke Pak Rudi dulu. Boleh, Pak.
- 13:47Iya.
- 13:48Bagaimana pandangan Bapak?
- 13:50Selamat pagi, Buuti dan
- 13:52rekan-rekan sekalian. Namo Buddhaya.
- 13:55Ya, salam sejahtera bagi kita semua.
- 13:57Jadi, dalam
- 13:59pandemia yang saya ketahui bahwa ee
- 14:04semua saling ketergantungan ya.
- 14:07Kehidupan kita ini tidak ada satu sebab
- 14:08yang tunggal. Artinya ee kesehatan
- 14:11mental ini juga saling berhubungan
- 14:14dengan spiritual spiritualitas ya. Jadi
- 14:18dengan adanya spiritualitas itu
- 14:19sebetulnya juga dapat mendukung ke arah
- 14:21kesehatan mental itu sendiri. Apalagi
- 14:23sekarang kita melihat ya bahwa kondisi
- 14:25ee kehidupan kita itu penuh dengan
- 14:28kerawanan ya. banyak sekali
- 14:30faktor-faktor yang potensial sekali
- 14:32untuk mengganggu kestal kita seperti
- 14:34stres ya, kecemasan, depresi ini juga
- 14:37karena berakar daripada faktor internal
- 14:40dan eksternal kita yang sering sekali
- 14:42tidak begitu ee stabil sehingga
- 14:45menimbulkan banyak sekali permasalahan
- 14:46kehidupan kita. Nah, dalam ajaran Buddha
- 14:49tantangan-tantangan ini perlu diakomodir
- 14:52ataupun diminimalisir dengan kemampuan
- 14:55spiritual kita. Jadi dengan kata lain
- 14:57bahwa dengan adanya spiritual tersebut
- 15:00kita bisa menopang kehidupan kita
- 15:02sehingga menjadi pelindung terhadap
- 15:04serangan-serangan ataupun
- 15:06kondisi-kondisi baik internal maupun
- 15:07eksternal yang terjadi dalam kehidupan
- 15:09ini sehingga kita dengan spiritual itu
- 15:12bisa lebih memahami makna hidup, bisa
- 15:14lebih membangkitkan ee ee nilai-nilai
- 15:19positif dalam diri kita seperti welas
- 15:21asasi asasi, kasih sayang, pengampunan,
- 15:23dan juga bagaimana kita hidup
- 15:25bersosialisasi. Karena dalam agama
- 15:27Buddha ee cinta kasih universal, belas
- 15:30kasih, dan keseimbangan batin itu
- 15:32merupakan salah satu pondasi yang kuat
- 15:34untuk bisa kita menjalani kehidupan ini.
- 15:37Demikian, Bu.
- 15:41Baik, terima kasih, Pak. Nah, bagaimana
- 15:43nih menurut Coach?
- 15:47Siap. Ee sebelumnya terima kasih atas
- 15:51kesempatannya
- 15:53sudah mengundang
- 15:55saya. Saya buka dengan salam ya biar
- 15:58lebih ee seru gitu ya. Asalamualaikum
- 16:02warahmatullahi wabarakatuh. Shalom. Om
- 16:04swastiastu. Namo buddhaya. Salam
- 16:05kebajikan. Salam olahraga. Wah saya
- 16:08tambahin satu ya. Jaya. Jadi ee kenapa
- 16:12saya buka dengan salam olahraga? Terus
- 16:13apa hubungannya dengan topik kita hari
- 16:16ini? Karena sebenarnya
- 16:19ketika bicara tentang spiritualitas dan
- 16:23ee ee kesehatan mental itu saya setuju
- 16:27sekali tadi yang disampaikan sama Bapak
- 16:30Rudi bahwa itu saling berkaitan, tidak
- 16:33bisa dipisahkan satu sama lain, ibarat
- 16:35poin gitu ya. sehingga sebenarnya ee
- 16:40ee idealnya bahwa ee ilmu kesehatan
- 16:45mental dan ilmu spiritualitas ini harus
- 16:50saling mengisi sebenarnya. Ibarat ibarat
- 16:54kita berpikir tanpa ilmu berbahaya,
- 16:58berilmu tanpa berpikir sia-sia. Jadi ee
- 17:03itu harus saling terikat satu sama lain.
- 17:08Nah, kalau ditanya dalam perspektif ee
- 17:12Kongucu yang mana
- 17:15pentingnya ketika kita bicara tentang
- 17:17kesehatan mental, Kongucus selalu bicara
- 17:21tentang bagaimana kita bisa terus
- 17:26atau membindah diri menjadi pribadi yang
- 17:29terus lebih baik. Dan lebih baik lagi di
- 17:32kemudian hari. Apapun yang terjadi,
- 17:35apapun kondisi saat ini tidak
- 17:37menyalahkan lingkungan, tapi fokus ke
- 17:40dalam diri untuk terus belajar sepanjang
- 17:43hayat sampai mampus alias mampu sukses
- 17:48versi kita masing-masing. Karena
- 17:51definisi sukses tiap orang itu
- 17:54beda-beda. Kebetulan saya ee
- 17:58per hari ini itu diundang emm
- 18:03sebagai pembicara praktisi konklusif
- 18:07yang sebenarnya saya juga seorang
- 18:08pelatih mental olahraga yang hidup
- 18:11dengan serebal palsi tapi mampu
- 18:14mengendampingi
- 18:17atlet atau pelajar atlet yang e badi
- 18:20sehingga
- 18:21ini ee ketika dikaitkan dengan
- 18:24spiritualitas
- 18:27berbagai ilmu baik ilmu agama, ilmu
- 18:31psikologi, maupun olahraga itu sendiri
- 18:34itu saling berkaitan satu sama lain
- 18:36untuk bisa menciptakan kita hidup yang
- 18:39namanya hidup bahagia atau hidup.
- 18:44Sekian.
- 18:49Berarti kalau kita mau sehat mental,
- 18:51fisiknya juga harus sehat ya, Coach ya?
- 18:53Betul. Heeh.
- 18:54Satu kesatuan antara mental dan fisik
- 18:57itu jadi satu.
- 18:58Oke. Baik, terima kasih, Coach. Oke,
- 19:01pertanyaan kedua. Menurut pengalaman
- 19:05Bapak, agama mengajarkan tentang
- 19:08ketenangan dalam diri dan jiwa. Namun,
- 19:11mengapa ada individu yang tekun
- 19:14beribadah tapi hatinya masih gelisah?
- 19:18Kira-kira apa faktor penyebabnya? Boleh
- 19:20dengar dari coach dulu nih.
- 19:25Oke. Ee
- 19:28kadang-kadang memang ee
- 19:32kita tidak bisa men-judge bahwa orang
- 19:34yang taat beragama itu sudah pasti eh
- 19:38like zen gitu ya. lebih mudah klek
- 19:43jadi kayak karena memang itu
- 19:46kadang-kadang ee
- 19:49dua hal yang berbeda juga. Jadi
- 19:53saya melihat bahwa ketika kita bicara
- 19:57tentang
- 19:58agama
- 20:01itu seringki kita berfokus pada
- 20:04ritualnya,
- 20:06rutinitas.
- 20:11dengan pas tanpa makna itu bisa dirinya
- 20:16belum tentu juga bisa mendapatkan pis.
- 20:19Maka yang bisa membuat kita jadi tenang
- 20:22itu adalah kebermaknaan kita terhadap
- 20:25rutinitas kita beragama.
- 20:28Dan teman-teman juga sadari bahwa yang
- 20:31namanya agama sama spiritualitas itu
- 20:35juga dua hal yang berbeda. Yang mana
- 20:37spiritualitas itu jauh lebih besar
- 20:40daripada agama itu sendiri. Maka ketika
- 20:42kita temanya adalah mental dan
- 20:44spiritualitas maka kita melepaskan sekat
- 20:48bahwa kita tentang bicara tentang memang
- 20:51ya ini diundang-undang semua gitu ya
- 20:53berbagai agama. Tapi ketika bicara
- 20:55tentang spiritualitas
- 20:57bahwa kita percaya
- 20:59dengan adanya kekuatan yang lebih besar
- 21:03dari manusia itu sendiri sehingga kita
- 21:06dilatih terus untuk bisa punya harapan
- 21:09atau asa sehingga pada akhirnya itu yang
- 21:12bisa mengurangi kegilas kegelisahan tadi
- 21:16gitu. Dan orang yang sering beribadah
- 21:19belum tentu punya asal tadi gitu.
- 21:23Mungkin itu yang bisa menjawab kenapa
- 21:25kadang-kadang orang yang sering
- 21:26beribadah belum tentu bisa ee tenang
- 21:30gitu.
- 21:35Terima kasih, Kus.
- 21:37Ini jadi serius banget ya, tegang banget
- 21:39kayaknya ini.
- 21:41Oke. Kalau menurut Pak Rudi gimana itu,
- 21:43Pak?
- 21:44Iya. M menarik sekali ini ya, bahwa ada
- 21:47orang yang tekun beribadah tapi masih
- 21:49gelisah. Memang ee saya melihat bahwa
- 21:53beribadah itu tidak selalu sejalan
- 21:54dengan namanya
- 21:57ee keimanan itu langsung meningkat ya,
- 22:00belum tentu. Jadi dia rajin beribadah
- 22:02tidak harus ee linier dengan ee tingkat
- 22:06keimanan dia. Belum tentu. Kalau dalam
- 22:09agama Buddha itu dikatakan bahwa
- 22:12aktivitas keagamaan dan pembebasan batin
- 22:14itu beda, Bu. Jadi kalau kita beribadah
- 22:17itu lebih kepada aktivitas keagamaan.
- 22:19Tapi pada dasarnya agama Buddha itu
- 22:21bertujuan untuk bagaimana batin kita
- 22:24terbebaskan dari apa? Dari yang namanya
- 22:27keserakahan, kebencian, dan kebodohan.
- 22:30Itu paling penting. Makanya dalam agama
- 22:32Buddha itu ada tiga hal. dikatakan bahwa
- 22:34mempelajari agama Buddha itu atau
- 22:35memahami ajaran Buddha dari segi teori,
- 22:39yang kedua dari segi praktik,
- 22:42yang ketiga setelah kedua ini
- 22:44terkombinasi maka akan terjadilah
- 22:46namanya pembebasan batin ataupun namanya
- 22:49kita ee bebas dari segala hal-hal yang
- 22:51tidak baik. Jadi teori dan praktik itu
- 22:54tidak bisa digabung.
- 22:56Dua-dua adalah dimensi pembelajaran bagi
- 22:58kita di mana teori penting sebagai dasar
- 23:01dan praktik penting untuk mendapatkan
- 23:03pengalaman-pengalaman nyata. Nah,
- 23:05beribadah kadang-kadang kita melihat
- 23:08bukan semata-mata karena untuk
- 23:09pembebasan. Banyak sekali orang
- 23:11beribadah itu untuk
- 23:12keuntungan-keuntungan sepihak. misalnya
- 23:14dipuji ya, pengakuan dari orang lain,
- 23:18menghindari nasib yang buruk, takut ya
- 23:20dengan resiko-resiko, mungkin dicela
- 23:23akan atau takut kepada hukuman daripada
- 23:26karma yang tidak baik dan sebagainya
- 23:28sehingga akhirnya ada harapan dalam
- 23:30ibadah. Tapi ketika harapan tersebut
- 23:32tidak terpenuhi, nah timbullah namanya
- 23:35kekecewaan ataupun keresahan sehingga
- 23:38itulah membuat hati tetap gelisah. Tapi
- 23:40coba kita lihat kalau kita beribadah
- 23:43sambil melakukan aktivitas untuk
- 23:46membebaskan batin kita, misalnya kita
- 23:48sambil beribadah itu berdana ya. Kalau
- 23:50kita di Islam mungkin infak namanya ya.
- 23:53Nah, kita juga berarti itu melatih kita
- 23:55membebaskan diri dari keselakaan kita
- 23:57berlatih memberi. Itu termasuk ibadah
- 23:59yang lebih sempurna sambil beribadah.
- 24:02Setelah beribadah kita mempraktikkannya.
- 24:05Nah, itu juga bagus. Jadi beribadah itu
- 24:08bisa membuat gelisah. jelas karena dua
- 24:11hal ini satu yang ber berbeda ya. Dua
- 24:13hal ini berbeda dengan e tujuan utama
- 24:16daripada ajaran Buddha. Jadi aktivitas
- 24:19ee keagamaan itu ibadah. Tetapi
- 24:21pembebasan batin itu adalah tanggung
- 24:23jawab personal
- 24:25ketika diri dan mempraktikkannya
- 24:29untuk mendapatkan lebih baik. Jadi ee
- 24:34adalah tapi bukan berarti saya
- 24:35mengatakan ibadah tidak penting ya Bu
- 24:36ya. Ibadah tetap penting karena itu
- 24:38adalah jalan untuk masuk praktik. Nah,
- 24:41kalau tidak ada ibadah kita enggak
- 24:42mengerti praktik. Tetapi kalau cuma
- 24:44sampai di tataran ritual saja tidak ada
- 24:47praktik maka tidak sempurna. Maka ketika
- 24:50dia gelisah kita dapat jawabannya dia
- 24:52lebih kepada konsen kepada aktas bukan
- 24:55kepada latih diri ataupun
- 24:57praktik-praktik.
- 25:00Baik, terima kasih ya, Pak. Jadi memang
- 25:02ee ada sedikit kedimaan ya, Pak seperti
- 25:06itu ya. antara
- 25:08ya
- 25:08e beribadah.
- 25:11Baik. Ee pertanyaan ketiga nih, Pak.
- 25:14Selanjutnya ee menurut pengalaman Bapak
- 25:16juga nih, apakah ketika kita ditimpa
- 25:18sebuah masalah kesehatan mental artinya
- 25:21kita itu kurang iman, Pak?
- 25:27Kira-kira gimana itu? Ee ke coach dulu
- 25:30boleh.
- 25:33Kira-kira apakah kalau kita ditimpa
- 25:35masalah kesehatan mental itu artinya
- 25:36kita kurang iman?
- 25:39Baik. Tentu jawabannya pasti tidak
- 25:42dan itu pertanyaan yang kelis sih
- 25:44sebenarnya. Singkatnya tidak. Jawaban
- 25:46panjangnya adalah mau panjang apa pendek
- 25:49nih Bu Suti kayaknya panjang pendek ya.
- 25:53Jadi izin teman-teman
- 25:55ee bicara tentang ee ee apa tekanan
- 25:59mental itu sangat kompleks. Ketika kita
- 26:02pakai perspektif psikologi aja berarti
- 26:05ada faktor biologis di situ, ada faktor
- 26:08psikologis di situ, dan ada faktor
- 26:10sosial di situ. Maka ketika bicara
- 26:13tentang ee bahwa oh berarti kalau punya
- 26:16gangguan tertentu apa sakit mental dan
- 26:19sebagainya itu kurang iman. Berarti
- 26:22teman-teman sudah menampilikan tiga
- 26:24aspek yang tadi saya sebutkan. Yang mana
- 26:28ketika bicara tentang ee kesehatan
- 26:32mental itu artinya adalah bagaimana
- 26:34manusia itu bisa berfungsi sedemikian
- 26:38rupa apapun kondisinya bisa berfungsi
- 26:42dan berkontribusi pada masyarakat.
- 26:45Sehingga ketika dikatakan ee apa sedang
- 26:50sakit mentalnya berarti sedang turun
- 26:53keburung fungungsiannya. Kalau dikatakan
- 26:56kurang iman berarti itu sekali lagi
- 27:00hanya mengecilkan bahwa manusia
- 27:03kalau lagi kenapa-napah berarti wah
- 27:06kurang iman. Padahal manusia jauh lebih
- 27:09kompleks daripada itu.
- 27:12Sehingga dalam perspektif Kunghuchu
- 27:16ee
- 27:18ee Kungkuchu bilang,
- 27:21"Apapun yang terjadi di hidup Anda, maka
- 27:27teruslah berusaha,
- 27:30terus
- 27:32belajar. Kalau salah jangan takut untuk
- 27:35memperbaiki. Kalau jatuh,
- 27:38kalau capek istirahat.
- 27:41Bukannya kabur, istirahat sebentar jalan
- 27:44lagi. Bahkan kalau salah itu tidak akan
- 27:48benar-benar jadi kesalahan kalau kamu
- 27:50mau memperbaiki
- 27:52dengan siusen tadi, pembinaan diri
- 27:55seumur hidup
- 27:57gitu.
- 27:58Iya. Berarti intinya banyak faktor yang
- 28:01menjadi pengaruh ya, Pak ya.
- 28:04Betul.
- 28:05Oke. Baik, terima kasih, Pak. Nah, kalau
- 28:07dari agama Buddha bagaimana itu ya, Pak?
- 28:10Oke, Bu Astuti. Mm perlu kita sadari
- 28:13bahwa dalam ajaran Buddha, begitu orang
- 28:16lahir ke manusia dalam kehidupan manusia
- 28:18itu adalah salah satu kondisi mutlak
- 28:20adalah penderitaan.
- 28:22Jadi, penderitaan itu usia tua, sakit,
- 28:26bertemu dengan yang tidak mengenakkan.
- 28:30termasuk menggembirakan juga itu
- 28:32penderitaan. Karena penderitaan itu pada
- 28:34hakikatnya tidak permanen. Dia selalu
- 28:36datang pergi, datang pergi puas tidak
- 28:38puas. Itulah salah satu kondisi ee
- 28:41mutlak yang harus kita hadapi terlahir
- 28:43di alam manusia ini. Jadi ketika kita
- 28:45ditimpa masalah itu bukan sesuatu hal
- 28:48yang mengagetkan. Karena dalam agama
- 28:50Buddha juga kita tahu bahwa ee semua itu
- 28:54adalah saling ada sebab dan kondisi
- 28:58dengan istilah patica samopada. Jadi
- 29:00ketika kita mempunyai masalah pasti ada
- 29:03sebabnya. Ketika kita selesai masalah
- 29:05juga pasti ada sebabnya. Termasuk juga
- 29:07ketika kita ada masalah itu tidak ada
- 29:09hubungan dengan iman. itu adalah kondisi
- 29:11real yang harus dihadapi. Nah, hanya
- 29:13saja setelah kita menjadi siswa Buddha
- 29:15ataupun umat Buddha, kita mempunyai cara
- 29:17pandang yang berbeda terhadap masalah
- 29:19itu sendiri. Nah, kita dilatih untuk
- 29:22bagaimana melihat masalah itu dengan
- 29:25perspektif yang berbeda. Itu saja. Jadi
- 29:28ketika kita melihat ee ada
- 29:30masalah-masalah kesehatan mental dan
- 29:32sebagainya itu, itu lebih kita lihat
- 29:34akar masalahnya di mana. Kita digiring
- 29:37kepada bagaimana kita melihat sumber
- 29:40masalah itu dimulai dari mana. Nah, kita
- 29:43fokus untuk menyelesaikannya. Jadi,
- 29:45masalah itu justru dalam agama Buddha
- 29:47adalah adalah metode untuk kita lebih
- 29:49menyempurnakan diri. Karena kenapa?
- 29:52Karena banyak faktor terjadi masalah
- 29:54tersebut. bisa pengalaman hidup
- 29:56traumatik, bisa juga tentang kondisi
- 29:58fisik, kesehatan, lingkungan sosial,
- 30:01ekonomi seperti sekarang ini dolar terus
- 30:03terjun bebas ya kan. Itu juga salah satu
- 30:06kalau dijadikan masalah jadi masalah
- 30:07tetapi itu bisa juga kita jadikan
- 30:09sebagai pembelajaran dari mana ini
- 30:10muncul sehingga artinya masalah dalam
- 30:13agama itu relatif sekali.
- 30:16Relatif dari mana? Dari perspektif kita.
- 30:18Sehingga ketika kita bisa melihat akar
- 30:21masalah itu, justru kita menambah
- 30:23keyakinan kita bahwa kita ini dilatih
- 30:26untuk sebagai problem solver,
- 30:29bebas dari masalah. Jadi bukan berarti
- 30:32kita takut dengan masalah, bukan berarti
- 30:34kita juga menghubungkan antara masalah
- 30:36itu dengan kurangnya iman kita. Betul.
- 30:38Apabila orang itu tidak kuat
- 30:39keyakinannya, mungkin dia anggap masalah
- 30:41yang satu 1 gram bisa menjadi satu. itu
- 30:44bisa terjadi. Maka oleh sebab itu inilah
- 30:47yang harus kita teruskan kepada umat
- 30:50Buddha bagaimana perspektif pemikiran
- 30:52dia. Jadi agama Buddha itu paling
- 30:54penting di pikiran. Pikiran itu adalah
- 30:56penentu atau pelopor utama sehingga kita
- 30:58itu betul-betul bisa melihat segala
- 31:00sesuatu itu dengan positif. Dan kalaupun
- 31:02negatif kita bisa mentransformasinya
- 31:05pelan-pelan untuk bisa menjadi positif.
- 31:07Contoh saat ini dolar naik. Ini ini
- 31:11salah satu masalah bagi kita secara
- 31:13umum. Tetapi kalau kita merenung ini
- 31:15bisa menjadikan alarm bagi kita untuk
- 31:17bisa lebih hidup sederhana sehingga
- 31:19dalam membuat pilihan-pilihan untuk
- 31:21menentukan kebutuhan dan keinginan itu
- 31:22kita bisa lebih selektif. Kita dengar
- 31:25misalnya harga bahan pokok naik ini juga
- 31:27masalah kalau kita pakai kacamata
- 31:28masalah. Tetapi bisa kita jadikan
- 31:30sebagai kita menjadi lebih ee
- 31:34apa namanya? Hidup lebih sehatlah kita,
- 31:36bagaimana membeli yang sangat penting
- 31:38bagi kita dan mengurangi apa yang tidak
- 31:39penting bagi kita. Nah, sekali lagi
- 31:41artinya masalah tidak ada hubungan
- 31:43dengan iman, tetapi iman akan membuat
- 31:45kita lebih tajam dalam memperspektif
- 31:50pandangan kita terhadap masalah
- 31:51tersebut. Demikian, Bu.
- 31:54Baik, Pak. Terima kasih. Intinya
- 31:56ditekankan bahwa hukum sebab sebab
- 31:58akibat itu juga ada ya, Pak. Ya. Jadi,
- 32:01betul sangat sangat. Sebab akibat itu
- 32:03akar daripada pandangan kita.
- 32:06Iya. Baik, Pak. Terima kasih, Pak.
- 32:09Ee selanjutnya nih, Pak ee kira-kira ada
- 32:13enggak contoh praktik spiritualitas
- 32:15dalam komunitas keagamaan yang Bapak ee
- 32:20lakukan yang dapat menjadi inspirasi
- 32:24bertujuan untuk melaraskan kesehatan
- 32:26mental.
- 32:28Ada enggak praktik spiritualitasnya,
- 32:30Pak, dalam komunitas?
- 32:32Pak Oh, kalau di budis banyak. Salah
- 32:35satunya yang rutin yang selalu ada
- 32:37adalah praktik. pelatihan meditasi ya.
- 32:40Nah, kami dalam seminggu sekali selalu
- 32:43ada di wihara-Wihara atau Cetia. Silakan
- 32:46bergabung bagi kita umat Buddha untuk
- 32:49meditasi dan meditasi ini sifatnya
- 32:50universal sebetulnya bukan hanya ee
- 32:53otoritas umat Buddha saja. Saya pikir di
- 32:55Muslim juga ada model yang seperti itu.
- 32:57Di Hindu juga dan di Kongu juga. Jadi
- 33:00biasanya kita meditasi itu untuk lebih
- 33:02melihat ee pikiran kita tu lebih tenang.
- 33:05Ya, ibarat kita sedang mencuci pikiran
- 33:07kita sehingga dengan demikian kita bisa
- 33:09menilai sesuatu itu dengan lebih jernih
- 33:11dan bisa lebih tenang sehingga akhirnya
- 33:14ee masalah itu bisa kita lihat ke
- 33:16akarnya bukan lagi kepada bunga-bunga
- 33:18masalah. Banyak orang terjebak karena
- 33:20bunga-bunga masalah itu. Kedua, kita
- 33:23juga ada pelatihan namanya mindfulness,
- 33:25hidup berkesadaran. Jadi, kita
- 33:27betul-betul menyadari apa yang kita
- 33:30alami timbul tenggelam. Ya, itu ada juga
- 33:33di wihara. Salah satu contohnya mungkin
- 33:35di Wihara Borobodur Jalan Imam Bonjol
- 33:37juga kita ada juga praktik-praktik
- 33:40action ya misalnya ee berbagi, berdana
- 33:44ya salah satunya misalnya perdana
- 33:46kehidupan function kalau kita sebut
- 33:48function. Jadi ada tiap minggu itu
- 33:50melepas binatang atau satwa ke alam
- 33:52terbuka itu juga melatih kemurahan kita
- 33:55untuk menghargai kehidupan. Jadi hal-hal
- 33:57seperti ini sebetulnya kita lakukan
- 33:59bagus untuk apa? menurunkan tensi
- 34:02daripada ke apa namanya? Keruetan
- 34:05pikiran kita ya. Jadi pikiran kita ini
- 34:07kan ruet sekali dihantui oleh begitu
- 34:09banyaknya persoalan-persoalan. Nah,
- 34:11dengan adanya meditasi mindfulness atau
- 34:13hidup berkesadaran, lalu kemudian
- 34:15praktik berbagi. Kita itu melihat bahwa
- 34:18sentral masalah itu bukan hanya kepada
- 34:20kita loh, tetapi masalah ini ada dalam
- 34:22setiap makhluk. Kadang-kadang manusia
- 34:25itu selalu merasa dirinya paling penting
- 34:26keakuannya. Kenapa? Keakuan itu adalah
- 34:28ketika dia melihat dirinya paling
- 34:30penting di dunia ini. Ketika dolar
- 34:32turun, dia merasa paling menderita.
- 34:34Ketika gaji enggak naik, dia merasa dia
- 34:36paling menderita. Ketika cinta dia
- 34:37ditolak, dia merasa paling menderita.
- 34:39Nah, dengan adanya praktik ini, dia akan
- 34:41melihat sebetulnya dia tidak terlalu
- 34:43menderita. Yang menderita itu adalah
- 34:45egonya. Dia merasa dia disakitin. Nah,
- 34:49dengan ikutnya komunitas seperti ini,
- 34:51rajin berlatih, maka kita menurunkan
- 34:54tensi dalam diri kita. sehingga akhirnya
- 34:56kita betul-betul terbebas. Yang tadi
- 34:58saya katakan tujuan agama Buddha bukan
- 35:00hanya aktivitas keagamaan, tapi
- 35:02pembebasan batin. Demikian, Bu.
- 35:06Oke, Pak. Izin kalau boleh saya tanya,
- 35:08Pak. Untuk meditasi kira-kira durasinya
- 35:10berapa lama, ya, Pak?
- 35:11Oh, meditasi ini sama seperti kita
- 35:14belajar di sekolah, ada yang senior, ada
- 35:16junior, ada pemula. Kalau yang bagi
- 35:18pemula mungkin cukup 5 menit tiap hari,
- 35:21tapi rutin. Jadi, dosisnya ditingkatkan.
- 35:23Mungkin awal-awal 5 menit, nanti sekitar
- 35:25sudah lama sudah mantap bisa 10 menit,
- 35:2715 menit. Jangan langsung membabi uta
- 35:30sampai 20 menit atau setengah jam. Nanti
- 35:32akhirnya apa? Ibarat kita itu berlari
- 35:34tanpa ada pemanasan, tanpa ada dasar
- 35:37yang kuat, maka kita lelah sendiri.
- 35:38Akhirnya menyalahkan lari itu salah.
- 35:41Padahal bukan lari itu yang salah, tapi
- 35:42metode kita yang kurang tepat. Kedua,
- 35:44meditasi itu harus ada guru. Kenapa saya
- 35:47bilang harus ada guru pembimbing, Bu?
- 35:49Namanya kita gym aja pun perlu ada PT
- 35:51ya, personal trainer ya. Kedua, meditasi
- 35:54itu menggunakan pikiran. Jadi, kita
- 35:56melatih pikiran kita. Perlu ada yang
- 35:57tahu bagaimana gerak pikiran itu. Kalau
- 36:00kita bermain-main dengan pikiran ada
- 36:01melatih, takutnya pikiran ini bisa
- 36:03mengarah ke mana-mana. Jadi penting
- 36:05sekali ada guru pembimbing. Kalau di
- 36:07agama Buddha kita berlindung atau kepada
- 36:09sangga kita bisa berlatih kepada para
- 36:11bhante, para suhu atau pandita yang
- 36:13sudah mahir. Kalau untuk pemula boleh 5
- 36:17menit saja tidak perlu pelatih. Tapi
- 36:18kita paling sadari napas kita masuk,
- 36:20napas keluar, napas masuk, napas keluar.
- 36:23Kenapa? Dengan menyadari ada pernapasan
- 36:25kita menyadari kita hidup. Kalau kita
- 36:27tahu kita hidup, kita tahu berpikir
- 36:29untuk apa hidup ini. Itu demikian, Bu.
- 36:36Ya, baik, terima kasih, Pak. Perlu
- 36:38dicoba juga itu, Pak. Karena kan salah
- 36:40satu ee cara juga nih dalam dunia
- 36:42olahraga ya kan, Coach?
- 36:44Iya.
- 36:44Supaya emosionalnya terkontrol.
- 36:48Nah, kalau menurut Coach nih gimana? Ada
- 36:50enggak kira-kira
- 36:55praktik spiritualitas nih dalam
- 36:57komunitas? Heeh. Ya, sebelum saya ke
- 36:59situ, saya mau konfirmasi dulu bahwa
- 37:01saya setuju banget kalau di psikologi
- 37:03itu namanya mindfulness yang
- 37:06dipopulerkan sama dr. Kabatza itu yang
- 37:08sebenarnya itu ee berangkat dari ajaran
- 37:12ee Buddha dan itu bisa digunakan ee
- 37:19terlepas dari agama apapun itu bisa
- 37:23digunakan untuk ee apa ya ketenangan
- 37:26pikiran, fokus. Bahkan ada konsep yang
- 37:28namanya meditasi tidak hanya diam, tapi
- 37:30meditasi bergerak gitu ya. benar-benar
- 37:32merasakan apa yang gerakan kita, kulit
- 37:36kita, udara yang kita masuk dan
- 37:38sebagainya. Sehingga ketika ditanya ee
- 37:42dari perspektif kongku seperti apa, yang
- 37:45teman-teman perlu ketahui ee
- 37:48ada ee yang namanya suatu ajaran itu
- 37:53saling beririsan, Teman-teman. tidak
- 37:55tidak ee apa ya benar-benar terpisah
- 37:58atau berbeda. Karena
- 38:01kalau ditanya dalam konteks ee ajaran
- 38:05neconfusionism itu ada namanya kan
- 38:07Cingcuo juga tuh. Cingcuo tuh duduk diam
- 38:10itu dekat sekali sama eh meditasi
- 38:14sebenarnya. Bahkan correct di
- 38:19e di Islam juga ada konsep berzikir
- 38:22misalnya itu juga bisa menenangkan
- 38:25pikiran.
- 38:27Eh, lalu selain itu apalagi saya ingin
- 38:30tekankan bahwa
- 38:33itu sangat menekankan belajar sepanjang
- 38:37hayatibur
- 38:40dan
- 38:43istilahnya
- 38:44eh
- 38:46su
- 38:48eh setia sama Tuhan tepasra pada sesama.
- 38:52Bahkan kalau di muslim mungkin ab
- 38:53minallah ab minanas gitu ya. Ee jadi
- 38:58saya ingin mengkonfirmasi bahwa hari ini
- 39:10izin Coach.
- 39:16Halo, Coach.
- 39:21Apakah masih ada di Zoom, Bu atau
- 39:23terlempar?
- 39:26Entar saya cek ya, Pak. Soalnya
- 39:28coach-nya sedang
- 39:32bicara tapi
- 39:35Iya. Terputus ya.
- 39:39Terputus, Pak. Tapi masih stay di Zoom.
- 39:43Stay di Zoom. Oke.
- 39:49Sudah out, Pak.
- 40:00Oke. Baik. Ee saya ke Pak ee Rudi dulu
- 40:04nih.
- 40:04I siap.
- 40:04Ee saya dulu, Pak kuliah saya sering
- 40:08main-main ke Cemara Asri, Pak.
- 40:10Iya.
- 40:11Heeh. Cemara Asri.
- 40:12IBC ya. ITVC ya. Indonesia.
- 40:15Iya. Saya lihat di ada danaunya itu,
- 40:19Pak. Itu isinya ikan semua. Nah,
- 40:21Danau ya. sampai besar-besar semua.
- 40:24Heeh. Apakah ikan itu memang tidak
- 40:27dipanen gitu, Pak? Atau itu memang sudah
- 40:29tradisi di sering dimasukkan ke dalam
- 40:32seperti itu?
- 40:34Ee ya ini memang saya kurang tahu juga
- 40:37jawabannya. Cuma saya pikir ikan itu
- 40:39kebetulan saya dulu peliharanya di sana.
- 40:42Saya melihat ee ikan itu sejak dari awal
- 40:44kompleks itu dibangun. Saya pikir ikan
- 40:47itu memang ada ee kolam itu memang sudah
- 40:49ada ya ee dalam bentuk rawa-rawa. Lalu
- 40:52kemudian ada umat ataupun ada masyarakat
- 40:54yang meletakkan ikan itu di sana
- 40:56sehingga akhirnya terjadilah ekosistem
- 40:59habits daripada binatang-binatang
- 41:00tersebut. Dan ada juga beberapa teman
- 41:02yang kadang-kadang ee terbetik hatinya
- 41:05untuk ee melepaskan sakwa di sana. Jadi
- 41:08akhirnya berkembang biaklah ikan-ikan
- 41:09tersebut di sana.
- 41:11Jadi selain untuk ee tempat hidupnya
- 41:13makhluk hidup juga untuk keindahan gitu.
- 41:19Oke. Baik, Pak. Terima kasih. Oke. Baik.
- 41:21Kita sambil menunggu Coach Andre, kita
- 41:24mau buka Q&A dulu ya, Pak. Untuk
- 41:26adik-adik mahasiswa mungkin
- 41:30nanti untuk Coach Andre-nya kita bisa
- 41:35atur kembali. Nah, kepada adik-adik
- 41:37mahasiswa yang ingin bertanya kepada Pak
- 41:39Rudi
- 41:41dari perspektif agama Buddha terkait
- 41:44spiritualitas dan kesehatan mental boleh
- 41:46raise hand
- 41:57ada yang ingin bertanya langsung?
- 42:06Pertanyaan di kolom chat nih, Pak, dari
- 42:08Samuel.
- 42:10I
- 42:10Oh, tunggu sebentar, Pak. Mohon maaf.
- 42:12Ini Sonia. E
- 42:14boleh silakan.
- 42:17Ee izin, Bu. Terima kasih, Pak, untuk
- 42:19materinya. Di sini saya mau bertanya ee
- 42:23bagaimana sih bentuk spiritualitas itu
- 42:25membentuk kesehatan mental bisa lebih
- 42:27baik ataupun lebih buruk dari perspektif
- 42:29Bapak sebagai pemuka agama Buddha?
- 42:31Terima kasih.
- 42:32Ya,
- 42:34langsung jawab ya, Bu ya. Sonia ya.
- 42:36Spiritual itu seperti olahraga juga
- 42:38harus dilatih ya.
- 42:40Nah, jadi kalau semakin dilatih ya
- 42:42semakin kuat. Jadi kalau dia tidak
- 42:44dilatih ya dia tidak akan peka. Dengan
- 42:46demikian ya ketika dia tidak peka,
- 42:48ketika ada masalah dari faktor eksternal
- 42:50maupun internal dia akan sangat reaktif
- 42:52untuk menanggapinya. Nah, ketika
- 42:53spiritualitas dilatih, kita punya dasar
- 42:55loh. Sama seperti kamu olahraga tadi
- 42:57saya katakan, kalau kamu sering latihan,
- 43:00daya tahan atau imun kamu kuat. Sehingga
- 43:02ketika ada perubahan cuaca atau apa,
- 43:05kamu bisa lebih survive dibandingkan
- 43:07orang lain. Jadi spiritual itu
- 43:09sebetulnya tidak begitu saja. Salah ya,
- 43:12banyak orang mengatakan spiritual. Jadi
- 43:13spiritual itu dinamis. Dia seiring waktu
- 43:16kamu harus melatihnya. Baik kamu
- 43:18beragama Kristen, beragama Islam,
- 43:19ataupun Buddhis. dilatih terus sesuai
- 43:22dengan metode-metode yang diajarkan oleh
- 43:23agama masing-masing. Kenapa sesuai
- 43:26dengan agama masing-masing? Karena
- 43:27ketika kita melatih spiritual itu paling
- 43:29penting adalah faktor keyakinan atau
- 43:31kita sebut iman. Ya, kalau kita enggak
- 43:33sesuai dengan iman, kamu latih pun kamu
- 43:36enggak punya apa namanya tidak punya
- 43:38benang merah di sana, tidak punya touch
- 43:40sentuhannya di sana. sehingga akhirnya
- 43:42kamu seperti latihan biasa aja, latihan
- 43:44bola, latihan kelereng, tidak ada ee
- 43:47perasuk ke dalam jiwa kamu. Tetapi
- 43:49karena adanya faktor iman ataupun
- 43:51keyakinan, dia beda sehingga nanti itu
- 43:53bisa mengembangkan diri kamu,
- 43:55menyempurnakan diri kamu. Kalau dalam
- 43:57agama Nasrani mungkin mulai muncul
- 43:59perasaan takut akan Tuhan. Kalau dalam
- 44:02agama Buddha juga ada perasaan itu. Kiri
- 44:04dan otpa namanya. Malu dan takut berbuat
- 44:06jahat. Ini kan kekuatan ini sebetulnya
- 44:09orang yang punya kekuatan seperti ini,
- 44:10dia akan ee terlindungi dengan
- 44:12sendirinya. Contohnya kita ditawarkan
- 44:15narkoba, kita punya rasa takut dan malu.
- 44:17Kita kan tidak mau menyentuh itu. Itu
- 44:19kan suatu power. Jadi spiritual itu
- 44:21jangan diartikan seperti magic-mic ya eh
- 44:25kekuatan gaib. Tidak. Tapi kekuatan itu
- 44:27lebih kepada kita lihat dari dalam diri
- 44:30kita, dari internal kita. sehingga itu
- 44:31betul-betul menjadi proteksi bagi kita
- 44:33untuk menjalani kehidupan yang serba
- 44:36kompleks dan penuh dengan perubahan itu.
- 44:38Demikian
- 44:40dan Sonia.
- 44:41Baik, terima kasih Pak. Bagaimana adik
- 44:44mahasiswa? Bisa diterima jawabannya?
- 44:47Jadi perlu dilatih jadi tidak spontan.
- 44:49Heeh.
- 44:50Baik. Terima kasih. Nah, sekarang ini
- 44:52ada pertanyaan dari Mahisya. Mahisika.
- 44:56Iya.
- 44:57Boleh ditanyakan kepada Pak Rudi.
- 44:59Silakan.
- 45:01I. Baik, terima kasih atas
- 45:02kesempatannya. Izin e izin Bu, nama saya
- 45:05Mayika. Nah, saya ingin bertanya kepada
- 45:07Pak Rudi, Pak. Eh, saya juga agama
- 45:09Buddha kan. Jadi, saya ingin bertanya
- 45:10gini. Tadi kan Bapak bilang kan kalau
- 45:12misalnya sebenarnya ee semua itu akarnya
- 45:15tuh dari diri kita sendiri. Jadi, kita
- 45:16enggak bisa kaitkan itu sama iman aja.
- 45:18Jadi, misalnya bagaimana kalau misalnya
- 45:20orang ini sudah punya penyakit mental
- 45:22tuh dari keturunan genetik gitu.
- 45:23Misalnya dari ee dari orang tuanya itu
- 45:26juga sudah ada penyakit mental dan itu
- 45:28diturunkan ke anaknya juga. Jadi itu kan
- 45:30sebenarnya enggak enggak sebatas dari
- 45:32duka dan tanha yang dialami gitu, tapi
- 45:34ada dari kelainan genetik. Kira-kira itu
- 45:37menurut Bapak gimana? Apakah itu hanya
- 45:39berfokus dari dukanya aja atau memang
- 45:42ada solusi lain gitu dari pandangan
- 45:45agama Buddha?
- 45:46Ya, terima kasih Malaysia. Namo Buddha.
- 45:49Iya, betul. Kadang-kadang ada faktor
- 45:51genetik ya. Tapi Buddha ingat kalau kamu
- 45:53belajar agama Buddha itu ada namanya
- 45:55kaliana mitra sahabat baik. Jadi
- 45:59walaupun pendorong utama itu dari diri
- 46:01sendiri, tetapi kita juga perlu orang
- 46:03lain. Jadi orang lain ini kadang-kadang
- 46:06bisa dominan ketika kondisi kita sangat
- 46:08ee tidak memungkinkan ya. Tapi orang
- 46:11lainnya bagaimana? Dalam agama Buddha
- 46:12tadi saya sebut ada kaliana mitra
- 46:14namanya sahabat yang baik, teman yang
- 46:16baik, teman pendukung kita untuk
- 46:18berkembang yang baik. Inilah yang harus
- 46:19dibentuk. Jadi ketika kita ee punya
- 46:22keterbelakangan ee hal sesuatu mental
- 46:25atau apa, kita juga perlu punya
- 46:28komunitas yang bisa peduli kepada kita.
- 46:31Makanya kenapa Sang Buddha selalu
- 46:33mengajurkan, "Berkumpullah dengan
- 46:35orang-orang yang baik." Nah, mungkin dia
- 46:37punya faktor ee gangguan mental, tetapi
- 46:40ada teman dia tetangga dia yang bisa
- 46:42membawa dia ke wihara sehingga di wihara
- 46:43dia terlindungi
- 46:45dibandingkan kalau dia dibiarkan
- 46:46sendiri. Nah, makanya saya bilang ini
- 46:49perlu karma yang baik. Nah, untuk karma
- 46:53yang baik ini perlu teman-teman yang
- 46:54baik. Jadi, ketika maha tahu seperti
- 46:57ini, kita mungkin dari umat Buddha coba
- 47:00tergerak hatinya untuk lebih peka
- 47:03terhadap orang-orang seperti ini.
- 47:05Setidaknya kamu sudah memunculkan satu
- 47:07kondisi di mana orang-orang yang tidak
- 47:09mendapat perhatian ini kita pedulikan.
- 47:12Contoh ya, seci ya. Seci itu fokus
- 47:14kepada orang-orang yang terkena bencana.
- 47:16Dulu orang enggak pedulikan mereka dan
- 47:18orang merasa bahwa orang kena bencana
- 47:20itu tidak akan mungkin bisa tolong.
- 47:21Kenapa? Satu kampung kena bencana kok.
- 47:23Siapa mau menolong satu kampung ini?
- 47:26Semua kena bencana. Jangankan menolong
- 47:29diri sendiri eh menolong orang lain,
- 47:30diri sendiri juga terkena bencana juga.
- 47:33Tapi t melalui masa cengen terpikir
- 47:36orang seperti ini siapa yang tolong ya.
- 47:38Maka dia buatlah gerakan suci untuk
- 47:40menolong orang yang tidak punya kekuatan
- 47:42untuk menolong lagi. Nah, kita juga tahu
- 47:43ada kondisi seperti mahasisia mungkin
- 47:45punya tekad, aku akan menolong
- 47:47orang-orang seperti ini yang lahir tidak
- 47:50beruntung, orang tuanya susah, punya
- 47:53masalah mental, dan anaknya juga punya
- 47:55masalah mental. Maka aku terpanggil
- 47:57untuk membuat komunitas khusus untuk
- 47:59seperti ini. Begitu loh. Jadi kalau kita
- 48:01sudah punya kesadaran tersebut, kita
- 48:04fokus ke sana. Jangan malah kita
- 48:05biarkan. Atau kita lihat ya, ada juga
- 48:09dulu zaman ee tahun 20-an banyak sekali
- 48:13enggak tahu kitab suci agama Buddha
- 48:15sehingga belajar dharma pun susah. Maka
- 48:17Mas Cink sengaja membuat lembaga
- 48:19penerbitan kitab suci untuk dibagi-bagi
- 48:22ke orang lain. Karena dia kalau tidak
- 48:24membuat itu tidak ada yang tahu ini
- 48:26agama Buddha seperti apa dalam kitab
- 48:27suci. Maka dia cetaklah sendiri, pakai
- 48:29uang sendiri, kumpulkan umat. Akhirnya
- 48:31lembaga penerbitan kitab suci. Akhirnya
- 48:33yang tadinya tidak terpenuhi
- 48:36pemahaman tentang kitab suci sudah ada
- 48:37orang membantu. Itulah gunanya kaliana
- 48:39mitra Mahisia. Demikian.
- 48:45Baik. Terima kasih Pak. Terima kasih.
- 48:47Namo budhaya. Terima kasih.
- 48:47Gimana Dik?
- 48:50Iya. Oh, baik. Hai Coach. Bagaimana
- 48:53Coach?
- 48:54Tadi terkendara ya, Coach ya?
- 48:57Iya. Maaf ya di-prank ya. Kayaknya
- 48:58enggak setuju tuh. Makanya dimatiin
- 49:00lampunya ya.
- 49:02Astaga,
- 49:03mati listrik ya, Gus.
- 49:05Iya, izin. Terima kasih ingin
- 49:08menyampaikan bahwa apapun yang kita
- 49:11diskusikan hari ini semua ada benang
- 49:12merahnya gitu ya. Jadi ee supaya bisa
- 49:17lengkap POV-nya kita ee apa ya
- 49:20melepaskan semua atribut-atribut
- 49:24terlepas siapapun yang ngomong gitu
- 49:26agamanya tapi lebih kepada nilai apa
- 49:29yang kita bisa pelajari hari ini gitu
- 49:31ya. Nah, terkait D tadi pertanyaannya
- 49:34ee
- 49:36yang ditanyakan sama dua
- 49:39penanya itu diajukan ke saya juga kah
- 49:43atau
- 49:45enggak?
- 49:46Nanti kita cari yang
- 49:48e harusnya iya Sonyya juga ya mau lihat
- 49:52perspektif agama kungucu.
- 49:55Oh oke.
- 49:56Boleh K ditanggapin.
- 49:58Baik. Yang pertama itu ada kaitannya
- 50:00bagaimana sih eh apa
- 50:04ee kesehatan mental ini bisa bisa
- 50:06mempengaruhi spiritualitas ya juara bisa
- 50:11ee apa memperbaiki atau bahkan
- 50:15memperburuk. Pertama-tama ee teman-teman
- 50:18perlu sadari betul bahwa sebenarnya apa
- 50:21sih definisi spiritualitas? Yaah ini
- 50:24mulai keluar nih gaya dosennya ya. Izin
- 50:26teman-teman sambil sambil teman-teman
- 50:28bisa cek di internet ee spiritualitas
- 50:31itu apa sih gitu ya. Ee jadi ketika kita
- 50:36bicara spiritualitas itu ada kaitannya
- 50:38bahwa kita setiap orang, setiap manusia
- 50:42percaya bahwa ada kekuatan yang lebih
- 50:45besar daripada kita. Karena makhluk kita
- 50:48nih sangat terbatas. Sehingga ada
- 50:50kaitannya orang yang spiritualitasnya
- 50:53tinggi, dia akan syarat makna akan
- 50:57mencari makna hidup gitu ya. Jadi
- 50:59teman-teman kalau yang masih bingung,
- 51:01aduh ee Koko Andre, Kakak Andre atau
- 51:04Coach Andre, aku juga masih bingung
- 51:06hidup aku mau di ke manain. Nah, Anda
- 51:10sedang memainkan peran sebagai makhluk
- 51:13yang berspiritualitas.
- 51:15Oke. Lalu kaitannya apa sama ee
- 51:19kesehatan mental? Orang yang punya
- 51:21spiritualitas yang tinggi, maka dia
- 51:24punya harapan,
- 51:26maka dia terus mencari makna hidupnya.
- 51:32Intinya tujuan hidupmu apa. Nah, ketika
- 51:35itu jadi pertanyaan dalam hidupmu,
- 51:37berarti Anda e welcome to the club.
- 51:40Sudah mulai berontak nih pengin mencari
- 51:43arah hidup. And it's ok. Kalau
- 51:45teman-teman masih belum ketemu arah
- 51:48hidupnya ya enggak apa-apa. Terus
- 51:51belajar bahkan bukan dicari tapi
- 51:53dicreate ditemukan. Saya ambil contoh
- 51:56ya. Saya penyandang serebel palsi dari
- 51:58lahir teman-teman. Kondisi otak dan
- 52:00tubuh saya enggak nyambung. Saya
- 52:02semuanya kaku. Jalannya pakai walker,
- 52:04pakai kursi roda. Tapi saya juga seorang
- 52:06pelatih mentaal olahraga pertama di
- 52:08Indonesia yang penyedang seribi. Dan
- 52:10saya adaptif atletx. Ngapain? Udah
- 52:14cacat. Mohon maaf nih. Susah-susah kerja
- 52:18jadi atlet pula. Dia olahraga udah
- 52:21disabilitas fisik tapi malah kerjaannya
- 52:24dikaitannya sama fisik. Ngapain? Karena
- 52:28saya bisa jawab karena saya mencari
- 52:30makna hidup.
- 52:34Sori bukan mencari. Saya mencari tidak
- 52:37menemukan, teman-teman. Tapi saya
- 52:39memaksa untuk membuat itu. Seakan-akan
- 52:43saya tahu padahal saya tidak tahu gitu.
- 52:45Jadi awalnya saya pura-pura tahu
- 52:47lama-lama saya mengjiwai itu apa yang
- 52:51saya buat bukan saya temukan ya itu
- 52:54dengan satu kalimat life is about
- 52:56learning and giving. Jadi itu jadi tema
- 52:59hidup saya belajar dan berbagi. Nah,
- 53:04jadi apapun yang saya lakukan itu
- 53:06semuanya terkait sama tema hidup itu
- 53:09belajar dan berbagi.
- 53:12Pertanyaan ya, kalau teman-teman apa ya?
- 53:14Teman-teman temukan versi teman-teman,
- 53:17versi Kakak Andre, versi Koko Andre,
- 53:21versi kot Andre kayak gitu tuh. Ya
- 53:23terserah loh teman-teman mau panggil
- 53:24saya apa gitu ya. Mau panggil saya mutan
- 53:26juga boleh alias manusia tangguh gitu
- 53:29ya. Mungkin itu yang ee pertanyaan yang
- 53:31pertama. Yang kedua itu pertanyaan yang
- 53:34kedua apa ya?
- 53:36Eh,
- 53:38pertanya
- 53:42terkait ee Coach, apakah kalau misalnya
- 53:45dia sudah keturunan nih penyakit
- 53:46mentalnya?
- 53:48Heeh.
- 53:50Ada potensi diturunkan enggak, Bu,
- 53:52Coach, untuk penyakit mental?
- 53:54Baik, izin. Ini saya jawab dari
- 53:57perspektif psikolog.
- 53:59Em ee izin Bu gini ee seperti ini Pak ee
- 54:02pertanyaannya dari tadi kalau misalnya
- 54:05orang ini tuh sebenarnya udah ada
- 54:06penyakit mental tuh diturunkan dari
- 54:07keluarganya. Jadi bukan karena
- 54:09permasalahan yang dialami saat ini. Itu
- 54:11gimana solusinya dari pandangan agama
- 54:14Konghucu?
- 54:17Oke. Ee
- 54:20izin saya jawab dulu dari em perspektif
- 54:24ee ilmu psikologi ya. Eee, kakak. Jadi
- 54:26gini, ee
- 54:31apakah
- 54:33bisa diturunkan?
- 54:35Tentu bisa
- 54:38gitu ya. Terus jadi ya udah korban dong,
- 54:42kita tidak bisa ngapa-ngapain dong. Ya
- 54:43udah terima nasib aja. Tentu tidak gitu
- 54:47ya. Karena dalam perspektif ilmu
- 54:50psikologi dan juga ilmu ee spiritualitas
- 54:54apapun, agama apapun itu kita selalu
- 54:57diajarkan bahwa apapun yang terjadi kita
- 55:00punya kesempatan kok untuk bangkit,
- 55:03Teman-teman.
- 55:05Ee kalau kita fokus pada genetik kita
- 55:09nih semuanya ada genetik yang rusak,
- 55:11kagak ada yang sempurna. Sehingga ketika
- 55:14kita fokus pada genetiknya dan misalnya
- 55:16mohon maaf nih genetik kita jelek jadi
- 55:19kita fisiknya jelek terus kita udah
- 55:21nyerah aja ya udah selesai
- 55:26selesai tuh tapi kan enggak gitu life is
- 55:30still go on right jadi yang perlu kita
- 55:32lakukan adalah fokus apa yang bisa kita
- 55:35ubah bukan genetiknya tapi lingkungannya
- 55:38gimana caranya ketika kita sudah punya
- 55:40genetik yang kurang baik
- 55:42Maka tadi Pak Rudi bilang, "Dekatkan
- 55:45Anda pada komunitas yang baik, support
- 55:48sistem itu jadi penting karena Anda bisa
- 55:51belajar dari situ, belajar sama
- 55:54manusia-manusia tangguh yang lain." Maka
- 55:57krisenya kalau saya melihat Anda di masa
- 56:01depan, saya cuma lihat lima teman
- 56:02terdekat Anda supaya saya bisa tahu masa
- 56:05depan Anda apa. Nah, masuknya ke situ
- 56:07tuh. So, hati-hati memilih circle,
- 56:10Teman-teman.
- 56:12gitu ya. Pertanyaannya lagi, kalau kita
- 56:14enggak punya ccle yang baik gimana? Ya,
- 56:17Teman-teman bikin sendiri. Bahkan saya
- 56:20bikin nama komunitas namanya Sob Chiho.
- 56:22Soba Chiho adalah komunitas satu-satunya
- 56:24saat ini di Indonesia yang berfokus pada
- 56:26psikologi olahraga. Adaptif. Maksudnya
- 56:29adaptif apa? Saya menggabungkan bahwa
- 56:32ilmu psikologi olahraga ini bukan hanya
- 56:34untuk atlet yang body, yang normal
- 56:37katanya, tapi juga untuk teman-teman
- 56:39yang disabilitas. Jadi satu kesatuan
- 56:42inklusif untuk mencapai Indonesia yang
- 56:46ramah disabilitas.
- 56:49Indonesia yang lebih tangguh di masa
- 56:51depan. Apakah saya mengeluh? Awalnya
- 56:54iya, tapi mengeluh terus saya berontak.
- 56:57Saya bikin komunitas sendiri terus saya
- 56:59jalan bareng. Yang punya visi sama sama
- 57:02saya. Ibarat kalau One Piece tuh saya
- 57:05saya cari gerbong, saya cari kru, terus
- 57:08saya ayo kita cari One Piece sama-sama.
- 57:11Nah, Teman-teman, jadi kalau Teman-teman
- 57:14ngerasa
- 57:16e lagi enggak baik-baik saja, lagi capek
- 57:19dan sebagainya dan enggak ngerasa enggak
- 57:21punya ada yang support, pada titik
- 57:23tertentu teman-teman boleh kok bikin
- 57:26komunitasnya sendiri untuk berjuang
- 57:29bersama teman-teman. Yang penting
- 57:30teman-teman punya visi yang jelas.
- 57:32gitu. Balik lagi teman-teman harus
- 57:35menentukan tujuan hidup teman-teman tuh
- 57:37apa. Itu adalah salah satu aspek
- 57:39tertinggi dari spiritualitas manusia.
- 57:42Menemukan
- 57:45makna hidup se.
- 57:51Baik, terima kasih. Aku
- 57:54sedikit ee apa ya? menggugah semangat
- 57:57saya sepertinya.
- 58:00Oke. Nah, ee kali ini kita mau baca
- 58:03pertanyaan dari kolom chat dulu ya. Ee
- 58:06para narasumber saya ingin membacakan
- 58:08pertanyaan dari adik Samuel Leonard
- 58:11Saragi. Eh, izin bertanya, Pak.
- 58:14Bagaimana jika seseorang sudah kena
- 58:16gangguan mental dan sudah dibawa ke
- 58:18bagian psikolog ee tetapi dia dibawa ee
- 58:23dan tetapi dia dibawa juga rajin ke
- 58:25tempat ibadah, terus dia juga dibawa ke
- 58:28tempat orang pintar atau dukun. Nah,
- 58:31apakah akan jadi bertentangan dengan
- 58:34seseorang yang kena gangguan mental?
- 58:37Jadi ini semua sudah di
- 58:40dicoba ini PDA kemudian dibawa juga ke
- 58:42rumah ibadah kemudian dibawa juga ke
- 58:44orang pintar dalam kata kutip dukun.
- 58:47Nah, kira-kira bagaimana itu Pak? Boleh
- 58:50Pak Rudi menanggapi.
- 58:52Ya,
- 58:54kalau kita sakit mental berarti harus
- 58:56disembuhkan oleh orang yang punya
- 58:58kemampuan di bidang mental dong ya. Jadi
- 59:00jangan sampai kita motor kita rusak
- 59:03dibawa ke tempat bengkel yang lain ya.
- 59:05Ini kan kurang cocok. Mungkin bisa saja,
- 59:08tapi nanti hasil tidak maksimal. Memang
- 59:10dalam kehidupan kita nyata tidak seperti
- 59:12kita mudah teori ya. Kadang ada juga
- 59:14orang percaya kepada hal-hal gaib ya
- 59:16seperti dukun. Saya pikir pengertian
- 59:19dukun juga harus kita telusuri lagi. Ada
- 59:22juga memang spesialis di sana ya. Tetapi
- 59:24kalau kita konteksnya beragama maka
- 59:27tentu kita harus berpikir dengan akal
- 59:29budi, dan spiritual kita. Nah, jadi
- 59:32orang yang sakit mental kalau dibawa ke
- 59:33campur-campur itu takutnya nanti punya
- 59:35opini yang berbeda-beda karena
- 59:37masing-masing punya sudut pandang yang
- 59:39beda. Kalau dari segi dokter punya
- 59:41pandangan tentang medis. Kalau kita bawa
- 59:43ketui ibadah ya ada proses ya. Jadi
- 59:46rumah ibadah juga bukan berarti bisa
- 59:48menyembuhkan orang mental ya. Tolong
- 59:49kita sepakati dulu nih. Jadi kalau saya
- 59:51sakit demam tidak bisa bawa ke wihara
- 59:54tetap harus ke dokter karena
- 59:55persoalannya ini medis. Nah dibawa ke
- 59:57dukun dia pasti punya perspektif ala
- 59:59dukun. Nah, jadi kalau begitu yang
- 1:00:01bingung nanti siapa yang menderita ini
- 1:00:03dan keluarganya. Jadi, oleh sebab itu
- 1:00:06kita harus dengan jernih melihat ini
- 1:00:08sebutnya persoalan apa dulu nih. Kalau
- 1:00:10mental ya memang harus ke psikiater dan
- 1:00:12sebagainya. Jika tidak nanti maka timbul
- 1:00:15masalah baru yang akhirnya kita makin
- 1:00:18runyam dan tidak bisa menyelesaikannya.
- 1:00:20Jadi kembali lagi kepada Saudara Samuel,
- 1:00:23adinda kami
- 1:00:25ya. Kita sebagai umat beragama tentu
- 1:00:28kita harus meletakkan pada porsi yang
- 1:00:31sepantasnya gitu ya. Jadi kalau sakit ya
- 1:00:34dokter, sakit medis ya dokter. Kalau
- 1:00:36memang sakit ee dukun ya dukun. Dukun
- 1:00:39itu enggak selalu jelek kok. Ada dukun
- 1:00:40patah kan. Dan banyak juga orang sembuh
- 1:00:42kan di dukun patah kan. Karena dia punya
- 1:00:44perspektif atau metode yang cukup manjur
- 1:00:46untuk menyelesaikan itu. Hanya saja
- 1:00:47jangan dicampur ya sebentar ke ini,
- 1:00:50sebentar ke itu. Nanti kamu bingung
- 1:00:51sendiri. Demikian Bu.
- 1:00:54Baik. Terima kasih, Pak. Karena mungkin
- 1:00:57ada sebagian orang yang berpendapat
- 1:00:59bahwa ke psikolog itu pasti sudah
- 1:01:01gangguan jiwa. Nah, itu mungkin menjadi
- 1:01:03momok tersendiri mungkin. Nah, kira-kira
- 1:01:06Coach gimana nih coach menanggapinya?
- 1:01:09Baik, izin jawaban singkatnya. Saya
- 1:01:11setuju sama Pak Rudi gitu ya. Sudah
- 1:01:12selesai kita habis ini kuliahnya ya.
- 1:01:15Tapi izin saya menambahkan bahwa
- 1:01:18sebenarnya teman-teman emap
- 1:01:22ahli itu punya perspektifnya
- 1:01:24masing-masing. Tapi kata ahli itu juga
- 1:01:27perlu hati-hati. Bahkan sekarang orang
- 1:01:31yang baru baca kulitnya aja sudah merasa
- 1:01:33dirinya ahli. So be careful with that
- 1:01:36gitu ya.
- 1:01:38Sehingga bicara tentang kesehatan mental
- 1:01:42itu ada tenaga profesional yang namanya
- 1:01:44psikolog psikiater. Nah, psikolog dan
- 1:01:47psikiater itu juga punya latar belakang
- 1:01:50pendidikan yang berbeda ya. Kalau
- 1:01:52psikiater itu dari dokter umum ngambil
- 1:01:56ee spesialis kedokteran jiwa SPKJ. Lalu
- 1:02:00kalau psikolog itu ngambil S1 psikologi,
- 1:02:03terus bisa ngambil ee program profesi
- 1:02:06psikologi untuk jadi psikolog umum
- 1:02:09ataupun ee ambil spesialis di ee
- 1:02:12psikologi klinis yang dekat dengan
- 1:02:15kesehatan mental. Nah, keduanya saling
- 1:02:18kerja sama. Kalau Teman-teman bingung
- 1:02:20mau ke mana duluan, ee enggak usah
- 1:02:24khawatir ya, Teman-teman. Cobain aja.
- 1:02:26Biasanya gini, kalau teman-teman ee
- 1:02:30ke psikolog dulu terus ee takut salah
- 1:02:33harusnya ke psikiater enggak apa-apa.
- 1:02:35Nanti dari dari psikolog biasanya
- 1:02:38diasesmen dulu kan terus nanti di apa?
- 1:02:42Di diver kalau dirasa perlu obat karena
- 1:02:46yang bisa ngasih obat itu psikiater
- 1:02:49biasanya. Dan kalau psikologi hanya
- 1:02:52menggunakan e pendekatan ee bukan hanya
- 1:02:55ya menggunakan pendekatan yang berbeda.
- 1:02:58Salah satunya misalnya dengan ee
- 1:02:59psikoterapi dan psikoterapi itu banyak
- 1:03:01banget. Ada CBT, ada hipnoterapi, ada
- 1:03:05DBT, ada RBT banyak.
- 1:03:09Oke. Nah, ee apa dari ee
- 1:03:16perspektif KongCucu gimana? Ee ee gini,
- 1:03:21Kongkucu selalu bilang bahwa
- 1:03:22tempatkanlah dirimu sesuai dengan
- 1:03:24kemampuanmu, gitu ya. Jadi, Anda ya
- 1:03:29kalau
- 1:03:31punya ilmunya apa ya udah stay di situ
- 1:03:33gitu ya.
- 1:03:34Ee mungkin Anda bisa belajar yang lain
- 1:03:37juga, tapi kalau hanya kulitnya saja
- 1:03:40Anda hati-hati untuk membicarakan Anda
- 1:03:42tuh ahli. Karena sekarang kita ee sulit
- 1:03:46banget menemukan yang mana nih yang
- 1:03:48valid gitu ya karena akses informasi
- 1:03:50yang begitu luas. So teman-teman saya
- 1:03:53sarankan tetap ke tenaga profesional,
- 1:03:56psikolog atau psikiater dan kalau perlu
- 1:03:58cek SIPP-nya ya surat izin praktiknya.
- 1:04:02Kalau enggak ada jangan bahaya itu nanti
- 1:04:05jadi maha praktik. Oke semangat
- 1:04:07teman-teman.
- 1:04:09Iya,
- 1:04:12ini teman-teman santai aja ya, jangan
- 1:04:14tegang-tegang. Kalau tegang-tegang
- 1:04:15kuliah ini gagal. Harusnya bikin
- 1:04:17teman-teman happy nih.
- 1:04:20Ya, ini kesempatan yang luar biasa nih.
- 1:04:22Kita mendapatkan coach nih
- 1:04:26yang luar biasa
- 1:04:29di bidangnya ahli. Jadi, adik-adik
- 1:04:30mahasiswa rugi nih kalau enggak tanya.
- 1:04:32Jadi, jangan ditahan-tahan. Apalagi
- 1:04:34generasi Z ini sudah pasti beban ee
- 1:04:37hidupnya walaupun belum sampai dunia
- 1:04:38kerja ini ya kan ee Pak pasti sudah apa
- 1:04:42memikul beban yang cukup berat. Coba.
- 1:04:45Oke, satu lagi nih Pak. Ada pertanyaan
- 1:04:47di kolom chat dari
- 1:04:50Anastasia Nabila
- 1:04:53eh izin bertanya terkait bagaimana
- 1:04:56praktik mindfulness.
- 1:04:58Nah, dalam praktik mindfulness ini kita
- 1:05:00diajak untuk hadir bersama rasa sakit.
- 1:05:03Bagaimana cara seseorang yang berduka
- 1:05:06mempraktikkan ini tanpa tenggelam dalam
- 1:05:09kesedihan yang berlarut-larut?
- 1:05:11Kan mindfulness ini adalah teori
- 1:05:13penerimaan, tetapi untuk dalam proses
- 1:05:15berduka agak sulit. Jadi, bagaimana
- 1:05:18tanggapan untuk kedua agama? Terima
- 1:05:21kasih, Pak.
- 1:05:24Boleh ke Pak Rudi terlebih dahulu, Pak.
- 1:05:27Iya. Jadi
- 1:05:29untuk menjawab ini kita perlu melihat
- 1:05:32secara historis ya. Ketika pangidarta
- 1:05:35itu menjadi Buddha, dia melihat empat
- 1:05:38peristiwa penting. Salah satunya adalah
- 1:05:40orang meninggal. Ya, jadi dia melihat
- 1:05:42meninggal ini adalah persoalan
- 1:05:44universal, bukan persoalan agama Buddha
- 1:05:47saja. Jadi semua makhluk, semua orang
- 1:05:50yang terlahir di dunia ini pasti akan
- 1:05:52mengalami proses meninggal. Yang lahir
- 1:05:56pasti meninggal. Jadi artinya ketika
- 1:05:58kita menghadapi meninggal itu memang
- 1:06:00berat, tidak semudah dengan apa yang
- 1:06:01saya sampaikan. Saya mungkin juga ketika
- 1:06:04menghadapi ini tidak seperti segampang
- 1:06:06saya ngomong ini ya. Tapi yang jelas
- 1:06:08dengan mindfulness itu kita bukan
- 1:06:10berarti menghilangkan kesedihan. Bukan.
- 1:06:13Kita bukan menghilangkan kehilangan kita
- 1:06:16kepada orang yang kita cintai itu.
- 1:06:18Bukan. Tapi kita lebih menyadari bahwa
- 1:06:22proses ini adalah proses alami. Jadi
- 1:06:24jangan sampai salah ya. Dulu ada teman
- 1:06:26saya yang e mempelajari tentang Anica.
- 1:06:29Anica itu adalah ketidakekalan dalam
- 1:06:31agama Buddha. Artinya semua makhluk
- 1:06:34tidak kekal. Lalu dia mengatakan kepada
- 1:06:35ibunya, "Bu, nanti kalau kamu meninggal
- 1:06:38saya berusaha tidak sedih." Ini
- 1:06:40menyakitkan loh bagi
- 1:06:43seorang ibu ketika anaknya mengatakan
- 1:06:45demikian. Ya kan? Jadi Sang Buddha bukan
- 1:06:46itu sebetulnya, tapi Sang Buddha memberi
- 1:06:49kita semacam pedoman ketika kita
- 1:06:52kehilangan kehilangannya tidak panjang.
- 1:06:55Ketika kita sedih, sedihnya tidak
- 1:06:56panjang. Itu kalau dalam agama Islam
- 1:06:58mungkin ikhlas kita menerimanya. Ya,
- 1:07:01seperti itu. Jadi sebetulnya ketika kita
- 1:07:04main full, ada kehilangan kita dilatih
- 1:07:07untuk menerima itu dengan cara bahwa ini
- 1:07:10juga tidak akan berlangsung lama rasa
- 1:07:12sedih itu. Karena kita juga akan
- 1:07:14dihadapkan kepada persoalan-persoalan
- 1:07:16baru pasca kehilangan itu. Dan kita juga
- 1:07:19harus siap untuk memulai kehidupan baru
- 1:07:22pasca kehilangan itu. Jadi bukan berarti
- 1:07:25kalau kita mindfulness ketika ada orang
- 1:07:27meninggal atau keluarga kita meninggal,
- 1:07:30kita enggak sedih lagi, kita enggak
- 1:07:32kehilangan air mata lagi. Air mata tetap
- 1:07:34ada. Tetapi air mata itu lebih bukan
- 1:07:36kepada kesedihan berkepanjangan, tetapi
- 1:07:38kesedihan kehilangan yang wajar gitu.
- 1:07:42Dan kita berlatih bagaimana bisa
- 1:07:46menjadikan kehilangan itu menjadi suatu
- 1:07:48proses pemahaman terhadap kehidupan yang
- 1:07:51sewajarnya gitu. Jadi mohon ini
- 1:07:54hati-hati dicerna karena banyak sekali
- 1:07:57umat Buddha yang salah mengartikan
- 1:07:59dengan mindfulness ini. Seolah-olah kita
- 1:08:01bebas dari rasa sedih, bebas dari rasa
- 1:08:04duka, bebas dari rasa kehilangan. Bukan.
- 1:08:07Kalau itu bahaya, malah kita kehilangan
- 1:08:09hati nurani jadinya. Tapi kita melihat
- 1:08:12kehilangan itu sebagai sebuah proses
- 1:08:14untuk kita alami cepat atau lambat dan
- 1:08:18itu adalah proses untuk bertumbuh
- 1:08:20kembali di masa yang akan datang. Jadi
- 1:08:22artinya kita dalam agama Buddha itu
- 1:08:24mengartikan meninggal misalnya contoh
- 1:08:26ya, itu pulang supaya makna kesedihannya
- 1:08:28tidak terlalu besar. Jadi kita pulang ke
- 1:08:31kesejatian kita kepada ee alam di mana
- 1:08:35kita itu tumbuh sejati sempurna adanya.
- 1:08:38Jadi tidak kehilangan seperti ya secara
- 1:08:41duniawi begitu Bu. Terima kasih.
- 1:08:47Baik terima kasih Pak Rudi. Nah, kalau
- 1:08:50gimana nih? mindfulness nih. Nah, itu
- 1:08:52agak deep sekali ya sepertinya.
- 1:08:55Iya, terima kasih eh Pak Rudi. Saya
- 1:08:58setuju banget itu bahwa ee kita tuh
- 1:09:02enggak bisa lepas dari ee apa ya? Enggak
- 1:09:05bisa lepas dari ketika mindfulness ya,
- 1:09:08kita udah happy terus gitu ya. Enggak
- 1:09:11lah. Teman-teman perlu ketahui bahwa
- 1:09:13yang namanya manusia itu emosinya
- 1:09:16ada banyak teman-teman. Nonton Inside
- 1:09:19Out enggak sih? Nontonlah pasti kan.
- 1:09:21Ayo, ada berapa macam emosi? Ada Nak,
- 1:09:25ayo Nak, ada enam ya emosi dasar. Jadi
- 1:09:29ketika bicara tentang emosi itu bukan
- 1:09:30marah-marah doang gitu ya, tapi ada
- 1:09:33sedih, ada senang dan sebagainya, ada
- 1:09:35surprise, jijik dan sebagainya dan itu
- 1:09:39adalah bagian yang membuat kita jadi
- 1:09:41manusia. yang tadi kata Pak Rudi bilang
- 1:09:42kalau kita hilangkan itu kita kehilangan
- 1:09:45hati nurani. Sehingga ee teman-teman ee
- 1:09:49nyambung sama pertanyaan yang tadi
- 1:09:52ditanyakan sama penanya bagaimana kita
- 1:09:55bisa melakukan mindfulness dalam konteks
- 1:09:58kita sedang berduka. Yang perlu
- 1:10:00teman-teman ketahui ketika bicara
- 1:10:02mindfulness menurut eh Dr. Kabat Zain
- 1:10:05itu ada banyak tipe yang mana sebenarnya
- 1:10:09mindfulness itu tidak hanya cerita
- 1:10:11tentang acceptance tapi cerita bagaimana
- 1:10:15Anda itu bisa menikmati kehidupan di
- 1:10:19masa kini. yang mana di otak kita
- 1:10:22kadang-kadang kita suka liar lagi duduk
- 1:10:24gini aja mikirin oh nanti habis ngobrol
- 1:10:27sama Pak Andre ngobrol sama Pak Rudi,
- 1:10:29makan apa ya nanti ya aku lapar nih Pak
- 1:10:31Andre banyak bawel nih kayaknya nih ya.
- 1:10:34Nah itu Anda sudah tidak main fullness
- 1:10:36atau Anda kepikiran, eh si mantan aku
- 1:10:40kalau lagi ngapain ya gitu. Nah, tidak
- 1:10:43mindfulness. Sehingga mindfulness
- 1:10:46membantu Anda untuk tetap fokus, stay di
- 1:10:48masa kini. Karena yang paling real
- 1:10:51adalah masa kini. Masa depan adalah
- 1:10:53misteri. Eh, masa lalu adalah
- 1:10:56pengalaman, sejarah. Maka kata kura-kura
- 1:11:00di di kungfu panda bahwa presence apa?
- 1:11:04Eh, today is a presence gitu ya. Eh,
- 1:11:08jadi gimana caranya mindfulness dalam
- 1:11:11konteks kedukaan? Sebenarnya mindfulness
- 1:11:14selain mengajarkan right here, right now
- 1:11:16di masa kini, teman-teman akan diajak
- 1:11:19untuk jadi penonton.
- 1:11:22Kenapa sih kita sedih? Karena kita
- 1:11:24terlalu lekat sama emosinya. Maka
- 1:11:29dengan mindfulness, kita diajak untuk
- 1:11:31ngambil jarak antara emosi kita lagi
- 1:11:35sedih nih sama diri kita juga. Jadi kita
- 1:11:37jadi penonton dari rasa duka itu gitu.
- 1:11:42Ibarat tubuh kita nih jadi satu nih sama
- 1:11:45jiwa kita nih. Tiba-tiba dek mundur
- 1:11:47sedikit ke belakang. Saya lagi lihatin
- 1:11:50diri saya lagi ngobrol
- 1:11:52sama teman-teman di Zoom. Jadi ee
- 1:11:55teman-teman bisa nonton, "Oh, berarti
- 1:11:57aku lagi sedih, ya. It's ok." gitu. Jadi
- 1:12:01diambil jarak
- 1:12:03supaya teman-teman bisa lebih memproses
- 1:12:06lebih cepat penerimaan diri tadi.
- 1:12:10Yang kalau dalam konteks psikologi itu
- 1:12:11namanya eh
- 1:12:14commitment acceptance
- 1:12:17terapi. Kebalik acceptance commitment
- 1:12:20terapi act.
- 1:12:22Teman-teman bisa cek di internet gitu
- 1:12:25ya. Terima kasih. Semoga menjawab.
- 1:12:29Baik. Terima kasih, Coach.
- 1:12:33Nah, ee untuk adik-adik mahasiswa,
- 1:12:35apakah ada yang ingin bertanya kembali?
- 1:12:42Apakah ingin bertanya? Satu penanya lagi
- 1:12:45bisa masih dibuka.
- 1:12:50Kalau enggak ada yang nanya, saya yang
- 1:12:51nanya. Ah,
- 1:12:53teman-teman ee boleh enggak izin ya, Bu?
- 1:12:55Ini sambil di disambung, ya. Kalau
- 1:12:58sambil ada yang nanya.
- 1:12:59Pakilakan
- 1:13:03siapa ini?
- 1:13:05Gilang, Bu. Dari KW
- 1:13:07Gilang. Oke, silakan Gilang.
- 1:13:11Bu, di ajaran
- 1:13:15bahwasanya Tuhan itu mengasih cobaan
- 1:13:17kepada umatnya yang sanggup
- 1:13:19melewatinya, kan. Namun di saat kita
- 1:13:24keluar dari masalah itu dan mencari
- 1:13:27solusi biar masalah itu selesai, kita
- 1:13:29kayak ee ee enggak sanggup, enggak kuat,
- 1:13:33pengin nyerah aja rasa, Bu. Padahal tahu
- 1:13:35yang balik dari awalnya Tuhan itu ngasih
- 1:13:38cobaan bagi umat yang sanggup
- 1:13:40melewatinya. Jadi menurut apa? Saya
- 1:13:43ingin bertanya, gimana sih pandangan
- 1:13:46dari Bapak-bapak yang pemaparan materi
- 1:13:48ini ee menyelesaikan masalah yang
- 1:13:50diberikan Tuhan? Di mana kita sebagai
- 1:13:54umatnya merasa di titik kayak ee enggak
- 1:13:57sanggup aku kayak udahlah sudah nyerah
- 1:14:00aja enggak enggak bisa apa enggak bisa
- 1:14:02ngelakukan apa-apa lagi Bu.
- 1:14:08Baik boleh direspon Pak.
- 1:14:11katanya Tuhan kasih cobaan itu di apa
- 1:14:15sesuai dengan batas kemampuan manusianya
- 1:14:17gitu. Tapi kok S1 belum selesai ini
- 1:14:19sudah dapat cobaan lagi.
- 1:14:21Silakan Pak Rudi. Saya nanti
- 1:14:23menambahkan.
- 1:14:26Iya sekali lagi bahwa dalam kehidupan
- 1:14:29ini adalah kita belajar ya bagaimana
- 1:14:33belajar menyempurnakan. Memang masalah
- 1:14:35itu sangat relatif ya. Ada yang kecil
- 1:14:39tapi ketika orang itu enggak siap
- 1:14:40dianggap itu besar. Kan begitu ya.
- 1:14:43Kadang-kadang kita dengar itu, "Saya
- 1:14:45punya hutang nih berapa?" Rp100.000.
- 1:14:48Waduh, berat sekali. Padahal kita
- 1:14:50kebetulan karena kita punya pendapatan
- 1:14:52lebih, kita melihat R.000 itu kecil aja.
- 1:14:54Jadi sangat tergantung, sangat
- 1:14:56kondisional tuh masalah. Jadi kalau kata
- 1:14:59tadi Gilang ya sampai pada titik
- 1:15:02tertentu kita enggak sanggup
- 1:15:02menyelesaikan masalah itu sebetulnya kan
- 1:15:04kita dapat ee
- 1:15:08dapat kita
- 1:15:11terlatih ee bahasa
- 1:15:16ya dihidupan ini selama itu masalah itu
- 1:15:20ada di dunia pasti ada solusinya gitu
- 1:15:22loh.
- 1:15:24kecuali masalah itu ada dari surga gitu.
- 1:15:27Semua masalah di dunia ini sebetulnya
- 1:15:29maka solusinya adalah solusi manusia.
- 1:15:32Paham ya? Jadi setiap masalah yang
- 1:15:33muncul di dunia ini pasti memang untuk
- 1:15:35manusia dan saya yakin manusia punya
- 1:15:38cara menyelesaikannya. Cuma kan masalah
- 1:15:40ini diselesaikan pertama bisa secara
- 1:15:43personal pribadi ya. Kalau pribadi berat
- 1:15:46kita mungkin bisa dengan cara
- 1:15:48teman-teman.
- 1:15:52Nah, banyak orang memaksakan diri untuk
- 1:15:54menyelesaikan masalah itu pada saat itu
- 1:15:56juga. Itu masalahnya. Sehingga akhirnya
- 1:16:00ketika masalah itu harus dipaksakan
- 1:16:01selesai, dia enggak bisa. Maka kita
- 1:16:03dalam beragama butuh waktu sebetulnya
- 1:16:06untuk melihat masalah itu seperti apa.
- 1:16:08Kita butuh ketenangan batin untuk
- 1:16:10melihat masalah itu seperti apa. Dan
- 1:16:11dalam agama itu kita diajarkan untuk
- 1:16:13menyelesaikan masalah itu dengan tenang.
- 1:16:15Kenapa tenang? Karena kita baru tahu
- 1:16:17ternyata masalah itu sebetulnya bobotnya
- 1:16:19seperti apa dulu.
- 1:16:20Masalah terasa berat bukan karena kita
- 1:16:22tidak bisa menyelesaikannya, tetapi kita
- 1:16:24sangat reaktif menanggapinya.
- 1:16:27Padahal sebetulnya kalau kita tenang dan
- 1:16:30kita melibatkan teman-teman untuk
- 1:16:31melihat masalah tersebut, bukan untuk
- 1:16:33memecahkan ya, bukan untuk
- 1:16:35menyelesaikan. Mungkin masalah itu
- 1:16:36terasa lebih ringan. Contoh saya kalau
- 1:16:39ada masalah ketika saya tidak sanggup
- 1:16:42menyelesaikannya, saya tidak buru-buru
- 1:16:43menyelesaikannya dulu. Saya ambil waktu,
- 1:16:46saya merenungkan dulu dalam meditasi.
- 1:16:48Lalu saya jumpa mungkin para Bhante,
- 1:16:51saya jumpa teman-teman saya di agama.
- 1:16:53Bagaimana pandangan kalian seperti ini?
- 1:16:55Ini kan termasuk upaya untuk
- 1:16:56menyelesaikan masalah, bukan memaksakan
- 1:16:59diri untuk menyelesaikan masalah
- 1:17:00sendiri. Nah, mereka berikan masukan,
- 1:17:02berikan jalan, maka kita baru tahu
- 1:17:04ternyata masalah itu tidak seberat yang
- 1:17:06kita bayangkan.
- 1:17:09Jadi, jangan pernah masalah itu
- 1:17:10dipaksakan selesaikan sendiri. Gilang.
- 1:17:13Nah, makanya Tuhan mengatakan tidak ada
- 1:17:16yang tidak bisa diselesaikan sesuai
- 1:17:17kemampuan. Nah, kemampuan gila bagaimana
- 1:17:19misalnya? Apakah teman enggak boleh
- 1:17:21berbagi kepada teman? Nah, teman tidak
- 1:17:24harus menyelesaikan masalah itu, tapi
- 1:17:25dia bisa memberikan advice kepada kita
- 1:17:28bagaimana masalah itu bisa dilihat lebih
- 1:17:31kecil daripada yang kita lihat
- 1:17:33sebenarnya. Pernah punya masalah
- 1:17:36misalnya begini,
- 1:17:37ketika saya urus sesuatu tidak beres,
- 1:17:40saya tidak langsung mengklaim itu
- 1:17:41masalah besar. Tidak. Saya diam dulu,
- 1:17:44saya biarkan dulu. Lalu saya jumpa teman
- 1:17:47saya yang ahli untuk itu minta beri
- 1:17:49pendapat. Ternyata dia ada solusi, dia
- 1:17:52punya teman lagi untuk membantu bisa
- 1:17:53lebih cepat sehingga masalah itu
- 1:17:54akhirnya selesai dengan baik. Nah,
- 1:17:57begitu pendapat saya. Jadi, jangan kita
- 1:17:59mengatakan itu masalah enggak selesai.
- 1:18:01Lalu, iya kalau kita memang reaktif mau
- 1:18:04menyelesaikan saat itu juga, ingat tidak
- 1:18:06ada kewajiban masalah itu harus selesai
- 1:18:09pada saat itu juga.
- 1:18:11Jadi masalah bisa diselesaikan
- 1:18:14dengan waktu yang sesuai yang kita
- 1:18:17sanggup. Terima kasih, Bu.
- 1:18:19Oke. Baik, Pak. Terima kasih, Pak. Nah,
- 1:18:22kalau Coach gimana nih, Coach?
- 1:18:23Iya, terima kasih ee Bro Gilang Maulana.
- 1:18:27Senang ya, Bro. Santai-santai. Ee saya
- 1:18:30paham betul bahwa kita semua punya
- 1:18:32masalah dan kadang-kadang masalah yang
- 1:18:35sama pun direspon sama orang beda-beda
- 1:18:39tuh.
- 1:18:40Tapi eh saya mau bilang gini, apapun
- 1:18:43yang terjadi di hidup Anda, I know it's
- 1:18:46not easy for you.
- 1:18:49Lalu apa yang bisa kita lakukan? Yang
- 1:18:51pertama adalah ubah POV. Saya langsung
- 1:18:54kasih jurusnya aja ya, Teman-teman. Saya
- 1:18:57sering sekali dibully karena saya
- 1:18:59disabilitas. Ini saya kasih konteksnya
- 1:19:01aja. Ini contoh aja ya. Saya sering
- 1:19:03sekali dikatain cacat. Saya capek karena
- 1:19:06saya enggak bisa kontrol tuh mulutnya
- 1:19:07tuh. Kalau perlu saya jahit. saya masuk
- 1:19:10penjara, tapi udah udah disabilitas
- 1:19:11masuk penjara. Aduh, kasihan kan.
- 1:19:14Sehingga apa yang bisa saya lakukan?
- 1:19:16Saya berusaha untuk mengubah kata
- 1:19:19negatif yang disampaikan kepada saya
- 1:19:21dengan kata positif. Maka saya suka
- 1:19:23bercanda. Mohon izin bercandanya agak
- 1:19:26gelap karena habis gelap terlebihlah
- 1:19:28terang gitu ya. Bukan RA Andre per hari
- 1:19:30ini jadi RA Andre bukan RA Kartini gitu
- 1:19:33ya. Bercanda ya teman-teman. Gini
- 1:19:36contohnya, saya selalu memperkenalkan
- 1:19:38diri saya cacat alias cakep-cakap
- 1:19:41tampan. Buat cowok, buah cewek cacat
- 1:19:46juga alias cantik-cantik tangguh sih.
- 1:19:50Cacat juga tuh singkatannya.
- 1:19:52Bahkan dalam narasi seperti ini, setiap
- 1:19:55kata negatif itu kita bisa ubah jadi
- 1:19:58positif tergantung poov kita gitu.
- 1:20:04Semua tergantung bagaimana kita memaknai
- 1:20:07kejadian atau pengalaman di hidup kita,
- 1:20:09Bro. Karena jujur ya, aku sebagai
- 1:20:11disabilitas dari lahir ee
- 1:20:15aku sering sekali ingin bunuh diri.
- 1:20:19Sering sekali setiap
- 1:20:24detik sehingga aku capek mau bunuh diri
- 1:20:27kayaknya susah nih. Karena disabilitas
- 1:20:28juga kan. Ah, gimana ya? Eh, ya udah deh
- 1:20:32terusin gitu ya. Tapi gimana nerusin
- 1:20:34hidup ini dengan bisa menikmatinya?
- 1:20:37Aku enggak mau hidup ini aku terusin,
- 1:20:39tapi aku terus menderita gitu. Maka yang
- 1:20:42bisa aku lakukan aku tidak bisa ngubah
- 1:20:43tubuhku, Bro. Tapi yang bisa aku ubah
- 1:20:46adalah pikiranku. Ya udah dengan cara
- 1:20:49setiap kata negatif, setiap pembulian
- 1:20:51itu aku ubah secara positif, gitu.
- 1:20:54Bahkan sor ya kata goblok sekalipun itu
- 1:20:57kita bisa ubah secara positif loh. Ada
- 1:20:59tuh di konten saya di Instagram
- 1:21:01teman-teman bisa cek apa coba kata posif
- 1:21:06dari goblok aja. Misalnya G apa? Gigih.
- 1:21:11Eh Optimis B berani. L lugas. O lagi
- 1:21:16open mindset. T apa? Eh, Kak keren sih.
- 1:21:20Bahkan setiap kata negatif itu bisa kita
- 1:21:22narasikan secara positif tergantung
- 1:21:24sekali lagi POV kita. Maka kalau
- 1:21:26teman-teman mau pakai ilmu ini, tidak
- 1:21:28ada seorang pun yang bisa nyakitin diri
- 1:21:30teman-teman kecuali diri teman-teman
- 1:21:32sendiri. Oke,
- 1:21:35semoga bisa jadi jurus baru buat
- 1:21:38teman-teman menghadapi kehidupan ini
- 1:21:40yang luar biasa.
- 1:21:43Semangat teman-teman
- 1:21:45ya. Baik Coach. Berarti benar ya, Coach,
- 1:21:48istilah berdamai dengan diri sendiri itu
- 1:21:50menjadi jalan ninja ya, Coach ya,
- 1:21:54yang paling efektif.
- 1:21:56Oke, satu lagi nih, sepertinya Yulia
- 1:21:58cukup menarik.
- 1:22:01Iya,
- 1:22:02karena tadi ada kumpuanda kan, Coach?
- 1:22:05Oh, iya.
- 1:22:06Eh, adik kita Yulia ini sebagai penanya
- 1:22:09terakhir ya untuk kuliah umum kita pada
- 1:22:11hari ini. Boleh Yulia silakan bertanya.
- 1:22:15Oke, izin. Terima kasih e untuk Ibu.
- 1:22:17Saya Yulia Angreni Berpandia dari kelas
- 1:22:19IC Sore ingin menanyakan ee ini dari
- 1:22:24sesi sebelumnya sebetulnya tapi mungkin
- 1:22:26baru dikasih kesempatan pada saat ini.
- 1:22:29Ee di era kami nih Pak Bu di era Genzi
- 1:22:33itu banyak yang sering ee mengalami
- 1:22:35masalah tapi untuk menyelesaikan masalah
- 1:22:38itu dari untuk mencari solusi. Tetapi
- 1:22:41dia menanamkan mindset ee untuk berserah
- 1:22:44diri atau tawakal gitu Bu. Bagaimana
- 1:22:47pandangan Bapak Ibu terhadap hal
- 1:22:48tersebut? Apakah itu dapat mengurangi
- 1:22:51stres atau ee kerusakan mental atau
- 1:22:54bahkan itu membuat ee mentalnya itu
- 1:22:57semakin rusak dari dalam karena itu
- 1:22:59suatu saat bisa meluap gitu, Bu. Karena
- 1:23:02hanya dipendam gitu. dan bagaimana cara
- 1:23:05kami agar bisa ee lebih lebih bisa
- 1:23:08menangani masalah-masalah yang mungkin
- 1:23:11bagi orang itu sepele yang di mana ee
- 1:23:14sering disebut Gen itu adalah generasi
- 1:23:16stroberi gitu, Bu. Terima kasih.
- 1:23:20Baik, terima kasih. Yuk, Bapak Rudi
- 1:23:24boleh menanggapi, Pak?
- 1:23:26Iya, berserah diri itu bagus ya
- 1:23:28sebetulnya. Karena berserah diri itu
- 1:23:30sebetul kita masuk kepada fase
- 1:23:32ketenangan. Tapi bukan berserah diri
- 1:23:34pasrah ya Yulia ya. Jangan diartikan
- 1:23:37seperti itu. Dalam beapa agama, dalam
- 1:23:39masing-masing agama ada berserah diri.
- 1:23:41Artinya ikhlas juga termasuk berserah
- 1:23:42diri. Jadi memang anak Genjet bisa salah
- 1:23:45tanggap nih dengan pengertian berserah
- 1:23:47diri. Jadi berserah diri yang tidak
- 1:23:49produktif ada. Artinya dia tidak ada
- 1:23:51upaya tidak
- 1:23:53tidak ada upaya untuk keluar daripada
- 1:23:55masalah tersebut atau mencari solusi.
- 1:23:57Jadi sebetulnya kalau saya melihat
- 1:23:58berserah diri itu adalah kita masuk ke
- 1:24:01dalam kekenian. Kita melihat masalah itu
- 1:24:03dengan jernih lalu kita pelan-pelan akan
- 1:24:06mengupas satu persatu di mana akan
- 1:24:08masalahnya. Dari situ akan muncul ilham,
- 1:24:10akan muncul daya juang untuk
- 1:24:12memperbaikinya. Tapi bukan berserah diri
- 1:24:14itu tidur, berserah diri itu pasrah,
- 1:24:18bukan. Ya, jadi hati-hati dengan kata
- 1:24:20berserah diri. Saya juga kalau ada
- 1:24:22masalah berserah diri dulu kepada ee ee
- 1:24:25Buddha ya, kepada para Budhisatwa. Untuk
- 1:24:28apa? Kita memohon, kita harus sadar diri
- 1:24:30juga nih sebagai manusia bahwa dengan
- 1:24:32keterbatasan kita, kita perlu
- 1:24:35perlindungan, perlu arahan daripada
- 1:24:37kalau kalian mungkin di Islam ya,
- 1:24:39nabi-nabi ya, guru besar kita, guru suci
- 1:24:42untuk memberikan satu kekuatan kepada
- 1:24:44kita ee dari Tuhan ya. sehingga kita itu
- 1:24:46bisa punya cara pandang yang berbeda.
- 1:24:49Tadi saya sudah mengatakan agama Buddha
- 1:24:50itu paling penting adalah pikiran. Jadi
- 1:24:52kita berserah diri itu adalah untuk
- 1:24:54mundur sejenak daripada masalah tapi
- 1:24:58bukan mundur dan hilang. Mundur untuk
- 1:25:00melihat masalah itu dengan perspektif
- 1:25:02yang berbeda.
- 1:25:03Dengan dari itu, kita bisa tahu ternyata
- 1:25:05masalah itu tidak seberat atau tidak
- 1:25:07seperti yang kita bayangkan sebelumnya.
- 1:25:09Sehingga dengan ketenangan itu kita bisa
- 1:25:11mendapatkan ilham, mendapatkan satu
- 1:25:14proses untuk mengetahui cara
- 1:25:17menyelesaikannya dengan baik. Itu
- 1:25:19pengertian saya, Yulia. Terima kasih.
- 1:25:25Makasih, Pak Rudi. Bagaimana, Kost?
- 1:25:28Baik, izin saya nambahkan.
- 1:25:32Tapi sebelum saya kasih jurus lagi,
- 1:25:34jurusnya mahal nih, Teman-teman. Ini ada
- 1:25:36500 juta di sini yang hadir. Tolong
- 1:25:38follow. IG saya ya, sama IG Sobat Cho
- 1:25:42ya. Kalau ikhlas. Kalau enggak ikhlas
- 1:25:44enggak apa-apa nanti saya blok juga ya,
- 1:25:46Teman-teman. Oke. Eh, gini bicara
- 1:25:49tentang ee berserah saya setuju sekali
- 1:25:52bahwa itu bukan ya ya udah ada masalah
- 1:25:56ya santai aja cuy, tidur aja, makan BO,
- 1:26:00makan BO mati. It's ok kalau Anda enggak
- 1:26:02nyesal. Oke.
- 1:26:05Tapi saya mau bilang gini, kalau Anda
- 1:26:07menyesal maka berusahalah.
- 1:26:11Karena idealnya
- 1:26:14agama mengajarkan apapun itu kita usaha
- 1:26:17dulu baru tawakal, baru berserah
- 1:26:22gitu. Jadi jangan dibalik.
- 1:26:25Ya udah cing lah
- 1:26:29ma ujian. Wah udah santai enggak usah
- 1:26:31belajar. Ngapain nanti juga bisa pakai
- 1:26:34chat GPT kan? Wuh, mudahlah, mudah. Iya,
- 1:26:39nilai Anda bagus tapi Anda nyesal enggak
- 1:26:41otak Anda enggak ada tuh kosong. Eh, ada
- 1:26:44sih pakai otak cat GPT gitu. Eh, sor
- 1:26:47enggak boleh nyebut merek. Pakai otak AI
- 1:26:50gitu. Come on. Kalau Anda enggak nyesal,
- 1:26:53sekali lagi it's ok. Tapi kalau Anda
- 1:26:56nyesal, don't do it. Karena hidup itu
- 1:26:59cuman sekali. Yolo, kan?
- 1:27:01Iya. Yolo tuh bukan berarti enak-enak
- 1:27:03aja Anda maunya. Yolo artinya Anda
- 1:27:07berusaha sekuat mungkin menciptakan
- 1:27:10hidup yang Anda inginkan. Yang Anda
- 1:27:12tidak menyesal. Tuh,
- 1:27:15Anda happy-happy. Boleh enggak? Boleh.
- 1:27:18Nyesal enggak? Kalau enggak nyesal
- 1:27:19silakan.
- 1:27:21Tapi kalau nyesal ya Anda berjuang
- 1:27:24untuk hidup apa yang Anda mau. Terlepas
- 1:27:27apapun background Anda, no excuse
- 1:27:30teman-teman. Aku nih bisa punya banyak
- 1:27:32alasan untuk cuman tidur doang di rumah
- 1:27:36karena aku disabilitas. Bilang aja aku
- 1:27:38malas. Ah, badan aku kaku nih, enggak
- 1:27:40bisa ngapa-ngapain. Tapi tahukah
- 1:27:42teman-teman per hari ini aku bisa ketemu
- 1:27:43teman-teman sekalian itu karena aku
- 1:27:46memilih untuk tidak tiduran di kasur.
- 1:27:49Tapi aku berjuang, aku kerja jadi
- 1:27:52pelatih mental olahraga. Apakah jadi
- 1:27:55pelatih mental doang? Enggak. Aku juga
- 1:27:57dosen psikologi.
- 1:28:00Aku juga pelatih mental,
- 1:28:03konsultan psikologi.
- 1:28:07Aku terus berjuang untuk apa? Bukan
- 1:28:10untuk diriku, tapi untuk bisa kita
- 1:28:13sama-sama membantu orang lain. Karena
- 1:28:15dengan membantu orang lain dalam
- 1:28:17perspektif psikologi juga itu namanya
- 1:28:19prososial. Ketika kita punya keinginan
- 1:28:21untuk bantu orang lain, maka asar kita
- 1:28:23tumbuh, maka spiritualitas kita naik
- 1:28:25sehingga bisa menciptakan hidup yang
- 1:28:27lebih bahagia,
- 1:28:30gitu. Tapi sebelum bantu orang, bantulah
- 1:28:32diri Anda. Nah, kalau Anda-Anda masih
- 1:28:35bingung, masih galau, teman-teman bisa
- 1:28:38ee follow IG saya atau IG Sobat CIho
- 1:28:41karena kita sama-sama berjuang dalam
- 1:28:43live krisis. Promosi sedikit ya, karena
- 1:28:45ini kampus luar biasa sekali ini. Ada
- 1:28:47500 juta ada di sini ya. Dan saya ee
- 1:28:50sangat missar-benar
- 1:28:54kampus yang sangat inklusif difounderi
- 1:28:57sama Dr. eh Sofyan ya. Luar biasa.
- 1:29:02Terima kasih. Eh thank you for having
- 1:29:04me. Thank you for having us. Eh
- 1:29:07tetap cintai Indonesia apapun yang
- 1:29:10terjadi karena Indonesia itu keren
- 1:29:12banget teman-teman. Come on. Anda adalah
- 1:29:15agen perubahan. Ada 500 otak di sini.
- 1:29:17500 juta otak. dan Anda bisa punya ikut
- 1:29:20andil untuk bisa bikin Indonesia jadi
- 1:29:22lebih baik gitu. Oke, semangat
- 1:29:25teman-teman. Amin.
- 1:29:26Terima kasih, Coach. Agent of change ya,
- 1:29:29Coach ya.
- 1:29:32Baik, terima kasih.
- 1:29:35Iya. Baik. Nah, karena waktu jugalah
- 1:29:38yang akan menghentikan percakapan yang
- 1:29:40seru pada hari ini, karena waktu sudah
- 1:29:42menunjukkan ee akhir yang tidak kita
- 1:29:47inginkan, namun kami mengucapkan terima
- 1:29:49kasih yang sebesar-besarnya kepada
- 1:29:51narasumber yang hari ini sudah berbagi
- 1:29:54banyak ilmu, banyak solusi, banyak saran
- 1:29:57yang bisa kami pergunakan menjalani
- 1:30:00kehidupan khususnya dalam konteks
- 1:30:02spiritualitas dan kesehatan mental. Nah,
- 1:30:06ee baik. Jadi, kesimpulan kita pada hari
- 1:30:09ini adik-adik semuanya, jadi
- 1:30:11spiritualitas mental, spiritualitas dan
- 1:30:13kesehatan mental itu dapat terwujud ee
- 1:30:16apabila kita yang pertama itu
- 1:30:20penerimaan, kemudian penyerahan diri,
- 1:30:23makna dan tujuan hidup kita tahu,
- 1:30:25kemudian dukungan sosial juga kita
- 1:30:26perlukan dalam kehidupan kita. Nah,
- 1:30:28benar kata coach tadi juga ditutup ya.
- 1:30:31ee hidup cuma sekali, ciptakan hidup
- 1:30:34yang Anda inginkan. Nah, itu mungkin
- 1:30:36bisa menjadi salah satu motivasi kita
- 1:30:38untuk menjalankan kehidupan kita. Nah,
- 1:30:41baik untuk sebelum kita tutup ee
- 1:30:43kegiatan kita pada hari ini, kita akan
- 1:30:46berfoto bersama dan para narasumber akan
- 1:30:48diberikan sertifikat daripada
- 1:30:52Universitas
- 1:30:54dalam hal ini akan saya serahkan kepada
- 1:30:56Pak Josua. Silakan Pak Josua boleh
- 1:30:59di-handle. Kapan.
- 1:31:01Baik, terima kasih Bu Astuti. Kepada
- 1:31:04narasumber kami akan memberikan
- 1:31:07sertifikat. Silakan kepada Pak Jin
- 1:31:10sebagai sekretaris
- 1:31:13Center for Interpret and Multicultural
- 1:31:15Studies.
- 1:31:19Baik, ee sebelum saya serahkan
- 1:31:20sertifikat, saya ingin mengucapkan
- 1:31:22terima kasih sekali lagi
- 1:31:23sebanyak-banyaknya kepada Bapak Rudi dan
- 1:31:25juga Pak Andre telah berkenan menghadiri
- 1:31:28sesi keberagaman ini. Mudah-mudahan ini
- 1:31:31bukan kali terakhir kita berkolaborasi.
- 1:31:34ee ke depannya kita bisa menjalankan
- 1:31:36kolaborasi lebih ee lanjut lagi. Ee Pak
- 1:31:40Andre, Pak Rudi silakan welcome baik itu
- 1:31:43di mata kuliah keberagamaan ataupun mata
- 1:31:46kuliah inklusivitas seperti yang sudah
- 1:31:47saya mention sebelumnya seperti itu.
- 1:31:50Baik, mungkin untuk yang pertama kepada
- 1:31:53Pak Andre, Pak Josua boleh bantu
- 1:31:57screenshot.
- 1:31:59Baik, Pak.
- 1:32:02Oke,
- 1:32:06sudah, Pak.
- 1:32:07Silakan. Sudah.
- 1:32:09Oke,
- 1:32:09sudah.
- 1:32:11Silakan yang kedua, Pak.
- 1:32:16Oke,
- 1:32:18Pak Rudi.
- 1:32:22Boleh dihitung, Pak?
- 1:32:24Iya. 1 2 3. Oke.
- 1:32:27Oke. Baik, saya serahkan kembali kepada
- 1:32:29Bu Asut.
- 1:32:37siswanya, Pak. Sudah difoto Pak Juswa?
- 1:32:42Oke, sudah Bu. Silakan Bu Astuti,
- 1:32:47ya. Terima kasih.
- 1:32:50Baik, sekali lagi kami ucapkan terima
- 1:32:51kasih kepada narasumber kita yang sudah
- 1:32:53hadir pada hari ini. Saya sebagai
- 1:32:55moderator menyampaikan terima kasih dan
- 1:32:58mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila
- 1:33:00dalam ucapan saya tindakan ada hal-hal
- 1:33:03yang kurang berkenan kepada para
- 1:33:06narasumber kita. Nah, baik. Nah, ini
- 1:33:09untuk adik-adik mahasiswa sudah dikek
- 1:33:11kolom chat kita ada
- 1:33:16Instagram dari Coach Andre nih. Jadi,
- 1:33:18adik-adik mahasiswa boleh tolong follow
- 1:33:20akun Instagram beliau dan bisa nanti
- 1:33:22sharing apabila adik-adik mahasiswa
- 1:33:24punya pertanyaan.
- 1:33:26Baik, ee burung Irian burung cendrawasi
- 1:33:30cukup sekian dan terima kasih. Kami dari
- 1:33:33civitas akademika Universitas Terra
- 1:33:35Bineka pamit undur diri kepada adik-adik
- 1:33:38mahasiswa dan terima kasih yang sudah
- 1:33:40bergabung pada hari ini. Mohon
- 1:33:42diselesaikan tugas kelompok dan tugas
- 1:33:44individunya kepada adik-adik mahasiswa
- 1:33:46karena kita akan presentase pada
- 1:33:48pertemuan 14 dan 15. Baik, Pak Zain,
- 1:33:52apakah sudah bisa kita tutup kegiatan
- 1:33:54pada hari ini?
- 1:33:55Bisa, Ibu. Silakan.
- 1:33:58Baik, terima kasih Bapak kepada
- 1:34:00narasumber.
- 1:34:01Silakan yang ingin melanjutkan
- 1:34:03aktivitasnya kami ucapkan sekali lagi
- 1:34:05terima kasih Pak. Selamat siang
- 1:34:07semuanya.
- 1:34:09Selamat siang.
- 1:34:10Selamat siang Bapak Ibu.
- 1:34:14Bu
- 1:34:15terima kasih Bu.
- 1:34:17Selamat siang Bapak Ibu. Makasih, Bu.
- 1:34:20Terima kasih adik-adik.
- 1:34:23Absen jangan lupa diisi, ya.
- 1:34:29ya
About this transcript
This page contains the full transcript of Spiritualitas dan Kesehatan Mental Sesi 2 by Centre for Interfaith and Multicultural Studies, generated from the public captions YouTube serves with the video. The transcript has 11,112 words across 2,129 segments, with the original timestamps preserved so you can click any line to jump to that moment in the embedded player.
What you can do with it
Use the transcript to take notes, quote the speaker, build a study guide, generate a summary with ChatGPT or Claude via the YouTube Summary tool, or export it as a timed subtitle file with YouTube to SRT. You can also re-open it in the transcriber to translate the transcript into 100+ languages.
Free YouTube transcript tool
YouTube2Text is a free YouTube transcript generator — no signup, no daily limit. Paste any YouTube link and get the full transcript instantly, with timestamps, click-to-jump, translation to 100+ languages, AI prompts for ChatGPT, Claude, and Gemini, and exports to TXT, SRT, VTT, or Markdown.