PULANG - KHW PART 400 — Transcript
Full transcript
- 0:01Di tengah ujian yang sedang melanda
- 0:03negeri ini, semoga Allah segera
- 0:05menghadirkan lagi pertolongannya.
- 0:08Meredakan segala kesulitan dan
- 0:10menggantikan rasa takut serta kesedihan
- 0:13dengan keselamatan dan ketenangan.
- 0:16Semoga Allah senantiasa melindungi
- 0:18saudara-saudara kita yang sedang
- 0:19menghadapi musibah. Memberikan kekuatan
- 0:22dan keselamatan bagi para petugas yang
- 0:23berjuang di lapangan.
- 0:25Serta menurunkan hujan sebagai rahmat
- 0:28dan pertolongan untuk memadamkan
- 0:30kebakaran.
- 0:31Semoga segala bencana yang melanda
- 0:33segera berakhir. Alam yang terluka
- 0:35kembali pulih dan negeri ini senantiasa
- 0:38berada dalam lindungan serta
- 0:40keberkahannya.
- 0:42Amin.
- 0:44Pray for Indonesiaku.
- 2:57Hai Wa, assalamualaikum warahmatullahi
- 2:58wabarakatuh. Terima kasih sudah klik
- 2:59video ini. Wa, alhamdulillah akhirnya
- 3:02malam ini kita sampai juga di KHW yang
- 3:04paling ditunggu-tunggu, yaitu KHW part
- 3:07400. Masya Allah, jujur aku enggak
- 3:11nyangka Wa, aku terharu KHW bisa nemenin
- 3:13kalian sampai di episode 400. 400
- 3:17pastinya aku ngucapin terima kasih
- 3:19banyak karena kalian sudah setia mungkin
- 3:21nonton KHW dari part 1 sampai part
- 3:23sekarang ya kan. 400 part ini bisa
- 3:26terwujud berkat kalian semua Wa Wa Wa Wa
- 3:29ku se-Nusantara yang terus setia ngasih
- 3:30dukungan. Berkat Wa Wa Wa Wa narasumber
- 3:33yang sudah bersedia berbagi ceritanya ke
- 3:35kami dan tentunya berkat seluruh tim
- 3:37yang selama ini sudah bekerja keras di
- 3:39balik layar. Semoga ke depannya KHW bisa
- 3:41terus berkembang, bisa menghadirkan
- 3:43cerita-cerita yang berkesan,
- 3:45menghadirkan cerita-cerita yang bisa
- 3:47diambil pelajarannya dan
- 3:49tetap menjadi bagian dari malam-malam
- 3:51kalian ya, Wak, ya. Ya Allah. Oke.
- 3:55Sesuai request kalian, bisa kalian lihat
- 3:58durasi video malam ini ya, kan. Aku
- 4:00waktu syuting ini enggak tahu berapa
- 4:01tepatnya ya.
- 4:03Tapi aku yakin ini pasti panjang kali.
- 4:04Alhamdulillah kami dapat kiriman kisah
- 4:06yang bisa memenuhi durasi permintaan
- 4:08kalian.
- 4:09Dan
- 4:10selain itu aku tahu seperti yang sudah
- 4:12kalian lihat dari awal ya, set tempat
- 4:14syutingnya juga berbeda. Kok pindah
- 4:16studio lagi, Nadia? Enggak, aku baru
- 4:17pindah studio yang baru nih, spesial KHW
- 4:19400 ini aku enggak syuting di studio,
- 4:21Wak. Tapi aku syuting di sebuah bangunan
- 4:24tua yang kosongnya juga sudah puluhan
- 4:26tahun. He eh, lokasi ini kami pilih
- 4:28karena kami memang mau atau di KHW
- 4:30spesial 400 ini kami mau menghadirkan
- 4:33suasana yang berbeda dari
- 4:34episode-episode sebelumnya. Jadi, selain
- 4:37durasi cerita yang lebih panjang, kami
- 4:39juga mau menjadikan KHW 400 ini sebagai
- 4:41pengalaman menonton yang berbeda. Bisa
- 4:44juga sekaligus jadi kenangan spesial
- 4:46buat kalian yang sudah setia menemani
- 4:47perjalanan KHW sampai sejauh ini.
- 4:50[terkesiap]
- 4:51Dan yang terpenting, selain durasi yang
- 4:53panjang, set studio yang berbeda, yang
- 4:56tidak biasanya ya, kan,
- 4:58bisa ku pastikan kisah dari KHW 400 yang
- 5:02akan aku bawakan malam ini
- 5:05epik dan kompleks sekali, Wak. Kisah
- 5:08horornya ada, sedihnya ada,
- 5:11bahkan kriminalnya juga ada.
- 5:14Ya, ini sebelum memulai memang tidak
- 5:15seperti biasanya Wak, aku akan
- 5:17membacakan langsung email pembuka dari
- 5:20wawak narasumber KHW 400 kali ini, yaitu
- 5:24Mas Rizki. Dengerin ya.
- 5:28Mas Rizki ngasih judulnya "Penyesalan
- 5:30Selalu Datang Terakhir". Halo, Nad.
- 5:32Kenalin, nama aku Rizki.
- 5:35Izin berbagi sebuah cerita ya, Nad.
- 5:36Cerita ini aku tulis bersama dua teman
- 5:39baikku, Fajar dan Dimas. Kisah yang kami
- 5:42tuliskan ini bukan cerita fiksi,
- 5:44melainkan pengalaman nyata yang
- 5:46benar-benar dialami oleh keluarga kami
- 5:49sekitar belasan tahun yang lalu. Seluruh
- 5:52cerita, kejadian, dan tokoh di dalamnya
- 5:54kami tuliskan berdasarkan apa yang kami
- 5:56alami dan ketahui saat itu. Untuk
- 5:58menjaga privasi, beberapa nama dalam
- 6:01cerita sengaja kami samarkan. Para tokoh
- 6:04yang kisahnya kami ceritakan juga sudah
- 6:06memberikan izin kepada kami untuk
- 6:09membagikan kisah ini dan
- 6:11mempublikasikannya ke YouTube Nadia
- 6:13Omara. Kami menulis cerita ini bukan
- 6:15semata-mata untuk menceritakan kembali
- 6:17masa lalu. Lebih dari itu, cerita ini
- 6:20menjadi pengingat bagi kami bahwa
- 6:23belasan tahun yang lalu kami pernah
- 6:26melewati sebuah pengalaman yang begitu
- 6:29berat. Sebuah pengalaman yang sampai
- 6:31hari ini masih melekat dalam ingatan
- 6:33kami. Mungkin bagi orang lain cerita ini
- 6:35hanya akan menjadi sebuah kisah, tetapi
- 6:37bagi kami setiap bagian di dalamnya
- 6:40menyimpan kenangan,
- 6:41rasa kehilangan, ketakutan, dan
- 6:44perjuangan yang benar-benar
- 6:46pernah kami lalui. Semoga cerita ini
- 6:48bisa menjadi pengingat bahwa seberat
- 6:50apapun sebuah ujian yang pernah kita
- 6:51lewati,
- 6:53pada akhirnya kita tetap bisa bertahan
- 6:55dan melanjutkan kehidupan. Izin kami
- 6:58berbagi kisah ini, Nat. Semoga berkenan
- 7:00untuk dibaca dan apabila dianggap sesuai
- 7:03dapat menjadi bagian dari cerita di
- 7:06kanal Nadia Omara. Itu pembuka email
- 7:09dari Wawa KHW 400. Terima kasih banyak
- 7:12Mas Rizki, Mas Fajar, dan Mas Dimas
- 7:15sudah mempercayakan kisah ini untuk aku
- 7:16ceritakan. Jadi spesial juga di KHW ini,
- 7:18Wak. Tiga Wawa yang ngalamin ini, Rizki,
- 7:21Dimas, Fajar, ya kan? Dan bercerita
- 7:24untuk satu kisah. Dan untuk menghormati
- 7:26privasi serta kenyamanan semua pihak
- 7:28yang terlibat, kami memutuskan untuk
- 7:29tidak menyebutkan nama asli pengirim
- 7:32cerita. Memang makanya tadi di-blur, ya.
- 7:33Nama asli orang-orang yang terlibat
- 7:35dalam cerita juga tidak karena itu
- 7:36permintaan dari Wawa. Tahun kejadian
- 7:39pada saat peristiwa terjadi juga tidak
- 7:40kami sebutkan dan lokasi kejadian juga
- 7:43tidak kami sebutkan. Semoga keputusan
- 7:45ini bisa kalian pahami, karena pada
- 7:47akhirnya yang ingin Rizki, Fajar, dan
- 7:50Dimas bagikan kepada kita semua adalah
- 7:52kisahnya, Wak, tanpa harus mengungkap
- 7:54identitas dan juga kehidupan pribadi
- 7:55orang-orang yang ada di dalamnya.
- 7:57Semakin nantinya aku yakin, semakin
- 7:59kalian menyimak kisah ini dari awal
- 8:00sampai akhir, aku yakin kalian sendiri
- 8:02bisa paham kenapa kami merasa sangat
- 8:06perlu menjaga privasi dan juga menjaga
- 8:08identitas semua pihak yang terlibat di
- 8:10dalamnya, Wak. Aku yakin kalian akan
- 8:12mengerti.
- 8:13Oke.
- 8:14Bismillah, [menghela napas]
- 8:15tanpa berlama-lama, kita langsung masuk
- 8:17aja ke ceritanya.
- 8:19Check it out.
- 8:31Oke, Wak, jadi kisah kali ini diawali
- 8:32dengan Rizki, wawak si pengirim cerita.
- 8:35Waktu itu Rizki tinggal di sebuah
- 8:37kampung yang kita sebut aja namanya
- 8:38Kampung A, bersama bapak, ibu, dan
- 8:41kakaknya. Rizki ini punya kawan dekat,
- 8:44namanya Fajar, itulah Fajar tadi. Rumah
- 8:46mereka tuh enggak jauhan, Wak, tapi
- 8:48masih satu RT. Mereka ini udah temenan
- 8:49dari kecil dan hubungan mereka juga udah
- 8:51kayak keluarga sendiri. Setelah lulus
- 8:53SMA, mereka jadi jarang ketemu karena
- 8:56Rizki, wawak, memutuskan kuliah di
- 8:58Kabupaten B, sedangkan Fajar, wawak kita
- 9:00yang kedua, kerja di sebuah tempat yang
- 9:03ada di dekat rumahnya, masih di Kampung
- 9:05A gitu loh, masih satu kota sama Kampung
- 9:07A. Tapi meskipun mereka ini tinggal
- 9:08berjauhan, mereka tetap saling
- 9:10kontakkan, Wak. Mereka tetap menjaga
- 9:12silaturahmi lah gitu, orang bestie dari
- 9:14kecil mereka berkawan. Nah, balik ke
- 9:16Fajar. Fajar ini adalah
- 9:18anak kedua dari dua bersaudara. Bapaknya
- 9:21namanya Pak Sabar, ibunya namanya Bu
- 9:23Nur. Dan Fajar punya satu kakak
- 9:26perempuan namanya Mbak Santi. Nah, Mbak
- 9:29Santi sendiri, Wak, udah menikah, dia
- 9:31punya suami namanya Mas Edo, terus
- 9:33mereka punya satu anak perempuan namanya
- 9:35Tata yang saat itu masih berusia 4
- 9:37tahun. Dan keluarga kecil yang Mbak
- 9:39Santi ini tinggalnya di Kabupaten B, Wa.
- 9:42Which is satu daerah, satu tempat, nah
- 9:44dia satu kota sama kampusnya si Rizki.
- 9:46Rizki kan kuliah tuh di Kabupaten B,
- 9:48tinggal satu daerah. Nah, keluarganya
- 9:50Mbak Santi inilah, Wa, yang akan menjadi
- 9:52pusat cerita kita malam ini.
- 10:01Kita masuk ke Mbak Santi. Jadi, [musik]
- 10:02keluarga kecil yang Mbak Santi ini
- 10:04dikenal adem ayem, Nadia. Mas Edo,
- 10:06suaminya, punya usaha jualan buah-buahan
- 10:09di pasar induk dekat rumah. Usahanya
- 10:11lancar, pelanggannya ada di mana-mana,
- 10:13kehidupan mereka berkecukupan juga.
- 10:15Sementara Mbak Santi, dia fokus mengurus
- 10:17rumah dan juga merawat Tata. Nah,
- 10:19keluarga Mbak Santi ini juga dikenal
- 10:21baik kali, Wa. Rizki yang tinggal di
- 10:22kabupaten yang sama sama Mbak Santi itu
- 10:24juga sering tuh mampir ke rumahnya Mbak
- 10:25Santi tiap kali dia mau pulang kampung
- 10:27ke kampung A atau waktu dia baru balik
- 10:29dari kampung A mau ke kosan, selalu.
- 10:31Karena memang rumahnya itu masih satu
- 10:32jalan rute balik kampungnya si Rizki,
- 10:35Wa. Apalagi Pak Sabar sama Bu Nur tuh,
- 10:36orang tuanya Mbak Santi sama Fajar, juga
- 10:39sering nitip barang lewat si Rizki.
- 10:41Mulai dari sayur-mayurlah, baju-bajunya
- 10:43buat Tatalah, sampai keperluan lainnya.
- 10:44Nitip sama [musik] si Rizki, nanti
- 10:46dimampirin ke rumahnya Mbak Santi. Nah,
- 10:48setiap kali nganterin barang-barang itu
- 10:49juga Rizki enggak langsung pulang, Wa,
- 10:50ya. Biasanya dia masuk dulu, minum dulu,
- 10:53ngobrol-ngobrol dulu, main dulu sama
- 10:55Tata, bahkan juga sampai makan bareng
- 10:57orang itu. Mas Edo, suaminya Mbak Santi
- 10:58itu juga sering tuh, Wa, ngebekelin si
- 11:00Rizki buah-buahan atau juga jajanan
- 11:02pasar gitulah. Nah, untuk aku bawa ke
- 11:03kosan atau untuk aku bawa balik kampung.
- 11:06Nah, dari situ aja, Wa, Rizki jadi cukup
- 11:08dekat dengan keluarganya Mbak Santi,
- 11:10kakak sahabatnya. Dan selama bolak-balik
- 11:12ke rumah mereka itu, Rizki itu enggak
- 11:14pernah sekalipun melihat ada masalah
- 11:16antara Mbak Santi sama Mas Edo. Di
- 11:18matanya Rizki, di mata kami semua
- 11:20bahkan, Nadia, mereka adalah keluarga
- 11:21yang dermawan, hidupnya rukun,
- 11:25dan juga saling menyayangi. Kelihatan.
- 11:27Tapi, ternyata ada banyak hal yang tidak
- 11:30Rizki ketahui tentang keluarga ini, Wak.
- 11:33Dan semuanya baru mulai terungkap
- 11:36setelah sebuah kejadian yang sama sekali
- 11:38tidak pernah mereka bayangkan
- 11:40sebelumnya.
- 11:43Suatu hari, Wak.
- 11:44Waktu lagi libur kuliah, Rizki balik
- 11:47kampunglah kan ke rumahnya ke kampung A
- 11:48itu. Nah, seperti biasa sebelum
- 11:50berangkat Rizki menyempatkan diri dulu
- 11:52mampir ke rumahnya Mbak Santi. Nah, di
- 11:54sana dia ngambil beberapa barang titipan
- 11:55yang Mbak Santi, Wak, untuk memang
- 11:57dibawa balik ke kampung, ya kan.
- 11:59Diambilnya barang itu, baliklah dia ke
- 12:01kampung. Nyampai di kampung A, Rizki
- 12:03menjalani aktivitasnya seperti biasa.
- 12:05Dan kebetulan besok harinya atau tepat
- 12:08di hari kedua Rizki berada di kampung
- 12:10ini, ada pertandingan final sepak bola,
- 12:12nah dia. Udah lama juga aku sama si
- 12:14Fajar nunggu-nungguin itu. Akhirnya
- 12:16Rizki sama Fajar sepakat buat nobar
- 12:18sekaligus nginap di rumahnya Rizki.
- 12:21Fajar nginap di rumah Rizki nih. Nah,
- 12:22malam harinya Fajar datanglah ke rumah
- 12:24Rizki. Mereka habiskanlah malam itu
- 12:26dengan nonton bola, ya kan. Dan setelah
- 12:27pertandingan selesai, baru mereka tidur
- 12:29tuh istilahnya. Besok paginya, 3 hari
- 12:32setelah si Rizki balik kampung,
- 12:34waktu mereka baru aja bangun, tiba-tiba
- 12:37HP-nya Fajar bunyi. Waktu dicek ternyata
- 12:39yang nelpon Evan. Evan ini siapa?
- 12:42Sepupunya Fajar, Wak, dan rumahnya ada
- 12:45di sebelah rumahnya si Fajar. Waktu
- 12:46diangkat, Evan udah ngegas, "Jar, kau di
- 12:48mana? Cepat kau balik sekarang!" katanya
- 12:50gitu. "Hah, ngapa kau? Aku lagi di rumah
- 12:52Rizki nih. Baru bangun aku. Ngapa
- 12:53emang?" gitu kan.
- 12:54"Udah kau cepat pulang! Sekarang pulang
- 12:55kau!" kata si Evan. Dengar itu,
- 12:58firasat Fajar enggak enak, ya kan. Fajar
- 12:59langsung ngajak Rizki, Wak, Wak, ke
- 13:00rumah, Wak. Enggak tahu nih ngapa Evan
- 13:02ngegas. "Suruh aku balik cepat!"
- 13:03katanya. "Ikutlah aku, Nat!" kata si
- 13:05Rizki. Pas nyampai di rumahnya Fajar,
- 13:07Wak, rupanya udah banyak orang. Banyak
- 13:10orang berkerumun di terasnya si Fajar.
- 13:11Dan di antara kerumunan itu, Rizki lihat
- 13:14Bu Nur, ibunya, itu lagi
- 13:18lagi histeris, Wak. Lagi diterangin sama
- 13:20warga. Sementara bapaknya, Pak Sabar,
- 13:22itu cuma lagi terduduk bengong,
- 13:24tatapannya kosong kayak
- 13:27Wah, gitu. Langsunglah disamperin sama
- 13:29Fajar kan, "Pak, ngapa, Pak? Ibu kenapa,
- 13:31Pak?" Dengan mata berkaca-kaca, Pak
- 13:33Sabar bilang,
- 13:34"Mbak Santi, Nak.
- 13:36Santi udah enggak ada, Nak."
- 13:38Santi udah enggak ada, katanya, Wak.
- 13:40"Hah?"
- 13:41"Enggak ada gimana, Pak?"
- 13:42"Santi meninggal, Dek." Katanya.
- 13:44"Eh, enggak mungkin, Pak. Orang Mbak
- 13:46Santi sehat-sehat aja kok. Kenapa dia
- 13:48meninggal?"
- 13:48Di situ Pak Sabar enggak jawab, Wak.
- 13:49Malah yang ada langsung pecah nangisnya
- 13:52Pak Sabar gitu, Wak.
- 13:54Langsung pecah.
- 13:55Di situ, sementara Rizki ini yang dari
- 13:57tadi nempel sama si Fajar juga ikut
- 13:59kaget lah kan, "Ih,
- 14:01hah, Mbak Santi meninggal? Baru beberapa
- 14:03hari yang lalu aku ketemu dia kan, baru
- 14:05ngambil barang juga aku di sana kan. Dan
- 14:06waktu ketemu pun Mbak Santi masih sehat
- 14:08walafiat nah dia masih bugar. Kayak
- 14:10enggak mungkin rasanya Mbak Santi
- 14:11tiba-tiba kok ya meninggal." Ditanya
- 14:13lagi sama Fajar, "Pak, jawab, Pak,
- 14:14jawab. Mbak Santi kenapa? Ngapa? Dia
- 14:16kecelakaan atau kenapa? Jawablah, Pak."
- 14:18Katanya. Di situ dengan bibir gemetar,
- 14:21Pak Sabar akhirnya bersuara.
- 14:24"Tadi Masmu, Mas Edo, nelpon.
- 14:28Santi gantung diri, Dek. Dia gantung
- 14:31diri di kusen pintu dapur.
- 14:33Dia gantung diri, Dek.
- 14:35Sekarang jenazahnya lagi dibawa ke rumah
- 14:37sakit."
- 14:37Gitu katanya.
- 14:38"Mbak Santi gantung
- 14:40Waktu dengar itu, Wak, enggak cuman si
- 14:42Fajar sama si Rizki, Wak. Itu
- 14:44warga-warga yang dari tadi ada di situ
- 14:46juga ikutan shock karena mereka baru
- 14:47dengar Pak Sabar buka suara tuh ya baru
- 14:49itu.
- 14:49"Hah, Santi? Hah? Gitu semua."
- 14:51Dengar itu, Fajar langsung nangis
- 14:54sejadi-jadinya.
- 14:55"Enggak mungkin, enggak mungkin, enggak
- 14:57mungkin, Pak. Enggak mungkin Mbak Santi
- 14:58kayak gitu. Mbak Santi, Mbak Santi,
- 15:01enggak mungkin, Mbak. Jangan tinggalin
- 15:03aku, Mbak."
- 15:04Kata si Fajar Fajar dalam
- 15:05menangis-nangis kan. Sementara Rizki
- 15:07juga nge-freeze, Nak. Nge-freeze aku
- 15:09enggak percaya aku. Soalnya juga selama
- 15:10ini Rizki selalu ngelihat Mbak Santi
- 15:12selalu happy, Wak. Sama sekali enggak
- 15:15kelihatan kalau dia ini lagi punya
- 15:16masalah. Hubungan dia sama Mas Edo juga
- 15:18kelihatannya baik-baik aja. Terus Terus
- 15:20nih? Apa yang bikin Mbak Santi sampai
- 15:21nekat ngelakuin itu ya kan? Cuma waktu
- 15:23itu Rizki juga enggak sampai hati mau
- 15:24nanya lebih lanjut ya kan? Lagi kayak
- 15:26gitu situasinya. Dia pun langsung
- 15:27nenangin Fajar, nenangin keluarga yang
- 15:29lain. Dan setelah kondisinya sudah agak
- 15:31tenang ya kan dibantu sama warga juga
- 15:32waktu itu.
- 15:34Fajar, bapaknya Fajar sama ibu pun
- 15:37langsung dibantu bersiap menjemput
- 15:39jenazahnya Mbak Santi yang ada di rumah
- 15:42sakit Kabupaten [musik] B.
- 15:44Pergilah ke sana dia orang.
- 15:46Nah, selama keluarganya Fajar jemput
- 15:47jenazahnya Mbak Santi Wa, Rizki tetap
- 15:50stay tuh di rumahnya Fajar dan juga sama
- 15:51beberapa keluarga yang lain dan juga
- 15:53sama beberapa warga. Mereka duduklah di
- 15:55ruang tamu. Nah, pas Rizki lagi duduk di
- 15:57sana
- 15:58matanya Rizki
- 16:00langsung tertuju ke sebuah kantong
- 16:02kresek besar di sudut rumah. Nah,
- 16:05kantong itu adalah kantong pakaiannya
- 16:07Mbak Santi Wa yang kemarin dititipin
- 16:09sama Rizki 2 hari yang lalu. Yang Rizki
- 16:11bawa barang, itulah barangnya. Waktu
- 16:13nengok kantong tuh, berdetak jantung aku
- 16:15langsung.
- 16:16Kenapa? Bukan lagi karena itu hal
- 16:18terakhir yang dikasih sama almarhumah
- 16:19ya. Tapi karena kantong itu mengingatkan
- 16:22Rizki sama kondisi Mbak Santi sebelum
- 16:26akhirnya dia dapat info Mbak Santi
- 16:27meninggal. Ada sesuatu yang Rizki lihat.
- 16:30Apa itu? Mbak Santi kenapa? Dan ada apa
- 16:33dengan kantong itu?
- 16:35Jadi gini.
- 16:412 hari yang lalu itu Wa
- 16:43sebelum dia datang ke rumahnya Mbak
- 16:45Santi, Rizki ditelepon sama Mbak Santi.
- 16:48"Ki kamu mau pulang kampung kan? Mbak
- 16:50titip bawain barang Mbak ke kampung ya
- 16:52Dek." Kata gitu. "Oh iya Mbak, siap."
- 16:54Kataku kan. Pergilah Nan aku sampai
- 16:55rumah Mbak Santi. Ku parkir motor tok
- 16:58pintu.
- 17:00Enggak lama pas pintu itu terbuka
- 17:02terkejut aku Nan.
- 17:04Aku tengok Mbak Santi yang bukain pintu
- 17:07tapi kedua matanya lebam.
- 17:10Lebam? Ih
- 17:12Mbak "Kenapa matanya?" Mbak Santi cuma
- 17:14senyum aja Nan. Dia bilang "Enggak
- 17:15apa-apa Ki, aku habis nangis nonton
- 17:16drakor. Masuk-masuk kata gitu kan. Tapi
- 17:19aku enggak percaya Nak, itu lebamnya itu
- 17:20bukan lebam sembab ya Nak, itu lebam
- 17:22bekas dipukul. Cuma di situ aku enggak
- 17:24berani nanya lebih jauh. Enggak enak
- 17:26juga aku kan.
- 17:27Nah, enggak lama Mbak Santi datang tuh.
- 17:29Langsung ngasih kantong berisi pakaian
- 17:31itu yang tadi ditengok sama si Rizki
- 17:32itu. Itu dikasih. "Nih Dek, tolong
- 17:34bawain bajuku sama bajunya Tata ke rumah
- 17:37ya Dek." kata gitu kan. "Oh iya Mbak,
- 17:38banyak kali bajunya. Kenapa bajunya
- 17:40dibawa pulang Mbak? Mbak mau nginap lama
- 17:42di kampung?" kata gitu. "Oh enggak, ini
- 17:43baju bekas aku Ki, aku mau bagiin ke
- 17:45tetangga-tetangga." kata si Mbak Santi
- 17:47gitu. "Oh gitu, ya lah." tadi apa yang
- 17:49sama si Rizki kan. "Mas Edo mana Mbak?"
- 17:52tuh ditanya sama Rizki. "Ah, di sini
- 17:54Wak."
- 17:55Mbak Santi malah
- 17:57ketawa kecil sambil bilang
- 18:00"Di neraka."
- 18:03"Di neraka."
- 18:04Terdiamlah aku di situ. Eh, ngapa nih?
- 18:07Enggak pernah-pernahnya Mbak Santi itu
- 18:08ngomong sekasar itu Wak. Dan dari nada
- 18:10bicaranya pun aku tahu itu bukan
- 18:11bercanda ya. Kenapa tiba-tiba bilang Mas
- 18:13Edo di neraka ya kan? Tapi lagi-lagi
- 18:14diri sih enggak enak hati Wak, kalau mau
- 18:16nanya lebih lanjut. Akhirnya ya udah aku
- 18:18diam aja kan Nak, aku siap-siap.
- 18:19Kuangkutlah ku keluar. Pamit balik dia.
- 18:22"Balik aku Mbak." "Iya hati-hati ya Ki."
- 18:23katanya. Nah, pas sampai di teras Mbak
- 18:26Mbak siapa? Mbak Santi udah agak masuk
- 18:27tuh, enggak nganterin dia sampai
- 18:29depanlah gitu. Kantong pakaian tadi aku
- 18:31ikat Nak di motor. Enggak lama si Tata
- 18:33datang, anaknya ini, anaknya Mbak Santi
- 18:35yang masih 4 tahun waktu itu kan, baru
- 18:36pulang main. Terus "Eh Tata." gitu
- 18:39kataku kan Nak. "Om." gitu. "Eh, Om."
- 18:41"Itu baju Mama sama bajunya Tata ya?"
- 18:43kata gitu kan. "Oh iya Tata, mau Om bawa
- 18:46balik ke rumahnya Kakekmu." gitu kan.
- 18:48Terus Wak,
- 18:49dengan polosnya si Tata bilang apa?
- 18:52"Oh." "Ini Om, kata Mama itu tuh baju
- 18:55udah enggak dipakai lagi. Makanya
- 18:57kemarin Papa lempar-lempar bajunya.
- 18:59Terus kemarin juga pipinya Mama tuh
- 19:01habis dipukul Om sama Papa. Katanya ada
- 19:03nyamuk." itu katanya Wak. Waktu udah
- 19:05dengar itu Nak, udah enggak bisa lagi
- 19:06aku positive thinking. Tata mungkin
- 19:08memang belum paham apa yang sebenarnya
- 19:09terjadi ya, tapi aku jelas langsung
- 19:12ngerti ini kayaknya rumah tangganya Mbak
- 19:14Santi sama Mas Edo memang lagi enggak
- 19:16baik-baik saja. Jangan-jangan
- 19:18Mas Edo sudah KDRT ke Mbak Santi. Itulah
- 19:22yang ada dalam pikirannya si Rizki ya
- 19:24kan. Waktu aku sudah sampai di kampung
- 19:26ah aku ketemu sama Fajar juga nah sudah
- 19:27aku ceritain ke si Fajar, tapi Fajar
- 19:29enggak percaya. Dia enggak ada nganggap
- 19:31gini ah enggak mungkin Wak, enggak
- 19:32mungkin Mas Edo tuh KDRT aku kenal baik
- 19:34sama Mas Edo tuh. Enggak mungkin Mas Edo
- 19:36main tangan sama Mbak aku. Bisa jadi
- 19:37juga Mbak aku kepentok sesuatu makanya
- 19:39lebam tanya atau mungkin betulan ada
- 19:41nyamuk. Itu kata si Fajar Wak, enggak
- 19:42percaya dia. Enggak mungkin enggak
- 19:43mungkin Mas Edo kayak gitu. Rizki sempat
- 19:45mau percaya ucapannya si Fajar Wak,
- 19:47secara adiknya dia lebih kenal Mas Edo,
- 19:48dia lebih kenal kakaknya ya kan. Tapi
- 19:50waktu Rizki lihat kantong pakaian di
- 19:52rumahnya Fajar tadi sama ucapan Tatang
- 19:54ah kemarin itu entah kenapa Rizki
- 19:56langsung curiga jangan-jangan
- 19:59masalah itulah yang sudah bikin Mbak
- 20:01Santi
- 20:03jadi nekat mengakhiri hidupnya sendiri.
- 20:05Suaminya KDRT enggak tahan dia sama
- 20:06lakinya menghilangkan nyawa sendiri dia.
- 20:09Gitu.
- 20:11Ya, balik lagi Wak kita ke cerita eh
- 20:13waktu Rizki ngamatin kantong pakaian di
- 20:15rumahnya Fajar itu ya.
- 20:17Sudah kayak gitu sudah kepikir kayak
- 20:18gitu tadi kan.
- 20:19Enggak lama HP-nya Rizki dering, nelpon
- 20:21si Fajar Wak. Diangkatlah. "Napa Jar?"
- 20:23gitu kan dengan suara yang lemas masih
- 20:25terisak si Fajar di situ. "Ki" katanya.
- 20:28"Iya napa Jar?" gitu gimana? "Ki"
- 20:30kata apa kata Mas Edo dari hasil
- 20:33pemeriksaan dokter sama polisi
- 20:36Mbak Santi memang meninggal karena
- 20:38keputusan dia sendiri Wak. Sekarang
- 20:40jenazahnya sudah dimandiin, sudah
- 20:41dikafanin juga di sini. Kau tolong bantu
- 20:43siapin pemakaman sama warga di sana ya
- 20:45Ki ya gitu Wak. Waktu aku dengar itu
- 20:47enggak langsung ku iyain kata dia tuh
- 20:49waktu minta urus pemakaman. Ku tanya
- 20:51dulu. "Eh
- 20:52emang rumah sakit enggak nawarin visum
- 20:54atau otopsi Jar? Kok cepat kali langsung
- 20:56nyimpulin Mbak Santi ngilangin nyawanya
- 20:57sendiri?" "Enggak ada Ki. Tadi dokter
- 20:59sama polisi juga sudah meriksa dari
- 21:01bekas luka. Katanya memang karena itu
- 21:05menggantung dirinya itu. Kami dilihatin
- 21:06bentar tadi lukanya. Terus ini Mas Edo
- 21:09minta "Mbak Santi langsung dimakamkan,
- 21:11Wak." katanya. Bapak Bapak aku juga
- 21:13setuju gitu. Nah, di tahun itu, Wak,
- 21:15kata Wawak bertiga ini, masyarakat di
- 21:17kampung A memang belum banyak yang bisa
- 21:19mengakses internet atau sosial media
- 21:20kayak sekarang. Jadi, pengetahuan mereka
- 21:22soal hak keluarga untuk minta otopsi
- 21:24pada kasus kepergian yang tidak wajar
- 21:26itu masih terbatas sekali. Mereka
- 21:28cenderung percaya aja sama apa yang
- 21:30dibilang sama dokter sama apa yang
- 21:31dibilang sama polisi.
- 21:33Pun keluarga Fajar kan juga percaya
- 21:35penuh kan sama Mas Edo. Jadi, di
- 21:37kasusnya Mbak Santi ini, pihak keluarga
- 21:39percaya Mbak Santi memang mengakhiri
- 21:42hidupnya sendiri. Dibuktikan dengan apa?
- 21:44Itulah tadi luka jeratan di lehernya
- 21:46Mbak Santi. Dah.
- 21:48Gitu ya. Setelah seluruh proses
- 21:49administrasi selesai, jenazahnya Mbak
- 21:52Santi pun akhirnya dibawalah Wak pulang
- 21:54ke kampung A.
- 21:55Nyampe di rumah duka, di rumahnya Fajar
- 21:57tadi kan, keluarga pun langsung
- 21:59mempersiapkan segala keperluan
- 22:00pemakaman. Jenazahnya Mbak Santi juga
- 22:02kemudian diurus sesuai syariat Islam,
- 22:04lalu disholatkan di masjid sebelum
- 22:06akhirnya diantarkan ke tempat
- 22:08peristirahatan terakhir di TPU kampung.
- 22:11Semua proses pemakaman berjalan lancar
- 22:12diiringi juga dengan suasana duka dari
- 22:14keluarga Fajar dan juga warga yang ada
- 22:16di sana. Di tengah suasana itu, Rizky
- 22:18sempat nengok Mas Edo yang terlihat
- 22:21lebih banyak diam sambil dia gendong
- 22:23Tata. Nah, selama proses pemakaman
- 22:25berlangsung juga Mas Edo ini enggak
- 22:27banyak bicara, enggak banyak bicara sama
- 22:28orang-orang di sekitar dia. Dia diam aja
- 22:30gitu. Tapi Rizky masih positive
- 22:31thinking, dia pikir ya memang itulah
- 22:33cara Mas Edo mengekspresikan rasa
- 22:34sedihnya kan. Mungkin juga Mas Edo ini
- 22:36tipikal orang yang kalau lagi sedih
- 22:38enggak mau ditunjukin ke orang lain, ya
- 22:39kan? Dahlah tuh, akhirnya setelah
- 22:42pemakaman selesai keluarga Fajar pun
- 22:44mengadakan acara tujuh harian atau
- 22:47pengajian dan tahlilan di rumah duka
- 22:49setiap habis Isya selama tujuh hari
- 22:52penuh. Dari hari pertama sampai hari
- 22:53keenam semua masih berjalan normal, Wak.
- 22:55Banyak warga ikut datang tuh mendoakan
- 22:57almarhumah Mbak Santi. Tapi memasuki
- 23:00malam ketujuh
- 23:02di
- 23:03warga kampung mulai digegerkan sama
- 23:05kemunculan berbagai kejadian janggal.
- 23:13Setelah acara tahlilan di malam ke 7 itu
- 23:15selesai Wak, Mas Edo sama Tata langsung
- 23:18pamit pulang ke Kabupaten B tempat
- 23:21tinggalnya mereka Wak. Karena Mas Edo
- 23:23kan harus kembali kerja tuh dan Tata
- 23:24juga katanya sudah mulai masuk TK.
- 23:27Keluarga Mbak Santi juga memahami
- 23:28keadaan mereka. Sebelum berpisah mereka
- 23:30sempat saling berpelukan tuh Nak,
- 23:31nangis-nangisan lagi kami. Baru lah
- 23:33habis itu mereka pamitan dan pulang.
- 23:35Tapi setelah Mas Edo pulang, masih di
- 23:37hari yang sama nih Wak ya, tapi sekitar
- 23:39jam 10 malam
- 23:41beberapa kerabat sama tetangga masih ada
- 23:43tuh yang duduk-duduk di ruang tamu
- 23:44sambil ngobrol gitu kan, termasuk Rizki.
- 23:47Nah, nah area ruang tamu sama ruang
- 23:50keluarga rumah ini Wak, itu disekat sama
- 23:52dinding, kepisah lah gitu. Mereka duduk
- 23:54aja di ruang tamu. Nah, pas lagi
- 23:56ngobrol-ngobrol
- 23:57semua orang yang ada di ruang tamu
- 23:59tiba-tiba dengar
- 24:01Prang gitu. Ada barang pecah dari ruang
- 24:04keluarga. Disamperin lah kan sama Rizki
- 24:06sama bapak-bapak ini, pergi ke ruang
- 24:07keluarga.
- 24:08[musik]
- 24:08Ditengok rupanya
- 24:11barang yang jatuh itu adalah
- 24:14bingkai foto pernikahannya Mbak Santi
- 24:17dan Mas Edo yang sebelumnya tergantung
- 24:19di dinding. Itu kaca figuranya tuh Wak,
- 24:21pecah semua tuh, berserakan di lantai.
- 24:23Ih.
- 24:24Jatuh kata orang ini kan. Itu soalnya
- 24:26bingkai foto itu besar Nak dia, enggak
- 24:27ada juga orang yang nyenggol fotonya tuh
- 24:29dan ruang keluarga ini juga ketutup ya,
- 24:31jadi enggak mungkin kalau ketipu angin.
- 24:33Jatuh. Nah, disitu ada bapak-bapak
- 24:34nyeletuk, "Ih
- 24:36jangan-jangan Mbak Santi pulang ini
- 24:38katanya. Eh, Pak jangan sembarangan
- 24:39Bapak, kasihan loh keluarga masih
- 24:41berduka." Ada lagi yang nyaut, "Eh, tapi
- 24:43bisa aja loh Pak, ini kan masih malam ke
- 24:457 Pak, wajar kalau arwahnya Mbak Santi
- 24:47masih sering pulang Pak." "Udah jangan
- 24:49ah, jangan ngomong kayak gitu, paling
- 24:51itu memang pakunya aja sudah berkarat,
- 24:52makanya jatuh." Debat lah bapak-bapak
- 24:54ini. Nah, waktu si bapak-bapak ini debat
- 24:56aku diam ya Nak aku tengok eh, kenapa
- 24:57bisa pecah? kata si Rizki. Enggak lama
- 24:59tiba-tiba ada yang teriak dari ruang
- 25:01tamu. "Wih, tolong, tolong, [berteriak]
- 25:03kotak, kotak, kotak." kata gitu kan.
- 25:05Balik lagi kami ke ruang tamu,
- 25:06berhamburan semua masuk ke sana. Waktu
- 25:08sampai di perbatasan ruang tamu itu,
- 25:10nah, belum lagi kami sempat nanya kenapa
- 25:12dan apa ke orang yang berteriak nih. Di
- 25:14situ semua orang yang di sana langsung
- 25:16nge-freeze waktu mereka lihat kotak amal
- 25:19yang tadinya ada di sudut depan ruang
- 25:21uang tamu itu, tiba-tiba tuh mereka
- 25:23datang, tuh,
- 25:25kepental, kepental ke tengah ruang tamu.
- 25:28Jleb. Dan pas sudah jatuh tuh enggak
- 25:30langsung diam dia, Wa.
- 25:31Dia bergoyang pelan tapi pasti goyang.
- 25:40Lama-lama goyangnya kencang. Kayak
- 25:42memang ada yang ngegoyangin. Enggak ada
- 25:44satu pun dari kami yang ada di situ
- 25:46berani ngedekat kotak amal. Kami itu
- 25:47masih
- 25:49Mereka semua masih berdiri di tempat
- 25:51terakhir mereka. Astaghfirullah,
- 25:54astaghfirullah.
- 25:55Astaghfirullah. Astaghfirullah.
- 25:58Bergoyang, habis itu baru tuh, tek, tek,
- 26:00tek, berhenti. "Wih, ada apa ini?" kata
- 26:02aku waktu itu kan, "Ada apa?" Kejadian
- 26:03malam itu bikin semua orang yang ada di
- 26:05sana kepikiran. Tapi mereka enggak bisa
- 26:07berasumsi juga, itu masih di rumah duka
- 26:09tuh soalnya kan. Fajar enggak ada waktu
- 26:10itu. Rizki yang lagi ada di situ. Sejak
- 26:12kejadian itu,
- 26:14kejadian-kejadian serupa juga sering
- 26:17dialami sama warga kampung A. [musik]
- 26:19Ada yang pintu rumahnya diketok-ketok,
- 26:21waktu dicek enggak ada orang. Ada yang
- 26:24barang-barang di rumah tiba-tiba
- 26:25bergeser sendiri, Wa. Ada juga yang
- 26:27dengar suara barang jatuh, tapi waktu
- 26:29dicek enggak ada wujudnya. Dan kejadian
- 26:31ini terjadi hampir setiap hari. Hampir
- 26:32setiap hari warga A ada laporan
- 26:34diganggu, diganggu, ada ini, ada itu di
- 26:36rumahnya. Sebelum-sebelumnya enggak
- 26:37pernah, Nadia. Adem ayem kampung A ini.
- 26:40Sampailah pada suatu sore, Rizki dapat
- 26:41telepon dari Fajar. Fajar nelpon panik,
- 26:44Nadia. "Kiki, Ki, tolong temenin aku
- 26:45jemput Ustaz Salim, Ki." "Eh, kenapa,
- 26:47Jar?" "Dewi, Dewi kesurupan. Dia harus
- 26:49diruqyah ini katanya." Dewi ini siapa?
- 26:51Dewi adiknya Evan yang kemarin nelpon
- 26:53Fajar suruh balik ke rumah tuh Wa,
- 26:54sepupunya dia. Pergilah berangkat
- 26:56langsung si Rizki kan. Betul memang Wa
- 26:57waktu Rizki sama Fajar sama si Ustaz
- 26:59Salim tuh nyampe di rumah, suasana di
- 27:01rumahnya si Dewi itu sudah kacau. Dewi
- 27:03nangis sejadi-jadinya. Dia dikelilingi
- 27:05sama keluarga-keluarga sama lagi
- 27:06baca-baca Alquran. Masuk Ustaz eh Salim,
- 27:09dia langsung ngambil alih. Didoa-doain
- 27:11ya, proses ruqyah pun berjalan.
- 27:12Dibaca-bacain doalah ini siapa, si Dewi
- 27:15ya kan. Ah di situ waktu sudah datang
- 27:16Ustaz Salim Wa, ngelungkung dia. Wah!
- 27:20Ah, tolong!
- 27:22Tolong!
- 27:23Kata waktu teriak itu Wa, orang tuh
- 27:25enggak fokus dengan apa yang diucapkan
- 27:26Dewi. Orang fokus sama suaranya Dewi.
- 27:29Suara Dewi itu suaranya Mbak Santi Wa.
- 27:33Suaranya Mbak Santi, semua orang di situ
- 27:35dengar nah dia.
- 27:38Suara
- 27:39Suara Santi itu. Tolong!
- 27:41Tolong!
- 27:43Teriak kan.
- 27:44Terus tiba-tiba sudah dia kayak gitu Wa,
- 27:46dia diam Dewinya. Dia diam.
- 27:48Dia diam, terus dengan suara yang agak
- 27:50serak tapi pelan
- 27:52Dewi ngomong.
- 27:55Jangan mau dibohongin Edo.
- 27:59Jangan mau dibohongin Edo.
- 28:02Gitu katanya. Waktu dengar itu ada yang
- 28:03ngeh, ada yang belum ngeh ya kan. Rizki
- 28:05ngeh, hah?
- 28:06Hah?
- 28:07Jangan mau dibohongin Edo.
- 28:10Jangan mau dibohongin Edo.
- 28:13Jangan mau dibohongin
- 28:15Edo. Kata Dewinya. Terakhir dia teriak
- 28:17bilang itu ah, jangan kalian mau
- 28:18dibohongin Edo katanya. Ya Allah Ustaz
- 28:20Rohali, lompat dia. Semua orang yang di
- 28:22sana makin takut lah Wa. Tapi mereka
- 28:24juga penasaran ngapa kok tiba-tiba nama
- 28:26si Edo disebutkan? Rizki jadi balik
- 28:28kepikiran lagi aku nah dia, eh
- 28:30eh ngapa nih? Ini jangan-jangan betullah
- 28:32Mas Edo lah yang sudah bikin Mbak Santi
- 28:34ini nekat mengakhiri hidupnya sendiri.
- 28:36Tapi mereka bertengkar karena apa ya?
- 28:38Selama ini mereka kelihatan akur-akur
- 28:40saja. Apa Mbak Santi itu enggak tahan
- 28:42ya, makanya dia mengakhiri hidupnya?
- 28:44Atau juga Mbak Santi minta, kenapa tadi
- 28:47dia ngomong itu kalau memang betul itu
- 28:48Mbak Santi ya.
- 28:49Apa mungkin Mbak Santi itu lagi minta
- 28:52semua orang jangan mau dibohongin sama
- 28:54sikap baiknya Mas Edo selama ini. Itu ke
- 28:57situ lagi pikiran aku Nak. Di titik itu
- 28:59semua warga juga menduga mungkin
- 29:02yang merasuki Dewi itu memang arwahnya
- 29:04Mbak Santi yang mau menyampaikan sesuatu
- 29:06soal suaminya, Mas Edo. Tapi mereka juga
- 29:09enggak paham Wa, pesan apa yang mau
- 29:11disampaikan.
- 29:12Pun Ustaz Salim yang ada di situ enggak
- 29:13komentar apa-apa. Ustaz cuman fokus
- 29:16baca-baca doa, rukiah lagi sampai kurang
- 29:19lebih 1 jam kemudian Dewi akhirnya sadar
- 29:21dan dibawa ke kamar untuk beristirahat.
- 29:23Sementara Evan tuh abangnya ceritainlah
- 29:25semua dari awal sampai akhir Wa, kenapa
- 29:27si Dewi bisa kesurupan ya kan.
- 29:28Ceritainlah sama si Evan. Jadi kata Evan
- 29:31sebelum kesurupan
- 29:32Dewi itu sempat nyeletuk sama aku, "Bang
- 29:35aku enggak percayalah Mbak Santi itu
- 29:37ngilangin nyawanya sendiri. Dia orangnya
- 29:39taat agama loh Bang, tahu kan kau. Kalau
- 29:41ada masalah pasti dia nyari jalan keluar
- 29:42yang lain, bukan malah ngakhiri hidup
- 29:44enggak mungkin bikin Mbak Santi kayak
- 29:45gitu."
- 29:46Enggak lama setelah dia ngomong itu
- 29:47tiba-tiba Dewi
- 29:51bergetar badannya, matanya langsung ha,
- 29:53matanya langsung memutih dan enggak lama
- 29:55baru dia kesurupan. Ah terus selanjutnya
- 29:57itulah yang tadi terjadi itu.
- 29:59Dia ngeluarin suara kayak Mbak Santi
- 30:00terus ngomong itu. Nah setelah kejadian
- 30:02Dewi kesurupan itu warga kampung semakin
- 30:05heboh lagi.
- 30:06Banyak yang menduga kemungkinan besar
- 30:09semua gangguan yang terjadi sejak malam
- 30:117 harian yang Mbak Santi ya yang pertama
- 30:13yang waktu kantong eh kantong pula kotak
- 30:15amal tuh campak sampai ke
- 30:17kejadian-kejadian aneh yang dialami
- 30:18warga kampung ini ada hubungannya sama
- 30:20Mbak Santi yang diduga jadi gentayangan.
- 30:23Warga bilang ini mungkin dia enggak
- 30:24tenang nih soalnya kan meninggalnya juga
- 30:26pakai cara yang enggak kayak gitu ya kan
- 30:27pikir mereka. Setelah kejadian itu ada
- 30:29lagi tuh beberapa warga yang diganggu.
- 30:31Jadi makin hari suasana kampung A tuh
- 30:33makin enggak enak Wa. Nah dari sekian
- 30:35banyaknya kejadian yang dialami sama
- 30:37warga ada satu kejadian yang paling
- 30:40membekas di ingatan mereka semua yaitu
- 30:44kejadian yang dialami sama bapaknya
- 30:47Rizky sendiri, Bapak Wawa.
- 30:50Masuk.
- 30:56Jadi Wa, suatu sore pas masuk waktu
- 30:58ashar, kampung Ane lagi diguyur hujan
- 31:01lebat. Hujan lebat, langit gelap, angin
- 31:03juga begitu kencangnya dia. Jadi banyak
- 31:05warga tuh yang memilih berdiam diri di
- 31:07dalam rumah. Tapi Bapak tetap berangkat
- 31:09ke masjid Wa, mau salat ashar karena
- 31:11kebetulan Bapak ini muazin nah.
- 31:13Jadi waktu sampai di masjid, Bapak pun
- 31:15langsung azan ya kan. Nah setelah azan,
- 31:17Bapak salat sunah dulu dua rakaat.
- 31:20Terus nunggulah jemaah lain biar bisa
- 31:22memulai salat ashar berjemaah. Nah Bapak
- 31:24nunggulah, ditunggu 10 menit, masuk 15
- 31:26menit enggak ada juga warga yang datang.
- 31:28Hujan di luar pun juga makin deras Wa.
- 31:29Nah di situ Bapak mikir, ini kayaknya
- 31:31enggak ada yang bisa berangkat ke masjid
- 31:32nih. Ya sudahlah kata si Bapak kan,
- 31:34Bapak tutuplah pintu masjid terus Bapak
- 31:37salat. Salat sendirian tuh di saf paling
- 31:39depan. Nah persis di depannya Bapak ini
- 31:41Wa, ada etalase kaca. Etalase kaca
- 31:44dipakai untuk nyimpan Alquran-Alquran
- 31:46gitu kan.
- 31:47Sudah tuh Bapak salatlah Bapak berusaha
- 31:49tetap khusyuk walaupun di luar bising
- 31:52suara hujan tuh Wa. Baca Allahu Akbar.
- 31:54Dari rakaat awal sampai rakaat ketiga
- 31:56aman, semua berlangsung khidmatlah gitu.
- 31:59Tapi masuk rakaat keempat, Allahu Akbar
- 32:02rakaat keempat tepat setelah Bapak ee
- 32:04membacakan surat Al-Fatihah
- 32:07Bapak dengar suara pintu masjid yang
- 32:09tadi Bapak tutup kebuka pelan.
- 32:15Terus enggak lama
- 32:16ada suara langkah masuk ke dalam masjid.
- 32:20Nah dalam hati Bapak mikir, eh ada
- 32:22jemaah yang datang nih ya kan. Betul,
- 32:25enggak lama suara langkah tadi berhenti
- 32:27tepat di belakangnya Bapak. Nah ini
- 32:28sedikit informasi Wa untuk Wawa yang non
- 32:30muslim ya. Dalam salat berjemaah, orang
- 32:33yang mimpin salat itu disebut imam.
- 32:35Sementara orang yang ngikutin di
- 32:36belakang ini disebut makmum. Dan kalau
- 32:38ada orang yang datang terlambat pada
- 32:40saat salat sudah dimulai, tapi dia mau
- 32:42ikut salat berjamaah, itu disebut makmum
- 32:44masbuk. Nah, biasanya ketika datang dan
- 32:46mau memulai salat, mau gabung salatlah
- 32:48gitu eh ya sederhananya, makmum masbuk
- 32:50ini bisa nepuk bahu orang yang lagi
- 32:52salat sendirian itu sebagai isyarat
- 32:54kalau aku mau ikut salat berjamaah ya,
- 32:57gitu. Makanya pas Bapak yang lagi salat
- 32:58sendirian ngedengar ada orang yang masuk
- 33:00untuk salat juga dan berdiri juga tepat
- 33:03di belakang Bapak, Bapak nunggulah ini
- 33:05bahunya ditepuk ya kan.
- 33:07Ditepuk sampai Bapak rukuk pun enggak
- 33:09ada yang nepuk bahunya Bapak. Bapak
- 33:12masih positif, oh mungkin dia mau salat
- 33:14sendiri kali ya, gitu kan. Ya udah,
- 33:16Bapak lanjutlah lagi salat. Nih, salat
- 33:18rukuk, bangun, sujud, tahiyat awal,
- 33:21sujud, tahiyat akhir.
- 33:23Belum selesai salat nih, masih tahiyat
- 33:24akhir. Nah, waktu tahiyat akhir ini Wak,
- 33:26di situlah fokus Bapak mulai terpecah
- 33:29waktu Bapak ngelihat
- 33:31etalase kaca di depan Bapak tadi. Dari
- 33:33pantulan kaca itu Wak,
- 33:35samar-samar
- 33:37Bapak lihat ada orang pakai mukena putih
- 33:42di belakang sampingnya Bapak dikit
- 33:45lagi duduk tahiyat akhir juga. Batinlah
- 33:48Bapak, loh
- 33:50kok perempuan salat di saf laki-laki ya
- 33:52kan. Saf laki-laki perempuan kan
- 33:54terpisah Wak, kenapa di sini? Tapi
- 33:55karena waktu itu Bapak tuh masih salat,
- 33:57jadi ya enggak terlalu gimana-gimana
- 33:59mikirnya Wak. Bapak selesaikanlah itu
- 34:00bacaan tahiyat akhir terus lanjut salam
- 34:03kanan kiri. Bapak salamlah ke kanan
- 34:05dulu. Assalamualaikum warahmatullahi
- 34:07wabarakatuh. Dari sudut mata, Bapak
- 34:09lihat memang ada Wak mukena duduk di
- 34:12belakang kan.
- 34:13Nah, selesai Bapak toleh ke kiri.
- 34:16Assalamualaikum warahmatullahi
- 34:18wabarakatuh. Enggak ada.
- 34:21Enggak ada bayangan belakang tadi yang
- 34:23Bapak tengok dari ekor mata waktu salam
- 34:24kanan, enggak ada. Hilang.
- 34:26Assalamualaikum warahmatullahi
- 34:26wabarakatuh, enggak ada. Bapak langsung
- 34:27noleh ke belakang. Langsung dan betulan
- 34:29enggak ada orang Wak.
- 34:31Bapak
- 34:32Astagfirullahalazim.
- 34:34Apa tuh tadi? Bapak saking penasaran
- 34:36yang langsung beranjak, Wak, bangun dia
- 34:37ngecek ke arah saf perempuan dulu. Yang
- 34:39ada di belakang kan ada gorden tuh.
- 34:41Mungkin saja waktu assalamualaikum
- 34:42pertama ada, assalamualaikum ke kiri,
- 34:44dia cabut. Walaupun bisa secepat itu,
- 34:46tapi kan kemungkinan bisa kan, Wak.
- 34:48Bisa jadi dia pindah ke belakang.
- 34:49Pergilah Bapak ke belakang.
- 34:51Waktu nyampe di saf perempuan ini baru
- 34:52dekat perbatasan, Wak.
- 34:55Ada rupanya.
- 34:58Tapi dia enggak di saf perempuan. Tepat
- 35:00di dekat pintu masjid, Bapak ngelihat
- 35:03ada perempuan pakai mukena putih lagi
- 35:07berdiri menghadap ke luar masjid.
- 35:09Berarti ngebelakangin Bapak kan. Oh,
- 35:11perempuan ini yang tadi salat di
- 35:12belakang aku nih.
- 35:13Siapa ya? Kata Bapak kan. Ah, belum
- 35:15sempat Bapak samperin, Bapak masih dekat
- 35:17perbatasan saf cewek saf cowok.
- 35:19Perempuan itu tiba-tiba mutar badan
- 35:22dia noleh ke Bapak.
- 35:28Di situ Bapak nge-freeze, Wak.
- 35:30Karena yang dia lihat itu
- 35:33muka perempuan itu
- 35:36mirip kali Mbak Santi.
- 35:39Mirip kali.
- 35:40[menghela napas]
- 35:41Santi. Bapak ya.
- 35:43Hah, hah, dia gini masih tetap.
- 35:49Digini-giniin sama Bapak enggak berubah
- 35:51muka tuh. Sosok itu masih di sana, diam.
- 35:54Tapi mukanya pucat, Wak.
- 35:56Walaupun dia senyum. Dan itu Bapak yakin
- 35:58mukanya Mbak Santi.
- 36:00Waktu nengok itu Bapak bukannya takut,
- 36:02yang ada sedih Bapak.
- 36:04Berkaca-kaca langsung mata Bapak. Bapak
- 36:06refleks manggil kan, Santi.
- 36:09Kau tuh, Nak. Ini jaraknya memang masih
- 36:11lumayan jauh. Bapak terpaku di situ
- 36:12enggak bisa langsung nyamperin. Sekitar
- 36:137 meteran lah, Nak, kata Rizki. Digitu
- 36:15kan. Kau kah, Nak? Gitu. Terus cewek itu
- 36:22makin lebar senyum tuh. Bapak tuh, Nak,
- 36:24kata dia, sempat terlena sesaat loh.
- 36:26Bapak pikir, memang betulan Tumbak
- 36:28Santi.
- 36:30Santi, katanya. Tapi enggak lama baru,
- 36:31astagfirullahalazim.
- 36:33Santi kan sudah meninggal, kata Bapak
- 36:34kan. Masih dengan posisi yang sama itu,
- 36:37masih tegak di situ, Bapak ngomonglah ke
- 36:39sosok-sosok kan masih.
- 36:43Bapak bilang,
- 36:45"Saya yakin kamu bukan Santi.
- 36:47Santi sudah tenang di alam sana. Kalau
- 36:49kamu jin yang menyerupain Santi, jangan
- 36:52pakai wajah Santi untuk menyesatkan
- 36:53orang. Kalau memang ada pesan baik,
- 36:56sampaikanlah.
- 36:58Tapi kalau kau cuman mau ganggu saja,
- 37:00pergi kau dari sini." Habis Bapak bilang
- 37:01kayak gitu, senyum si sosok tadi
- 37:04langsung pudar.
- 37:13Terus, dengan suara yang parau,
- 37:16sosok itu bilang apa?
- 37:21"Edo, Pak."
- 37:23Dua kata itu dia bilang. Dia ulang
- 37:24sekali lagi.
- 37:27"Edo, Pak."
- 37:28Habis ngomong itu, dia enggak ngomong
- 37:30apa-apa lagi. Dia langsung balik badan,
- 37:33dia jalan keluar. Di sini aku mau
- 37:34jelasin denahnya dulu, Wak, biar kalian
- 37:35kebayang ya. Nah, posisinya tuh, Wak,
- 37:37kalau misalnya dari pintu utama masjid
- 37:40mau arah jalan keluar itu, itu harus
- 37:42belok kiri. Jadi, kalau misalnya kita
- 37:43berdiri di tempat sosok yang Mbak Santi
- 37:45itu, kalau mau keluar ya memang harus
- 37:46belok kiri. Belok kiri langsung ketemu
- 37:48jalan utama kampung. Kebayang ya? Di
- 37:50depannya apa nih? Depan tuh ada rumah
- 37:51warga. Jadi, memang dempet-dempet, Wak.
- 37:53Jadi, kalau mau keluar harus belok kiri
- 37:54dulu. Waktu sosok itu bilang "Mas Edo"
- 37:55yang kedua kali, sosok itu kan pergi,
- 37:57kan. Waktu dia pergi, baru Bapak
- 37:59susulin. Sepersekian detik, Wak, Bapak
- 38:01nyusulin sosok itu, nengok ke kiri sudah
- 38:03enggak ada sosok tuh. Hilang. Secepat
- 38:04itu padahal di luar masih hujan deras
- 38:06loh. Nah, di waktu bersamaan waktu Bapak
- 38:07ngelihat si sosok itu hilang, tiba-tiba
- 38:09nih, "Eh, mana dia?" Hah! [berteriak]
- 38:11Astagfirullah! Astagfirullah! Ada
- 38:13ibu-ibu teriak dari jalan utama kampung.
- 38:15Disamperin lagi sama Bapak kan. "Ya apa
- 38:17tuh?" Rupanya di situ ada Bu Darmi
- 38:18namanya. Warga kampung juga. Waktu Bapak
- 38:20nengok itu, posisinya dia lagi berdiri
- 38:22dekat jalan tuh
- 38:23pegang payung berbalik
- 38:26kayak gitu, syok dia. Disamperin sama
- 38:28Bapak, "Eh, Bu, Bu, Bu, sini, Bu, sini."
- 38:30Bapak ajaklah Bu Darmi itu ke serambi
- 38:32masjid diterangin, "Tenang, Bu, tenang."
- 38:34Pas sudah agak tenang, Bu Darmi
- 38:36"Pak
- 38:37[tertawa]
- 38:37Pak
- 38:38tadi saya lihat ada perempuan pakai
- 38:41mukena putih, Pak, keluar dari masjid
- 38:44ini.
- 38:45Dia senyum ke saya, Pak.
- 38:47Waktu saya tengok
- 38:48itu mukanya Santi
- 38:50ya, Pak. Kayak Santi Eh, terus enggak
- 38:52lama dia hilang.
- 38:54Dia enggak lari, dia enggak apa, dia
- 38:56hilang, Pak, makanya saya teriak." Itu
- 38:58yang dibilang sama Bu Darmi itu. Jadi,
- 38:59waktu sosok Santi itu keluar, Bapak
- 39:01Rizki nyusulin, hilang sosok itu, tapi
- 39:04ditangkap sama Bu Darmi. Nah, dia
- 39:06hilangnya depan Bu Darmi. Waktu dengar
- 39:08itu Bapak enggak kagetlah karena memang
- 39:09deskripsi sosok yang dilihat sama Bu
- 39:11Darmi itu kan sama persis kayak cewek
- 39:13yang baru saja
- 39:14Bapak lihat kan. Tapi, Bapak di situ
- 39:15milih untuk menenangkan Bu Darmi.
- 39:17"Sudah, Bu, sudah, itu bukan Santi,
- 39:19Santi sudah enggak ada. Sudah, Bu, kita
- 39:21doain saja sama-sama biar Santi tenang
- 39:23ya, Bu, ya."
- 39:24"Tadi saya betulan, Pak, saya lihat
- 39:25Santi, Pak." "Sudah, Bu.
- 39:27Bu, banyakin doa." Meski sudah
- 39:29ditenangin sama Bapak, yang namanya
- 39:31ibu-ibu kampunglah pula ya, kan.
- 39:33Waktu nengok hantu, hantunya dia kenali
- 39:35pula. Hantunya langsung diceritain ke
- 39:36mana-mana. Dalam waktu singkat, nah, dia
- 39:38itu sosok Mbak Santi pakai mukena yang
- 39:40muncul di masjid itu. Itu langsung jadi
- 39:42hot topic di kampung aku. Sebagian warga
- 39:44percaya itu memang arwahnya Mbak Santi
- 39:45yang gentayangan, tapi ada juga warga
- 39:46yang meyakini kalau itu cuma jin yang
- 39:48menyerupai Mbak Santi saja. Maaf, jatuh.
- 39:50Terlepas dari apapun itu, yang jelas
- 39:52warga makin yakin kalau kemunculan
- 39:54sosoknya Mbak Santi kemungkinan memang
- 39:56mau menyampaikan sesuatu
- 39:58soal Mas Edo. Soalnya sudah dua kali
- 40:00ini, Pak, ada kejadian berkaitan sama
- 40:01Mbak Santi kan, yang juga sama-sama
- 40:03nyebutin nama Mas Edo. Pertama
- 40:05waktu Dewi kesurupan, kedua waktu
- 40:07kejadian Bapak di masjid. Ngapa Mas Edo
- 40:09disebutkan di dua kejadian ini? Di saat
- 40:11warga masih menebak-nebak apa sebenarnya
- 40:12pesan yang mau disampaikan sama Mbak
- 40:13Santi
- 40:14Bapak justru malah keingat kalau sebelum
- 40:17kejadian dia lihat sosok perempuan yang
- 40:19mirip sama Mbak Santi di masjid, wah.
- 40:22Bapak tuh pernah beberapa kali mimpi
- 40:23didatangi sama Mbak Santi. Bapak
- 40:25ceritalah ke Rizki soal itu kan.
- 40:28Bapak cerita, "Ki, yang Bapak tengok di
- 40:29mimpi itu Mbak Santi pakai mukena putih,
- 40:32Nak. Mukanya bersih, tenang, bercahaya.
- 40:36Persis kayak sosok yang Bapak lihat di
- 40:37masjid tuh. Bedanya kalau yang di mimpi
- 40:40dia enggak ngomong apa-apa, Ki. Tapi di
- 40:41situ dia ngomong. Edo yang disebut."
- 40:44Nah, sampai sini mungkin kalian juga
- 40:45heran. Ngapa dari sekian banyaknya orang
- 40:47nah dia justru Bapak yang didatangi sama
- 40:49sosok yang menyerupai Mbak Santi di
- 40:50mimpi dan juga secara langsung pula ya
- 40:52kan. Kalau memang sosok itu mau
- 40:53nyampaiin pesan, ngapa dia enggak
- 40:54datangi orang tuanya Pak Sabar, Bu Nur,
- 40:57Fajar lah adiknya yang notabenenya
- 40:59memang keluarga kandungnya Mbak Santi.
- 41:00Kenapa bapaknya Rizki? Ah, di situ lah.
- 41:04Bapak yang buka suara sendiri. Bapak
- 41:05yang punya keyakinan
- 41:07mungkin itu ada kaitannya sama kisah
- 41:10masa lalunya Bapak dan Mbak Santi. Kita
- 41:13flashback tentang masa kecilnya Mbak
- 41:15Santi bersama Bapak ya.
- 41:19Menurut cerita Bapak, wah. Waktu Mbak
- 41:21Santi ini masih berusia sekitar 2 tahun
- 41:23jauh sebelum Rizki sama kakaknya itu
- 41:25lahir,
- 41:26Mbak Santi ini sering dititipin ke Bapak
- 41:29sama ibunya Rizki, wah. Karena Pak Sabar
- 41:31sama Bu Nur waktu itu sama-sama bekerja
- 41:33di pasar. Nah, waktu itu Bapak sendiri
- 41:34sudah menetap di kampung. Ah, ini sejak
- 41:36menikah gitu loh. Mereka pasangan baru
- 41:38lah gitu. Nah, selama dijagain Mbak
- 41:40Santi sering minta digendong sama Bapak,
- 41:42ikut jalan-jalan sama Bapak, bahkan
- 41:44sering juga tidur di pelukan Bapak waktu
- 41:46kecil. Seiring berjalannya waktu Bapak
- 41:48sama Ibu sudah menganggap Mbak Santi itu
- 41:50kayak anak mereka sendiri, wah.
- 41:52Mereka sayang kali sama Mbak Santi. Dan
- 41:54ikatan itu juga selalu terjaga sampai
- 41:56Mbak Santi dewasa. Bahkan nih Hana dia,
- 41:58tiap kali hari eh hari raya Idul Fitri
- 42:01rumah Rizki itu selalu jadi tujuan
- 42:02pertamanya Mbak Santi sebelum dia
- 42:04mengunjungi rumah kerabat yang lain.
- 42:05Itulah kenapa bukan hanya adiknya Mbak
- 42:07Santi, Fajar, yang bisa jadi sedekat itu
- 42:10sama si Rizki dari kecil. Mbak Santi
- 42:12juga bisa jadi seramah sebaik itu tiap
- 42:14kali Rizky datang ke rumahnya karena
- 42:15memang sudah menganggap Rizky juga kayak
- 42:16adiknya sendiri. Terus yang paling sedih
- 42:18Nadia, waktu Mbak Santi itu meninggal
- 42:20Rizky ngelihat sendiri.
- 42:21Bapak tuh berdiri lama kali Nadia di
- 42:24tepi liang lahat. Bapak diam saja. Bapak
- 42:26tengok saja ke liang lahat tuh. Enggak
- 42:28ada air mata yang jatuh tapi dari sorot
- 42:30matanya kelihatan kali Bapak merasa
- 42:32kehilangan. Rizky pikir
- 42:34dan Bapak juga berpikir hal yang sama.
- 42:35Mungkin karena ikatan itulah Bapak jadi
- 42:37sering dimimpiin bahkan juga didatangin
- 42:40sama sosok yang mirip sama Mbak Santi
- 42:42secara langsung. Dah tuh.
- 42:45Di sisi lain
- 42:46setelah mendengar cerita Bapak tentang
- 42:48mimpi dan juga kejadian di masjid Rizky
- 42:51juga makin kepikiran sama ucapan sosok
- 42:53itu. Sosok itu berkali-kali nyebut nama
- 42:55Mas Edo. Ucapan itu terus mengusik
- 42:58pikiran aku Nadia.
- 42:59Jadi aku pun mulailah mengaitkan antara
- 43:02ucapan si sosok itu dengan kondisi Mbak
- 43:05Santi sebelum dia meninggal. Soal mata
- 43:07Mbak Santi yang lebam tuh loh. Dan
- 43:09cerita dari Tata soal baju-baju yang
- 43:11dilempar sama Mas Edo tuh. Mungkin nah
- 43:14di titik itu ya
- 43:16Rizky merasa memang ada rahasia besar
- 43:19antara Mbak Santi sama Mas Edo yang
- 43:20sampai saat itu masih belum diketahui
- 43:23sama siapapun. Dan kecurigaan Rizky pun
- 43:25makin diperkuat lagi pada saat
- 43:28sahabatnya Mbak Santi yang bernama Mbak
- 43:32Maya
- 43:33menceritakan
- 43:34[musik]
- 43:35kejadian lain.
- 43:37Masuk ke Mbak Maya.
- 43:44Nah jadi Wa, Mbak Maya ini adalah
- 43:46sahabat SMA-nya Mbak Santi. Waktu sudah
- 43:48lulus sekolah Mbak Maya menikah dan
- 43:50pindah ke kota lain. Nah pada saat itu
- 43:53hubungan mereka tetap dekat Wa. Mbak
- 43:54Maya sering curhat ke Mbak Santi lewat
- 43:56chat atau juga lewat telepon pun
- 43:57sebaliknya. Mbak Santi juga sering
- 43:59curhat ke Mbak Maya. Tapi meskipun
- 44:01hubungan mereka sedekat itu pihak
- 44:03keluarganya Mbak Santi Fajar, Pak Sabar
- 44:06sama Bu Nur itu enggak ada yang tahu
- 44:08kalau mereka ini sahabatan. Kan juga
- 44:09lumrah ya, keluarga inti kita tuh enggak
- 44:11tahu siapa-siapa aja yang lagi dekat
- 44:12sama kita gitu kan. Makanya waktu Mbak
- 44:14Santi meninggal, Mbak Maya enggak
- 44:16dikabarin. Nah, [musik]
- 44:17tapi 2 bulan setelah kepergiannya Mbak
- 44:20Santi, Wak, Mbak Maya ini tiba-tiba
- 44:22nelpon Fajar.
- 44:24"Halo, ini benar nomornya Fajar adiknya
- 44:27Santi bukan ya?" Kata Mbak Maya. "Oh,
- 44:29iya benar, Mbak. Ini siapa?" "Aku Maya,
- 44:32teman SMA-nya Santi. Santi ganti nomor
- 44:34ya, Dek? Kok aku hubungin beberapa kali
- 44:36enggak bisa." Dengar nama kakaknya
- 44:37disebut, Fajar cuman
- 44:41"Mbak,
- 44:42Mbak belum dapat kabar ya?" "Kabar apa?"
- 44:44"Mbak, maaf.
- 44:46Mbak Santi udah enggak ada." Kata Fajar
- 44:48gitu. "Hah?
- 44:50Enggak ada gimana?" "Mbak Santi udah
- 44:51meninggal, Mbak." Katanya. Kaget sih
- 44:53Mbak Maya. "Eh,
- 44:54enggak mungkin! Orang Santi baru aja
- 44:56datang ke rumah aku sebulan kemarin,
- 44:58baru habis itu dia enggak bisa
- 44:59dihubungi. Makanya aku coba cari kontak
- 45:01kamu, Jar. Kamu jangan bercanda ya."
- 45:02Katanya. Gantian Fajar yang kaget.
- 45:04"Enggak mungkin, Mbak. Santi ke sana,
- 45:05Mbak. Mbak Santi aja udah meninggal 2
- 45:07bulan yang lalu kok." "Jar, sumpah, Jar.
- 45:10Mbakmu datang ke rumah aku." "Aku juga
- 45:12enggak mungkin bohong lah, Mbak. Mbak
- 45:14Santi udah enggak ada. Mbak, kalau
- 45:15enggak percaya aku fotoin ya, bentar
- 45:16lagi aku kirim ya foto makamnya Mbak
- 45:18aku." Katanya. Betul, Wak, ditunggu sama
- 45:19Mbak Maya tuh. Itu saking dia enggak
- 45:21percayanya kan.
- 45:22Difoto, dikirim sama si Fajar. Kan di
- 45:24situ kan tulis tuh nama sama wafatnya
- 45:26tanggal berapa kan. Memang betul 2 bulan
- 45:28yang lalu.
- 45:30Cuma, Wak, Mbak Maya masih enggak
- 45:32percaya. Akhirnya beberapa hari
- 45:34setelahnya Mbak Maya datang langsung ke
- 45:36rumahnya Fajar untuk mastiin [musik]
- 45:38soal kabar itu. "Waktu dia nyampe ke
- 45:40rumah aku nah dia." Kata Fajar.
- 45:42Fajar, Pak Sabar, yang memang udah
- 45:44diceritain sebelumnya
- 45:46dari Fajar sama Bu Nur, akhirnya
- 45:48ketemulah sama Mbak Maya. Mbak Maya
- 45:50datang. Bapak aku yang buka omongan.
- 45:52"Maya,
- 45:53kami minta maaf enggak ngehubungin kamu.
- 45:55Kami enggak punya nomor kamu. Tapi apa
- 45:57yang disampaikan Fajar benar, Nak. Santi
- 46:00udah enggak ada. Doain yang baik ya, Nak
- 46:02ya, begitu." Barulah pecah nangisnya
- 46:04Maya di situ, Nadia, katanya.
- 46:06[menghela napas]
- 46:07"Enggak mungkin, Pak, enggak mungkin,
- 46:08Pak.
- 46:09Santi masih datang ke rumah saya sebulan
- 46:12kemarin, Pak. Saya yakin 100% itu
- 46:15Santi." Pak Sabar, Bu Nur, sama Fajar
- 46:18langsunglah nenangin Maya. "Tenang, Nak,
- 46:20tenang, sudah." "Enggak, Pak, dia
- 46:22datang, Pak, betulan." Sudah agak tenang
- 46:23tuh, Mbak Maya diajak lawak ziarah ke
- 46:26makamnya Mbak [musik] Santi.
- 46:28Waktu nyampe di sana itu tuh betul-betul
- 46:29ditengok sama mata kepalanya Mbak Maya
- 46:31sendiri kan, ada nama lengkapnya Mbak
- 46:33Santi, tanggal wafatnya di batu nisan.
- 46:36Baru di situ Mbak Maya percaya kalau
- 46:37Mbak Santi memang sudah meninggal.
- 46:38"Waktu aku ngirim foto itu mungkin
- 46:40enggak percaya dia, Nak, dia pikir aku
- 46:41ngedit mungkin," kata si Fajar.
- 46:42"Sudahlah, selang beberapa lama mereka
- 46:45baliklah tuh ke rumah Pak Sabar lagi
- 46:47kan."
- 46:48Di situ Pak Sabar ceritain lawak
- 46:49semuanya, termasuk soal kepergiannya
- 46:51Mbak Santi dengan cara yang seperti itu.
- 46:53Nah, habis Pak Sabar cerita, gantian
- 46:55Mbak Maya yang cerita. "Pak, Bu, Fajar,
- 46:59saya betulan enggak bohong.
- 47:02Satu bulan kemarin Santi datang ke rumah
- 47:05saya. Mukanya, posturnya, rambutnya,
- 47:08semua Santi. Dan itu memang Santi,
- 47:11enggak cuman mirip, itu Santi, Pak. Tapi
- 47:13kalau ternyata sekarang saya tahu Santi
- 47:15memang sudah meninggal, pasti yang
- 47:16datang ke rumah saya itu bukan orang,
- 47:18tapi sosok yang sudah menyerupai Santi.
- 47:20Dan kalaupun iya,
- 47:22sosok itu datang enggak cuman datang,
- 47:24Pak,
- 47:25tapi dia nyuruh saya untuk menunjukin
- 47:27sesuatu ke kalian." Nah, Mbak Maya pun
- 47:30mulai duluan nyeritain kejadian waktu
- 47:32sosok Mbak Santi itu datang ke rumahnya
- 47:33ya.
- 47:35Jadi, satu bulan setelah Mbak Santi itu
- 47:37meninggal lawak, sekitar jam 08.30
- 47:39malam, Mbak Maya yang belum tahu apa-apa
- 47:41nih ya, lagi mau siap-siap tidur di
- 47:43kamar. Tapi enggak lama setelah dia
- 47:45pejamin mata, terdengar suara pintu
- 47:47rumahnya diketok.
- 47:51Mbak Maya pikir itu suaminya, Mas Akbar,
- 47:54baru balik dari shift malam. Kan Mbak
- 47:55Maya sendirian waktu itu. Mbak Maya
- 47:56pergilah buka pintu. Waktu dibuka
- 48:00rupanya yang datang
- 48:02Mbak Santi. Dia pakai baju sederhana dan
- 48:05dia langsung
- 48:07senyum ke Mbak Maya Wa. Kagetlah Mbak
- 48:09Maya di situ kan, "Eh, Santi
- 48:11kok ke sini enggak bilang-bilang? Kamu
- 48:13sama siapa?" kata gitu. Nah, waktu
- 48:14ditanya kayak gitu, dari yang pertama
- 48:15yang masih senyum
- 48:17"Kamu sama siapa?"
- 48:20"Sama Edo."
- 48:22Gitu langsung ekspresi wajahnya langsung
- 48:24berubah dan Mbak Maya juga baru notice
- 48:26kalau mukanya Mbak Santi tuh pucat kali.
- 48:28Kan salaman mereka kan. Waktu dipegang
- 48:30tangannya dingin kali Wa. "Eh, San kok
- 48:33lagi sakit San? Ayo masuk dulu mana Mas
- 48:35Edo suruhlah dia masuk juga." Mbak Santi
- 48:37cuma bilang, "Edo nunggu di dekat gang.
- 48:38Aku cuman mau ketemu kamu bentar aja
- 48:40kok. Aku pengen bilang sesuatu."
- 48:41katanya. Mbak Maya ngajaklah masuk Mbak
- 48:43Santi kan ke ruang tamu. Terus Mbak Maya
- 48:46bikinin teh hangat Wa. Udah bikin, balik
- 48:49lagi ke sofa tempat Mbak Santi nunggu
- 48:51sambil bawa teh yang dia buat [musik]
- 48:53tadi. Taruhlah tehnya. Nah, pas lagi
- 48:55duduk ini waktu lagi
- 48:56bawa taruh teh
- 48:58Mbak Santi enggak bilang makasih, enggak
- 49:00ada nanya kabar kayak normalnya orang
- 49:02bertamu ya kan.
- 49:04Tapi Mbak Santi kayak waktu angkatnya
- 49:05begini
- 49:10dia nengok mukanya Mbak Maya terus. "Nih
- 49:13Santi minum." Dia masih kayak
- 49:20Enggak ada ditengoknya teh yang dibawa
- 49:21Mbak Maya tuh, enggak ada juga bilang
- 49:22makasih apa enggak ada. Ditengok aja.
- 49:23Mbak Santi kayak
- 49:25"Ngapain anak nih?" Mungkin dalam
- 49:27hatinya kayak gitu kan. Ditanya
- 49:28langsung, "Ngapain San?" Mbak Santi
- 49:29enggak langsung jawab Wa. Dia langsung
- 49:30ambil teh itu, dia minum teh hangat tuh.
- 49:34Dia minum lumayan banyak tuh hampir
- 49:36setengahnya lah.
- 49:38Ditaruhnya. Terus enggak lama
- 49:40Mbak Santi nanya
- 49:41"Maya, kamu masih nyimpen semua chat
- 49:44curhatanku tentang Edo kan?" Waktu
- 49:46denger itu
- 49:48"Iya, masih. Chatmu juga enggak pernah
- 49:49ku hapus. Mengapa?" "Tolong simpan
- 49:51baik-baik ya May. Mungkin suatu saat
- 49:53nanti orang tuaku butuh baca chat itu.
- 49:56Hah?
- 49:56Maksudnya apa, San? Klen kenapa?
- 49:58Ceritalah, enggak apa-apa, May.
- 50:00Pokoknya makasih ya.
- 50:02Kamu udah jadi sahabat terbaik aku. Aku
- 50:04titip Tata.
- 50:06Kalau kamu ada waktu, sempetin juga
- 50:08nanti nengok orang tuaku ya. Tolong
- 50:10sampaikan semua yang pernah kuceritakan
- 50:13ke kau, katanya.
- 50:14Itu katanya. Semakin enggak enaklah
- 50:16perasaan Mbak Maya waktu dengar itu,
- 50:17Wak. Kok ni kenapa sih, San? Hah?
- 50:19Udahlah, enggak usah ngomong terlalu
- 50:20kayak gitu, ah. Ceritalah, San, kau
- 50:21kenapa? Enggak dijawab sama Mbak Santi.
- 50:23Mbak Santi lanjut ngomong. Maafin aku
- 50:25ya, May, kalau selama ini banyak salah
- 50:26ke kau. Doain [musik] aku ya, katanya.
- 50:28Habis ngomong kayak gitu, Santi langsung
- 50:30tegak, Wak. Mbak Santi langsung berdiri.
- 50:32Dia kasih gestur kayak gini.
- 50:36Minta [musik] dipeluk. Dipeluklah,
- 50:38disambutlah pelukan sama Mbak Maya kan.
- 50:40Peluk.
- 50:41Dan pelukan itu lama kali katanya
- 50:43dipeluk.
- 50:44Dia diam dipeluk.
- 50:47Disambut peluk.
- 50:48Udah habis itu, dia senyum sama Mbak
- 50:50Maya.
- 50:52Aku pamit ya, May.
- 50:53Nah, di situ perasaan Mbak Maya tuh
- 50:55makin enggak enak, Wak. Entah ngapa
- 50:56ucapan tuh kok terdengar kayak orang
- 50:58yang mau
- 50:59pergi jauh ya, terus enggak balik-balik
- 51:00lagi gitu loh. Udah. Udah habis ngomong
- 51:03gitu, Santi langsung jalan keluar rumah.
- 51:06Mbak Maya juga perhatiin masih sambil
- 51:08kayak
- 51:09Ah, udah.
- 51:10Tuh aja.
- 51:12Diikutin kan. Dan dalam sepersekian
- 51:13detik waktu si Mbak Santi keluar
- 51:16diikutin sama Mbak Maya dari belakang,
- 51:19hilang itu Mbak Santi, Wak. Dan pada
- 51:22saat Mbak Santi itu hilang, badannya
- 51:24Mbak Maya duk, langsung kepental. Terus
- 51:26waktu buka mata, klen tahu Mbak Maya di
- 51:29mana, Wak?
- 51:30Dia lagi tiduran di sofa ruang tamu.
- 51:32Tiduran. Lagi tidur di sofa.
- 51:35Santi hilang, Maya kepental, dia kayak
- 51:38hah,
- 51:40di atas ah, kan terjatuh kan. Di atas
- 51:42ini, di atas sofa ruang tamu. Apa enggak
- 51:44terkejut? Eh.
- 51:46Kok aku di sini?
- 51:47Padahal baru sepersekian detik
- 51:49sebelumnya dia lagi berdiri ngelihat
- 51:51kawannya tiba-tiba hilang. Kok tiba-tiba
- 51:53dia ada di di atas sofa.
- 51:54Aku mimpi Santi datang nih berarti, iya
- 51:57kan?
- 51:57Masih bisa kita pikir kayak gitu kan.
- 51:59Langsunglah si Maya nengok ke sekeliling
- 52:01ruang tamu. Pintu rumahnya terbuka.
- 52:04Jendela rumahnya enggak terkunci.
- 52:07Terus di atas meja ruang tamu ada
- 52:10segelas teh yang tinggal separuh. Teh
- 52:13yang disajikan ke Mbak Santi itu.
- 52:14Diminum sama Mbak Santi kan. Tinggal
- 52:16setengah. Yang kalau memang dalam mimpi.
- 52:18Di satu sisi Mbak Maya pikir yang
- 52:19terjadi barusan itu mimpi. Soalnya kan
- 52:22enggak mungkin nih. Mbak Santi tiba-tiba
- 52:23datang hilang gitu aja ya kan. Tapi di
- 52:25sisi lain
- 52:26kalau memang cuman mimpi terus siapa
- 52:28yang ngapain aku buka pintu? Terus siapa
- 52:30yang minum teh di atas meja tamu nih?
- 52:32masuk akal kan Wak.
- 52:33Badan Mbak Maya langsung merinding. Maya
- 52:35cepat-cepat langsung kunci pintu, kunci
- 52:37jendela, masuk ke dalam kamar. Maya
- 52:39betul-betul enggak bisa tidur. Sampailah
- 52:40itu lakinya balik, Mas Akbar pulang.
- 52:42Maya ceritain lah Mas tadi
- 52:43gini-gini-gini. Suami si Maya bilang itu
- 52:45cuman mimpi aja tuh Dek, enggak usah lah
- 52:47terlalu dipikirkan katanya. Maya masih
- 52:49enggak percaya Wak. Dia ngerasa ini
- 52:50enggak nih. Enggak itu yang tadi kurasa
- 52:52aku nyata kali. Kurasa pelukan dia,
- 52:54kurasa tangan dia dingin, kura kutengok
- 52:56dia hilang. Nah, untuk memastikan hal
- 52:58itu barulah Mbak Maya coba hubungin
- 53:01Santi.
- 53:03Nah, dari situ Wak sampai sebulan ke
- 53:05depan Mbak Santi enggak pernah balas
- 53:07chat. Ditelepon enggak pernah nyambung.
- 53:09Sampai akhirnya Mbak Maya nyarilah
- 53:10kontak Fajar. Dan baru di situlah Mbak
- 53:12Maya dapat kabar kalau Mbak Santi sudah
- 53:14meninggal.
- 53:15[musik]
- 53:15Itu yang diceritain sama Mbak Maya. Itu
- 53:17yang dialami makanya dia syok kali.
- 53:19Santi meninggal.
- 53:20Entah mimpi atau bukan, tapi Maya
- 53:22percaya kedatangannya Mbak Santi pasti
- 53:24ada maksudnya. Dan kemungkinan juga
- 53:26meninggalnya Mbak Santi ada kaitannya
- 53:28sama apa yang dia minta.
- 53:30Curhatan-curhatannya
- 53:31Mbak Santi soal Mas Edo semasa masih
- 53:34hidup. Makanya sosok itu nitipin pesan
- 53:36buat nyampein apa tadi pesannya?
- 53:38Sampaikan isi chat-nya ke keluarga. Itu
- 53:41kan pesannya. Dan sesuai pesan itu, Wak,
- 53:44Mbak Maya pun nunjukinlah dia bawa
- 53:45HP-nya kan. Dia tunjukkanlah
- 53:47chat-chatnya Mbak Santi ke keluarganya
- 53:49Fajar. Di chat-chat itu kelihatan, Wak,
- 53:51di tanggal-tanggal sebelum
- 53:54Mbak Santi eh meninggal atau sebelum dia
- 53:56lost contact sama Mbak Maya, kelihatan
- 53:58curhatan dia tentang dia sering berantem
- 54:01sama Mas Edo. Nah, cuma di chat itu Mbak
- 54:03Santi enggak jelasin detail masalahnya
- 54:05apa, Wak.
- 54:06Tapi katanya
- 54:07dari kesimpulan chat itu, Mas Edo main
- 54:10tangan. Nah, cerita ini juga match kan,
- 54:13Wak, sama apa yang dibilang Wak Rizki
- 54:15pertama itu soal matanya Mbak Santi yang
- 54:17lebam-lebam. Rizki kan juga sempat duga
- 54:19Mbak Santi ini mungkin KDRT kan, ya kan
- 54:21disampein Pak mungkin
- 54:23Mas Edo udah KDRT, Pak. Santi yang
- 54:26ngomong langsung di chat tuh. Nah, waktu
- 54:27dengar itu, waktu udah dilihatin chat
- 54:29itu, entah ngapa
- 54:32baik Fajar, Pak Sabar, Bu Nur, orang
- 54:35tuanya Mbak Santi nih, tetap enggak
- 54:37percaya, Wak.
- 54:38Kalau Mas Edo udah KDRT ke almarhumah
- 54:41anaknya. Mereka tetap denial, Wak,
- 54:43mereka bertiga. Enggak mungkin Edo kayak
- 54:44gitu. Dia selalu baik sama kami. Dia
- 54:47juga selalu sayang sama Santi.
- 54:49Gitu. Mbak Maya kira bilang, saya
- 54:50sebenarnya juga enggak mau suuzon ya,
- 54:52Pak, Bu, ujar. Tapi itu Santi sendiri
- 54:54yang bilang, udahlah, Nak, semua udah
- 54:55berlalu. Menantu kami itu orang baik.
- 54:58Kami percaya dia enggak mungkin kayak
- 54:59gitu ke
- 55:01Santi. Toh enggak ada juga bukti apapun
- 55:02soal KDRT itu kan. Kita doain aja
- 55:04sama-sama semoga dia tenang di dalam
- 55:06sana. Jadi Mbak Maya udah enggak berani
- 55:07komentar lebih jauh lagi, Wak, takutnya
- 55:08dikira fitnah orang pula. Nah, akhirnya
- 55:10setelah ngobrol-ngobrol cukup lama Mbak
- 55:13Maya pun pamit pulang. Sampai di sini
- 55:15meskipun teka-teki soal Mas Edo masih
- 55:17belum terjawab tadi KDRT atau enggak
- 55:19nih,
- 55:20[mendengus]
- 55:20tapi seenggaknya Mbak Maya udah jauh
- 55:22lebih plong karena Mbak Maya sudah
- 55:24menyampaikan pesan sosok itu ke
- 55:26keluarganya Mbak Santi.
- 55:30Nah, seiring berjalannya waktu, hubungan
- 55:32keluarganya Mas Edo sama keluarga Fajar,
- 55:34Wak, itu juga masih baik-baik aja. Mas
- 55:36Edo pernah sekali berkunjung ke rumah
- 55:38mertuanya sambil bawa Tata, ya kan? Dan
- 55:40beberapa kali juga Mas Edo sering
- 55:41menelepon kalau ada waktu atau ada
- 55:43keperluan. Pun Rizky, Wawa, juga
- 55:45kadang-kadang masih suka tuh, Wak,
- 55:46dimintain tolong mampir nanti ya ke
- 55:48rumahnya Edo, rumah Mbak Santi dulu itu,
- 55:51bawa sayur, bawa kebutuhan untuk Edo,
- 55:53buat Tata. Cuman setelah tadi itu loh,
- 55:55kabar-kabar tentang Mbak Santi menyeruak
- 55:58di kampung, sebelum pergi ke sana, aku
- 55:59tuh selalu dititipin pesan sama orang
- 56:01tuanya Mbak Santi, "Jaga rahasia, ya.
- 56:04Jangan sampai Edo tahu soal gangguan
- 56:06yang berkaitan sama
- 56:08almarhumah istrinya yang terjadi di
- 56:09kampung A itu ataupun yang terjadi di
- 56:11rumahnya Mbak Maya. Jangan buka suara,
- 56:12ya, karena mereka tuh enggak mau bikin
- 56:14Mas Edo tambah kepikiran, Wak. Ditambah
- 56:15lagi juga beberapa bulan setelah Mbak
- 56:18Santi itu berpulang, Tata, anak mereka
- 56:20satu-satunya, juga minta pindah ke
- 56:22rumahnya Fajar, ke rumah Omnya, karena
- 56:25katanya dia enggak betah tinggal berdua
- 56:26sama Bapak, sepi gitu loh, karena
- 56:27Bapaknya juga sering kerja, kan? Nah,
- 56:29dari situ Tata pun pindahlah ke kampung
- 56:32A sekaligus juga pindah sekolah di dekat
- 56:34sana. Sementara Mas Edo tetap tinggal di
- 56:36rumahnya, Wak, sendirian. Karena dia
- 56:38harus kerja, tapi hubungan mereka,
- 56:40hubungannya Mas Edo sama keluarga
- 56:41almarhumah, masih sangat baik. Nah,
- 56:43awalnya keluarganya Fajar ini mikir Mas
- 56:45Edo pasti baik-baik saja tinggal
- 56:46sendirian dan kemungkinan dia juga pasti
- 56:48enggak pernah didatangin sama arwahnya
- 56:49Mbak Santi karena dia enggak tinggal di
- 56:51kampung A. Pun juga Mas Edo enggak
- 56:53pernah cerita apa-apa, Wak. Ditambah
- 56:54lagi gangguan yang ada di kampung A pun
- 56:56berangsur-angsur mulai berhenti. Tapi
- 56:58rupanya belakangan baru diketahui kalau
- 57:01Mas Edo
- 57:03justru yang ngalamin gangguan paling
- 57:05parah di rumahnya, Wak. Semua itu
- 57:08diceritakan sama Wawa ketiga kita.
- 57:11Sepupunya Fajar sekaligus juga kawannya
- 57:14Rizky yang lain
- 57:15yang bernama Dimas.
- 57:18Nah, nah Dimas ini, Wak, dulunya kerja
- 57:20di lapak buahnya Mas Edo. Dimaslah yang
- 57:22menjadi saksi betapa ekstremnya gangguan
- 57:25yang terjadi di rumah Mas Edo.
- 57:28Masuk ke cerita Dimas.
- 57:36Jadi Wa, selama kerja di lapak buahnya
- 57:38Mas Edo ini Dimas mengontrak rumah yang
- 57:41letaknya enggak begitu jauh dari pasar
- 57:42tempat lapak buah Mas Edo berada. Nah,
- 57:44setelah Mbak Santi meninggal selama
- 57:45beberapa hari lapak buah itu dipasrahkan
- 57:47ke Dimas. Soalnya kan Mas Edo masih ikut
- 57:49acara 7 harian di kampung A kan. Terus
- 57:51Mas Edo ini juga sempat istirahat di
- 57:52rumah Wa karena kurang enak badan.
- 57:54Setelah beberapa hari berlalu, Mas Edo
- 57:56pun mulai jualan lagi di pasar. Dimas
- 57:59udah stand by di lapak ya kan. Nah, pas
- 58:01Mas Edo datang ke pasar
- 58:04kaget aku Nat
- 58:05waktu ngelihat perubahan yang mencolok
- 58:08dari fisiknya Mas Edo. Muka Mas Edo
- 58:10pucat, matanya cekung, badannya kurus
- 58:13sekali Nat. Dan selama jaga lapak itu
- 58:16dia juga
- 58:20melamun. Awalnya Dimas masih nganggap
- 58:22masih wajar ini. Gimana pun namanya
- 58:23kehilangan pasangan hidup pasti sedihnya
- 58:25bukan main ya kan. Mungkin karena itulah
- 58:27Mas Edo jadi kelihatan lesu kali kayak
- 58:29gini. Nah, sekitar 20 hari setelah
- 58:31kepergiannya Mbak Santi, setelah dia
- 58:33pulang dari kampung A
- 58:34kondisi Mas Edo bukannya membaik tapi
- 58:37malah sebaliknya. Badannya tambah kurus
- 58:39Nat, dia kurus kering bahkan kayak orang
- 58:41enggak makan berhari-hari. Dan selain
- 58:42itu
- 58:44sikap Mas Edo juga udah mulai aneh Wa.
- 58:46Entah kenapa suatu hari tiba-tiba Mas
- 58:47Edo ngomong kayak gini sama Dimas, "Dim
- 58:50kau mau enggak tinggal di rumah aku?
- 58:52Sepi di rumah." Katanya gitu. Dengar itu
- 58:54aku kaget Nat. Kenapa kok ya bos aku
- 58:56tiba-tiba nawarin tinggal bareng ya kan.
- 58:57Soalnya setahu Dimas Wa, Mas Edo ini
- 59:00kurang suka tinggal sama orang lain
- 59:01kecuali sama anak sama istrinya.
- 59:03Jatuhnya Mas Edo ini kan masih sepupunya
- 59:05sepupu iparnya Dimas kan Wa. Dimas sama
- 59:07Mbak Santi sepupuan. Jadi wajar si Dimas
- 59:09ini tahu sisi lain bosnya. Mas Edo
- 59:11nambahin lagi daripada uang kau habis
- 59:13buat bayar kontrakan, mending kau
- 59:14tinggal di rumah aku aja ya katanya.
- 59:16Sebenarnya ucapannya Mas Edo tuh ada
- 59:17betulnya juga Nat. Kalau misalnya nerima
- 59:19tawaran itu aku udah enggak perlu lagi
- 59:20ngeluarin biaya buat bayar kontrakan
- 59:22kan. Tapi aku juga mikir kalau tinggal
- 59:24serumah sama atasan pasti enggak sebebas
- 59:27kau tinggal sendirian. Jadi aku tuh eh
- 59:28enggak usah lah Mas. Aku biar ngontrak
- 59:30aja kata gitu. Di luar dugaan, Mas Edo
- 59:32malah masih terus-terusan ngedesak aku
- 59:34nah. San sudahlah San, ayolah San.
- 59:36Tinggal sama aku ya San. Sudah enggak
- 59:37usah bayar apa-apa, nanti kau makan juga
- 59:39di rumahku gratis ku kasih. Uang bayar
- 59:40kontrakan kan bisa kau kirim buat orang
- 59:41rumah, lumayan Dim. Ya. Sudahlah ya,
- 59:44pokoknya mulai besok kau tinggal di
- 59:45rumah aku ya. Maksa nah. Nah karena
- 59:47didesak-desak terus lama-lama aku juga
- 59:49jadi enggak enak, aku juga kerja sama
- 59:50dia kan. Jadi ya sudah.
- 59:52Beberapa hari kemudian, Dimas
- 59:54langsunglah pindah Wak ke rumahnya Mas
- 59:56Edo.
- 59:56Pas pertama kali aku masuk ke rumah itu
- 59:59Nadia, hal pertama yang langsung aku
- 1:00:01notice adalah hawa di rumah itu dingin
- 1:00:05kali.
- 1:00:06Dingin.
- 1:00:07Terutama bagian dapur. Ini tuh yang
- 1:00:09bikin dingin tuh bukan karena AC Wak ya,
- 1:00:11bukan juga karena hujan, tapi memang
- 1:00:13dingin yang nusuk tulang tuh Wak. Nah,
- 1:00:15suasana rumah itu juga sunyi kali.
- 1:00:16Apalagi sejak Tata sudah pindah ke rumah
- 1:00:18Fajar. Waktu Dimas datang pertama Tata
- 1:00:19masih di situ. Cuma waktu Tata sudah
- 1:00:21pindah Nadia, uh makin sepi rumah tuh,
- 1:00:23apalagi kalau malam. Waktu itu Dimas
- 1:00:25belum pikiran yang gimana-gimana Wak,
- 1:00:26dia juga orangnya pemberani. Jadi hawa
- 1:00:29dingin dan suasana rumah yang sepi tadi
- 1:00:31tidak terlalu diambil pusing sama Dimas.
- 1:00:32Yang penting aku bisa nghemat
- 1:00:34pengeluaran ya kan, dah.
- 1:00:36Dimas dikasihlah tidur di kamar tengah,
- 1:00:38kamar depan tuh kamar pas sampingnya
- 1:00:40kamar si Dimas tuh kamarnya Mas Edo. Dan
- 1:00:42kamarnya Dimas ini, kalau kalian buka
- 1:00:44pintu itu langsung menghadap ke dapur,
- 1:00:46tempat almarhumah mengakhiri hidupnya.
- 1:00:50Tinggallah di situ. Nah selama beberapa
- 1:00:51hari tinggal di sana, Dimas enggak
- 1:00:53ngalamin apa-apa Wak.
- 1:00:55Tapi
- 1:00:56ada beberapa tetangga-tetangga sekitar
- 1:00:58yang malah kepo nanya ke aku nah.
- 1:01:00Tahu-tahu ketemu kan, Mas Dimas
- 1:01:03kamu pernah ngalamin yang aneh-aneh
- 1:01:04enggak di rumahnya Edo? Hah? Aneh gimana
- 1:01:06Bu? Ya apa pun. Enggak. Aman-aman aja
- 1:01:08saya tinggal di sana. Dan itu yang nanya
- 1:01:09enggak cuma satu dua orang ya Nadia.
- 1:01:11Banyak. Dimas juga sempat heran, ngapa
- 1:01:12orang banyak nanyain kayak gitu? Emang
- 1:01:14kenapa rumahnya Mas Edo? Ya aku tahu nih
- 1:01:15tempat almarhumah mengakhiri hidupnya.
- 1:01:18Tapi kenapa kok malah dikait-kaitkan ke
- 1:01:20ke gitu loh. Dimas kan pemberani
- 1:01:21orangnya. Toh juga enggak ada apa-apa.
- 1:01:23Kan, selama berhari-hari Dimas yang
- 1:01:25awalnya bisa cuek lama-lama juga jadi
- 1:01:27kepikiran Wa sama ucapan
- 1:01:28tetangga-tetangga tuh karena ditanyain
- 1:01:30terus. Sampailah di malam ke-7 Dimas
- 1:01:33nginap di sana
- 1:01:35barulah Dimas paham kenapa
- 1:01:37tetangga-tetangga [musik] aku nanyain
- 1:01:38soal rumahnya ini. Jadi
- 1:01:42waktu itu sekitar tengah malam di malam
- 1:01:44ke-7 ya nginap di sana
- 1:01:46eh tinggal di sana
- 1:01:47sekitar tengah malam Dimas nih sudah
- 1:01:49tidur di kamarnya.
- 1:01:51Tapi enggak lama Dimas kebangun gegara
- 1:01:53dengar pintu kamarnya dibuka. Krek,
- 1:01:56waktu dia tengok rupanya Mas Edo Wa
- 1:01:58masuk ke dalam kamarnya enggak pakai
- 1:02:00permisi. Masuk dia enggak ngomong
- 1:02:02apa-apa juga. Dia langsung jalan ke atas
- 1:02:04kasur tiduran di sampingnya Dimas.
- 1:02:07Ditanyalah nah loh "Kenapa Mas?" "Aku
- 1:02:09numpang tidur di sini ya Dim
- 1:02:12AC kamarku mati panas" katanya. "Oh iya
- 1:02:14Mas tidurlah". Sudah tuh aku tidur lagi
- 1:02:16kubelakanginlah Mas Edo kan ngadep
- 1:02:18belakangan. Ah belum sampai 30 menit dia
- 1:02:20tidur kebangun lagi Dimas tapi matanya
- 1:02:23masih terpejam
- 1:02:24karena
- 1:02:26dia dengar kayak ada suara orang
- 1:02:28dicekik. Tidur enggak dia?
- 1:02:31Ah
- 1:02:32ah
- 1:02:33ah
- 1:02:35ah duh suaranya makin lama makin kencang
- 1:02:37Wa dan arah suaranya dari belakang dia
- 1:02:39dari belakang punggungnya which is dari
- 1:02:41tempat Mas Edo tidur. Dimas pikir
- 1:02:44ketindihan ini Mas Edo kan.
- 1:02:46Dia buka mata lah buka dengan niat mau
- 1:02:48ngebangunin Mas Edo.
- 1:02:50Dia buka dia balikin badannya di situlah
- 1:02:53Dimas sang pemberani syok [mendengus]
- 1:02:55sejadi-jadinya karena dia lihat di atas
- 1:02:57badannya Mas Edo Wa. Mas Edo tidur
- 1:02:59telentang dia ngadep belakang.
- 1:03:02Dia lihat ada sosok makhluk rambutnya
- 1:03:05panjang bajunya putih tapi lusuh
- 1:03:09mukanya harus kalian ingat ya mukanya
- 1:03:11merah
- 1:03:12bola matanya melotot sampai keluar Wa
- 1:03:15lidahnya nah
- 1:03:17ngejulur panjang sambil netesin
- 1:03:19cairan-cairan hitam.
- 1:03:20Kuku-kukunya hitam panjang, melengkung
- 1:03:23sampai dia lihat nancap ke bantalnya Mas
- 1:03:26Edo.
- 1:03:27Karena sosok itu lagi apa?
- 1:03:29Selain dia lagi nindihin Mas Edo, dia
- 1:03:31nyengkram lehernya Mas Edo, Tok Lek.
- 1:03:33Sampai Tok
- 1:03:36Itu yang ku tengok, Nak. Sambil dia
- 1:03:38nyekek, sambil dia Tok
- 1:03:41Gitu. Waktu nengok itu badan aku panas
- 1:03:42dingin aja. Itu badanku enggak bisa
- 1:03:44digerakin. Dan sosok itu enggak noleh ke
- 1:03:46aku. Dia fokus ke si Mas Edo aja. Baru
- 1:03:48kali itu aku tengok sosok semengerikan
- 1:03:51itu. Dari jarak dekat pula. Dimas yang
- 1:03:53ngeblank enggak tahu harus ngapain. Ya
- 1:03:54kan dia cuma bisa istigfar aja.
- 1:03:55Astigfarullah, astigfarullah.
- 1:03:58Astigfarullah, astigfarullah.
- 1:03:59Tapi bukannya pergi, Wak.
- 1:04:01Sosok itu malah makin kelihatan wujudnya
- 1:04:03kayak
- 1:04:06Gitu mau sudah.
- 1:04:07[tertawa]
- 1:04:09Ah, sudah. Ya sudah, meninggal lah itu
- 1:04:10Mas Edo. Di tengah panik itu, entah dia
- 1:04:12dapat kekuatan dari mana.
- 1:04:13Dimas bisa langsung ngegerakin
- 1:04:15tangannya, Wak. Terus dia kayak
- 1:04:19Ditampaknya pipinya Mas Edo. Maksudnya
- 1:04:21biar bangun Mas Edo. Bangun, Mas. Habis
- 1:04:23nampar Edo itu, kalian tahu apa yang
- 1:04:24terjadi sama si Dimas? Dia tampar, dia
- 1:04:26langsung terbalik badannya kayak gini.
- 1:04:29Berguling jatuh bawah kasur, Tok Lek.
- 1:04:31Jatuh terguling lantai.
- 1:04:34Ah, paham kalian kan? Bisa terbayang ya?
- 1:04:35Waktu badanku jatuh brak, hilang suara
- 1:04:38ketawa. Aku langsung
- 1:04:40Ku toleh lah ke kasur lagi. Sosok itu
- 1:04:42sudah enggak ada, Wak.
- 1:04:44Mas Edo juga sudah bangun. Mas Edo sudah
- 1:04:46[terengah-engah]
- 1:04:49Mukanya pucat, itu dahinya basah tuh
- 1:04:51keringat. Waktu kayak gitu entah aku
- 1:04:52pikir apa? Mimpi kah aku ini? Iya kan?
- 1:04:56Aku jatuh, badanku masih gemetaran tapi
- 1:04:58di situ, Nak. Tapi dia tetap berusaha
- 1:04:59tenang. Dia naik ke atas kasur. Dia
- 1:05:01harus fokus ke Mas Edo dulu nih kan.
- 1:05:03Mas, enggak apa-apa, Mas?
- 1:05:05[terengah-engah]
- 1:05:07Enggak apa-apa. Enggak enggak apa-apa.
- 1:05:09Ketindihan aja aku. Aku enggak tahu
- 1:05:10harus bereaksi kayak gimana, Nak, dia.
- 1:05:12Soalnya aku ngelihat sendiri Mas Edo ini
- 1:05:13bukan ketindihan. Dia betul-betul
- 1:05:16ditindih dan dicekek sama sosok muka
- 1:05:18merah, ya kan. Tapi karena Dimas dengar
- 1:05:21Mas Edo bilang enggak apa-apa, ya Dimas
- 1:05:22mikir Mas Edo enggak tahulah apa yang
- 1:05:24sebenarnya tadi dia lihat. Sebenarnya
- 1:05:25aku bukan ketindihan tuh, Mas, aku
- 1:05:26dicekek. Enggak mungkin aku ngomong
- 1:05:27kayak gitu. Jadi, titik itu Dimas simpan
- 1:05:30rapat-rapat cerita soal makhluk muka
- 1:05:32merah tadi. Dan kalau kalian ngeh,
- 1:05:33kejadian yang dialami sama Dimas hampir
- 1:05:35sama seperti Maya. Sama-sama ngerasa ini
- 1:05:38mimpi, tapi kok kayak nyata
- 1:05:41Dah, habis mengalami kejadian itu, Dimas
- 1:05:43masih tetap tinggal di rumahnya Mas Edo,
- 1:05:45Wak. Dia kan memang pemberani, ya kan.
- 1:05:47Aku pemberani dan orangnya. Dan ini juga
- 1:05:48bukan pertama kalinya aku ngelihat
- 1:05:49makhluk-makhluk kayak gitu. Cuman yang
- 1:05:51ini memang seram kali bentuknya karena
- 1:05:54lebih dekat juga. Jadi, masih kubiarin
- 1:05:55aja, Nat, kata Dimas. Selagi dia enggak
- 1:05:57nyelakain aku, ya kan. Aku pikir sosok
- 1:05:59malam itu muncul sekali aja dan pasti
- 1:06:01enggak akan datang lagi, gitu. Tapi
- 1:06:03rupanya enggak.
- 1:06:06Beberapa hari setelahnya, Dimas pulang
- 1:06:08dari pasar, pulang ke rumah lebih malam
- 1:06:10karena dia harus nyortir buah-buahan
- 1:06:12yang mau dijual besok. Dimas baru nyampe
- 1:06:13rumahnya Mas Edo sekitar jam 11.30
- 1:06:15malam. Dah. Waktu nyampe di rumah, Mas
- 1:06:18Edo udah tidur rupanya.
- 1:06:20Dimas kuncilah pintu depan, dia mandi.
- 1:06:23Dah mandi, masuk kamar, ganti pakaian,
- 1:06:25siap-siap mau tidur aku, Dinan.
- 1:06:27Belum sempat aku pejamin mata tuh, baru
- 1:06:30mau susun posisi tidur,
- 1:06:32Dimas dengar
- 1:06:37kayak ada suara kayu patah dari arah
- 1:06:41dapur di depan kamar aku, Nat. Awalnya
- 1:06:43aku pikir itu memang suara kusen atau
- 1:06:45suara bangunan rumah yang retak, ya kan,
- 1:06:47dari arah luar pintu kamar aku memang.
- 1:06:49Bangunlah aku, kucek, buka pintu.
- 1:06:53Waktu terbuka, Wak,
- 1:06:55Dimas langsung dikagetkan sama
- 1:06:58sosok
- 1:06:59yang lagi bergelantungan
- 1:07:03di kusen [musik]
- 1:07:04pintu dapur itu. Dan yang bergelantungan
- 1:07:06siapa?
- 1:07:07Sosok muka merah.
- 1:07:11Matanya keluar, Wa. Lidahnya menjulur
- 1:07:13keluar. Dia ketawa. Dan ini, Wa,
- 1:07:15sebagian rambutnya, sebagian rambut
- 1:07:18panjangnya itu memang menjuntai sampai
- 1:07:20lantai.
- 1:07:21Dan sebagian lagi
- 1:07:25melilit lehernya
- 1:07:27di kusen pintu dapur. Jadi dia bilang,
- 1:07:32kayak gitu.
- 1:07:33Allahu Akbar. Dan waktu dia
- 1:07:34bergerak-gerak tuh, kretak kretak kretak
- 1:07:37kretak. Ah, itu suara yang didengar tuh
- 1:07:38suara dari gerakan dia. Dia merasa
- 1:07:40Astagfirullah.
- 1:07:42Astagfirullahaladzim.
- 1:07:44Astagfirullah. Keberanian seorang Dimas
- 1:07:46runtuh seketika. Dimas langsung masuk,
- 1:07:48dia kunci pintu kamar, loncat ke atas
- 1:07:50kasur. Astagfirullah. Astagfirullah.
- 1:07:51Astagfirullah. Astagfirullah.
- 1:07:52Astagfirullah. Dia kebayang, aku
- 1:07:53kebayang betul ada muka sosok tuh. Itu
- 1:07:55suaranya juga masih kedengaran.
- 1:07:56Perpaduan suara kretak kretak kretak
- 1:07:57sama suara ketawa sosok itu masih aku
- 1:07:59baca-baca doa. Astagfirullahaladzim.
- 1:08:00Astagfirullahaladzim. Lailahaillallah
- 1:08:02Muhammadar Rasulullah.
- 1:08:03Audzubillahiminasyaitanirrajim. Semua
- 1:08:04kubaca-baca, Nak. Dimas sama sekali
- 1:08:06belum bisa mencerna semuanya. Kepalaku
- 1:08:08pusing, dadaku sesak, badanku gemetaran,
- 1:08:10keringatan langsung bercucuran di
- 1:08:11mukaku, Nak. Dia itu baru kali pertama
- 1:08:13aku kayak gitu. Dan biasanya, Nak, ya,
- 1:08:14biasanya kalau orang lagi ketakutan kan
- 1:08:16susah tidur kan. Tapi anehnya, tidak
- 1:08:19lama setelah Dimas ngalamin kejadian
- 1:08:20tadi, Wa, aku, Nak, ngerasa ngantuk
- 1:08:25kali.
- 1:08:26Ngantuk. Dimas ngerasa kelopak matanya
- 1:08:28tuh tiba-tiba berat
- 1:08:29kali. Seolah-olah kayak ada sesuatu yang
- 1:08:31maksa mata
- 1:08:32Ehm ehm, kayak ada yang ngeberatin
- 1:08:33mataku untuk terpejam dalam hitungan
- 1:08:35menit Dimas langsung tidur nyenyak, Wa.
- 1:08:37Dan Dimas mengaku,
- 1:08:39itu adalah tidur ternyenyak yang Dimas
- 1:08:41rasakan selama dia hidup.
- 1:08:44Senyenyak itu, Nak.
- 1:08:48Bangun-bangun hari sudah pagi, sudah jam
- 1:08:5007.00 pagi kan. Suara cekikikan si sosok
- 1:08:52itu sudah enggak ada. Tapi yang pasti
- 1:08:54aku masih ingat dengan jelas sama
- 1:08:55kejadian mengerikan tadi malam. Pun juga
- 1:08:56aku kaget kok bisa ketiduran ya.
- 1:08:58Senyenyak itu aku tidurnya, Nak.
- 1:08:59Terbangun-bangun aku, Nak. Enggak ada
- 1:09:00mimpi apa-apa. Enak kali tidurku. Tapi
- 1:09:02ya sudah karena dia sudah bangun dia
- 1:09:03tetap harus berangkat kerja. Jadi
- 1:09:04setelah beberapa saat menenangkan diri,
- 1:09:06Dimas keluar kamarlah mau mandi, mau
- 1:09:08siap-siap berangkat ke lapak kan. Buka
- 1:09:10pintu, waktu pintu dibuka dia enggak ada
- 1:09:13ngelihat yang di dapur lagi tapi matanya
- 1:09:16tertuju ke ruang tengah Mas Edo lagi
- 1:09:19duduk sendirian di situ.
- 1:09:21Tatapan dia kayak
- 1:09:27kosong, pucat kayak mayat hidup [musik]
- 1:09:29Nadia mohon maaf. Itu yang kupikir ini
- 1:09:31Mas Edo jangan-jangan ditongoin juga nih
- 1:09:33cuman bedanya aku bisa tidur dia enggak
- 1:09:34bisa tidur ya kan. Tapi enggak langsung
- 1:09:36kutodong sama pertanyaan itu Nadia.
- 1:09:37Kutanya dulu, "Mas
- 1:09:39belum siap-siap ke lapak Mas? Mas
- 1:09:40sakitkah?" Enggak dijawab pertanyaannya
- 1:09:42si Dimas, Mas Edo malah nanya balik,
- 1:09:44"Kok semalam ke mana Sat? Aku kekunci di
- 1:09:46luar kamar, aku gedok-gedok pintu kau
- 1:09:48enggak kubuka-buka.
- 1:09:50Ke mana kau?" Begituin. "Eh
- 1:09:52aku tidur di kamar kok Mas aku enggak ke
- 1:09:54mana-mana. Aku juga enggak dengar ada
- 1:09:55suara orang gedok-gedok pintu. Emang
- 1:09:57semalam Mas Edo kenapa?" Nah Wak
- 1:10:00pertanyaannya Dimas ini akhirnya membuat
- 1:10:02Mas Edo
- 1:10:03buka suara karena rupanya di malam yang
- 1:10:06sama Wak ketika Dimas sedang melihat
- 1:10:08sosok muka merah bergelantungan di dapur
- 1:10:10kusen itu
- 1:10:11Mas Edo juga ngalamin sesuatu di rumah
- 1:10:14itu. Nah sekarang kita akan kembali ke
- 1:10:17malam tadi dan kali ini kita akan
- 1:10:19melihat apa yang sebenarnya terjadi dari
- 1:10:21sudut pandang seseorang yang namanya
- 1:10:23berkali-kali sudah mulai muncul sejak
- 1:10:25awal cerita tapi kita belum dengar kan
- 1:10:27ngalaminnya secara langsung. Nah
- 1:10:29ini kisah Mas Edo yang didengar sama
- 1:10:32Dimas ya.
- 1:10:34Jadi tadi malam itu waktu Dimas sudah
- 1:10:37balik tidur ke kamar setelah dia lihat
- 1:10:39sosok itu yang dia dibuat nyenyak kali
- 1:10:41tidurnya itu
- 1:10:42Mas Edo kan sudah tidur duluan tuh Wak.
- 1:10:45Nah Mas Edo ngerasa ketindihan lagi. Mas
- 1:10:47Edo coba lawan ketindihan itu, dia paksa
- 1:10:50lah badan sama matanya bangun berhasil
- 1:10:53rupanya Wak. Tapi begitu mata itu
- 1:10:54terbuka dihadapannya Mas Edo enggak di
- 1:10:57tindihan dia ya di hadapannya Mas Edo.
- 1:11:00Mas Edo ngelihat ada
- 1:11:02sosok cewek rambut panjang menjuntai,
- 1:11:04[musik]
- 1:11:04mukanya merah, matanya keluar melotot,
- 1:11:08lidahnya menjulur panjang nyamping, dan
- 1:11:11sosok itu senyum.
- 1:11:14Katanya gitu. Persis kayak apa yang
- 1:11:16ditengok sama Dimas di malam sebelumnya,
- 1:11:17kan? Dengan sisa-sisa tenaga yang ada,
- 1:11:19kaburlah Mas Edo. "Huh,
- 1:11:21hah, tolong, tolong ada hantu, tolong."
- 1:11:23Dia keluar kamar. Waktu nyampe di luar
- 1:11:25kamar, si sosok cewek tadi udah pindah
- 1:11:27keluar, Wak, dan bergelantungan di kusen
- 1:11:30pintu dapur juga.
- 1:11:33[tertawa]
- 1:11:36Makin panik lagi Mas Edo, kan? Baru dia
- 1:11:38lari ke kamarnya Dimas. "Dimas, Dimas,
- 1:11:40Dimas, bukain pintu, Dimas." Dimas
- 1:11:42digedor beberapa menit enggak
- 1:11:43keluar-keluar, padahal sosok itu masih
- 1:11:45terlihat "Hahaha."
- 1:11:46[tertawa]
- 1:11:47Masih kayak gitu. Makin lama makin
- 1:11:49melengking. Dimas enggak buka pintu,
- 1:11:50lari dia ke ruang tamu, kan, Wak. Baru
- 1:11:52nyampe di sana, udah ada lagi sosok tuh
- 1:11:54di
- 1:11:56Langsung gitu lagi. Di ruang tamu, dia
- 1:11:57berlari lagi masuk ke kamar mandi. Masuk
- 1:12:00kamar mandi, baru kunci, nengok ke
- 1:12:02belakang, "Hahaha."
- 1:12:03Ada lagi dia di situ. Keluar lagi Mas
- 1:12:05Edo dari kamar mandi, Wak. Dia balik ke
- 1:12:07ruang tengah. Belum sempat dia berhenti
- 1:12:09ke ruang tengah tuh, udah ada lagi sosok
- 1:12:11tuh di ruang tengah, Wak. Eh, jadi mau
- 1:12:13ke mana pun Mas Edo lari, sosok tuh udah
- 1:12:15ada duluan di depan mata dia. Dikejar
- 1:12:18Mas Edo, Wak. Akhirnya,
- 1:12:20karena Mas Edo udah enggak punya tenaga
- 1:12:22lagi,
- 1:12:23pasrah dia. Duduk aja dia di ruang tamu
- 1:12:26tuh. Enggak ditengok ke situ memang dia
- 1:12:27kayak itu, kayak apa yang Dimas tengok
- 1:12:29waktu dia buka pintu, ah, kayak gitulah
- 1:12:31posisi yang
- 1:12:32Mas Edo waktu pertama kali duduk, ah,
- 1:12:34kayak gitu. Dia
- 1:12:38diatur napas aja, Wak. Dan sosok itu
- 1:12:40masih ada di dekat situ, masih ada di
- 1:12:42ruang tamu, tepat di tempat dia berdiri
- 1:12:43pertama kali, masih di situ. Cuman dia
- 1:12:45enggak ngapa-ngapain Mas Edo, tapi
- 1:12:46suaranya terus keluar. Bayangin, Wak,
- 1:12:49dari tengah malam tuh, aku digituin di
- 1:12:51kata Mas Edo habis dengar cerita itu
- 1:12:53baru
- 1:12:54merinding badan aku Nadia, karena
- 1:12:56ternyata Mas Edo juga ngelihatin sosok
- 1:12:58seram yang sama kayak Dimas tengok ya
- 1:13:00kan. Dimas mikir ini jangan-jangan
- 1:13:03kenapa aku jadi ngantuk dan nyenyak kali
- 1:13:06tidurnya malam itu? Bisa jadi mungkin
- 1:13:08itu ulah si muka merah ini. Dia sengaja
- 1:13:11bikin Dimas terlelap enggak sadar ya
- 1:13:13kan? Biar apa?
- 1:13:15Biar Dimas enggak nolongin Mas Edo.
- 1:13:17Nah, di sini
- 1:13:20Dimas baru ingat. Sebelumnya dia belum
- 1:13:21ngeh Wa. Sosok itu gelantungan di mana?
- 1:13:24Di kusen pintu dapur. Mbak Santi
- 1:13:28mengakhiri hidupnya di situ. Baru si
- 1:13:31Dimas tuh baru ngeh di situ. Apa mungkin
- 1:13:32sosok Mbak Santi ini gentayangan ya?
- 1:13:36Apa mungkin itu sosoknya Mbak Santi ya?
- 1:13:39Tapi kenapa dia gangguin aku sama Mas
- 1:13:41Edo? Dan kenapa juga wujudnya bisa
- 1:13:44semenyeramkan itu? Di titik itu Dimas
- 1:13:46nganggap semua gangguan yang terjadi
- 1:13:48bukan lagi cuman gangguan penunggu rumah
- 1:13:50random biasa Wa. Tapi mungkin ada
- 1:13:52sesuatu di rumah ini yang bikin sosok
- 1:13:55yang diduga adalah arwahnya Mbak Santi
- 1:13:57itu gentayangan. Tapi itu baru dugaan
- 1:14:00aku Nadia. Aku juga enggak enak kalau
- 1:14:02ngomong Mbak Santi gentayangan ke Mas
- 1:14:04Edo ya kan? Takutnya Mas Edo kesinggung.
- 1:14:06Makin kepikiran lagi. Aku juga ada
- 1:14:08dengar tuh kisah si Fajar, kisah Rizki,
- 1:14:11kisah Bapak Rizki yang ada di sana kan
- 1:14:12aku yang ada di Kabupaten B orang tuh di
- 1:14:14Kampung A. Waktu itu kami belum tahu
- 1:14:15apa-apa. Kami belum sama-sama
- 1:14:17bercerita. Jadi yang bisa Dimas lakukan
- 1:14:19saat itu cuman menenangkan Mas Edo aja
- 1:14:21Mas. Udah Mas, udah enggak usah terlalu
- 1:14:23dipikirin. Mungkin Mas Edo lagi
- 1:14:24kecapekan. Makanya sampai digangguin
- 1:14:26kayak gitu. Ya sekarang Mas Edo banyakin
- 1:14:27doa aja. Semoga sosok itu udah enggak
- 1:14:29pernah muncul lagi ya. Udah Mas mandilah
- 1:14:30Mas biar segar. Terus habis itu makan.
- 1:14:32Aku beliin sarapan. Mas Edo
- 1:14:33ngangguk-ngangguk aja Nak. Jadi cerita
- 1:14:34soal
- 1:14:36sosok yang bergelantungan di dapur itu
- 1:14:38pun berhenti sampai di situ.
- 1:14:41Hari-hari pun berlalu. Pelan-pelan
- 1:14:43gangguan yang menimpa Dimas pun mulai
- 1:14:45hilang.
- 1:14:46Dia udah enggak pernah lagi tuh, Wa,
- 1:14:47ditampakin sama sosok cewek muka merah
- 1:14:49itu, kan. Tapi, berbanding terbalik sama
- 1:14:52Dimas, gangguan yang menimpa Mas Edo
- 1:14:54justru makin ekstrem.
- 1:14:57Sejak kejadian lihat sosok itu,
- 1:14:59Dimas melihat perilaku Mas Edo jadi
- 1:15:01makin aneh. Entah apa yang dia alami,
- 1:15:04yang jelas Mas Edo jadi sering ngelamun
- 1:15:06berjam-jam di ruang tamu, ngelamun
- 1:15:09berjam-jam di ruang tengah. Dia kayak
- 1:15:11lagi memperhatikan sesuatu yang tidak
- 1:15:13kasat mata. Kadang dia ketawa sendiri,
- 1:15:15Nadia. Kadang dia juga menjerit-jerit
- 1:15:18histeris ketakutan. Dan juga tiap malam,
- 1:15:21Dimas sering kebangun gegara dia
- 1:15:22mendengar suara berisik dari kamarnya
- 1:15:25Mas Edo. Bukan suara orang ngigau atau
- 1:15:27ketindihan, Wa.
- 1:15:28Tapi kayak suara Mas Edo yang nangis.
- 1:15:31Sambil dia teriak,
- 1:15:33"Ampun, ampuni saya, ampun. Jangan
- 1:15:36sakiti saya." Suara itu pilu kali,
- 1:15:39Nadia. "Tapi aku enggak bisa masuk buat
- 1:15:40nolongin, pintunya selalu dikunci." Dan
- 1:15:42keanehan itu juga berlanjut di mana
- 1:15:44Dimas melihat kondisi fisik Mas Edo
- 1:15:46makin hari makin memprihatinkan. Matanya
- 1:15:48udah yang pertama kali ku tengok waktu
- 1:15:49balik itu cekung, karena dia ini makin
- 1:15:51cekung lagi. Mukanya pucat pasi,
- 1:15:53badannya kurus kering.
- 1:15:55Dan dia juga lebih banyak rebahan di
- 1:15:57kamar. Orang tuanya Mas Edo yang namanya
- 1:15:58Pak Ali sama Bu Ika, Wa, juga udah
- 1:16:01ngebawa Mas Edo ini berobat. Tapi
- 1:16:03anehnya tidak ada satupun dokter yang
- 1:16:05bisa mendiagnosa penyakitnya Mas Edo.
- 1:16:07Semua [musik] fisik, semua organ dalam
- 1:16:08Mas Edo itu normal. Mas Edo juga sempat
- 1:16:10dirawat di rumah orang tuanya selama
- 1:16:12beberapa minggu. Dan selama itu pula Mas
- 1:16:14Edo udah enggak pernah lagi jualan buah
- 1:16:16di pasar, Wa. Semuanya udah dipasrahkan,
- 1:16:18diserahkan ke Dimas yang mengelola. Pun
- 1:16:20Dimas juga harus tinggal di rumah Mas
- 1:16:22Edo sendirian. Tapi anehnya, Nan,
- 1:16:24pas Mas Edo enggak ada di rumah itu,
- 1:16:26suasana rumahnya berubah drastis. Hawa
- 1:16:29rumahnya yang tadinya dingin, tadinya
- 1:16:31pengap kali, kan, kalau enggak dingin
- 1:16:33pengap, itu berubah jadi tenang, jadi
- 1:16:35sejuk dan enggak pernah ada gangguan
- 1:16:36apa-apa. Tapi begitu Mas Edo balik ke
- 1:16:39rumah itu,
- 1:16:40udara di dalam rumah berubah lagi tuh,
- 1:16:42jadi panas, jadi pengap, jadi dingin,
- 1:16:43kalau dingin-dingin kali. Seolah-olah
- 1:16:45dia menghuni rumah itu. Dan lagi-lagi
- 1:16:46setiap malam Dimas sering juga dengar
- 1:16:48suara-suara tangisan dari kamar Mas Edo.
- 1:16:49Sering. Dan kondisi ini langsung bikin
- 1:16:51aku sudah enggak bisa positive thinking
- 1:16:52lagi, Wak. Ini kayaknya bukan rumah
- 1:16:54inilah yang bermasalah. Tapi mungkin
- 1:16:55memang ada sesuatu yang sudah dilakukan
- 1:16:56sama Mas Edo sampai akhirnya berubah
- 1:16:58jadi rumah ini berubah jadi sarang itu,
- 1:17:01begitu. Dimas langsung mengaitkan
- 1:17:02lagilah sama kepergian Mbak Santi.
- 1:17:04Dicocokin, kenapa setelah kepergian Mbak
- 1:17:06Santi kayak gini, ya kan. Habis itu
- 1:17:08kenapa malam-malam pernah dengar dia
- 1:17:10minta tolong si Mas Edo-nya. Ini pasti
- 1:17:12ada kaitannya lah. Dan Dimas akhirnya
- 1:17:15menceritakanlah semua yang dia tahu
- 1:17:18ke Wawa. Pertama ke Rizki.
- 1:17:21Semua diceritakan dari awal sampai akhir
- 1:17:23kok diceritakan Nadia. Dengar itu, Rizki
- 1:17:25juga otomatis langsung mengaitkan semua
- 1:17:26kejadian ini, kejadian yang terjadi di
- 1:17:28kampung A. Hah? Kan dia yang ada di
- 1:17:30kampung A tuh. Sama kejadian yang
- 1:17:31menimpa Edo di Kabupaten B. Hah, tuh
- 1:17:34kan.
- 1:17:35Aku juga merasa kepergian Mbak Santi ini
- 1:17:36ada hubungannya sama Mas Edo lah, San.
- 1:17:38Dan dugaan Dimas sama Rizki ini pun
- 1:17:40menemukan titik terang.
- 1:17:42Karena beberapa bulan setelah
- 1:17:44kepergiannya Mbak Santi,
- 1:17:45ada satu rahasia besar Mas Edo yang
- 1:17:47pelan-pelan mulai terungkap.
- 1:17:49Dan semua itu berawal dari kedatangan
- 1:17:52Rizki bersama temannya yang lain yang
- 1:17:56bernama Ahmad ke rumahnya Mas Edo.
- 1:18:04Nah, jadi Wak, 5 bulan pasca
- 1:18:06kepergiannya Mbak Santi, Rizki yang lagi
- 1:18:08ada di Kabupaten B itu, dimintain tolong
- 1:18:10lagi sama Pak Sabar, bapaknya Mbak
- 1:18:12Santi. "Ki, besok waktu pulang kampung,
- 1:18:15Bapak nitip tolong ambilin boneka sama
- 1:18:16baju-bajunya Tata yang masih ada di
- 1:18:18rumah Mas Edo lah." Kata dia kayak gitu.
- 1:18:19Nah, permintaan ini sebenarnya sudah
- 1:18:21diminta sama Pak Sabar dari lama Nadia.
- 1:18:23Tapi aku memang belum sempat lagi mampir
- 1:18:25ke rumahnya Mas Edo. Ditambah lagi
- 1:18:26setelah dengar cerita dari Dimas soal
- 1:18:28yang tadi itu kan, perasaan Rizki jadi
- 1:18:29mulai enggak enak Wak tentang rumah itu.
- 1:18:31Jadi dia makin nundalah pergi ke
- 1:18:34rumahnya Mas Edo. Tapi suatu sore
- 1:18:35gantian Fajar, sahabatnya yang mendesak
- 1:18:38si Rizki. Ki, hari ini kan jadwal kau
- 1:18:40balik ke rumah kan? Mampirlah bentar ke
- 1:18:42rumah Mas Edo Ki, kasihan Tata. Dia mau
- 1:18:44main sama boneka kesayangannya.
- 1:18:46Baju-baju Tata juga masih banyak ada di
- 1:18:48sana. Singgahlah ya Ki, kata si Fajar.
- 1:18:50Kan enggak enak aku jadinya Nat.
- 1:18:52Akhirnya aku bilanglah oh iya Jar, nanti
- 1:18:54aku mampir. Ngalahlah si Rizki kan.
- 1:18:56Rizki packinglah barang-barang dari
- 1:18:57kosannya, terus keluar kosan mau
- 1:18:59berangkat. Tapi sebelum ke rumahnya Mas
- 1:19:01Edo, Rizki ini sebenarnya di hari itu
- 1:19:04sudah janjian sama kawan SMA-nya yang
- 1:19:05lain namanya Ahmad. Mereka mau pulang
- 1:19:08kampung bareng. Ahmad ini orang kampung
- 1:19:10A juga. Nah, Ahmad ini dia ngajar di
- 1:19:13pondok pesantren di luar kotanya
- 1:19:15Kabupaten B. Dan di hari itu jadwalnya
- 1:19:17pulang kampung. Nah, rumah Ahmad ini
- 1:19:19searah Wak sama rumahnya Rizki cuman
- 1:19:20beda kecamatan aja kami Nat ya. Jadi
- 1:19:22mereka janjian mau pulang sama-sama tuh
- 1:19:24kan. Nah, jadi urutannya dari kosan ke
- 1:19:26stasiun dulu jemput si Ahmad. Terus dari
- 1:19:29sana baru mampir ke Mas Edo. Nah, di
- 1:19:32situ Rizki juga bilang Mat nanti mampir
- 1:19:34bentar ke rumah Mas Edo ya. Kau mau
- 1:19:35ngapain? Ya aku mau ngambil barangnya
- 1:19:37Tata keponakannya si ini, keponakannya
- 1:19:39si Fajar. Tahu kau Fajar kan? Nah, ini
- 1:19:41mau ngambil barang-barangnya Tata. Mas
- 1:19:42Edo itu bapaknya gitu. Dah. Oh iya
- 1:19:44enggak apa-apa. Jalanlah mereka mampir
- 1:19:46dulu rumahnya Mas Edo kan. Waktu nyampe
- 1:19:48di rumah Mas Edo Nat itu sudah sekitar
- 1:19:49jam 05.30 sore.
- 1:19:51Masuk dipersilakanlah masuk sama ibunya
- 1:19:53Mas Edo. Bu Ika lagi ada di rumah. Nah,
- 1:19:56di Mas waktu itu lagi ada di lapak. Jadi
- 1:19:57yang nungguin Mas Edo di rumah cuman Bu
- 1:19:59Ika aja. Dah, masuklah kami kan ke ruang
- 1:20:01tamu. Berdua nih sama Ahmad. Dari awal
- 1:20:03masuk ke rumah itu Nat ya aku sudah
- 1:20:06kalau pandangan matanya Ahmad itu malah
- 1:20:09ngelihatin ke
- 1:20:10arah dapur terus, dapur rumahnya Mas
- 1:20:13Edo. Enggak lama dia masih natap ke
- 1:20:15dapur
- 1:20:21senyum si siapa ini? Si Ahmad.
- 1:20:24Senyum dia kan Nat. Terus enggak lama
- 1:20:26matanya kan ke kanan nih. Terus waktu
- 1:20:27matanya agak ke kiri
- 1:20:32berubah serius. itu tatapannya langsung
- 1:20:34tajam gitu. Seolah-olah kayak ada
- 1:20:36sesuatu yang mengganggu pandangannya di
- 1:20:38pintu dapur. Pertama dia senyum,
- 1:20:40bergeser dikit
- 1:20:42berubah serius. Merinding aku di situ
- 1:20:44Nat, kata si Rizki kan.
- 1:20:46Soalnya aku tahu betul Ahmad tuh dari
- 1:20:48kecil memang orangnya peka. Bahkan Ahmad
- 1:20:51ini juga bisa merukiah, bisa melakukan
- 1:20:52pembersihan ilmu-ilmu gaib. Karena
- 1:20:54itulah waktu aku melihat gelagat Ahmad
- 1:20:55sudah aneh waktu masuk ke suatu tempat,
- 1:20:57ini bisa jadi karena Ahmad melihat
- 1:20:59sesuatu tidak kasat mata yang energinya
- 1:21:01pasti negatif. Karena kalau positif dia
- 1:21:03slow-slow saja Nat ya. Cuma di situ aku
- 1:21:04belum mau nanya apa-apa kan. Perhatian
- 1:21:06kami pun teralihkan waktu Bu Ika
- 1:21:08duduklah di dekat Rizki sambil bawain
- 1:21:10minum. Nina minum dulu gitu. Terus aku
- 1:21:13langsung buka omongan, Bu saya mau
- 1:21:15ngambil barang-barangnya Tata, kata
- 1:21:16kita. Oh iya, Ibu mau siapin dikit lagi
- 1:21:19mau selesai. Dah Ibu Ika pergilah ini ke
- 1:21:21kamar buat nyiapin barang-barangnya Tata
- 1:21:23yang masih ketinggal di situ kan.
- 1:21:24Sementara Ahmad sama Rizki izin, Bu kami
- 1:21:26mau salat magrib dulu ya di masjid gitu.
- 1:21:28Pergi mereka, sudah masuk salat magrib.
- 1:21:30Sudah salatlah kami Nat.
- 1:21:32Setelah salat magrib, di perjalanan pas
- 1:21:34mau balik ke rumahnya Mas Edo itu, Ahmad
- 1:21:37tiba-tiba nanya
- 1:21:39Ki
- 1:21:40hah
- 1:21:42ibunya Tata tuh sudah enggak ada ya?
- 1:21:44Katanya gitu. Apa enggak terkejut aku
- 1:21:47Nadia, soalnya aku tuh enggak pernah
- 1:21:48nyeritain apapun soal keluarganya Mas
- 1:21:50Edo ke Ahmad. Orang Ahmad juga baru
- 1:21:52pertama kali datang ke rumah Mas Edo
- 1:21:53kan. Kok dia bisa tahu ibunya Tata,
- 1:21:55which is siapa Mbak Santi sudah
- 1:21:57meninggal. Kujawablah iya Wak, namanya
- 1:21:59Mbak Santi. Dia meninggal sekitar 5
- 1:22:02bulan yang lalu lah. Kenapa emangnya?
- 1:22:04Tadi aku lihat ada sosok perempuan di
- 1:22:07dapur Wak.
- 1:22:08Mungkin itu Mbak Santi kali ya, kata
- 1:22:10dia. Oh iya
- 1:22:12gimana ceritanya? Jadi tadi tuh pas aku
- 1:22:15masuk dalam rumah kan bisa langsung
- 1:22:16lihat dapur kita kan.
- 1:22:18Aku lihat ada
- 1:22:20sosok perempuan muda, mukanya cantik Ki.
- 1:22:23Kulitnya putih, rambutnya panjang lurus
- 1:22:27senyum dia sama aku, sampai kelihatan
- 1:22:29giginya. Gingsul giginya pun aku bisa
- 1:22:31lihat. Dia tegak aja gitu di dapur. Dia
- 1:22:33ngelihat ke arah aku. Tapi raut mukanya
- 1:22:35[musik]
- 1:22:36pertamanya tuh senyum, cuman kayak
- 1:22:41kayak mau nyampein sesuatu gitu. Nah,
- 1:22:43terus belum lagi si Ahmad ini bercerita,
- 1:22:45Wak. Kupotong lah dia.
- 1:22:47Fix, Mat. Itu yang kau tengok Mbak
- 1:22:49Santi.
- 1:22:51Mbak Santi memang punya gigi gingsul,
- 1:22:53Wak, katanya.
- 1:22:54Hmm, kata Ahmad bilang lagi,
- 1:22:56aku pribadi sih enggak percaya itu
- 1:22:57arwahnya Mbak Santi ya, Wak. Mungkin dia
- 1:23:00jin yang nyerupain Mbak Santi.
- 1:23:02Tapi jinnya baik sih. Dia enggak mau
- 1:23:04gangguin siapapun. Tapi, tapi apa, Wak?
- 1:23:07Kata si Rizki.
- 1:23:09Ada satu sosok lagi
- 1:23:12di dekatnya Mbak Santi.
- 1:23:15Sosoknya perempuan juga, Wak.
- 1:23:17Tapi mukanya merah, matanya keluar,
- 1:23:20lidahnya menjulur panjang, kukunya kayak
- 1:23:22cakar gitu.
- 1:23:23Dan sosok itu aku tengok, dia kayak mau
- 1:23:25nerkan Mbak Santi. Dengar itu aku
- 1:23:27langsung merinding aku lah dia. Ih.
- 1:23:29Sosok yang sosok kedua ini, sosok yang
- 1:23:31dia tengok sama si Ahmad ini persis
- 1:23:33kayak apa yang diceritain sama Dimas
- 1:23:34kemarin ya kan. Aku pun enggak pernah
- 1:23:36sama sekali cerita soal hantu-hantu
- 1:23:37dekat rumahnya Mas Edo tuh. Ngapain aku
- 1:23:38cerita sama Ahmad. Kok bisa sama persis.
- 1:23:41Terus juga pertanyaannya sekarang,
- 1:23:42kenapa sih sosok itu mau nerkan Mbak
- 1:23:45Santi. Dia memang ngincar Mbak Santi
- 1:23:48kah? Apa gimana? Belum sempat aku nanya
- 1:23:51itu, Ahmad tiba-tiba nanya balik ke aku.
- 1:23:55Kalau kau lihat sosok perempuan yang
- 1:23:57mirip sama Mbak Santi tadi, kau berani
- 1:24:00enggak? Katanya. Digituin aku lah. Ih,
- 1:24:02aku tuh enggak tahu dapat keberanian
- 1:24:03dari mana ya. Langsung kujawab.
- 1:24:07Ya, berani lah aku. Kan ada kau di sini.
- 1:24:09Bilang gitu. Masih dalam perjalanan tuh
- 1:24:10kami. Kan masih jalan kaki. Ahmad pun
- 1:24:12dah diam dulu.
- 1:24:14Dia pelan-pelan
- 1:24:17Tarik napas, Ki.
- 1:24:19Istigfar. Astagfirullahalazim.
- 1:24:22Dah.
- 1:24:23Tuh.
- 1:24:24Dia tunjuklah ke arah pohon pisang. Ada
- 1:24:27di samping rumahnya Mas Edo tuh Nat ada
- 1:24:29aku tengok kan.
- 1:24:30Ih di situ Nat ada sosok cewek,
- 1:24:33perempuan. Dia lagi duduk di atas batu.
- 1:24:36Ada batu di situ.
- 1:24:38Pucat muka perempuan tuh Nat rambutnya
- 1:24:40terurai.
- 1:24:41Dari senyumnya [musik]
- 1:24:43itu aku udah kenal. Mbak Santi itu.
- 1:24:48Mbak Santi.
- 1:24:52Gitu kan. Dia natap ke aku. Aku nengok
- 1:24:53Nat. Waktu aku tengok tuh dia gini.
- 1:24:58Bibirnya bergerak. Sosok itu kayak lagi
- 1:25:00ngomong. Tapi aku enggak bisa dengar
- 1:25:01karena memang jaraknya adalah 10 meteran
- 1:25:03gitu. Tapi aku tahu itu Santi. Mulutnya
- 1:25:05bergerak aku enggak bisa dengar
- 1:25:06suaranya. Tapi tiba-tiba terdengar bisik
- 1:25:09di telingaku Nat.
- 1:25:10Ki
- 1:25:11temanmu bisa nolong aku.
- 1:25:16Mat. Ahmad tepuk lagi.
- 1:25:18Istigfar Wa.
- 1:25:20Astagfirullahalazim.
- 1:25:22Hilang habis tuh sosok tuh. Enggak ada
- 1:25:23lagi di dekat sana kan. Mat
- 1:25:25udah berkaca-kaca mataku di situ Nat.
- 1:25:27Itu memang aku tengok. Ahmad diam juga.
- 1:25:29Di situ Rizki makin percaya kalau apa
- 1:25:31yang dilihat sama Ahmad di rumahnya atau
- 1:25:33di dapurnya Mas Edo tadi itu memang
- 1:25:34sosok mirip sama Mbak Santi. Tapi Rizki
- 1:25:36masih enggak ngerti nih kenapa sosok itu
- 1:25:38minta tolong kawanmu yang bisa nolong
- 1:25:40aku kan itu katanya. Dia minta tolong
- 1:25:41karena dikejar-kejar sama sosok kedua
- 1:25:44itu atau dia mau minta tolong hal lain
- 1:25:46nih. Dia minta tolong apa Mat? Aku tanya
- 1:25:48sama si Ahmad. Jawaban si Ahmad pun
- 1:25:49sama. Aku juga enggak tahu Ki.
- 1:25:52Mungkin dia mau minta tolong karena ada
- 1:25:54urusan yang belum selesai selama dia
- 1:25:55masih hidup. Wallahualam aku belum tahu.
- 1:25:58Di sini Rizki makin ingat lagi lah sama
- 1:26:01kejanggalan-kejanggalan yang terjadi
- 1:26:02beberapa bulan terakhir. Semua
- 1:26:04kejanggalan yang dia tahu. Akhirnya aku
- 1:26:06ceritakan semua sama Ahmad. Nah karena
- 1:26:07merasa Ahmad sudah menjadi bagian dari
- 1:26:09rangkaian kejanggalan yang aku tahu ya
- 1:26:11kan. Aku ceritain semua. Semuanya ini
- 1:26:13sekalian aku nge-recall ke kalian ya.
- 1:26:14Mbak Santi menghilangkan nyawanya
- 1:26:16sendiri ya kan. Teror di kampung Ahmad
- 1:26:19setelah Mbak Santi meninggal, Dewi
- 1:26:21yang dirasuki sama Mbak Santi, bapaknya
- 1:26:23Rizki yang dilihatin sama sosok mirip
- 1:26:25Mbak Santi pakai mukena, kejadian yang
- 1:26:27menimpa Mbak Maya sahabatnya, sosok
- 1:26:29menyeramkan yang ditengok sama si Dimas
- 1:26:30sampai kejadian yang menimpa Mas Edo
- 1:26:33yang bikin dia sakit-sakitan.
- 1:26:35Diceritakan semua, aku ceritain Ahmad.
- 1:26:36Dan dari semua cerita itu
- 1:26:39Rizki nge-highlight pesan dari sosok
- 1:26:42Mbak Santi yang berkali-kali nyebut nama
- 1:26:45Mas Edo. Di akhir aku bilang kayak gini,
- 1:26:47ini kayaknya semuanya ada kaitannya sama
- 1:26:49Mas Edo. Mat, apalagi kata Dimas, sosok
- 1:26:53itu gangguin Mas Edo terus. Dari awal
- 1:26:55aku pun sebenarnya sudah curiga sama Mas
- 1:26:57Edo ini. Kayaknya yang bikin Mbak Santi
- 1:26:59menghilangkan nyawanya sendiri, nekat
- 1:27:01menghilangkan nyawa sendiri, ya itu
- 1:27:03gara-gara itu mungkin emang dia di KDRT
- 1:27:05atau mungkin ada masalah lain yang lebih
- 1:27:06serius. Makanya Mbak Santi enggak tahan
- 1:27:08menghilangkan nyawanya. Cuma keluarga
- 1:27:10Mbak Santi enggak ada yang percaya, Mat.
- 1:27:15Aku juga punya feeling gitu, tadi kau
- 1:27:17bilang apa? Mas Edo sakit misterius kan?
- 1:27:20Cobalah aku lihat dulu kondisinya.
- 1:27:23Balik lah orang itu. Pertama kan enggak
- 1:27:25tahu Mas Edo memang ada dalam rumah itu.
- 1:27:26Tapi kan Ahmad enggak tahu Mas Edo
- 1:27:27kenapa apa segala macam. Tapi setelah si
- 1:27:29Rizki bilang Mas Edo sakit, ya sudah aku
- 1:27:31tengok dulu dia. Sampai di rumah Mas Edo
- 1:27:33enggak langsung balik kami, Nat.
- 1:27:34Kami izin lah ke Bu Ika, Bu kami boleh
- 1:27:37jenguk Mas Edo enggak, Bu? Mas Edo ada
- 1:27:38di kamar kan, Bu gitu. Oh iya boleh,
- 1:27:40Nak, masuklah. Begitu masuk ke kamar,
- 1:27:42itu Nat yang kurasain kata Rizki, "Aura
- 1:27:45nya gelap kali. Itu bukan karena
- 1:27:47lampunya yang redup, Bu ya, tapi energi
- 1:27:49di dalam kamar itu
- 1:27:50kayak negatif gitu, enggak enak, pengap,
- 1:27:52ngawang gitu loh." Nah, Ahmad sama Rizki
- 1:27:54ngelihat Mas Edo enggak lagi
- 1:27:56ngapa-ngapain, Wa. Dia duduk di atas
- 1:27:58kasur, tatapan matanya
- 1:28:00kosong dan dia kelihatan kayak orang
- 1:28:02linglung gitu. Tanpa ditanya Bu Ika,
- 1:28:05ibunya Edo, langsung bilang,
- 1:28:07"Sudah berhari-hari, Nak, dia kayak
- 1:28:08gini.
- 1:28:09Sudah kami periksain dia ke mana-mana,
- 1:28:11enggak sembuh-sembuh katanya. Akhirnya
- 1:28:13Ahmad, Ahmad nyamperinlah Mas Edo.
- 1:28:16Dia keluarin botol minyak sama madu dari
- 1:28:18tasnya, terus Ahmad olesinlah minyak itu
- 1:28:20ke tengkuknya Mas Edo.
- 1:28:23Terus Ahmad juga minta tolong sama Bu
- 1:28:24Ika, Bu tolong siapin air hangat
- 1:28:25dicampur madu dikit Bu gitu kan. Dah
- 1:28:27disiapin sama Bu Ika, dibaca-bacainlah
- 1:28:30doa, Mas minum kata si Ahmad. Diminum
- 1:28:32sama Mas Edo, nurut aja dia. Setelah
- 1:28:34selesai, Ahmad letakkan telapak
- 1:28:37tangannya di atas kepalanya Mas Edo.
- 1:28:40Ahmad lantunkanlah ayat-ayat suci
- 1:28:42Alquran kan, terus enggak lama Ahmad
- 1:28:44tepuk tuh badannya Mas Edo.
- 1:28:47[mendengus]
- 1:28:50Pergi.
- 1:28:51Pergi.
- 1:28:53Keluar kau.
- 1:28:54Keluar, entah dapat energi dari mana
- 1:28:56nanti tuh Mas Edo yang kayak tadi enggak
- 1:28:57ada tenaga sama sekali.
- 1:28:59[berteriak]
- 1:28:59Lepas
- 1:29:00kata dia kayak gitu. Itu badan Mas Edo
- 1:29:02gemetar, gemet sampai aku sama Bu Ika
- 1:29:04harus pegangin. Nah habis itu Mas Edo
- 1:29:05ini ngomong pakai bahasa yang tidak aku
- 1:29:07sama Bu Ika pahami Nak, cuma Ahmad yang
- 1:29:09pahami mungkin. Terus Ahmad makin
- 1:29:10dikencangin lagi bacaan kursinya kan.
- 1:29:12Audzubillahiminasyaitonirojim
- 1:29:13digitu-gitui terus, Mas Edo juga ah
- 1:29:15panas
- 1:29:16[berteriak]
- 1:29:16panas panas. Sampailah beberapa saat
- 1:29:18kemudian badan Mas Edo yang tadinya
- 1:29:21badannya kaku tadi tuh Wak,
- 1:29:22pelan-pelanlah.
- 1:29:25Nah gitu, baliklah normal lah. Mas Edo
- 1:29:27Wak baringkan Wak, dibaringkanlah ke
- 1:29:29tempat tidur sementara Ahmad
- 1:29:32dia [mendengus] enggak ngomong apa-apa
- 1:29:33ke Bu Ika soal apa yang sebenarnya
- 1:29:35terjadi
- 1:29:36tapi pas mau pamit pulang dan keluar
- 1:29:39dari kamar itu
- 1:29:41sambil tatap-tatapan sama Mas Edo, Mas
- 1:29:43Edo kan juga ngelihatin kan
- 1:29:46ngelihat Ahmad, Ahmad ngomong kayak
- 1:29:48gini, Mas
- 1:29:50jangan pernah menyekutukan Allah Mas.
- 1:29:53Itu.
- 1:29:55Jangan pernah menyekutukan Allah, dengar
- 1:29:58itu. Bu Ika sama Rizki langsung bingung
- 1:30:00tuh kami pandang-pandangan, apa
- 1:30:02maksudnya menyekutukan Allah Nak dia?
- 1:30:04Emang Mas Edo sudah ngelakuin apa? Nah
- 1:30:06ini nih menyekutukan Allah ini sama
- 1:30:08sekali tidak terlintas di pikiran aku
- 1:30:10Nat, karena aku mikirnya Mas Edo cuman
- 1:30:13KDRT ke Mbak Santi, terus makanya Mbak
- 1:30:15Santi menghilangkan nyawanya enggak
- 1:30:16tahan sama Mas Edo. Ini kok tiba-tiba
- 1:30:18menyekutukan ya kan? Nah, di tengah
- 1:30:20kebingungan itu Ahmad yang masih
- 1:30:22tatap-tatapan sama Mas Edo lanjut
- 1:30:24ngomong lagi.
- 1:30:26Mas,
- 1:30:27kalau ada dosa yang masih disembunyikan,
- 1:30:30kalau pernah menyakiti seseorang atau
- 1:30:33masih punya janji sama makhluk yang
- 1:30:35dilaknat sama Allah,
- 1:30:38cepat-cepat tobat
- 1:30:40dan selesaikan semuanya ya Mas. Itu lagi
- 1:30:42kata si Ahmad Nadia. Bu Ika entah kayak
- 1:30:44gimana dia mungkin lagi mencerna
- 1:30:45semuanya kan jadi dia tidak berkomentar
- 1:30:47apa-apa dia
- 1:30:48pang bukan pangling ling bukan linglung
- 1:30:50dia bingung. Nah, di sini pun Ahmad
- 1:30:52masih enggak ngejelasin maksudnya apa
- 1:30:53gitu loh dia cuman mau kontak dan cuman
- 1:30:55mau ngomong itu ke Mas Edo aja
- 1:30:57seakan-akannya tapi seolah tahu
- 1:30:59maksudnya setelah digitukan sama Ahmad.
- 1:31:01Mas Edo langsung
- 1:31:08nunduk dia Wak.
- 1:31:09Nunduk. Dia enggak ngomong apa-apa lagi,
- 1:31:12tapi dari sorot matanya Rizki bisa lihat
- 1:31:15kayak ada penyesalan besar dalam diri
- 1:31:18Mas Edo tuh Nat. Kalau memang enggak
- 1:31:19pasti kan dia bantah omongannya Ahmad
- 1:31:21tadi tuh kan. Enggak, Ahmad juga enggak
- 1:31:23nyeritain apa maksud semua ucapannya ke
- 1:31:24Rizki tapi setelah itu Ahmad langsung
- 1:31:27Wak balik kita pamitlah sama si Bu Ika.
- 1:31:30Nah, balik Bu Ika baru kami balik
- 1:31:31kampung tuh ke kampung nah selama
- 1:31:33perjalanan aku pastinya juga penasaran
- 1:31:35kan Nat.
- 1:31:36Aku langsunglah desak Ahmad. Kenapa Man
- 1:31:38tadi kenapa Man?
- 1:31:40Tapi dengan suara yang serius Ahmad
- 1:31:41bilang,
- 1:31:42besok aja aku ceritanya.
- 1:31:44Wak, besok anterin aku ke rumah Bapak
- 1:31:48Ibunya Mbak Santi ya. [musik]
- 1:31:50Itu tiba-tiba. Kalau Ahmad udah seserius
- 1:31:52itu Nadia aku tahu betul ini pasti ada
- 1:31:54masalah besar nih.
- 1:31:55Aku enggak nanya lagi lebih jauh oke
- 1:31:56besok pasti akan dijelaskan sama dia
- 1:31:58semua kan.
- 1:31:59Langsunglah balik anterin Ahmad pulang
- 1:32:00terus waktu dia udah nyampe di rumahnya
- 1:32:03si siapa Rizki langsung ngabarin Fajar
- 1:32:06kan soal si Ahmad soal apa yang terjadi
- 1:32:09di Mas Edo itu kan diceritain "Wa besok
- 1:32:11dia mau datang ke rumahmu, enggak cuman
- 1:32:13sama ke wajah dia mau ketemu sama Ibu
- 1:32:15Bapakmu Pak Sabar sama Bu Nur"
- 1:32:18"Ya bolehlah" kata si Fajar. Nah di situ
- 1:32:20aku jelasin dikitlah latar belakangnya
- 1:32:21si Ahmad ini kan, "Kami satu sekolah nak
- 1:32:23cuman enggak begitu dekat gitu loh waktu
- 1:32:26di sekolahnya tapi waktu udah keluar ini
- 1:32:28aku lebih sering ketokannya sama Ahmad
- 1:32:31Fajar enggak begitu tahu" nah dia bilang
- 1:32:32sekarang dia udah jadi pengajar
- 1:32:34pesantren Wa gitu udah aku kasih tahu
- 1:32:36"Nanti aku kasih tahu duluan ya ke Mamak
- 1:32:38Bapakmu biar nanti waktu Ahmad datang
- 1:32:40Mamak Bapakmu enggak langsung kaget" ya
- 1:32:41lah bolehlah permintaan itu diterimalah
- 1:32:43sama Fajar
- 1:32:45besoknya Rizki nemenin Ahmad ke rumahnya
- 1:32:50Fajar
- 1:32:55pas nyampe di rumah Fajar belum apa-apa
- 1:32:57baru parkir motor aku udah nengok muka
- 1:32:59Ahmad langsung
- 1:33:02itu langsung serius aku paham betul ini
- 1:33:05pasti ada yang enggak beres nih di
- 1:33:07rumahnya Fajar
- 1:33:09rumah Fajar ya bukan rumah Mas Edo rumah
- 1:33:12Fajar udah kayak gitu ekspresi awalnya
- 1:33:13si Ahmad aku belum tanya apa-apa nah dia
- 1:33:15langsung ku ajaklah ku arahkan Ahmad
- 1:33:18masuk ke dalam ketemulah Fajar Pak Subur
- 1:33:20Bu Nur udah standby
- 1:33:22eh udah udah menyambutlah kan
- 1:33:23disuguhkanlah teh dikasihlah cemilan
- 1:33:26udah ngobrollah itu ngobrol Pak
- 1:33:27gini-gini kenalan setelah ngobrolin yang
- 1:33:29ringan-ringan
- 1:33:30Ahmad membuka maksud kedatangannya
- 1:33:34"Jar Pak Bu mohon maaf sebelumnya ya
- 1:33:38saya harus menyampaikan sesuatu soal Mas
- 1:33:40Edo
- 1:33:41menantunya Bapak Ibu dan ini mungkin
- 1:33:44akan membuka luka lama soal kepergiannya
- 1:33:46Mbak Santi
- 1:33:48tapi saya harus ceritakan semuanya"
- 1:33:50ditanyalah sama Pak Sabar "Emang cerita
- 1:33:51apa nak?" "Bapak Ibu mungkin udah tahu
- 1:33:53ya gimana kondisinya Mas Edo belakangan
- 1:33:55Mas Edo tuh bukan sakit medis, Pak.
- 1:33:58Ada yang sedang mengganggu Mas Edo.
- 1:34:00Semalam saya datang, saya merukiah Mas
- 1:34:03Edo, Pak. Saya sempat berinteraksi sama
- 1:34:05makhluk yang selama ini ada di
- 1:34:08sekitarannya Mas Edo. Saya enggak bisa
- 1:34:10ya memastikan semuanya itu fakta, tapi
- 1:34:14dari apa yang saya dengar,
- 1:34:18saya berpikir
- 1:34:19Mas Edo kemungkinan sudah bikin
- 1:34:22perjanjian hitam dengan makhluk halus.
- 1:34:25Saya enggak tahu perjanjian apa yang dia
- 1:34:26buat, tapi setiap perjanjian sama
- 1:34:29makhluk halus itu pasti ada harga yang
- 1:34:32harus dibayar, Pak. Kalau kita nyebutnya
- 1:34:35itu tumbal.
- 1:34:36[musik]
- 1:34:37Kata sosok yang bikin perjanjian sama
- 1:34:39Mas Edo, Mas Edo
- 1:34:41sudah numbalin
- 1:34:43Mbak Santi.
- 1:34:46Anak Bapak Ibu.
- 1:34:48Bagai kesambar petir di siang bolong nah
- 1:34:51dia. Syok langsung semua keluarganya
- 1:34:53Fajar. Pak Sabar langsung tunggu,
- 1:34:55tunggu, tunggu.
- 1:34:56Maksud kamu Edo sengaja jadiin Santi
- 1:35:00tumbal?
- 1:35:01Kok yakin sama apa yang kau bilang ini?
- 1:35:03Udah enggak ngegas dia Nak. Pak Sabar
- 1:35:04kan. Makanya Pak, maaf tadi saya bilang
- 1:35:06apa? Saya sendiri juga belum bisa
- 1:35:08memastikan ini fakta.
- 1:35:09Saya cuman menyampaikan apa yang saya
- 1:35:12dengar waktu proses rukiah semalam. Bu
- 1:35:14Nur langsung nyelip juga. Enggak mungkin
- 1:35:16Nak, enggak mungkin.
- 1:35:17Edo itu suaminya Santi. Mereka punya
- 1:35:20anak. Selama ini
- 1:35:22dia juga baik sama keluarga kami kok.
- 1:35:24Masa iya sih dia tega ngelakuin ini ke
- 1:35:25istrinya sendiri? Aku nyaut Nak, kata si
- 1:35:27Fajar. Iya Man.
- 1:35:28Aku kenal Mas Edo tuh udah lama. Kalau
- 1:35:30cuman dari omongan makhluk yang kau
- 1:35:31dengar waktu rukiah, enggak bisa
- 1:35:33langsung disimpulkan itu betulan lah.
- 1:35:34Meskipun mereka syok bukan main,
- 1:35:36keluarganya Fajar di sini tetap enggak
- 1:35:38serta-merta percaya sama ceritanya Ahmad
- 1:35:40Nak dia. Berpikir ke sana pun enggak ada
- 1:35:42sama sekali. Sementara aku, Rizki,
- 1:35:45aku yang dari awal emang udah curiga
- 1:35:47mungkin Mbak Santi ini menghilangkan
- 1:35:48nyawanya karena lagi ada masalah besar
- 1:35:50sama Mas Edo. Bisa jadi itu karena KDRT
- 1:35:52ya kan? Soalnya aku pernah lihat
- 1:35:53langsung matanya Mbak Santi itu lebam.
- 1:35:55Tapi kalau soal hei
- 1:35:57kenapa kok tiba-tiba Mbak Santi
- 1:35:59dijadikan tumbal nih? Itu aku sama
- 1:36:00sekali tidak pernah berpikir ke arah
- 1:36:02sana. Enggak amat. Lanjut cerita lagi
- 1:36:04sebentar biar saya lanjutkan dulu.
- 1:36:07Dari yang saya lihat
- 1:36:09ini kalian harus dengar ya. Dari yang
- 1:36:11saya lihat Mbak Santi dipilih menjadi
- 1:36:14tumbal.
- 1:36:16Namun
- 1:36:18Mbak Santi meninggal sebelum
- 1:36:22dia sempat dijadikan tumbal. Entah Mbak
- 1:36:26Santi betulan menghilangkan nyawanya
- 1:36:28sendiri atau ada penyebab lain. Itu
- 1:36:31masih belum diketahui. Cuman yang jelas
- 1:36:33karena Mbak Santi meninggal sebelum
- 1:36:37dia dijadikan tumbal, tumbalnya gagal.
- 1:36:40Gagal. Karena gagal, sosok yang sudah
- 1:36:43membuat perjanjian sama Mas Edo balik
- 1:36:45nyerang Mas Edo.
- 1:36:47Itulah kenapa Wak E, Mas Edo jadi
- 1:36:50disakit-sakitan, enggak bisa diobatin.
- 1:36:53Itu yang dapat info itu Ahmad. Dengar
- 1:36:55itu bukan tercerahkan nah dia. Fajar
- 1:36:58malah jadi emosi. Kok kok janganlah
- 1:37:00selalu nuduh Abang berbuat yang
- 1:37:01enggak-enggak ya. Apa buktinya kalau Mas
- 1:37:03Edo itu sudah main ilmu hitam, hah? Dia
- 1:37:04tuh orang baik, Mat. Tapi
- 1:37:07Pak Sabar yang langsung nenangin. Dek,
- 1:37:09entar Dek, jangan emosi dulu. Tahan
- 1:37:11dulu, tahan. Ahmad nimpali lagi.
- 1:37:14Jar, kau dengar dulu. Di luar kejadian
- 1:37:16yang menimpa Mas Edo, sekali lagi aku
- 1:37:19enggak bilang penyebab Mbak Santi itu
- 1:37:20meninggal sudah pasti bukan karena
- 1:37:23menghilangkan nyawanya sendiri ya. Jar,
- 1:37:25Pak, saya cuman menduga kepergiannya
- 1:37:27Mbak Santi itu mungkin ada penyebab lain
- 1:37:30yang belum kita ketahui. Apalagi saya
- 1:37:32juga dengar nih cerita dari Rizki, dulu
- 1:37:35habis apa habis Mbak Santi meninggal kan
- 1:37:37pihak keluarga enggak minta otopsi kan,
- 1:37:39Pak. Iya kan, Bu? Kalian langsung
- 1:37:40percaya ya kan sama omongannya Mas Edo.
- 1:37:42Padahal kalau betul Mbak Santi
- 1:37:44menghilangkan nyawa sendiri harusnya ada
- 1:37:45laporan resminya, Pak. Makanya saya
- 1:37:47sarankan kalau masih ada yang mengganjal
- 1:37:50soal kepergiannya anak Bapak,
- 1:37:51kepergiannya Mbak Santi, lebih baik
- 1:37:53laporkan saja ke polisi biar ada
- 1:37:55penyelidikan lebih lanjut. Itu kata
- 1:37:57Ahmad. Habis Ahmad bilang kayak gitu,
- 1:37:59ini Nak, ditepuknya halus ininya Pak
- 1:38:02Sabar sama
- 1:38:08ditepuk kayak gitu. Aku bisa nengok Nak
- 1:38:09dari mukanya si Fajar tadi kan muka
- 1:38:11emosi kan waktu diginiin.
- 1:38:16Kayak merenung gitu loh. Terus kayak
- 1:38:18seolah-olah
- 1:38:20baru menyadari sesuatu. Pak Sabar yang
- 1:38:22buka omongan duluan.
- 1:38:26Iya juga ya, Dek.
- 1:38:28Kok dulu kita langsung percaya gitu saja
- 1:38:30sama si Edo.
- 1:38:32Kita kan keluarga Santi, Dek. Kita semua
- 1:38:34harusnya tahu.
- 1:38:35Santi itu enggak dangkal pikirannya.
- 1:38:38Dia tahu agama.
- 1:38:40Dia tahu menghilangkan nyawa itu itu
- 1:38:43adalah dosa besar.
- 1:38:47Kenapa kita langsung percaya saja ya
- 1:38:48omongan Edo?
- 1:38:50Langsung kayak gitu ah. Nah, di situ
- 1:38:51Ahmad langsung bilang, "Karena ada
- 1:38:52sesuatu yang Mas Edo kirim di rumah ini.
- 1:38:55Makanya kalian jadi gampang dipengaruhi
- 1:38:57sama Mas Edo. Saya sudah merasakan waktu
- 1:38:59pertama kali saya injak rumah Bapak."
- 1:39:02Ada kiriman ke rumahnya Fajar rupanya,
- 1:39:04Wa. Ada kiriman. Hah? Kiriman apa?
- 1:39:07Nih, biar Bapak Ibu percaya
- 1:39:10saya izin bersihkan rumah ini dulu.
- 1:39:12Silakan ikut. Itu kata Ahmad. Ah, sampai
- 1:39:14di situ, [berdehem] Wa. Mereka masih
- 1:39:15enggak paham nih apa nih maksud
- 1:39:16ucapannya si Ahmad kan.
- 1:39:18Tapi Pak Sabar mengizinkan. Silakan Nak,
- 1:39:20bersihkanlah.
- 1:39:22Ahmad ambil sebotol air dicampur lagi
- 1:39:24minyak, dicampur madu. Sudah.
- 1:39:27Terus dia keliling tiap sudut rumah eh
- 1:39:30Fajar itu sambil melantunkan doa-doa.
- 1:39:32Itu diikuti ya sama Fajar, sama Rizki,
- 1:39:34sama Pak Sabar gitu kan.
- 1:39:36Diiringi, dipercikkanlah ke titik-titik
- 1:39:38tertentu. Enggak lama eh dia bilang,
- 1:39:41"Jar,
- 1:39:42azan."
- 1:39:44Allahu Akbar, Allahu
- 1:39:50Dikumanangkan azan ke beberapa titik
- 1:39:51waktu itu. Nah, setelah semua [musik]
- 1:39:52proses itu selesai,
- 1:39:54Ahmad langsung datang. "Ayo, Pak, ikut
- 1:39:55lagi." Ahmad datanglah ke tiap sudut
- 1:39:58rumahnya Fajar lagi sama Bapak, kan.
- 1:40:01Set, set, set. "Bapak lihat, Pak. Di
- 1:40:03sanalah
- 1:40:04Fajar sendiri yang menemukan ada banyak
- 1:40:07kali, Nadia,
- 1:40:09benda aneh. Gulungan rambut ada.
- 1:40:12Gulungan rambut diikat pakai, eh, diikat
- 1:40:14pakai daun perindu. Ada keris kecil yang
- 1:40:17dibungkus pakai kain putih dan ada
- 1:40:19gulungan kertas yang enggak tahulah itu
- 1:40:20berisi mantra-mantra. Itu sebelumnya
- 1:40:22enggak pernah ada kami tengok
- 1:40:23benda-benda di sekitar rumah." Nah, kata
- 1:40:25si Fajar. "Menurut Ahmad, em,
- 1:40:27benda-benda itulah yang diyakini sebagai
- 1:40:30bentuk kiriman
- 1:40:32dari Mas Edo
- 1:40:34yang bikin keluarganya [musik]
- 1:40:35Fajar ini gampang dipengaruhi sama Mas
- 1:40:39Edo. Itulah kenapa
- 1:40:41mereka ngebela Mas Edo tuh sedemikian
- 1:40:43rupa, kan. Mereka sama sekali enggak ada
- 1:40:45curiga apapun sama Mas Edo. Mas,
- 1:40:47astagfirullahalazim, Pak.
- 1:40:49Astagfirullahalazim, Mas. Sudah ada
- 1:40:50banyak-banyak istigfar, kata si Ahmad.
- 1:40:52Nah, akhirnya dikumpulkanlah benda-benda
- 1:40:54itu dibakar sama Ahmad. Habis itu, Ahmad
- 1:40:56langsung ngasih air, airnya sudah
- 1:40:58dibaca-bacain doa, minum. Dikasih ke
- 1:41:00Fajar, kasih Pak Sabar, dikasih sama Bu
- 1:41:03Nur. Habis minum air itu, Nak, kata
- 1:41:05Fajar,
- 1:41:07langsung mual-mual kami semua. Mama aku
- 1:41:09juga ikut mual. Dua-dua keluar tapi
- 1:41:11enggak ada yang keluar. Buek. Pucat
- 1:41:12langsung muka kami, lemas kami langsung.
- 1:41:15Ahmad langsung datang, dibacainlah
- 1:41:16doa-doa. Sampai perlahan-lahan mual kami
- 1:41:19itu hilang mualnya. "Saya yakin kiriman
- 1:41:21itu sudah ada
- 1:41:23jauh sebelum Mbak Santi meninggal.
- 1:41:26Makanya kalian enggak pernah nentang
- 1:41:27omongannya Mas Edo, kan, dari dulu, kan.
- 1:41:29Tapi ya sudah, insyaallah sekarang
- 1:41:30pengaruh kirimannya sudah enggak ada
- 1:41:31lagi." Dan benar saja, setelah rumahnya
- 1:41:34Fajar itu dibersihkan, sikap dan pikiran
- 1:41:37keluargaku, Nadia kata Fajar. Keluarga
- 1:41:39si Fajar ini perlahan tapi pasti mulai
- 1:41:41berubah.
- 1:41:42[terkesiap]
- 1:41:43Mereka jadi lebih terbuka untuk
- 1:41:45mempertimbangkan ucapan Ahmad, enggak
- 1:41:47seberat sebelum-sebelumnya Wa, termasuk
- 1:41:50sarannya Ahmad untuk menyelidiki lagi
- 1:41:52penyebab pasti dibalik kepergiannya Mbak
- 1:41:55Santi.
- 1:41:58Saat memulai proses penyelidikan Wa, Pak
- 1:42:00Sabar memutuskan untuk belum mau
- 1:42:02melibatkan polisi dulu. "Bapak aku mau
- 1:42:05menyelidiki semuanya diam-diam Na, dan
- 1:42:07keputusan ini kami lakukan setelah kami
- 1:42:09berdiskusi bertiga sama mamaku" kata
- 1:42:11Fajar. Karena ibaratnya gini Wa, di
- 1:42:13titik itu Na, kami sekeluarga baru kayak
- 1:42:16disadarkan.
- 1:42:18Iya kan?
- 1:42:19Kami terpuruk setelah tahu kemungkinan
- 1:42:22dan kejanggalan yang harusnya kami tahu
- 1:42:25dari awal. Kami pikir selama ini Mbak
- 1:42:26Santi benar-benar menghilangkan nyawanya
- 1:42:29sendiri karena keinginannya sendiri,
- 1:42:31tapi setelah tercerahkan itu ibaratnya
- 1:42:34kalian paham kan yang dirasakan Fajar
- 1:42:36kan ibaratnya mereka tuh kayak telat ini
- 1:42:38juga bisa jadi
- 1:42:41luka terbesar juga bagi keluarga mereka
- 1:42:43kan. Kalian ingat ajalah waktu Mbak Maya
- 1:42:45udah jelas-jelas tuh ngasih petunjuk
- 1:42:46soal chat anaknya ngomong kayak gitu,
- 1:42:48enggak percaya kami, enggak ada kami
- 1:42:50periksa lebih lanjut. Kalaupun memang
- 1:42:51berantem, ah berantem biasa tuh, ah
- 1:42:53kayak gitu. Makanya itulah Wa, kami
- 1:42:55memutuskan untuk menyelidiki ini
- 1:42:56diam-diam. Pak Sabar enggak mau kalau
- 1:42:58sampai ini diselidiki secara resmi
- 1:43:01pastinya kan beritanya heboh kemana-mana
- 1:43:03ya kan.
- 1:43:04Dan itu
- 1:43:06bisa berpengaruh juga sama pertumbuhan
- 1:43:08nyata [musik]
- 1:43:09cucunya. Kalian harus ingat Wa, masih
- 1:43:11ada Tata. Jadi Pak Sabar dan keluarganya
- 1:43:13pun mintalah bantuan [musik] ke orang
- 1:43:16suruhan untuk menyelidiki semuanya.
- 1:43:25Nah, yang pertama kali mereka selidiki
- 1:43:26adalah orang-orang yang dulu ada di
- 1:43:28rumah sakit tempat jenazahnya Mbak Santi
- 1:43:31diperiksa. Mereka duluan diperiksa.
- 1:43:33Kenapa? Kalau kalian ingat waktu Fajar
- 1:43:35nelpon Rizky waktu hari kejadian, yang
- 1:43:37Rizky nunggu di rumah tuh ah, kan Fajar
- 1:43:39bilang apa? "Wa, Mas Edo bilang dari
- 1:43:42hasil pemeriksaan dokter sama polisi,
- 1:43:44Mbak Santi memang meninggal karena
- 1:43:47menghilangkan nyawa sendiri." Itu kan
- 1:43:48kata si Fajar waktu nelpon Rizky kan.
- 1:43:50Tapi setelah mendengar cerita Ahmad, Wa,
- 1:43:52mereka mulai mempertanyakan lagi
- 1:43:54soal kesimpulan itu, soal omongannya Mas
- 1:43:56Edo. Jadi ibaratnya kemarin itu cuman
- 1:43:58gara-gara Mas Edo bilang "Polisi sama
- 1:43:59dokter udah bilang ini memang karena
- 1:44:02menghilangkan nyawa, Bu." Nah, kayak
- 1:44:03gitu aja. Mereka enggak selidiki lebih
- 1:44:04lanjut. Nah, gara-gara sudah
- 1:44:06tercerahkan, mereka mempertanyakan
- 1:44:07kesimpulan itu lagi. Selama ini mereka
- 1:44:08cuman tahu hasil akhirnya saja.
- 1:44:10Sementara bagaimana proses
- 1:44:12pemeriksaannya, apa saja yang ditemukan
- 1:44:13pada tubuhnya Mbak Santi, gimana
- 1:44:15kejadiannya, apa segala macam itu sampai
- 1:44:17apa yang mendasari kesimpulan
- 1:44:18menghilangkan nyawa itu, mereka
- 1:44:20"Kami enggak tahu secara jelas, Nat.
- 1:44:22Makanya itu dululah yang ingin kami cari
- 1:44:24tahu dulu, langsung ke pihak-pihak yang
- 1:44:26dulu menangani pemeriksaan jenazahnya
- 1:44:28Mbak Santi." Dan
- 1:44:30betul saja,
- 1:44:32setelah ditelusuri dan mengingat-ngingat
- 1:44:34kejadian itu lebih lanjut secara
- 1:44:36diam-diam,
- 1:44:38ada banyak fakta mencengangkan yang
- 1:44:41mulai terungkap, Wa, dari penyelidikan
- 1:44:43diam-diam mereka. Pertama,
- 1:44:46polisi yang ada di rumah sakit saat
- 1:44:49kejadian [musik] itu ternyata bukan
- 1:44:52polisi sungguhan. Mereka cuman orang
- 1:44:55biasa yang dibayar Edo untuk jadi polisi
- 1:44:59gadungan.
- 1:45:00Dah, jangan kaget dulu. Masih ada nih
- 1:45:02yang kedua.
- 1:45:03Dokter, dokter yang ngasih penjelasan
- 1:45:06soal kepergian yang Mbak Santi
- 1:45:09ternyata tidak terdaftar resmi sebagai
- 1:45:12dokter rumah sakit yang ada, dia malah
- 1:45:16baru ketangkap polisi karena melakukan
- 1:45:18praktik aborsi ilegal.
- 1:45:20Oke, ini yang ketiga nih yang paling
- 1:45:23gongnya nih. Kenapa dari tadi tanganku
- 1:45:24heh heh heh waktu nyebutin rumah sakit?
- 1:45:27Rumah sakit tempat Mbak Santi diperiksa
- 1:45:31waktu mereka datang ngejemput jenazah
- 1:45:33itu, itu bukan rumah sakit Wak, itu
- 1:45:36klinik yang dipakai sama dokter gadungan
- 1:45:38tadi untuk praktek aborsi ilegalnya dia.
- 1:45:40Jadi pada saat kejadian waktu dijemput
- 1:45:43sama Fajar sama bapaknya, itu mereka
- 1:45:45enggak lagi di rumah sakit Wak, mereka
- 1:45:46lagi ada di klinik
- 1:45:49itu. Fajar sama bapak enggak curiga sama
- 1:45:52sekali waktu itu. Ya karena sudah
- 1:45:53digituin gitu
- 1:45:56Fakta ini semakin meyakinkan pihak
- 1:45:57keluarga kalau Mbak Santi kemungkinan
- 1:45:59meninggal dunia bukan karena dia
- 1:46:00menghilangkan nyawanya sendiri Wak, tapi
- 1:46:02ada penyebab lain yang ditutup-tutupi
- 1:46:04sama Mas Edo. Kalau memang enggak ada
- 1:46:05apa-apa ngapa kok harus bayar orang
- 1:46:07untuk nyamar, ya kan? Entah apapun
- 1:46:09penyebabnya, tapi yang jelas Mas Edo
- 1:46:12sudah terbukti bersalah karena sudah
- 1:46:14bikin cerita palsu dan dia bisa langsung
- 1:46:16saja dilaporkan ke polisi. Tapi
- 1:46:18lagi-lagi Pak Sabar enggak mau gegabah
- 1:46:19di sini. Bapak panggil dulu istri sama
- 1:46:21anaknya, aku sama mamaku kan, terus
- 1:46:23minta [musik] saran apa yang harus kita
- 1:46:25lakukan selanjutnya. Ini Edo mau
- 1:46:26langsung kita laporin ke polisi apa
- 1:46:27gimana katanya. Akhirnya diskusilah kami
- 1:46:29nak kata Fajar. Tapi waktu itu aku sama
- 1:46:32ibuku
- 1:46:33berpikir kayaknya proses hukum ini kita
- 1:46:36tunda Kenapa? Karena waktu itu kondisi
- 1:46:38Mas Edo
- 1:46:42lagi sakit parah kan Wak. Terus
- 1:46:43lagi-lagi mereka juga mempertimbangkan
- 1:46:45keadaan Tata. Tata masih kecil, masih 4
- 1:46:48tahunan. Pak Sabar enggak tega kalau
- 1:46:51Tata harus kehilangan orang tuanya lagi,
- 1:46:53apalagi kalau sampai Mas Edo dipenjara
- 1:46:56Wak, itu seumur hidup Tata akan dicap
- 1:46:58sebagai seorang anak narapidana. Itu kan
- 1:47:01nangis-nangis nak waktu kami ngobrol tuh
- 1:47:02kayak mana Pak, tapi Pak kasihan Tata
- 1:47:05Pak.
- 1:47:06Gimana Pak kayak gitu. Maka dari dasar
- 1:47:07itulah Mas Edo enggak dilaporin dulu ke
- 1:47:10kantor polisi. Ya.
- 1:47:12Di saat yang sama
- 1:47:14kondisinya Mas Edo makin memprihatinkan
- 1:47:16Wak.
- 1:47:17Dia betul-betul sudah enggak bisa gerak
- 1:47:19dari tempat tidurnya.
- 1:47:21Sudah enggak bisa. Sampailah suatu hari
- 1:47:23Rizky ditelepon sama Dimas. Dimas
- 1:47:25yang tinggal di rumahnya Mas Edo,
- 1:47:27ditelepon. "Ki, Ki,
- 1:47:29tolonglah kau ajak kawan kau Ahmad ke
- 1:47:31sini lagi, Ki. Aku enggak tega lihat
- 1:47:32kondisinya Mas Edo. Dia sudah enggak
- 1:47:33bisa ngapa-ngapain, Ki." Kenapa sih
- 1:47:36Dimas ngomong gitu? Dimas tahu soal
- 1:47:37Ahmad dari
- 1:47:38ibunya Mas Edo, Bu Ika. Waktu dengar
- 1:47:41omongan Dimas barusan, aku langsung
- 1:47:42percaya Nadia enggak bisa bangun dari
- 1:47:44sudah enggak bisa ngapa-ngapain. Percaya
- 1:47:46aku, soalnya terakhir kali dia ke rumah
- 1:47:47Mas Edo, Mas Edo sudah kayak gitu kan.
- 1:47:49Sudah langsung aku bilang sama Ahmad,
- 1:47:50"Mat, gini gini gini." "Oh, ya sudah
- 1:47:51enggak apa-apa." Mau sih Ahmad bantu.
- 1:47:53Tapi karena Ahmad sudah tahu dari awal
- 1:47:56aku enggak bisa ngatasin ini sendirian,
- 1:47:58Ahmad mintalah bantuan ke sesama ustaz
- 1:48:01juga, namanya Ustaz Fikri,
- 1:48:03kenalannya. Cuman waktu mau pergi ke
- 1:48:05sana, dia enggak pergi bertiga sama
- 1:48:07Rizky saja, Wa. Setelah berembuk,
- 1:48:09keluarganya Fajar juga minta
- 1:48:10diikutsertakan.
- 1:48:11"Keluarga Fajar mau ikut. Kami juga mau
- 1:48:13lihat kondisinya Mas Edo dulu, Pak."
- 1:48:15Katanya ini kan masih dalam proses
- 1:48:16penyelidikannya mereka yang diam-diam
- 1:48:18itu kan. "Kami mau tengok dulu." kata
- 1:48:19Pak Fajar. Diizinkan sama Ustaz Fikri,
- 1:48:21memang itu kerabatnya mereka kan. "Oh,
- 1:48:22ya sudah, Pak, enggak apa-apa." Dengar
- 1:48:23itu, Ahmad sama Ustaz Fikri pun setuju.
- 1:48:26Nah,
- 1:48:27dari sinilah kita hampir masuk ke bagian
- 1:48:30terakhir kisah ini, Wa. Kali ini kita
- 1:48:32akan melihat lebih jauh bagaimana
- 1:48:35kondisinya Mas Edo,
- 1:48:37sekaligus juga mencari tahu apa
- 1:48:39sebenarnya yang terjadi pada laki-laki
- 1:48:41yang namanya terus dikait-kaitkan, terus
- 1:48:44disebut dengan berbagai kejadian janggal
- 1:48:47sejak awal cerita tadi ya kan. Karena
- 1:48:49sampai di titik ini
- 1:48:51masih ada banyak pertanyaan yang belum
- 1:48:52terjawab. Kenapa begitu banyak orang
- 1:48:55yang mengalami gangguan setelah Mbak
- 1:48:56Santi berpulang?
- 1:48:58Apa semua kejadian ini memang saling
- 1:48:59berkaitan?
- 1:49:01Dan yang paling penting, apa sebenarnya
- 1:49:04yang sudah Mas Edo lakukan
- 1:49:06sampai semua ini bisa terjadi? Kalian
- 1:49:09sudah siap?
- 1:49:11Kita masuk ke bagian
- 1:49:13Mas Edo.
- 1:49:21Jadi Wa, di hari yang sudah ditentukan
- 1:49:23Rizki, bapaknya Rizki ini ikut juga ya,
- 1:49:26Ahmad, Ustad Fikri dan juga keluarganya
- 1:49:28Fajar, Pak Sabar, Bu Nur sama termasuk
- 1:49:31Tata, berangkatlah itu semuanya ke
- 1:49:33rumahnya Mas Edo. Sebelum berangkat
- 1:49:36Fajar berkali-kali mengingatkan ke bapak
- 1:49:38ibunya, "Pak, Bu, sesuai kesepakatan ya.
- 1:49:42Waktu sudah sampai di sana jangan pernah
- 1:49:44membahas soal Mbak Santi dulu.
- 1:49:47Di sana lagi ada Pak Ali, ada Bu Ika, Bu
- 1:49:49orang tuanya Mas Edo. Bagaimanapun
- 1:49:51mereka sudah baik sama kita. Jadi tolong
- 1:49:53jangan bikin suasana jadi enggak enak.
- 1:49:55Ditahan ya, Pak, ditahan ya, Bu, gitu.
- 1:49:58Iya, Nak, kami paham. Dah, mereka
- 1:50:00serombongan tuh ada delapan kan
- 1:50:01berangkat ke rumahnya Mas Edo. Mereka
- 1:50:03naik mobil disopirin sama bapaknya
- 1:50:05Rizki, Tata dipangku di depan sama
- 1:50:07kakeknya sama Pak Sabar. Selama
- 1:50:08perjalanan masih lancar-lancar aja tuh,
- 1:50:10tapi waktu itu sudah menjelang magrib ya
- 1:50:12jadi sudah agak mau gelaplah gitu.
- 1:50:14Pas sudah dekat rumahnya Mas Edo paling
- 1:50:16sekitar 15 meter nah dia jaraknya.
- 1:50:19Tata yang di depan tiba-tiba teriak,
- 1:50:21"Kek,
- 1:50:22itu itu di rumahnya bapak kok banyak
- 1:50:25monyetnya. Enggak Tata takut Tata Tata
- 1:50:28enggak mau ayo pulang aja kita." Banyak
- 1:50:29monyet katanya. Pas mereka tengok ke
- 1:50:31sana enggak ada Wa. Ahmad di belakang
- 1:50:33sigap ditepuk ya pundak Tata. "Heh,
- 1:50:35sayang, coba kamu lihat lagi Tata, coba
- 1:50:37sekarang tuh lihat ke sana tuh tuh sudah
- 1:50:38enggak ada kan? Sudah enggak ada
- 1:50:39monyetnya." Tata tengoklah.
- 1:50:42"Tuh enggak ada kan?" katanya. "Iya
- 1:50:43enggak ada lagi." Tapi dari belakang
- 1:50:45Ustad Fikri ngebisik ke Ahmad dia.
- 1:50:49"Mat, siap-siap ya, Mat. Buruk ini,
- 1:50:51Mat." katanya. Sambil
- 1:50:52menggeleng-gelengkan kepalanya Nadia.
- 1:50:53Nah, kata Ahmad kalau Ustad Fikri sudah
- 1:50:55bilang kayak gitu siap-siap ya bahaya
- 1:50:58ini. Ahmad tahu pasti situasi di
- 1:51:00rumahnya Mas Edo sudah gawat kali Wa.
- 1:51:01Jadi begitu sampai di rumahnya Mas Edo
- 1:51:03sebelum disambut oleh orang rumahnya Mas
- 1:51:05Edo, Ustad Fikri langsung minta Pak
- 1:51:07Sabar sama Bu Nur,
- 1:51:09"Pak, Bu, ajak Tata main-main ke luar
- 1:51:11dulu jangan langsung masuk." katanya.
- 1:51:13Nurutlah Pak Sabar, enggak banyak tanya.
- 1:51:15Pergilah. Sementara yang lain, Rizki,
- 1:51:17bapaknya Rizki, Ahmad, Ustaz Fikri,
- 1:51:19Fajar, tetap berjalan masuk ke dalam
- 1:51:22rumahnya Mas Edo. Kedatangan mereka pun
- 1:51:23langsung disambut sama Bu Ika, sama Pak
- 1:51:26Ali seadanya, Wak. Ya, memang sudah
- 1:51:29diduga, kelihatan dari wajahnya mereka
- 1:51:30tuh sudah kayak orang putus asa gitu
- 1:51:32sama keadaannya anaknya gitu kan. Dimas
- 1:51:35juga waktu itu sudah ada di sana. Nah,
- 1:51:36setelah bertanya kabar sebentar, Ustaz
- 1:51:38Fikri dan Ahmad pun izinlah ke Pak Ali
- 1:51:41dan Bu Ika untuk masuk ke kamarnya Mas
- 1:51:42Edo. Memang [musik] itu tujuan pertama
- 1:51:44mereka kan. Sama seperti yang dibilang
- 1:51:45sama Dimas di telepon kemarin, "Waktu
- 1:51:48kami masuk, Nak,
- 1:51:50itu kondisi Mas Edo sudah kurus
- 1:51:53sekali. Dia terbaring
- 1:51:55di kasurnya, matanya ketutup, Nak.
- 1:51:58Bahkan kulit mukanya juga berubah jadi
- 1:52:00lebih gelap gitu, kayak sulit dikenali.
- 1:52:02Tanpa membuka obrolan apapun, Ustaz
- 1:52:04Fikri langsung berucap,
- 1:52:06"Permisi ya, Mas." Dia langsung pegang
- 1:52:08kepalanya Mas Edo kan. Dibacainlah
- 1:52:10doa-doa.
- 1:52:12Masuk aja tuh.
- 1:52:13Enggak lama, Mas Edo tiba-tiba yang
- 1:52:15tidur kan tadi toh.
- 1:52:17Hah!
- 1:52:18Bola matanya melotot menatap tajam ke
- 1:52:21Ustaz Fikri, terus enggak lama badannya
- 1:52:23yang tadi kelihatan enggak bisa
- 1:52:24ngapa-ngapain tuh, Wak.
- 1:52:25Bangkit berdiri di atas kasur, dia kayak
- 1:52:27mau ngambil ancang-ancang lompat nyerang
- 1:52:29Ustaz Fikri tuh.
- 1:52:31Dia mau loncat. Sebelum dia nyentuh
- 1:52:32Ustaz Fikri, untungnya Ahmad sudah lebih
- 1:52:34dulu dipukulnya pakai daun bidara ke
- 1:52:36tubuhnya si Mas Edo di situ. Ah, panas,
- 1:52:39panas. Gitu kan. Ahmad dan beberapa
- 1:52:41orang juga langsung megangin badannya
- 1:52:42Mas Edo waktu itu. Sementara Ustaz Fikri
- 1:52:45tetap dipegangnya kepala Mas Edo,
- 1:52:46baca-bacanya lagi ayat-ayat suci
- 1:52:48Alquran. Makin kencang bacaan doanya
- 1:52:50Ustaz, makin berontak lagi Mas Edo kan.
- 1:52:52Ustaz Fikri langsung,
- 1:52:53"Bal, Bal, air madu, Bal, air madu."
- 1:52:55Ahmad datanglah bawain segelas air madu,
- 1:52:57terus air itu langsung dibacain doa lagi
- 1:52:58sama Ustaz Fikri.
- 1:53:00Terus diminumin ke Mas Edo.
- 1:53:03Perlahan tapi pasti itu kondisinya Mas
- 1:53:05Edo sudah mulai agak tenang, Nak.
- 1:53:06Walaupun harus berakhir dengan Mas Edo
- 1:53:08yang pingsan. Sudah.
- 1:53:10Mas Edo dibaringkan lagi, baringkan lagi
- 1:53:11di kasur. Nah, dijagainlah sama Pak Ali,
- 1:53:14Bu Ika, sama yang lain. Nah, waktu itu
- 1:53:16Pak Sabar sudah bergabung, Wak. Tata
- 1:53:18masih di luar sama eh ditemanin sama Bu
- 1:53:20Nur. Sementara di saat nungguin si Mas
- 1:53:22Edo di dalam, Ustaz Fikri, Fajar, Dimas,
- 1:53:26sama Ahmad keliling rumah untuk mencari
- 1:53:29sesuatu. Jadi terpisah dua, ya. Enggak
- 1:53:31lama,
- 1:53:33mereka balik lagi ke ruang tamu
- 1:53:35sambil sudah membawa
- 1:53:38benda-benda aneh. Itulah ada kain kafan
- 1:53:41yang di dalamnya ada uang koin kuno, ada
- 1:53:44kertas bertulis Arab gundul, Nadia.
- 1:53:46Terus ada kayak batang bambu. Kata
- 1:53:47Dimas, mereka nemuin barang-barang itu
- 1:53:49terkubur di beberapa sudut halaman
- 1:53:52rumahnya Mas Edo. Dan ada juga yang
- 1:53:53ditemukan dalam rumah, Wak. Nah,
- 1:53:55barang-barang yang ditemukan ini diduga
- 1:53:57kuat berkaitan sama praktik ilmu hitam.
- 1:53:59Sampai di sini, pihak keluarganya Mas
- 1:54:01Edo, Bu Ika sama Pak Ali masih belum
- 1:54:03tahu tuh apa yang terjadi karena mereka
- 1:54:05masih di kamar, ya kan. Sementara Rizki
- 1:54:07sama keluarganya Fajar yang ada di dalam
- 1:54:08diajak gabung, ayo gabung. Ngumpullah di
- 1:54:10ruang tamu tuh. Itu dilihatin, eh Pak,
- 1:54:13benar nih, Pak. Berarti, Pak,
- 1:54:15Edo sudah bersekutu sama setan, kata
- 1:54:17gitu kan. Enggak lama, benda-benda itu
- 1:54:19dikumpulkan, dibakarlah sama Ahmad.
- 1:54:23Tapi anehnya tepat waktu benda itu
- 1:54:25terbakar, Wak, semua orang di rumah itu
- 1:54:28dengar
- 1:54:31dari arah plafon. Suaranya kencang kali,
- 1:54:34Nadia. Itu kayak ada orang yang lagi
- 1:54:35lari-larian di atas plafon.
- 1:54:39Dan plafon itu sampai getar, Nak. Pak
- 1:54:41Ali yang ada di dalam kamar langsung
- 1:54:42keluar juga, apa tuh? Apa tuh? Diceklah
- 1:54:44sama Ahmad kan. Dicek-cek-cek, rupanya
- 1:54:46dia tengok
- 1:54:48ada lubang di salah satu langit-langit
- 1:54:50atap dapur, Wak. Ada lubang. Lubang itu
- 1:54:53kayak pintu masuk ke loteng rumah, ke
- 1:54:55atas. Di situ Ustaz Fikri bilang kan ada
- 1:54:57Ustaz,
- 1:54:58kita cek ke atas, Mat, gitu.
- 1:55:00Nurutlah Ahmad. Dibawa tangga, naiklah
- 1:55:02ke atas. Pas nyampe di atas loteng, dua
- 1:55:05aja yang naik, Ustaz sama Ahmad.
- 1:55:07Ternyata nyampe atas loteng,
- 1:55:10mereka cari-cari sesuatu, itu masih
- 1:55:12bunyi Wak.
- 1:55:14[tertawa]
- 1:55:15Mereka menemukan ada kotak kayu.
- 1:55:18[musik]
- 1:55:20Lagi bergetar kencang Wak. Ternyata
- 1:55:21suara gluduk-gluduk itu, nah dari situ.
- 1:55:23Dideketinlah sama mereka berdua, rupanya
- 1:55:25kotak itu enggak ketutup. Mereka bisa
- 1:55:26ngelihat langsung tuh apa isinya.
- 1:55:28Dan isinya adalah lima buah keris yang
- 1:55:31dibungkus pakai kain putih. Nah,
- 1:55:34keris-keris itu yang goyang Wak.
- 1:55:37Jadi kayak wuh gitulah. Nah, di situlah
- 1:55:39Ustaz sama Ahmad makin yakin, iya betul
- 1:55:41nih.
- 1:55:42Edo udah mendalami ilmu hitam bukan main
- 1:55:44ilmu hitam lagi, sudah mendalami sampai
- 1:55:46ini pegangannya dia. Ustaz Fikri sama
- 1:55:47Ahmad pun langsunglah baca-baca ayat
- 1:55:49kursi, baca doa-doa lainnya juga. Terus
- 1:55:51enggak lama getaran kotak-kotak itu pun
- 1:55:53berhenti Wak. Kerisnya juga berhenti
- 1:55:55bergoyang. Ya, keris-keris tadi itu pun
- 1:55:57disiapin sama eh Ustaz mau dibawa turun
- 1:55:59ini.
- 1:56:00Udah disiapin, waktu mau balik badan
- 1:56:02Wak, tiba-tiba ada yang teriak dari arah
- 1:56:04tangga loteng. Astagfirullah,
- 1:56:06apa itu? Sambil mereka nengok sumber
- 1:56:08suara, rupanya yang teriak Pak Ali,
- 1:56:10bapaknya Edo. Pak Ali nyusul naik ke
- 1:56:12atas Wak gegara penasaran suara
- 1:56:14gledak-gleduk, itu kan rumah anaknya.
- 1:56:15Tapi baru aja dia ngelongok kepala masuk
- 1:56:17kayak gitu Wak ke atas loteng dan
- 1:56:19senternya nyorot ke sudut loteng,
- 1:56:23di situlah bukan Pak Ali aja, Ustaz sama
- 1:56:26Ahmad melihat ada sosok muka merah,
- 1:56:31rambut panjang, lidah menjulur keluar,
- 1:56:33kukunya panjang dan sosok itu lagi
- 1:56:37jongkok, di depannya ada keranjang buah
- 1:56:41ukuran besar
- 1:56:43dan di dalam keranjang itu kelihatan
- 1:56:46uang.
- 1:56:49Uang itu yang diteriakin sama Pak Ali.
- 1:56:51Ahmad langsung sigap dia, ayo Pak Pak
- 1:56:53Pak turun dulu Pak.
- 1:56:54Ahmad amanin Pak Ali ya kan, sementara
- 1:56:56Ustaz Fikri masih di loteng. Enggak lama
- 1:56:58habis Ahmad sama Pak Ali di bawah, semua
- 1:57:00orang yang ada di bawah, Ustaz Fikri kan
- 1:57:01di atas, semua orang yang ada di bawah
- 1:57:03itu dengar suara teriakan aneh, Wak.
- 1:57:06Tapi bukan lagi dari loteng, Nak.
- 1:57:08Dari arah yang kami sendiri enggak tahu
- 1:57:11asalnya dari mana. Yang teriak apa?
- 1:57:12Aku enggak akan pergi, aku enggak akan
- 1:57:15pergi.
- 1:57:16Aku akan datang ke sini. Kami enggak
- 1:57:18tahu dari mana. Itu menggema di rumah
- 1:57:19tuh. Sudah habis itu suara itu lenyap
- 1:57:21dan suasana rumah balik sunyi lagi. Di
- 1:57:23situ Ustaz Fikri kan sudah men- dekat ke
- 1:57:25lorong.
- 1:57:26Dia minta tolong-tolong nih, tolong.
- 1:57:27Tolong buat turunin keranjang buah isi
- 1:57:29uang itu, Wak. Sampai leset.
- 1:57:31Nih, tolong-tolong. Disambut kan dari
- 1:57:32bawah.
- 1:57:34Tapi anehnya waktu melewati batas
- 1:57:37plafon,
- 1:57:38hah, isi keranjang tuh bukan lagi uang,
- 1:57:40Wak.
- 1:57:41Daun-daun kering.
- 1:57:44Jumlahnya banyak kali Nak sampai
- 1:57:46terjatuh-jatuh dari keranjang buah tuh.
- 1:57:47Itu bertiga nengok ya, Dimas ada di
- 1:57:49situ, Fajar ada di situ, Rizki ada di
- 1:57:51situ. Hah, waktu nengok itu yang pertama
- 1:57:53kali tahu ada apa-apa ya Pak Ali.
- 1:57:55Ali,
- 1:57:55Pak,
- 1:57:56kok
- 1:57:57tadi
- 1:57:58kok bisa jadi daun kayak gini? Tadi uang
- 1:58:00kan, Pak. Apa ini, Pak? Ini ada apa ini,
- 1:58:02Pak? Apa yang sebenarnya terjadi di
- 1:58:03rumah anak saya ini, Pak?
- 1:58:05Bu Ika sudah ada di sana. Nangis-nangis
- 1:58:06juga dia nengok itu kan. Dia dicecer
- 1:58:08sama suaminya tadi waktu turun. Pak,
- 1:58:09kenapa dia, Pak Ustaz? Kenapa, Pak?
- 1:58:11Anak kami sebenarnya sudah ngelakuin
- 1:58:13apa, Pak? Sampai banyak kali hal-hal
- 1:58:15aneh kayak gini di rumah, Pak. Pak, ada
- 1:58:16apa, Pak? Apa benar yang kamu bilang
- 1:58:18dulu itu, Mat? Hah? Jangan menyekutukan
- 1:58:21Allah ke anak saya. Anak saya
- 1:58:22menyekutukan Allah, Mat? Hah? Iya, Mat.
- 1:58:24Makanya dia jadi sakit-sakit kayak gini,
- 1:58:25kata Bu Ika. Ustaz Fikri bilang, "Pak,
- 1:58:28Bu, tenang.
- 1:58:30Saya belum tahu
- 1:58:32pasti apa yang terjadi, tapi kemungkinan
- 1:58:34besar
- 1:58:36Mas Edo sudah melakukan praktik
- 1:58:39pesugihan."
- 1:58:41Makin histeris mamanya di situ.
- 1:58:43"Astaghfirullahaladzim,
- 1:58:45astaghfirullahaladzim, Nak.
- 1:58:48Aku enggak nyangka, Pak. Aku enggak
- 1:58:50nyangka. Pak, gimana ini, Pak? Kami
- 1:58:52harus ngapain, Pak? Tolong, Pak,
- 1:58:55bantu anak kami sembuh, Pak. Kami
- 1:58:58tolonglah, Pak, kami mau dia tobat, gitu
- 1:59:01kan. Bu, tenang dulu, Bu Ika.
- 1:59:03Saya akan berusaha semaksimal mungkin
- 1:59:05untuk bantu
- 1:59:07Edo bertobat, kata Ustaz Fikri, dah.
- 1:59:11Ustaz Fikri pun mintalah Ahmad dan juga
- 1:59:13beberapa orang untuk bakar
- 1:59:15keranjang-keranjangnya juga sama
- 1:59:17daun-daunnya bakar. Terus kuburin
- 1:59:19keris-kerisan yang ditemuin tadi juga
- 1:59:20dikuburinlah entah di mana yang penting
- 1:59:22jangan ada di rumah ini lagi. Habis itu
- 1:59:23sudah selesai, mereka baliklah ke kamar
- 1:59:25yang Mas Edo untuk melanjutkan proses
- 1:59:28rukiah.
- 1:59:30Nah, proses rukiah kedua ini, Wak,
- 1:59:32berlangsung lebih lama dari yang
- 1:59:34pertama. Ini lebih dari 1 jam lah kami
- 1:59:35ngerukiah Mas Edo. Selama itu juga Mas
- 1:59:38Edo berontak, nangis, teriak-teriak
- 1:59:41minta tolong, kayak gitu kan.
- 1:59:42Orang-orang di sana berusaha juga lah
- 1:59:43megangin Mas Edo sambil juga ikut
- 1:59:45baca-baca doa. Sampai akhirnya Mas Edo
- 1:59:47pun mulai sadar lagi, tapi kali ini
- 1:59:50kondisi badannya lebih lemas daripada
- 1:59:52rukiah pertama. Nah, Mas Edo dibaringkan
- 1:59:54lagi lah di kasur. Nah, di situ
- 1:59:57Mas Edo, kan ada beberapa orang di situ
- 1:59:59kan, Wak.
- 2:00:00Waktu sudah ditidurin itu dia
- 2:00:02sambil kayak lemas badannya, dia kayak
- 2:00:07Dia nengok muka kami satu persatu, Nak.
- 2:00:09Tes, tes, tes.
- 2:00:12Dan tepat saat pandangan matanya ngarah
- 2:00:14ke Pak Sabar dan juga Fajar, mertua dan
- 2:00:18adik iparnya,
- 2:00:19di situ
- 2:00:24langsung netes air matanya Mas Edo, Wak.
- 2:00:26Mas Edo enggak ngomong apa-apa, tapi
- 2:00:28dari tatapan matanya itu seolah-olah
- 2:00:29menunjukkan kalau
- 2:00:31ada yang dia sesali. Dia mau ngucapin
- 2:00:34sesuatu, tapi sesuatu itu enggak sanggup
- 2:00:36keluar dari mulutnya. Nangis di situ.
- 2:00:38Ustaz Fikri di situ langsung
- 2:00:42Dah, sekarang ambil wudu ya.
- 2:00:44Salat tobat kamu, kata si Ustaz. Enggak
- 2:00:47nolak Wa Mas Edo.
- 2:00:49Dia
- 2:00:50dia cuman ngangguk. Dipapahlah sama
- 2:00:51Ustaz buat wudu, ya. Dia wudu. Kami
- 2:00:54biarin nanti.
- 2:00:55Wudu, diantarkanlah balik lagi ke
- 2:00:57kamarnya. Ustaz Fikri pun membimbing
- 2:00:58[musik]
- 2:00:59Mas Edo.
- 2:01:00"Niatkan dalam hati untuk salat tobat
- 2:01:03dua rakaat karena Allah, ya Do. Tata
- 2:01:05caranya sama kayak salat biasa. Setelah
- 2:01:07Al Fatihah, kau baca surat pendek yang
- 2:01:10kau hafal. Nanti setelah salam,
- 2:01:12banyak-banyak istigfar. Minta ampun sama
- 2:01:15Allah. Sesali semua kesalahanmu.
- 2:01:19Berjanjilah kau enggak ngulangin lagi."
- 2:01:21Kata Ustaz. [musik] Nurut Edo di situ.
- 2:01:24Kami dengar semua perkataan Ustaz tuh.
- 2:01:26"Iya, Ustaz." Katanya. Dan setelah itu,
- 2:01:27Ustaz mengisyaratkan semua orang yang
- 2:01:29ada di kamar keluar. Biarkan Mas Edo di
- 2:01:31dalam kamar sendirian. Sambil nunggu Mas
- 2:01:33Edo salat, Ustaz Fikri kumpulin semua
- 2:01:36orang di ruang tengah. Sudah ada Pak
- 2:01:38Ali, Bu Ika, orang tua Edo, orang tuanya
- 2:01:40Mbak Santi, Yakan, Fajar, semua ada di
- 2:01:41situ.
- 2:01:43Ustaz Fikri bilang, "Pak Ali, Bu Ika dan
- 2:01:45semuanya,
- 2:01:46saya mau nyampaiin sesuatu. Sebagian
- 2:01:48mungkin sudah disampaikan sama Ahmad ke
- 2:01:50keluarganya Pak Sabar beberapa hari yang
- 2:01:51lalu, ya. Tapi mungkin di sini hanya Pak
- 2:01:53Ali sama Bu Ika yang belum tahu." "Ada
- 2:01:55apa, Ustaz?" Kata Pak Ali. "Jadi, Pak,
- 2:01:57Bu,
- 2:01:58dari hasil rukiah tadi,
- 2:02:01saya lihat kalau Mas Edo ini sudah
- 2:02:04mempraktekkan
- 2:02:05ilmu pesugihan
- 2:02:08sejak lama.
- 2:02:10Dia bersekutu sama iblis untuk
- 2:02:13mendapatkan kekayaan
- 2:02:15sejak lama. Benda-benda kayak keris,
- 2:02:19buhul-buhul lainnya yang ditemukan di
- 2:02:20sekitar rumah,
- 2:02:22itulah media dari ilmu hitam ini, Pak.
- 2:02:24Terus keranjang yang tadi kita lihat,
- 2:02:25keranjang yang Pak Ali lihat itu uang
- 2:02:26turun ke bawah jadi daun-daun kering
- 2:02:28tadi,
- 2:02:29itu adalah kekayaan semu yang dijanjikan
- 2:02:32sama iblis. Dan untuk bisa mempraktekkan
- 2:02:34pesugihan ini,
- 2:02:36Mas Edo diharuskan bikin ritual dengan
- 2:02:40memberikan tumbal. Selama ini mungkin
- 2:02:42ritual-ritual yang pernah dilakukan itu
- 2:02:45berhasil. Selama ini tumbal-tumbal juga
- 2:02:48mungkin sudah pernah diserahkan. Makanya
- 2:02:50bisa kalian lihat dari hasil keranjang
- 2:02:52tadi ya.
- 2:02:54Tapi
- 2:02:57saat tumbal berikutnya
- 2:03:00ingin diserahkan
- 2:03:02belum sempat ritual itu dilakukan
- 2:03:06tumbal selanjutnya yang diincar Mas Edo
- 2:03:11sudah meninggal duluan. Makanya
- 2:03:14si sosok yang bersekutu sama Mas Edo ini
- 2:03:17akhirnya balik ngincar Mas [musik] Edo
- 2:03:20untuk minta
- 2:03:21tumbal gantinya.
- 2:03:24Ustaz yang ngomong kayak gitu. Dengar
- 2:03:26itu syok semuanya terutama Pak Ali sama
- 2:03:29Bu Ika. Bahkan Bu Ika langsung
- 2:03:32terduduk lemas di lantai Nak. Mereka
- 2:03:34sama sekali enggak nyangka kalau ya
- 2:03:36Allah anaknya selama ini kebanggaan
- 2:03:38mereka kelihatan baik, pekerja keras,
- 2:03:40usahanya lancar, uangnya banyak rupanya
- 2:03:42memilih jalan pintas untuk dapatin
- 2:03:43kekayaan itu. Pak Ali yang langsung ngeh
- 2:03:45dengan ucapannya Ustaz.
- 2:03:48[terengah-engah][menghela napas]
- 2:03:49Tumbal selanjutnya yang meninggal ini
- 2:03:54maksud
- 2:03:55maksudnya Santi Ustaz? Di situ Ustaz
- 2:03:57Fikri
- 2:04:02Iya Pak.
- 2:04:06Mbak Santi yang mau dijadikan tumbal
- 2:04:08selanjutnya oleh anak Bapak
- 2:04:10Pak, tapi dia sudah meninggal duluan
- 2:04:12sebelum ritual itu terjadi. Mohon maaf
- 2:04:14saya sendiri juga tidak bisa memastikan
- 2:04:16apa penyebab pasti soal meninggalnya
- 2:04:19Mbak Santi ya. Apakah dia betulan
- 2:04:21menghilangkan nyawanya sendiri atau apa,
- 2:04:23tapi yang jelas habis Mbak Santi
- 2:04:25meninggal sosok itu jadi enggak dapat
- 2:04:26tumbal yang memang sudah dijanjikan.
- 2:04:28Makanya dia minta ganti. Gantinya siapa
- 2:04:31Pak?
- 2:04:33Cucu Bapak.
- 2:04:34Tata
- 2:04:35[musik]
- 2:04:35anak mereka. Tapi Mas Edo enggak mau.
- 2:04:39Dia bersikeras nolak anaknya dijadikan
- 2:04:42pengganti atau dijadikan persembahan.
- 2:04:44Itulah kenapa sosoknya ini makin marah
- 2:04:49dan akhirnya nyerang balik Mas Edo
- 2:04:51sampai segitunya. Dan sosok itulah yang
- 2:04:54tadi Pak Ali lihat di loteng.
- 2:04:57Sosok muka merah. Langsung nangis semua
- 2:04:59orang di situ, Nat. Semua mereka bertiga
- 2:05:02ini, Nat, tiga wawa ini nangis juga.
- 2:05:04Betulan mereka tuh enggak nyangka kalau
- 2:05:05efek dari kelakuannya Mas Edo bisa
- 2:05:07separah itu.
- 2:05:12Kami semua pasti marah besar sama Mas
- 2:05:14Edo, Nat. Tapi entahlah ya, di sisi lain
- 2:05:15kami juga kasihan nengok kondisinya Mas
- 2:05:17Edo yang diincar terus sama
- 2:05:19sosok itu. Apalagi sih Dimas. Dimas yang
- 2:05:21nangis di situ. Dia yang jadi saksi mata
- 2:05:24gimana Mas Edo diganggu segitunya sama
- 2:05:25sosok itu. Nangis Dimas. Dimas juga
- 2:05:27enggak nyangka kalau sosok cewek muka
- 2:05:29merah yang dia lihat beberapa kali itu,
- 2:05:31itu ternyata adalah sosok yang bikin
- 2:05:33yang udah bikin perjanjian sama Mas Edo.
- 2:05:35Padahal selama ini kan dia mikirnya tuh
- 2:05:37apa? Itu penunggu rumah aja ya kan.
- 2:05:38Walaupun belakangan baru dia mulai
- 2:05:40curiga nih sosok ini kayaknya ada
- 2:05:41kaitannya sesuatu gitu. Ustaz Fikri
- 2:05:43nambahin lagi. Saya bukan mau
- 2:05:45nakut-nakutin ya semuanya. [musik]
- 2:05:47Tapi kalau sekalinya tidak bisa ngasih
- 2:05:50tumbal,
- 2:05:51Mas Edo pasti akan didatangin terus sama
- 2:05:54sosok itu seumur hidup. Itu cuman yang
- 2:05:56mungkin bisa sedikit melegakan keluarga
- 2:05:58yang ada di sini, kita sudah tahu
- 2:05:59penyebabnya apa.
- 2:06:00Jadi Mas Edo masih [musik] ada
- 2:06:02kesempatan untuk kita bantu bertobat.
- 2:06:06Sakit yang dia derita juga insyaallah
- 2:06:08masih bisa disembuhkan. Tapi itu tadi,
- 2:06:10gangguan yang datang, gangguan yang
- 2:06:12menimpa Mas Edo enggak bisa akan
- 2:06:14sepenuhnya dihilangkan. Karena kan
- 2:06:16tumbal ganti enggak mau dikasih sama Mas
- 2:06:18Edo. Inilah, Pak.
- 2:06:20Inilah akibat dari perjanjian setan itu.
- 2:06:23Enggak mudah lepas. Saya harap pihak
- 2:06:25keluarga bisa ikut bantu Mas Edo ya,
- 2:06:27biar bisa kembali ke jalan yang benar.
- 2:06:29Setelah Ustaz Fikri cerita kayak gitu,
- 2:06:31Nat,
- 2:06:32Ustaz Fikri masuk lagi ke dalam kamarnya
- 2:06:34Mas Edo. Mas Edo sudah selesai sholat,
- 2:06:36tapi waktu itu dia masih duduk di atas
- 2:06:37sajadahnya. Ustadz Fikri datang, dia
- 2:06:40duduk di sebelahnya, dielusnya badannya
- 2:06:42itu. "Nak, kamu sudah tahu penyebab
- 2:06:44sakitmu selama ini apa kan? Bertobat ya,
- 2:06:46Do. Tidak hanya dengan sholat yang sudah
- 2:06:48kamu lakukan ini,
- 2:06:50tapi kamu juga gunakan waktu yang ada
- 2:06:52untuk istighfar.
- 2:06:54Perbanyak lagi sholat taubatmu.
- 2:06:56Perbanyak lagi sholat malammu.
- 2:06:59Perbanyak lagi membaca Alquran. Sosok
- 2:07:01itu mungkin enggak akan betul-betul
- 2:07:03hilang, Do.
- 2:07:04Tapi kamu masih punya kesempatan untuk
- 2:07:08perbaiki semuanya." Lagi-lagi di sini
- 2:07:10Mas Edo enggak ngomong apa-apa, Wa. Dia
- 2:07:12cuman
- 2:07:14"Iya, Ustadz."
- 2:07:15Dia seolah-olah sudah tahu gitu loh
- 2:07:17kalau mereka semua sudah pada tahu. Pun
- 2:07:19setelah kejadian malam itu, Wa, Mas Edo
- 2:07:21juga jadi lebih pendiam lagi. Dia enggak
- 2:07:24ngakuin perbuatannya ya. Dia juga enggak
- 2:07:26ada minta maaf secara langsung ke
- 2:07:27keluarga Pak Sabar atau siapapun yang
- 2:07:29sudah dia sakiti. Apalagi nyeritain apa
- 2:07:31yang sebenarnya terjadi sama Mbak Santi,
- 2:07:33enggak ada. Dia langsung action aja. Dia
- 2:07:34ngikutin kata Ustadz Fikri aja. Sudah.
- 2:07:37Akhirnya setelah diruqyah sama Mas Edo,
- 2:07:39eh Mas Edo pula yang ngeruqyah,
- 2:07:41terbalik. Nah, setelah diruqyah sama
- 2:07:42Ustadz Fikri, kondisi Mas Edo
- 2:07:45tidak sepenuhnya membaik. Dimas bilang,
- 2:07:47Dimas yang masih setia tinggal di situ
- 2:07:49bilang, "Mas Edo masih terus dihantui
- 2:07:51sama sosok itu, Nat. Dia masih
- 2:07:52sakit-sakitan
- 2:07:54dan lebih banyak menghabiskan waktunya
- 2:07:56mengurung diri di dalam kamar."
- 2:07:58Kata Dimas. Sampailah
- 2:08:0040 hari kemudian.
- 2:08:03Tidak ada angin, tidak ada hujan,
- 2:08:06Dimas ngabarin semua orang,
- 2:08:09Mas Edo meninggal dunia.
- 2:08:15Meninggal. Kepergiannya Mas Edo ini
- 2:08:17pastinya bikin semua orang kaget,
- 2:08:19termasuk keluarga Fajar yang ada di
- 2:08:20Kampung A. Meskipun mereka masih
- 2:08:22menyimpan rasa
- 2:08:24yang tidak bisa dijelaskan kesalnya itu
- 2:08:26kayak gimana, Wa. Tapi bagaimanapun juga
- 2:08:28orang tuanya Mas Edo itu sudah
- 2:08:31dari dulu sudah baik sama mereka. Mereka
- 2:08:32juga memikirkan kondisinya Tata yang
- 2:08:34pastinya lebih sedih lagi pada saat tahu
- 2:08:36bapaknya meninggal. Jadi mereka
- 2:08:37memutuskan untuk
- 2:08:39"Pak datang kita, Pak." Kata Fajar.
- 2:08:41Datang.
- 2:08:42Mereka tetap datang ke pemakamannya Mas
- 2:08:45Edo dan mereka juga stay 7 hari ikut
- 2:08:48acara 7 hariannya Mas Edo. Sampai di
- 2:08:50titik itu
- 2:08:51keluarganya Fajar terpaksa harus
- 2:08:53mengubur rapat-rapat rasa penasaran
- 2:08:55mereka soal apa sebenarnya penyebab
- 2:08:57pasti kepergiannya anak mereka,
- 2:09:00kepergiannya [musik] Mbak Santi.
- 2:09:01Satu-satunya orang yang tahu pasti apa
- 2:09:04yang sebenarnya terjadi kan sudah enggak
- 2:09:06ada, Mas Edo sudah meninggal kan, Wa, ya
- 2:09:07kan? "Ya mau gimana lagi, Nat, kami di
- 2:09:09situ." Kata Fajar. Ikhlas enggak ikhlas,
- 2:09:11mau laporin juga orang sudah enggak ada.
- 2:09:13Tapi tanpa diduga justru setelah
- 2:09:15kepergiannya Mas Edo inilah, Wa
- 2:09:18satu rahasia besar yang selama ini
- 2:09:20disembunyikan Mas Edo pun
- 2:09:23terungkap.
- 2:09:33Nah jadi, Wa, menurut kesaksian Dimas
- 2:09:36yang masih tinggal sama Mas Edo, setelah
- 2:09:38diruqyah sama Ustaz Fikri kemarin itu
- 2:09:40perilakunya Mas Edo berubah 180 derajat.
- 2:09:44Dia jadi rajin salat, dia rutin baca
- 2:09:47Quran, dia selalu bangun salat malam dan
- 2:09:49dia lebih banyak menghabiskan waktu
- 2:09:51dengan zikir di dalam kamarnya. Melihat
- 2:09:53perubahan itu Dimas tentunya berharap
- 2:09:55kondisinya Mas Edo ini pelan-pelan mulai
- 2:09:57membaik ya, kan.
- 2:09:59Tapi ternyata betul yang dibilang sama
- 2:10:00Ustaz Fikri, gangguan yang dialami sama
- 2:10:03Mas Edo belum sepenuhnya berhenti, Wa.
- 2:10:05Karena apa? Karena setiap kali Mas Edo
- 2:10:08itu salat malam, Dimas yang persis ada
- 2:10:10di sebelah kamarnya
- 2:10:12selalu melihat kejadian, mendengar
- 2:10:14kejadian aneh yang masih terjadi. "Jadi
- 2:10:17tiap sepertiga malam itu, Nat, aku tuh
- 2:10:19selalu kebangun gara-gara aku dengar ada
- 2:10:21suara gemuruh dari arahnya arah kamarnya
- 2:10:24Mas Edo. Waktu ku dekatin suaranya
- 2:10:26kedengaran makin jelas lagi Nak. Dari
- 2:10:28arah plafon kamarnya Mas Edo.
- 2:10:33Gitu-gitu Wak. Terus setiap kali aku
- 2:10:34dengar itu enggak lama pasti aku dengar
- 2:10:36Mas Edo kayak lagi dicekik.
- 2:10:41[berdehem]
- 2:10:43Aku yang tuh yang mau masuk kan mau
- 2:10:45nolongin kan tapi enggak bisa Nak karena
- 2:10:46pintu kamarnya Mas Edo tuh selalu
- 2:10:48dikunci. Sudah ku ketok-ketok Mas Mas
- 2:10:50Mas Mas enggak pernah dibukain sama Mas
- 2:10:53Edo. Jadinya selama hal itu terjadi tuh
- 2:10:55aku cuman bisa nunggu di luar kamar.
- 2:10:57Standby di luar kamar diam baca doa dan
- 2:10:59kejadian ini terjadi hampir setiap malam
- 2:11:02Nak. Pun besoknya waktu aku ketemu sama
- 2:11:04Mas Edo aku tanya langsung Mas kamu
- 2:11:05kenapa tadi malam? Enggak apa-apa Dimas
- 2:11:07doain aja cepat hilang ya katanya.
- 2:11:09Sampailah
- 2:11:10pada di hari sebelum Mas Edo meninggal
- 2:11:13ada satu kejadian yang beda dari
- 2:11:15sebelum-sebelumnya Wak malam itu Nak.
- 2:11:18Hawa udara di kamar aku bahkan itu
- 2:11:21pengap kali. Aku sampai keluar tuh
- 2:11:24enggak bisa tidur aku kan di kamar.
- 2:11:25Pindahlah aku ke ruang tengah. Baru aja
- 2:11:27aku tiduran di sofa nih lagi posisi
- 2:11:29tidur.
- 2:11:30Tiba-tiba Dimas dengar ada
- 2:11:35ada suara langkah kaki jalan ke arahnya
- 2:11:38Mas Edo kamarnya Mas Edo. Tapi enggak
- 2:11:40saya buat yang kemarin-kemarin Wak
- 2:11:41enggak yang kayak berkerumun
- 2:11:43enggak.
- 2:11:46Suaranya jelas kali kayak sengaja
- 2:11:48dihentak-hentak sama dia. Bangun aku
- 2:11:50kan.
- 2:11:51Waktu ku bangun ku toleh ke kamarnya Mas
- 2:11:53Edo di situ untuk ketiga kalinya aku
- 2:11:56lihat sosok muka merah tuh Nak dia lagi
- 2:11:58berdiri
- 2:12:00di depan kamarnya Mas Edo.
- 2:12:02Di situ nyali aku ciut lagi walaupun aku
- 2:12:04dasarnya pemberani tapi setelah tahu
- 2:12:06betapa jahatnya sosok ini
- 2:12:08ketakutan aku langsung ref
- 2:12:09astagfirullahalazim astagfirullahalazim
- 2:12:11ku tutup mataku kan Nak terus enggak
- 2:12:12lama suara tuh hilang.
- 2:12:14Suara tuh hilang diganti sama suara
- 2:12:17napasnya Mas Edo di dalam,
- 2:12:19terengah-engah.
- 2:12:24Dan kali ini lebih keras Nak, kayak
- 2:12:26orang mau
- 2:12:27sakaratul maut. Ku beraniin buka mata
- 2:12:28langsung, sosok merah itu rupanya enggak
- 2:12:30ada. Berlarilah aku masuk ke kamarnya
- 2:12:32Mas Edo kan. Dan untungnya malam itu
- 2:12:34kamarnya Mas Edo enggak dikunci kayak
- 2:12:36malam-malam sebelumnya.
- 2:12:37Enggak dikunci sama Mas Edo. Masuklah
- 2:12:39aku. Di situ aku tengok, Mas Edo tuh
- 2:12:42lagi terpejam di atas kasur. Langsunglah
- 2:12:44aku bangunin kan, "Mas, Mas, Mas bangun
- 2:12:46tuh."
- 2:12:48[terengah-engah]
- 2:12:54Waktu Mas Edo bangun tuh enggak kaget
- 2:12:55dia. Udah kayak pasrah gitu Nak, kayak
- 2:12:57lemas sekali.
- 2:13:01Ku ambilin minum kan.
- 2:13:02"Minum Mas." Kasih dia minum.
- 2:13:04Dikurbahin lagi. "Mas sudah Mas,
- 2:13:06istirahat lagi ya, biar aku temenin Mas
- 2:13:08di sini. Pintunya enggak usah ditutup."
- 2:13:10Ngangguk Mas Edo.
- 2:13:12Ya, tidur lagilah Mas Edo. Di situ aku
- 2:13:14berjaga Nak, sampai pagi. Mungkin Mas
- 2:13:15Edo enggak tidur aku sama sekali. Itu
- 2:13:17tuh malam hari sebelum meninggal. Nah,
- 2:13:19ternyata Wak, kejadian malam itu enggak
- 2:13:21cuman Dimas saja yang ngelihat, enggak
- 2:13:22cuman Dimas saja yang ngalamin. Karena
- 2:13:24besok paginya salah satu tetangga
- 2:13:26dekatnya Mas Edo, namanya Pak Jamal,
- 2:13:28tiba-tiba nyamperin Dimas. Aku lagi di
- 2:13:30luar Nak, luar halaman. "Dim, iya Pak,
- 2:13:32tadi malam sekitar jam 01.00 aku dengar
- 2:13:34ada suara berisik kali dari rumahmu."
- 2:13:37Rumahnya Mas Edo.
- 2:13:38"Kayak ada orang lari-lari Dim, suaranya
- 2:13:40kencang kali."
- 2:13:41"Keluarlah aku ngecek, kau tahu Dim."
- 2:13:43"Waktu ku cek tuh ya ada banyak monyet
- 2:13:46di sekitar rumahku tuh, banyak nih.
- 2:13:47Sebanyak itu ada lari-larian di atap,
- 2:13:49ada yang ngelilingin rumah. Dan yang
- 2:13:51paling banyak tuh numpuk dia di depan
- 2:13:54pintu rumah Dimas. Ku pikir aku salah
- 2:13:55tengok kan. Eh, rupanya anak sama
- 2:13:57istriku dengar juga, nyusul juga. Dan
- 2:13:59mereka ngelihat juga. Kami samperin kan,
- 2:14:01"Ngapo kok tiba-tiba monyet ramai di
- 2:14:02situ?" Waktu kami samperin tiba-tiba
- 2:14:05hilang monyet. Takutlah kami nyamperin,
- 2:14:07"Udah Dim, udah masuk, masuk, masuk."
- 2:14:08Ini makanya aku tanya sama mu, "Aman?"
- 2:14:10Dimas cuman bilang, "Oh, aman kok Pak,
- 2:14:11udah biasa. Pak, tapi tolong ya, Pak,
- 2:14:13jangan ceritain ke siapa-siapa. Cukup
- 2:14:15sampai keluarga Bapak aja. Saya enggak
- 2:14:17mau warga heboh. Kasihan keluarga Mas
- 2:14:19Edo." Gitu. Sudahlah, waktu digituin Pak
- 2:14:22Jamal juga enggak banyak tanya, Pak. Pak
- 2:14:23Jamal bilang, "Oh, iyalah, syukurlah
- 2:14:25kalau enggak kenapa-napa. Iya, Dim,
- 2:14:26Bapak paham. Kalau butuh bantuan,
- 2:14:28kabarin Bapak ya, Dim, ya." Kata gitu.
- 2:14:30"Iya, Pak, makasih." Sudah, enggak lama
- 2:14:32habis ngobrol sama Pak Jamal di depan,
- 2:14:34Dimas masuklah ke rumah. Nah, waktu
- 2:14:36Dimas masuk ini, Mas Edo keluar dari
- 2:14:38kamarnya. Waktu dia keluar, nah, itu
- 2:14:40badannya segar. Segar kayak dia enggak
- 2:14:42baru ngalamin hal tadi malam itu.
- 2:14:44Padahal tadi malam itu lebih ekstrem
- 2:14:45menurutku daripada malam-malam
- 2:14:47sebelumnya. Dia keluar segar, kan. Dia
- 2:14:49senyum ke aku. Aku tahu di jam-jam
- 2:14:50segini Mas Edo pasti mau bersiap salat
- 2:14:52Duha. Tapi sebelum dia wudu, kan, dia
- 2:14:54sudah nengok Dimas tuh di situ. Mas Edo
- 2:14:56tiba-tiba nyamperin aku, nah, dia
- 2:14:58bilang,
- 2:14:59"Mas,
- 2:15:01titip lapak ya, Dek.
- 2:15:03Itu kan juga lapak kamu. Kamu yang
- 2:15:04semangat. Jaga baik-baik lapaknya.
- 2:15:07Jangan lupa juga nanti kirim jatah untuk
- 2:15:10Tata, ya.
- 2:15:11Kau transfer nanti lewat Fajar."
- 2:15:13Katanya.
- 2:15:13Dia ngomong kayak gitu, dengar gitu
- 2:15:15heran aku, kan. Eh, kenapa pula Mas Edo
- 2:15:17tiba-tiba ngomong kayak gini, ya, kan.
- 2:15:19Aku bilang, "Oh, iya, siap, Mas, aman."
- 2:15:21Habis itu Dimas pergi tuh ke kamar,
- 2:15:23siap-siap mau ke lapak, kan. Sementara
- 2:15:24Mas Edo ke kamar mandi ambil air wudu,
- 2:15:27gitu. Nah, pas Dimas mau berangkat ke
- 2:15:29lapak, Dimas dengar suara keran di kamar
- 2:15:31mandi itu masih nyala. Dimas teriaklah,
- 2:15:33"Berangkat dulu ya, Mas." Katanya.
- 2:15:35Enggak dibalas sama Mas Edo. Dimas pikir
- 2:15:36dia memang lagi wudu ini. Disamperinlah,
- 2:15:39mau nyamperin langsung. Waktu aku ke
- 2:15:41kamar mandi,
- 2:15:43tepat di situ kutengok Mas Edo sudah
- 2:15:46tergeletak di lantai, lantai kamar
- 2:15:48mandi. Enggak sadar, kan, Dimas itu
- 2:15:50sudah terpejam. "Eh, Mas." Dimas
- 2:15:51langsung nyamperin, dibangun. "Mas, Mas,
- 2:15:53Mas bangun, Mas. Mas."
- 2:15:55Itu sudah enggak sadar, nah. Badannya
- 2:15:57kugoyang-goyangin enggak juga merespon
- 2:15:58Mas Edo ini. Dimas dibantu sama warga
- 2:16:00yang lain langsung buru-buru bawa Mas
- 2:16:02Edo ke rumah sakit. Tapi sayangnya
- 2:16:04setelah sampai di rumah sakit, nyawa Mas
- 2:16:06Edo sudah tidak tertolong. Dimas yang
- 2:16:08ngelihat, Dimas syok bukan main Wa. Yang
- 2:16:10pertama kali ku ingat adalah tadi malam
- 2:16:12Mas Edo baru aja ngalamin gangguan yang
- 2:16:14lebih dari sebelumnya dari si sosok muka
- 2:16:17merah itu kan. Belum lagi ceritanya Pak
- 2:16:18Jamal soal puluhan monyet yang tiba-tiba
- 2:16:20muncul ngelilingin rumahnya Mas Edo di
- 2:16:22malam yang sama juga. Terus paginya Mas
- 2:16:25Edo kelihatan baik-baik aja, sehat-sehat
- 2:16:26aja. Malah sempet juga tadi kan nitipin
- 2:16:29lapak buahnya ke Dimas. Bahkan sempet
- 2:16:30ngingetin soal jatah buat Tata. Padahal
- 2:16:32sebelum-sebelumnya mau sakit apapun
- 2:16:33kayak gitu enggak pernah Mas Edo ngomong
- 2:16:35kayak gitu Nak. Nah setelah Mas Edo
- 2:16:36meninggal barulah semua kejadian itu
- 2:16:39terasa
- 2:16:40janggal buat Dimas. Apa jangan-jangan
- 2:16:43Mas Edo sebenarnya [musik]
- 2:16:44udah punya firasat
- 2:16:46kalau sebentar lagi ada sesuatu yang
- 2:16:48terjadi sama aku. Dan mungkin sosok muka
- 2:16:51merah sama monyet-monyet yang muncul
- 2:16:53[musik] di malam sebelumnya itu
- 2:16:56memang ada kaitannya sama kepergiannya
- 2:16:57Mas Edo. Wallahualam Nadia. Aku [musik]
- 2:17:00enggak tahu kata si Dimas. Semua itu
- 2:17:02cuma dugaan aku. Tapi kok ya pas sekali
- 2:17:04ya kan setelah malam itu kejadian kayak
- 2:17:06gitu besoknya
- 2:17:07Mas Edo berpulang.
- 2:17:10Beberapa hari setelah Mas Edo
- 2:17:11dimakamkan, tepatnya waktu selesai acara
- 2:17:14tahlilan Wa, tiba-tiba
- 2:17:17Dimas
- 2:17:18minta atau ngumpulin semua keluarganya
- 2:17:20Mas Edo dan keluarganya Fajar di ruang
- 2:17:24tengah.
- 2:17:25Ada Rizki di situ juga. Kenapa tiba-tiba
- 2:17:27Dimas ngumpulin semuanya? Di situlah
- 2:17:29Dimas menyerahkan
- 2:17:31dua buah surat dari Mas Edo. Surat ini
- 2:17:36ditemukan Dimas di atas meja kamarnya
- 2:17:38Mas Edo Wa. Satu surat untuk Pak Sabar,
- 2:17:41mertuanya
- 2:17:42bapaknya Mbak Santi.
- 2:17:44Satu surat untuk Pak Ali, untuk
- 2:17:47bapaknya. Isi kedua surat itu hampir
- 2:17:49sama Wa.
- 2:17:51Isinya kurang lebih
- 2:17:53Mas Edo mengaku kalau dia sudah
- 2:17:56menjalankan praktek pesugihan. Dia juga
- 2:17:59mengakui dosa-dosanya soal ritual dan
- 2:18:03tumbal-tumbal sebelumnya. Dan dia juga
- 2:18:05minta [musik] maaf ke semua orang yang
- 2:18:07terdampak sama perbuatannya. Dia ngaku
- 2:18:09Wa, dia memang sudah melakukan praktik
- 2:18:12pesugihan. Dan di surat itu, Mas Edo
- 2:18:14juga minta
- 2:18:16tanah di sebelah rumahnya persis dan
- 2:18:19juga kebun-kebun yang dia punya
- 2:18:22dijual
- 2:18:23jangan ambil uang itu, hasil
- 2:18:25penjualannya sumbangkan ke masjid.
- 2:18:28"Kenapa? Karena lahan-lahan, aset-aset
- 2:18:30itu aku dapat dari uang [musik]
- 2:18:33pesugihan-pesugihan sebelumnya.
- 2:18:36Aku enggak mau kalian menikmati uang
- 2:18:38itu. Itulah uang-uang yang yang itulah
- 2:18:40kan."
- 2:18:41Itu Wa dia bilang jual.
- 2:18:43Tapi rumah yang ini, rumah yang dia
- 2:18:45tempati dulu sama Mbak Santi sama Tata,
- 2:18:48yang ditempati sama eh Dimas juga
- 2:18:50"Tolong serahkan ke Tata."
- 2:18:53Ke anaknya. Mas Edo bilang, "Rumah itu
- 2:18:55saya bangun dari hasil jualan [musik]
- 2:18:58buah saya bersama Mbak Santi." Jadi ini
- 2:19:00memang hasil murni kerja keras, bukan
- 2:19:01dari hasil pesugihan. [musik] Mas Edo
- 2:19:03juga pesan supaya Tata biarkan memilih
- 2:19:07sendiri mau tinggal sama siapa.
- 2:19:09Mau tinggal sama Pak Ali atau mau
- 2:19:11tinggal sama Pak Sabar. Dah.
- 2:19:15Soal pesugihan sudah, praktik ilmu hitam
- 2:19:18sudah diakui, bersekutu sama iblis. Mas
- 2:19:20Edo sudah mengakuinya.
- 2:19:23[mendengus]
- 2:19:23Terus bagaimana dengan Mbak Santi? Di
- 2:19:26sinilah [musik] Wa.
- 2:19:27Di bagian akhir surat terakhir itu,
- 2:19:29rahasia besar soal kepergiannya Mbak
- 2:19:31Santi pun turut Mas Edo ungkapkan.
- 2:19:37Jadi Wa berdasarkan pengakuan Mas Edo
- 2:19:39yang dia tulis di surat tersebut,
- 2:19:41sebenarnya istrinya Mbak Santi ini sudah
- 2:19:44lama curiga kalau suaminya melakukan
- 2:19:46praktik pesugihan. Mbak Santi sering tuh
- 2:19:48nemuin ada benda-benda aneh, kayak ada
- 2:19:49dupa atau barang-barang sejenisnyalah di
- 2:19:52kamar, disembunyi-sembunyiin atau di
- 2:19:54sudut-sudut rumah. Mbak Santi sudah
- 2:19:55nengok itu. Nah karena Mbak Santi ini
- 2:19:57orangnya taat kali sama agama, dia
- 2:19:58tanyalah ke suaminya kan, "Mas, ini ada
- 2:20:00apa, Mas? Kok ada temuan-temuan barang
- 2:20:02kayak gini? Mbak Santi pengin tahu ini
- 2:20:03barangnya mau dipakai buat apa gitu kan?
- 2:20:05Ini apa nih, Mas? Hah? Jangan bilang Mas
- 2:20:07praktekin ilmu hitam ya?" Digituin. Kan
- 2:20:09Mbak Santi juga enggak bodoh loh waktu
- 2:20:10ngelihat barang-barang itu kan. Nah,
- 2:20:11setiap kali ditanya bukannya ngasih
- 2:20:14penjelasan, Mas Edo marah. Bertengkar
- 2:20:17hebatlah mereka. Nah, lama-kelamaan
- 2:20:19pertengkaran mereka berujunglah sama
- 2:20:21kekerasan fisik yang dilakukan sama Mas
- 2:20:23Edo ke Mbak Santi. Nah, dari situ sudah
- 2:20:25mulai main tangan. Itulah mungkin kenapa
- 2:20:27Mbak Santi suka curhat sama Mbak Maya.
- 2:20:29Laki sudah mulai main tangan. Cuman kan
- 2:20:31di chat-nya Mbak Maya dia enggak bisa
- 2:20:32ngejelasin secara detail kan karena dia
- 2:20:34juga malu. "Nih kayak suami aku
- 2:20:35pesugihan." Enggak bisa dia ngomong
- 2:20:36kayak gitu. "Suami aku main tangan."
- 2:20:37Kata dia kayak gitu. Dan lebam yang
- 2:20:38ditengok sama Rizky terakhir itu juga
- 2:20:40lebam bekas pertengkaran mereka yang
- 2:20:41berdebat ketika soal kelakuannya Mas Edo
- 2:20:43nih, Wak. Dah, sampailah di suatu waktu
- 2:20:45Mbak Santi lihat ada tamu yang
- 2:20:48penampilannya mirip kayak dukun gitu
- 2:20:50datang ke rumahnya dia. Tanpa
- 2:20:51sepengetahuannya Mas Edo, Mbak Santi
- 2:20:53nguping pembicaraan mereka berdua.
- 2:20:55Rupanya di situ Mas Edo sama si tamu ini
- 2:20:58nih lagi ngebahas soal
- 2:21:01tumbal selanjutnya.
- 2:21:03Dah, habis itu pergilah dukun ini.
- 2:21:06Santi yang dengar jelas ucapan mereka
- 2:21:08keluar marah-marahlah dia langsung. Dia
- 2:21:10langsung kemasin barang-barang dia, Wak.
- 2:21:12Terus ngajak Tata balik kampung ke
- 2:21:14kampung A. Nengok itu Mas Edo, "Mau ke
- 2:21:15mana kamu? Hah? Tata mau kamu bawa ke
- 2:21:17mana?" "Enggak, aku mau pulang aku. Aku
- 2:21:19enggak mau lagi tinggal sama kamu yang
- 2:21:20masih ah sudah kelewatan kamu, Mas. Aku
- 2:21:22sudah dengar semuanya. Aku dengar
- 2:21:24percakapan kalian tadi. Benar kan dugaan
- 2:21:25aku selama ini kamu pakai pesugihan.
- 2:21:27Kamu pakai tumbal, Mas. Bisa-bisanya
- 2:21:29kamu nyari kekayaan dengan cara kayak
- 2:21:30gitu, Mas. Ya Allah, ya Allah. Aku
- 2:21:33laporin ya semua ini sama Bapak Ibu kamu
- 2:21:35ya." Kata kayak gitu. Marah juga Mas
- 2:21:37Edo. "Eh, kamu jangan asal ngomong ya.
- 2:21:38Mana buktinya, hah?" "Sudahlah, Mas.
- 2:21:40Enggak usah kamu ngeles lagi. Buktinya
- 2:21:41sudah banyak. Kamu juga lagi nyari
- 2:21:43tumbal lagi kan, Mas? Kan selama ini
- 2:21:46kamu sudah ngapain saja, Mas? Ya Allah,
- 2:21:48Mas." Gitu. Dengar itu makin emosi, Wak,
- 2:21:50Mas Edo. Ditampare Mbak Santi kan "Gak!"
- 2:21:53gitu. Ditampat.
- 2:21:55[terkesiap]
- 2:21:56Dan
- 2:21:57karena Mas Edo sudah kehilangan kendali,
- 2:22:01dia tahu ini istri sama anak yang mau
- 2:22:02ninggalin dia,
- 2:22:05bisikan setan, dicek lah lehernya Mbak
- 2:22:08Santi.
- 2:22:10Sampai Mbak Santi meninggal. Mbak Santi
- 2:22:13sudah dihilangkan nyawanya sama suaminya
- 2:22:17sendiri.
- 2:22:18Tertulis semua di surat. Dan menurut
- 2:22:20pengakuannya Mas Edo,
- 2:22:22sebenarnya waktu itu tuh dia sama sekali
- 2:22:23enggak berniat untuk menghilangkan nyawa
- 2:22:25istrinya, Wak. Dia cuman kalap karena
- 2:22:27enggak terima Tata, anak yang paling dia
- 2:22:29sayang, mau dibawa pergi. Begitu sadar
- 2:22:31istrinya ini sudah tidak bernyawa akibat
- 2:22:33tangannya sendiri, panik juga Mas Edo.
- 2:22:37Dia enggak nyangka pertengkaran mereka
- 2:22:38akan berakhir sampai kayak gitu. Apalagi
- 2:22:40sekarang dia harus menghadapi kenyataan
- 2:22:42kalau istrinya meninggal di tangan dia
- 2:22:44sendiri. Karena takut perbuatannya
- 2:22:45ketahuan, Mas Edo akhirnya merekayasa
- 2:22:51kepergian yang Mbak Santi seolah-olah
- 2:22:53Mbak Santi apa?
- 2:22:56Menggantungkan dirinya. Dia sewa lah
- 2:22:58dokter, dia sewa lah polisi gadungan
- 2:23:00untuk membantu menutupi kejadian yang
- 2:23:02sebenarnya terjadi. Memang terbukti yang
- 2:23:04kemarin kan yang penyelidikan diam-diam
- 2:23:06itu kan. Dia banyak uang, dia banyak
- 2:23:07lagi kenalan-kenalan kayak gitu kan di
- 2:23:09lingkungan ilmu hitam, soal bursi,
- 2:23:11legal, apa segala macam tuh kan pasti
- 2:23:12ada link-link-nya ke sana tuh. Nah, dari
- 2:23:14situ. Jadi, di sini Mbak Santi
- 2:23:16enggak menghilangkan nyawa-nyawa, tapi
- 2:23:18dia dihilangkan nyawanya. Dan
- 2:23:21kejadian barusan yang Mbak Santi di
- 2:23:23serang sama suaminya itu
- 2:23:25terjadi satu hari setelah Rizki ngambil
- 2:23:28pakaian-pakaiannya Mbak Santi yang sudah
- 2:23:30dikemas dalam kantong itu. Jadi,
- 2:23:31kayaknya waktu Rizki ngambil terus kan
- 2:23:33Mbak Santi juga sempat ke neraka. Dia
- 2:23:35sempat nyeletuk kayak gitu kan. Nah, di
- 2:23:36situ kami menduga kayaknya, Nat,
- 2:23:40waktu itu Mbak Santi itu sebenarnya
- 2:23:41sudah punya rencana mau ninggalin
- 2:23:43suaminya. Makanya sebagian pakaiannya
- 2:23:45dititipkan dulu ke Rizki. Tapi, pas Mbak
- 2:23:47Santi enggak sengaja dengar langsung di
- 2:23:49hari itu setelah siapa ini pulang, dia
- 2:23:50dengarlah di besoknya Mas Edo ngomong
- 2:23:53soal tumbal-tumbal itu, makin takutlah,
- 2:23:55makin marahlah Mbak Santi di situ.
- 2:23:57Keselamatan dia sama Tata bisa ikut
- 2:23:59terancam nih. Makanya Mbak Santi mutusin
- 2:24:01mau langsung pergi hari itu juga. Tapi
- 2:24:03sayangnya sebelum rencana itu sempat
- 2:24:05terlaksana, Mbak Santi sudah lebih dulu
- 2:24:07dihabis nyawanya sama suaminya sendiri.
- 2:24:10Berarti sudah kejawab ya, Wak, di sini
- 2:24:12kalau Mbak Santi [musik] meninggal bukan
- 2:24:14menghilangkan nyawanya.
- 2:24:16Dia dihilangkan. Pertanyaan selanjutnya
- 2:24:19soal tumbal itu. Benar enggak kalau Mbak
- 2:24:23Santilah yang memang mau dijadikan
- 2:24:25tumbal selanjutnya? Iya apa enggak, Wak?
- 2:24:30Betul.
- 2:24:33Mas Edo memang sudah memilih istrinya,
- 2:24:36Mbak Santi, [musik]
- 2:24:37untuk dijadikan tumbal pesugihan
- 2:24:40selanjutnya.
- 2:24:41Dia bilang ke makhluk itu, "Siapa
- 2:24:43selanjutnya?" "Istriku."
- 2:24:47Tapi karena Mbak Santi keburu meninggal
- 2:24:50akibat pertengkaran yang dia bikin
- 2:24:51sendiri, proses penumbalan yang
- 2:24:53direncanakan itu belum sempat dilakukan.
- 2:24:56Jadi kayak enggak dihitung, Wak. Nah,
- 2:24:58awalnya Mas Edo sendiri enggak tahu,
- 2:24:59Wak, apakah kematian Mbak Santi ini
- 2:25:01tetap bisa dianggap sebagai tumbal atau
- 2:25:03enggak.
- 2:25:04Sampai akhirnya setelah Mbak Santi
- 2:25:06berpulang, Mas Edo mengaku mendapat
- 2:25:09permintaan lain dari sosok iblis yang
- 2:25:13selama ini berhubungan sama dia. Rupanya
- 2:25:15kepergian Mbak Santi itu tidak dianggap
- 2:25:18sebagai tumbal yang sah. Karena tumbal
- 2:25:20yang sudah dia pilih meninggal dunia
- 2:25:23atau terlanjur meninggal sebelum ritual
- 2:25:26persembahan dilakukan. Karena itulah,
- 2:25:28Wak, Mas Edo diminta apa? Menyerahkan
- 2:25:31tumbal baru sebagai penggantinya. Dan
- 2:25:33kali ini bukan Mas Edo yang menentukan,
- 2:25:35tapi iblis itu. Iblis itu yang
- 2:25:37menentukan tumbal baru sebagai
- 2:25:39penggantinya. Dan yang dia minta adalah
- 2:25:43Tata.
- 2:25:45Anak kandungnya sendiri, anak kandungnya
- 2:25:47Mas Edo. Di sini Mas Edo enggak mau, dia
- 2:25:50nolak. Dia nolak menyerahkan Tata karena
- 2:25:52dia sayang kali sama Tata, ini anaknya
- 2:25:54ya kan. Sementara si sosok ini terus
- 2:25:56menagih tumbal pengganti itu karena
- 2:25:58perjanjian pesugihan mereka itu belum
- 2:26:00terpenuhi. Makanya sejak saat itu Mas
- 2:26:03Edo terus-terusan diteror, terus-terusan
- 2:26:06disiksa. Supaya apa? Supaya dia mau
- 2:26:08menyerahkan Tata. Tapi Mas Edo tetap
- 2:26:10bertahan.
- 2:26:12Dia lebih memilih menanggung semua
- 2:26:14siksaan itu daripada harus mengorbankan
- 2:26:17anaknya sendiri. Lama-kelamaan Mas Edo
- 2:26:19juga mulai menganggap penderitaan yang
- 2:26:21dialaminya itu Wa setelah kejadian ini,
- 2:26:24setelah dia tahu kalau itu tidak tidak
- 2:26:26dihitung ya
- 2:26:27sebagai bentuk penebusan atas
- 2:26:29dosa-dosanya. Terutama karena dia sudah
- 2:26:32menghilangkan nyawanya Mbak Santi. Dia
- 2:26:34menyesali semua perbuatannya dan baru
- 2:26:36sadar betapa jahatnya tipu daya iblis
- 2:26:40yang selama ini dia ikuti. Dulu dia
- 2:26:41berharap dia bisa makin kaya lagi lewat
- 2:26:44pesugihan yang sudah lama dia jalani.
- 2:26:46Tapi ujung-ujungnya dia malah kehilangan
- 2:26:48istri, hidupnya diteror, hidupnya enggak
- 2:26:50tenang, bahkan anaknya sendiri juga ikut
- 2:26:53terancam. Dan karena Mas Edo ini sadar
- 2:26:55betapa besarnya bahaya yang sedang
- 2:26:56mengancam Tata
- 2:26:58sebelum dia meninggal dunia, di situlah
- 2:26:59dia menuliskan semua pengakuannya dalam
- 2:27:01surat terakhir. Surat itu terkonfirmasi
- 2:27:04tulisan yang memang tulisannya Mas Edo
- 2:27:05Wa. Dia terlalu malu untuk mengakui ini
- 2:27:09semua di hadapan keluarga besarnya. Dia
- 2:27:11berharap keluarganya jadi tahu apa yang
- 2:27:13sebenarnya terjadi, sekaligus juga dia
- 2:27:16berharap keluarganya bisa menjaga Tata
- 2:27:18dari sosok yang selama ini meneror dia.
- 2:27:22Selesai isi surat tuh. Habis baca surat
- 2:27:25itu Nan, itu semua yang ada di sana
- 2:27:28histeris jadi-jadinya.
- 2:27:31Ya Allah, mereka akhirnya tahu kenapa
- 2:27:33sosok Mbak Santi itu lha neror warga
- 2:27:35kampung, datang nyamperin Bapak di
- 2:27:37masjid, bahkan juga minta tolong ke
- 2:27:38Rizki ya kan yang ada di pohon pisang
- 2:27:41ternyata ya karena ini alasannya Mbak
- 2:27:42Santi mau nyampein pesan soal
- 2:27:45kepergiannya yang disebabkan Mas Edo
- 2:27:47semua orang kesal nah semua orang marah
- 2:27:50semua orang tersayat hatinya Pak Sabar
- 2:27:52itu langsung
- 2:27:57lemas badannya Pak Sabar bapaknya Mbak
- 2:27:59Santi ternyata selama ini anak perempuan
- 2:28:01satu-satunya
- 2:28:02tidak bunuh diri tapi dihabisin nyawanya
- 2:28:05sama menantunya sendiri bahkan di titik
- 2:28:08waktu Pak Sabar tuh sudah tersadarkan
- 2:28:10berkat Ustaz Fikri kemarin-kemarin itu
- 2:28:12ya setelah dia tahu kalau dia
- 2:28:14diguna-guna supaya dia nurut terus sama
- 2:28:16Mas Edo itu Bapak tuh masih positif
- 2:28:17thinking loh nah dia kata Fajar dia
- 2:28:19mikir anaknya berpulang karena memang
- 2:28:20itu keputusannya sendiri mungkin karena
- 2:28:22Mbak Santi sudah enggak tahan suaminya
- 2:28:23KDRT atau praktik ilmu hitam ini kan
- 2:28:25makanya dia menghilangkan nyawa dia sama
- 2:28:27sekali enggak nyangka waktu itu dia
- 2:28:28masih positif thinking Bapak tuh menantu
- 2:28:30yang selama ini dianggap baik dan
- 2:28:31dipercaya kali kok ya bisa malah tega
- 2:28:33ngebohongin mereka dan melakukan semua
- 2:28:36perbuatan keji itu kan itu yang ada
- 2:28:38dalam pikiran Bapak waktu itu di sisi
- 2:28:39lain Bu Ika mamanya Mas Edo pingsan
- 2:28:42langsung nah aku dengar tuh sementara
- 2:28:44bagian yang paling pilu adalah Pak Ali
- 2:28:47bapaknya Edo waktu dengar itu langsung
- 2:28:49sujud di kaki Bapakku nah di kakinya Pak
- 2:28:51Sabar Pak Pak maafin kami Pak
- 2:28:54maafin kami maafin anak [mendengus] kami
- 2:28:57Pak
- 2:28:57maafin kami Pak maafin kami enggak bisa
- 2:29:00jagain anak Bapak maafin kayak gitu Pak
- 2:29:03sujud di kaki Bapak aku nah kata si
- 2:29:05Fajar pecahlah tangis Pak Ali juga di
- 2:29:07situ kan ikut nangis juga Bapak loh
- 2:29:09Ya Allah Pak Ya Allah Pak
- 2:29:11Pak udah Pak udah
- 2:29:13udah Pak bangun Pak bangun
- 2:29:15Bapak enggak perlu minta maaf Bapak
- 2:29:17enggak salah kata Pak Sabar memang sakit
- 2:29:20hati kami Pak marah kami kecewa kami
- 2:29:24bahkan ada hal di surat terakhirnya Edo
- 2:29:26ini Pak yang sudah kami tahu duluan
- 2:29:28itulah soal polisi sama dokter gadungan
- 2:29:30tadi kan dan kami sempat berniat loh Pak
- 2:29:32ngelaporin Edo ke polisi. Orang yang
- 2:29:34paling kami pikirkan sekarang cuman Tata
- 2:29:37Pak, cuman cucu kita. Kami kasihan nih
- 2:29:39Pak Tata kalau Edo sampai betul-betul
- 2:29:41dipenjara. Itu aja yang saya pikirkan
- 2:29:43Pak. Udah-udah Pak Ali.
- 2:29:44Semuanya sudah [musik] terjadi. Kita
- 2:29:46semua tahu Edo sempat tobat dan saya
- 2:29:51pribadi, ayahnya Santi,
- 2:29:53[musik]
- 2:29:54bisa merasakan kalau dia sudah menyesali
- 2:29:57perbuatannya sebelum meninggal. Yang
- 2:29:59terpenting sekarang
- 2:30:01Kami lega Pak.
- 2:30:03Santi memang tidak mengakhiri hidupnya
- 2:30:06sendiri. Di manapun Santi sekarang
- 2:30:08berada, saya yakin dia ikutan tenang
- 2:30:11setelah tahu semua ini terungkap. Kita
- 2:30:13sama-sama doain Santi sama [musik] Edo
- 2:30:15ya Pak.
- 2:30:16Semoga mereka tenang di alam sana.
- 2:30:19Dipeluk langsung sama Pak Ali.
- 2:30:20Berpelukanlah bapak-bapak ini Edo aku
- 2:30:23terharu ya astagfirullahalazim.
- 2:30:25Loh Pak Ali maaf aku peluk Pak Ali kami
- 2:30:28udah lah bertiga menangis-nangis [musik]
- 2:30:30di situ. Mau marah juga macam mana lagi
- 2:30:31Nan, ya kan.
- 2:30:32Itu yang terjadi Wa.
- 2:30:36Setelah momen penuh haru biru itu,
- 2:30:38keluarganya Pak Sabar dan Pak Ali pun
- 2:30:40sama-sama saling menguatkan dan berusaha
- 2:30:42untuk memulai hidup baru Wa. Mereka
- 2:30:44tetap menjaga hubungan baik satu sama
- 2:30:45lain. Mereka juga sepakat untuk
- 2:30:47menyimpan cerita kelam itu rapat-rapat.
- 2:30:49Sampai di beberapa tahun kemudian
- 2:30:53Pak Ali
- 2:30:54bapaknya Mas Edo meninggal dunia. Bu Ika
- 2:30:57pun
- 2:30:58[musik]
- 2:30:58pindah dari kampung A tinggal bersama
- 2:31:00dengan anaknya yang lain. Terus tidak
- 2:31:02berselang lama, beberapa tahun kemudian
- 2:31:04lagi
- 2:31:05Pak Sabar dan Bu Nur sekarang juga sudah
- 2:31:09berpulang. Sejak saat itu [musik]
- 2:31:11tersisalah di keluarga itu Tata dan
- 2:31:13Fajar. Tata tinggal bersama Fajar dan
- 2:31:16keluarganya. Fajar sudah berumah tangga
- 2:31:19di
- 2:31:20rumahnya Mas Edo.
- 2:31:23Di rumah kakaknya dulu. Tinggal di situ.
- 2:31:25Luka dalam hati mereka
- 2:31:27tidak akan pernah sembuh, Wak. Tapi
- 2:31:29mereka tetap berusaha menjalani hidup
- 2:31:31sebaik-baiknya demi membesarkan adik
- 2:31:35Tata. Begitu ceritanya.
- 2:31:38Selesai.
- 2:31:42Oke, Wak. Jadi itu tadi kisah horor
- 2:31:44sekaligus pilu yang dialami tiga wawak
- 2:31:46kita, Rizki, Dimas, terutama keluarganya
- 2:31:50Fajar dan juga orang-orang terdekat
- 2:31:52mereka. Kisah yang awalnya cuma
- 2:31:53menyisakan pertanyaan kenapa Mbak Santi
- 2:31:55sampai mengakhiri hidupnya sendiri,
- 2:31:57ternyata menyimpan rahasia yang jauh
- 2:31:59lebih kelam. Mbak Santi justru sudah
- 2:32:02dihilangkan nyawanya di tangan suaminya
- 2:32:05sendiri. Di saat dia sedang berusaha
- 2:32:06menyelamatkan diri dan juga anaknya dari
- 2:32:09rumah tangga yang sudah tidak aman ini.
- 2:32:11Kita semua tentu prihatin dan sedih ya
- 2:32:14sama apa yang dialami sama Mbak Santi.
- 2:32:16Aku sama sekali enggak pernah
- 2:32:17membenarkan perbuatannya Mas Edo ya.
- 2:32:19Penyesalan dan pertobatannya tidak akan
- 2:32:22bisa mengembalikan nyawa istrinya. Tapi
- 2:32:24setidaknya, Wak, kita semua harus tahu
- 2:32:26di akhir hidupnya Mas Edo berani
- 2:32:29mengakui kesalahannya dan berusaha
- 2:32:31melindungi Tata dari akibat perjanjian
- 2:32:34yang sudah dia buat sendiri. Dan di sini
- 2:32:35juga alasan kenapa kami memilih judul
- 2:32:37pulang untuk kisah KH W 400 ini karena
- 2:32:41ada dua makna yang kami ambil dari
- 2:32:42perjalanan seorang Mbak Santi dengan Mas
- 2:32:45Edo, Wak. Yang pertama tentang sosok
- 2:32:47yang menyerupai Mbak Santi yang seolah
- 2:32:50pulang kembali karena masih ada pesan
- 2:32:53yang ingin disampaikan dan juga rahasia
- 2:32:55tentang suaminya Mas Edo yang belum
- 2:32:57terungkap. Sementara yang kedua tentang
- 2:32:59Mas Edo sendiri. Setelah segala
- 2:33:00kesalahan yang dia perbuat dan
- 2:33:02konsekuensi yang harus dia tanggung pada
- 2:33:04akhirnya Mas Edo juga memilih untuk
- 2:33:08pulang.
- 2:33:09Pulang kembali kepada Allah dengan
- 2:33:11penyesalan dan pertobatannya.
- 2:33:14Semoga Allah mengampuni segala
- 2:33:16kesalahannya Mas Edo. Amin. Dan juga
- 2:33:18jangan lupa, Wak, mari kita doakan
- 2:33:19semoga
- 2:33:21semuanya, Mbak Santi, Pak Sabar, Bu Nur,
- 2:33:23dan Pak Ali yang sudah berpulang
- 2:33:25mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah
- 2:33:27Subhanahu wa taala dan juga untuk
- 2:33:28keluarga yang ditinggalkan semoga
- 2:33:30senantiasa diberikan ketabahan dan
- 2:33:32ketenangan. Alhamdulillah untuk kabar
- 2:33:34terbarunya semua yang tersisa dari
- 2:33:36keluarga mereka, dari kisah ini sekarang
- 2:33:38sudah melanjutkan kehidupannya
- 2:33:39masing-masing, Wak.
- 2:33:40Tata sudah tumbuh besar dan sudah
- 2:33:42melanjutkan pendidikannya di salah satu
- 2:33:44tempat favorit dan Fajar, dialah yang
- 2:33:47sekarang meneruskan lapak buah
- 2:33:50peninggalan Mas Edo, abang [musik]
- 2:33:52iparnya. Fajar.
- 2:33:56Keren kan? Aku tahu banyak Wawak yang
- 2:33:58request supaya KHW 400 ini selain
- 2:34:00durasinya panjang, ada dokumentasi
- 2:34:02aslinya ya, Wak, gitu kan? Nah, untuk
- 2:34:05durasi alhamdulillah sudah kami penuhi,
- 2:34:07Wak. Tapi soal dokumentasi asli, he eh,
- 2:34:09iya. Setelah kalian dengar sendiri
- 2:34:11kisahnya dari awal sampai sekarang ini
- 2:34:13aku mau tanya sama kalian, apakah elok,
- 2:34:15apakah etis kalau kami menampilkan
- 2:34:18dokumentasi pribadi dari kisah se-pilu
- 2:34:20ini, Wak, kepada jutaan mata?
- 2:34:22Apakah etis?
- 2:34:24Tentu tidak, ya.
- 2:34:26Rizki, Wawak sudah mengirimkan
- 2:34:28dokumentasi aslinya setelah kami minta.
- 2:34:30Rumahnya Mas Edo sama Mbak Santi, tempat
- 2:34:33kejadian [musik] itu, lapak buahnya Mas
- 2:34:35Edo, foto Rizki Fajar di masa waktu SMA
- 2:34:37sudah kutengok, makamnya Mbak Santi,
- 2:34:40rumahnya Pak Sabar, serambi masjid
- 2:34:42sampai etalase kaca tempat yang Bapak
- 2:34:44Rizki salat tuh ada. Sudah, sudah ada,
- 2:34:46ada fotonya. Wawak kirim ke kami.
- 2:34:48Dokumentasinya ada, Wak. Aku bersama tim
- 2:34:50sudah melihatnya secara langsung, tapi
- 2:34:53dokumentasi ini bukan untuk
- 2:34:54disebarluaskan. Jadi, tolong,
- 2:34:57tolong jangan komplain kalau kami tidak
- 2:35:00nampilin di sini ya, Wak, ya. Aduh, baik
- 2:35:02semua Wawak ini. Di awal video tadi kita
- 2:35:04sudah sepakat sama-sama tuh, ya kan?
- 2:35:05Menghargai privasi orang-orang yang
- 2:35:07terlibat dalam kisah ini. Dan menurutku
- 2:35:09juga kita enggak perlu melihat seluruh
- 2:35:10dokumentasi pribadi seseorang untuk bisa
- 2:35:13menghargai dan ngambil pelajaran dari
- 2:35:15kisah hidup ini ya, kan, Wak? Jangan
- 2:35:16bete Bete enggak apa-apa, tapi jangan
- 2:35:18lama-lama. Yang jelas, sekali lagi
- 2:35:20terima kasih banyak kepada tiga Wawak KW
- 2:35:23400, Mas Rizki, Mas Fajar, Mas Dimas.
- 2:35:26[musik] Terima kasih sudah mempercayakan
- 2:35:28kisah ini kepada kami. Dan khususnya
- 2:35:31untuk kesayangan kita semua,
- 2:35:33Tata. Kalau suatu hari nanti Tata nonton
- 2:35:36video ini,
- 2:35:37aku, timku, kami [musik] semua, Wawak
- 2:35:40se-Nusantara ini
- 2:35:42mau menyampaikan salam sayang yang
- 2:35:44sebesar-besarnya untuk kamu, Tata.
- 2:35:46Semoga
- 2:35:48Tata selalu sehat, Tata tumbuh jadi
- 2:35:50perempuan yang kuat, jadi perempuan yang
- 2:35:52bahagia, dikelilingi orang-orang yang
- 2:35:54tulus menyayangi Tata, dan dimudahkan
- 2:35:56dalam meraih semua cita-cita kamu. Mas
- 2:35:59Rizki, Mas Fajar sudah banyak sedikit
- 2:36:00[musik] bercerita tentang bagaimana kamu
- 2:36:02sekarang sama aku.
- 2:36:04Eh, pokoknya semoga semua dimudahkan
- 2:36:06untuk kamu bisa meraih cita-citanya, ya.
- 2:36:08Walaupun memang ada banyak hal berat
- 2:36:10yang terjadi ketika kamu masih kecil,
- 2:36:13tapi semoga perjalanan hidup Tata ke
- 2:36:15depan dipenuhi jauh lebih [musik] banyak
- 2:36:18kebahagiaan.
- 2:36:20Amin ya rabbal alamin. We love you,
- 2:36:21Tata.
- 2:36:23Itu tadi kisahnya, Wak. Gimana menurut
- 2:36:25kalian? Pelajaran apa yang bisa kalian
- 2:36:27ambil dari kisah ini? Tulis di kolom
- 2:36:29komentar di bawah.
- 2:36:31Dan tambahan informasi, Wak, aku mau
- 2:36:33juga mau menyampaikan kabar gembira buat
- 2:36:35kalian semua karena
- 2:36:37mulai minggu depan, ya,
- 2:36:39KW Nusantara vol 2 akan hadir kembali.
- 2:36:45Eh, eh,
- 2:36:45buat Wawak yang belum tahu mungkin yang
- 2:36:46baru datang enggak tahu apa itu Nadi KW
- 2:36:48Nusantara. Jadi, Wak, KW Nusantara itu
- 2:36:50adalah edisi khusus yang mengangkat
- 2:36:52kisah-kisah horor dari berbagai provinsi
- 2:36:54di Indonesia. Kebayang enggak sih, Wak,
- 2:36:56ini dari Sabang sampai Merauke kita
- 2:36:58punya 38 provinsi sekarang, kan, yang
- 2:36:59masing-masing punya cerita, punya
- 2:37:01budaya, dan juga punya kisah mistisnya
- 2:37:03sendiri. Sebelumnya kurang lebih satu
- 2:37:04atau dua tahun yang lalu kami sudah
- 2:37:06selesaikan KW Nusantara vol 1. Ah, ini
- 2:37:08nanti di vol 2 kita akan kembali lagi
- 2:37:10menjelajahi kisah-kisah dari berbagai
- 2:37:11penjuru Nusantara. Jadi, siap-siap buat
- 2:37:13mendengarkan cerita-cerita yang pastinya
- 2:37:15tidak kalah bikin merinding Wak ya. KHW
- 2:37:17Spesial Nusantara Vol 2 ini akan tayang
- 2:37:20mengikuti jadwal reguler kita dan akan
- 2:37:22mulai di KHW 401
- 2:37:25yang tayang insya Allah minggu depan.
- 2:37:27Jadi, jangan sampai kelewatan Wak ya.
- 2:37:29Terima kasih yang sudah request juga
- 2:37:30banyak dari Wawak yang request, "Ayo
- 2:37:31Wak, KHW Nusantara Vol Tuna gitu."
- 2:37:34Alhamdulillah kami cek-cek ombak sudah
- 2:37:36dapat dikit memang ya masih agak
- 2:37:38agak belum banyak Papua. Atau Wawak
- 2:37:40Papua yang mau mengisi silakan ya. Oke,
- 2:37:42sebagai penutup sekali lagi aku juga mau
- 2:37:44mengucapkan terima kasih banyak sekali
- 2:37:46lagi. Terima kasih sebanyak-banyaknya
- 2:37:48buat Wawak yang sudah setia menemani
- 2:37:50perjalanan KHW dari awal sampai
- 2:37:52sekarang. Enggak kerasa dari satu cerita
- 2:37:54berlanjut ke cerita berikutnya, cerita
- 2:37:56berikutnya, cerita berikutnya sampai
- 2:37:57malam ini Wak kita sudah sampai di
- 2:37:59episode 400.
- 2:38:01Terima kasih, masya Allah. Terima kasih
- 2:38:03karena sudah menjadikan KHW bagian dari
- 2:38:06malam-malam kalian selama ini. Terima
- 2:38:08kasih juga sekali lagi untuk seluruh
- 2:38:09Wawak narasumber yang sudah
- 2:38:11mempercayakan kisah dan juga pengalaman
- 2:38:12kalian kepada kami karena berkat kalian
- 2:38:15KHW bisa terus hadir dengan ratusan
- 2:38:17cerita yang luar biasa sampai hari ini.
- 2:38:20Semoga kita masih bisa terus bersama
- 2:38:22sampai ratusan KHW, bahkan mungkin
- 2:38:24sampai ribuan cerita berikutnya.
- 2:38:26Wallahualam kita enggak tahu. Dan juga
- 2:38:28tentunya aku
- 2:38:30pribadi mewakili seluruh tim yang pernah
- 2:38:34terlibat dalam pengerjaan KHW dari part
- 2:38:361 sampai part sekarang juga mau memohon
- 2:38:39maaf yang sebesar-besarnya apabila
- 2:38:41selama perjalanan KHW yang dari yang
- 2:38:43pertama
- 2:38:45dan bahkan yang sekarang ini yang
- 2:38:46terutama dengan segala yang baru ini
- 2:38:48masih ada kesalahan maupun kekurangan
- 2:38:50dari kami dalam bentuk apapun itu.
- 2:38:53Sampai di titik ini kami selalu berusaha
- 2:38:55untuk mengerjakan setiap episode dengan
- 2:38:57penuh kehati-hatian dan tanggung jawab
- 2:38:59Wak. Tapi tentu sebagai manusia kami
- 2:39:02juga tidak luput dari kekurangan. Kami
- 2:39:04sadar masih jauh dari kata sempurna,
- 2:39:06tapi kami selalu berusaha belajar dan
- 2:39:08juga memberikan yang terbaik di setiap
- 2:39:10episode-nya. Terima kasih karena selama
- 2:39:12ini kalian tetap mendukung, tetap
- 2:39:14mengapresiasi dan juga memberikan
- 2:39:16kepercayaan yang begitu besar kepada
- 2:39:17kami. Semoga ke depannya kami bisa terus
- 2:39:20berkembang, menjaga kepercayaan kalian
- 2:39:23dan juga menghadirkan KHW yang semakin
- 2:39:25baik lagi. Amin ya rabbal alamin.
- 2:39:28Jadi malam ini, ini bukan hanya tentang
- 2:39:30episode spesial di KHW 400 dengan durasi
- 2:39:33dan juga set yang tidak seperti
- 2:39:35biasanya.
- 2:39:36Ini adalah tentang KHW yang bertahan dan
- 2:39:40sudah sampai ke part 400 berkat kalian
- 2:39:44semua. Sampai jumpa di perjalanan
- 2:39:46berikutnya, KHW Nusantara vol 2.
- 2:39:49Assalamualaikum.
- 2:39:57[musik]
- 2:40:03[musik]
- 2:40:10[musik]
- 2:40:25[musik]
- 2:40:30[musik]
- 2:41:02Hah.
About this transcript
This page contains the full transcript of PULANG - KHW PART 400 by Nadia Omara, generated from the public captions YouTube serves with the video. The transcript has 24,820 words across 4,563 segments, with the original timestamps preserved so you can click any line to jump to that moment in the embedded player.
What you can do with it
Use the transcript to take notes, quote the speaker, build a study guide, generate a summary with ChatGPT or Claude via the YouTube Summary tool, or export it as a timed subtitle file with YouTube to SRT. You can also re-open it in the transcriber to translate the transcript into 100+ languages.
Free YouTube transcript tool
YouTube2Text is a free YouTube transcript generator — no signup, no daily limit. Paste any YouTube link and get the full transcript instantly, with timestamps, click-to-jump, translation to 100+ languages, AI prompts for ChatGPT, Claude, and Gemini, and exports to TXT, SRT, VTT, or Markdown.