Logika Hukum 01: Pengenalan — Transcript
Full transcript
- 0:06hukumnya
- 0:08ya lebih fokus kepada hukumnya maka
- 0:10digabung
- 0:11setengah bicara logika
- 0:14sebagai ilmu pengetahuan setengah bicara
- 0:17logika hukum gitu ya
- 0:21oke slide berikutnya
- 0:27ya nih eee
- 0:29logika itu
- 0:31salah satu cabang
- 0:33filsafat ilmu ya cabang pengetahuan
- 0:37cabang ilmu pengetahuan dari filsafat
- 0:39ilmu
- 0:40nah filsafat ilmu itu sendiri itu dibagi
- 0:43menjadi tiga tiga bagian ya
- 0:47ada ontologi aksiologi epistemologi
- 0:51sebenarnya urutannya urutan yang benar
- 0:54itu adalah ontologi
- 0:57epistemologi
- 0:59aksiologi
- 1:00ya aksiologi itu di bawah ya itu urutan
- 1:02yang benar ini kenapa saya taruh di
- 1:04tengah karena saya mau ngejar
- 1:06sininya apa slide berikutnya gitu ya
- 1:08supaya muat kalau aksiologi di bawah
- 1:10nanti enggak muat dia
- 1:12jadi saya sengaja saya taruh tengah
- 1:14nah kita perlu tahu dulu apa yang
- 1:17dimaksud dengan
- 1:19ontologi
- 1:20ontologi itu adalah
- 1:22logi itu artinya ilmu ya ilmu onto itu
- 1:25artinya ada
- 1:28eee kalau dalam buku-buku filsafat itu
- 1:31sering menggunakan istilah being
- 1:33ya being itu kalau diartikan ke bahasa
- 1:35Indonesia ada tapi
- 1:38orang apa orang asing sendiri
- 1:40banyak yang enggak setuju kalau itu
- 1:42diartikan ada jadi being itu sifatnya
- 1:44lebih
- 1:45eee lebih abstrak dibanding ada gitu ya
- 1:48nah cuma karena Indonesia tidak punya
- 1:51kata padanan dengan being maka
- 1:53dipakailah kata ada ya
- 1:56nah apa yang dimaksud ada
- 1:58nah
- 1:59eee
- 2:02fil- filsuf Indonesia ya orang-orang
- 2:04ahli ahli filsafat di Indonesia kemudian
- 2:07mencoba untuk melakukan satu
- 2:10konkretisasi terhadap kata ada
- 2:13padanannya menjadi kata hakikat
- 2:17ya
- 2:18jadi apa itu ontologi ontologi itu
- 2:19adalah
- 2:21cabang ilmu pengetahuan dari filsafat
- 2:23ilmu yang mempelajari tentang hakikat
- 2:27itu versi Indonesia gitu ya yang
- 2:29mempelajari tentang hakikat yang
- 2:31dimaksud hakikat itu apa nah hakikat itu
- 2:35eee
- 2:37jadi kalau Anda lihat suatu peristiwa
- 2:39ya lihat suatu peristiwa kemudian
- 2:42Anda berpikir
- 2:44ini peristiwa apa
- 2:47pencu-
- 2:49pan
- 2:50gitu ya
- 2:52penggelapan dalam jabatankah atau
- 2:54korupsi
- 2:55nah itu kan mirip-mirip tuh kalau
- 2:56dilakukan misalnya nih yang yang
- 2:58melakukan ASN misalnya
- 3:00ASN ngambil duit
- 3:02di perusahaannya misalnya
- 3:04maka hakikatnya harus dicari
- 3:06yang ngambil ini dia pencurian
- 3:10dia penggelapan dalam jabatan atau dia
- 3:12korupsi
- 3:14karena tiga-tiganya itu ujungnya sama
- 3:17kerugian keuangan negara
- 3:18kan kalau ASN ketika dia nyuri uang
- 3:20negara pasti diambil
- 3:22nah ujungnya sama sama-sama kerugian
- 3:24keuangan negara
- 3:25tapi hakikat perbuatan itu perlu kita
- 3:28tahu
- 3:30ini yang kemudian
- 3:32eee
- 3:33kajian fokus
- 3:35dari
- 3:36cabang ontologi
- 3:39di dalam buku-buku filsafat
- 3:42ilmu
- 3:43fil-
- 3:44yang membahas filsafat ilmu
- 3:46cabang dari ontologi ini ada dua
- 3:49ya ada dua
- 3:50pertama dia membahas tentang hakikat
- 3:53manusia
- 3:55kemudian
- 3:57tentang hakikat alam semesta
- 4:01dua ini
- 4:03dominan di eee abad pertengahan
- 4:07itu berarti dari abad
- 4:11empat ya sampai ke abad 16
- 4:16dominan
- 4:18di era itu
- 4:19ya di era abad pertengahan
- 4:21filsuf membahas tentang apa itu manusia
- 4:25apa itu Tuhan ya bagaimana terciptanya
- 4:28alam semesta itu yang dibahas ya jadi
- 4:31kalau nanti Anda baca buku misalnya
- 4:34Thomas Aquinas Santo Agustinus kalau
- 4:37yang Islam Al-Farabi eee Aljabar terus
- 4:41eee
- 4:43misalnya satu lagi itu yang terkenal
- 4:44juga
- 4:46kalau dalam Islam itu si
- 4:49ah nama baru kemarin baru saya baca
- 4:51bukunya lupa
- 4:53nah itu orang-orang yang membahas dari
- 4:55sisi ontologi
- 4:57dia cari hakikat
- 4:59nah hari ini kalau Anda berdebat masalah
- 5:02ontologi berkaitan
- 5:05mencari hakikat manusia mencari hakikat
- 5:07alam mencari hakikat Tuhan sudah enggak
- 5:09laku
- 5:10ya karena orang-orang sekarang sudah
- 5:12enggak mau lagi berdebat di situ
- 5:14lebih masuk ke arah praktis ya ke arah
- 5:16praksisnya
- 5:18lebih aplikatif mereka sudah tidak mau
- 5:20lagi berdebat eee bagaimana Tuhan
- 5:23menciptakan alam apa tuh teori Big
- 8:09Bang gitu ya sehingga terjadi alam
- 8:11karena ujungnya adalah kerugian keuangan
- 8:14negara ya misalnya ya kita
- 8:17bisa bisa berdebat itu bisa berdalil loh
- 8:23itu kerugian negara tapi perbuatannya
- 8:25itu sendiri sebenarnya perbuatan pribadi
- 8:28yang harusnya
- 8:29klasifikasi itu cuma dua kalau enggak
- 8:31pencurian penggelapan dalam jabatan
- 8:34antara dua
- 8:35ya
- 8:36nanti kalau penggelapan dalam jabatan
- 8:37dilihat lagi apakah ketika dia ngambil
- 8:39uang itu memang uangnya dia kuasai
- 8:42biasanya bendahara
- 8:43ya kalau bendahara itu kan biasanya
- 8:45nyimpen nyimpen
- 8:46uang ya
- 8:47eee apa sih istilah petty cash itu ya
- 8:49uang
- 8:51di di kantor itu selalu ada petty cash
- 8:53jadi kalau ada apa ya yang standby
- 8:57petty cash itu yang punya
- 8:59nah
- 9:00dia buka kuncinya diambil uangnya itu
- 9:02pencurian atau penggelapan
- 9:04nah itu kan mirip-mirip gitu kan
- 9:07nah hakikatnya hakikat hakikatnya dia
- 9:09sedang menjalankan jabatannya oh berarti
- 9:12penggelapan dalam
- 9:14nah
- 9:14bagaimana kalau misalnya ternyata
- 9:17eee petty cash-nya itu bukan dia
- 9:19misalnya eee satpam
- 9:22ya satpamnya anggaplah satpamnya
- 9:24kementerian apa gitu ya
- 9:26satpam yang ngambil oh berarti bukan
- 9:29bukan penggelapan dalam jabatan karena
- 9:31dia tidak menguasai
- 9:34petty cash itu sehingga masuknya ke
- 9:36pencurian
- 9:37itu
- 9:38itu sebenarnya bahasan-bahasan secara
- 9:40ontologi
- 9:42ya cuma dipraktiskan di dalam ranah
- 9:44praktek
- 9:45tapi kajiannya adalah ontologi mencari
- 9:48hakikat
- 9:49orang ini sebenarnya
- 9:51naksir enggak sih sama gua gitu ya
- 9:54misalnya pada punya pacar gitu ya
- 9:56awal-awal itu kan pasti punya
- 9:58punya keraguan. Kalau yang cewek itu
- 10:00punya keraguan. Ini cowok demen enggak
- 10:02sih sama gua gitu kan. Yang
- 10:04juga gitu.
- 10:05Gitu kan.
- 10:06Ini sebenarnya gua diterima enggak sih
- 10:08ini?
- 10:09Kemudian dia membaca
- 10:10peristiwa-peristiwa, membaca
- 10:12tanda-tanda, simbol-simbol. Akhirnya dia
- 10:14berkesimpulan
- 10:15kalau gua tembak nih.
- 10:17Karena gua sudah yakin dia senang sama
- 10:18gua gitu.
- 10:19Kan gitu.
- 10:20Hakikatnya ketemu.
- 10:22Hakikatnya ketemu. Si cewek senang sama
- 10:24gua. Gitu kan. Nah, kemudian lakukan
- 10:26tindakan.
- 10:28Nah, itu untuk logi ya. Nah, kemudian
- 10:30epistemologi.
- 10:32Epistemologi epistem dari kata epistem.
- 10:36Ya. Logi ilmu pengetahuan.
- 10:38Epistem epistem itu artinya pengetahuan.
- 10:41Ya. Jadi epistemologi adalah salah satu
- 10:45cabang dari filsafat ilmu yang
- 10:47mempelajari bagaimana memperoleh
- 10:50pengetahuan.
- 10:53Cara memperoleh pengetahuan.
- 10:55Maka di kampus-kampus itu ada mata
- 10:57kuliah
- 10:58yang cabang dari epistemologi yaitu MBH.
- 11:02Metode penelitian hukum.
- 11:05Semua
- 11:06ilmu itu pasti ada metode penelitian.
- 11:09Ya. Cuma kalau hukum namanya jelas
- 11:12metode penelitian hukum. Itu salah satu
- 11:14cabang dari
- 11:15epistemologi. Ya.
- 11:17Bagaimana memperoleh pengetahuan dengan
- 11:20cara baik dan benar.
- 11:22Gitu ya.
- 11:23Sehingga ada tata caranya, ada
- 11:25strukturnya, ada sistematikanya yang
- 11:27harus di patuhi. Nah, di dalam
- 11:30epistemologi ini perdebatan nya adalah
- 11:33apakah suatu informasi itu ya, suatu
- 11:35informasi itu merupakan ilmu atau
- 11:39merupakan pengetahuan.
- 11:41Ya. Ada dua hal. Ya.
- 11:43Kalau misalnya
- 11:46eee ada TV
- 11:48kalau sekarang sudah enggak ada ya TV
- 11:51tabung gitu kan. Masih pernah lihat
- 11:53enggak TV tabung?
- 11:54Hah?
- 11:56Ya, TV tabung zaman dulu itu TV saya itu
- 11:59gede gini.
- 12:01Gede banget. Kalau mau nonton kita buka
- 12:02dulu layarnya srek gitu.
- 12:04Nah, baru kita nonton. Itu kalau sudah
- 12:06mulai gambarnya goyang-goyang itu kita
- 12:08tepok-tepok.
- 12:09Tepuk-tepuk ah sudah benar lagi
- 12:10gambarnya.
- 12:12Pengetahuan yang didapat kalau TV-nya
- 12:14goyang-goyang ditepok-tepok benar.
- 12:17Pertanyaannya ketika terjadi lagi
- 12:18diulang lagi tepok-tepoknya apakah pasti
- 12:20benar?
- 12:22Nah, hal-hal yang belum tentu bisa
- 12:24diulang
- 12:25dengan hasil yang sama tidak bisa
- 12:27disebut ilmu.
- 12:30Maka tadi yang saya tepok-tepok itu itu
- 12:32disebut pengetahuan.
- 12:34Tapi tidak disebut sebagai ilmu
- 12:36pengetahuan.
- 12:38Hanya pengetahuan saja. Kenapa hanya
- 12:39pengetahuan saja? Karena ketika diulang
- 12:41belum tentu sama.
- 12:43Kalau yang pertama kita tepok-tepok tiga
- 12:45kali
- 12:46benar.
- 12:47Yang kedua jangan-jangan bukan tiga
- 12:48kali. Mesti lima kali karena dia sudah
- 12:50bergesernya terlalu banyak gitu.
- 12:51Tepok-tepok-tepok gitu ya. Baru benar
- 12:53lagi.
- 12:54Jadi itu enggak. Nah, kalau dia ilmu dia
- 12:57sistematis.
- 12:59Kalau ditepok tiga kali benar maka nanti
- 13:01berikutnya ditepok tiga kali benar lagi.
- 13:04Tapi begitu-begitu ditepok sampai lima
- 13:05kali berarti sudah enggak ilmu, sudah
- 13:06enggak sistematis.
- 13:08Sudah bergeser ilmunya. Ya. Maka kita
- 13:10harus membedakan mana pengetahuan, mana
- 13:12ilmu pengetahuan.
- 13:14Apa ciri-ciri yang paling penting di
- 13:16dalam dua hal ini? Ya.
- 13:20Pengetahuan tidak memerlukan metode.
- 13:24Dia bisa didapat kapan saja.
- 13:26Ya.
- 13:27Ilmu pengetahuan itu membutuhkan metode.
- 13:31Dalam metode itu diajarkan bagaimana
- 13:33mencari data
- 13:35bagaimana mengklasifikasikan data
- 13:37bagaimana mengkategorikan data dan
- 13:40bagaimana menafsirkannya.
- 13:42Itu dalam ilmu pengetahuan. Dalam
- 13:44pengetahuan enggak perlu.
- 13:46Ya. Misalnya
- 13:49kita bangun pagi-pagi kan ada dua
- 13:51kemungkinan tuh yang kita rasakan.
- 13:54Kalau enggak lapar pengin buang air
- 13:56kecil.
- 13:57Ya.
- 13:58Nah, itu pengetahuan.
- 14:01Karena belum tentu tiap pagi kita buang
- 14:02air kecil.
- 14:04Walaupun dalam suasana pagi tetap pasti
- 14:05buang air kecil gitu ya, tapi belum
- 14:07tentu gitu.
- 14:08Atau misalnya kalau nah
- 14:12saya jangan ini misalnya.
- 14:14Karena dia sama saya sama
- 14:16posturnya gitu ya. Jadi saya enggak bisa
- 14:18kasih contoh dia. Ini misalnya.
- 14:20Kalau misalnya di hadapan kita ada
- 14:23daging kambing.
- 14:25Ya, ada daging kambing.
- 14:29Pengetahuan yang
- 14:31muncul di kepalanya Mas siapa namanya?
- 14:34Rizki. Rizki.
- 14:35Dengan saya itu pasti berbeda.
- 14:38Ya.
- 14:39Cara memperolehnya pun berbeda.
- 14:41Ya.
- 14:42Apakah nanti kemudian keputusannya
- 14:44dimakan atau tidak dimakan itu
- 14:45tergantung pengetahuan yang kita punya.
- 14:48Ya.
- 14:49Eee Mas Rizki ketika bertemu dengan
- 14:51daging kambing itu mungkin enggak akan
- 14:53pakai mikir.
- 14:55Pokoknya ini enak dimakan saja.
- 14:58Kalau saya mikir Mas Rizki juga harusnya
- 15:00mikir harusnya gitu. Kalau saya pasti
- 15:02mikir karena
- 15:04pengetahuan dari dokter. Ya. Misalnya
- 15:07pengetahuan apa yang saya dapat? Berapa
- 15:09tingkat kolesterolnya?
- 15:10Ya. Berapa tingkat asam uratnya?
- 15:13Bagaimana dengan darah tingginya?
- 15:16Itu saya mikir berkali-kali tuh.
- 15:18Ya. Wah, saya enggak bisa makan ini
- 15:19enggak boleh sama dokter.
- 15:22Tapi yang meneliti itu boleh atau enggak
- 15:24boleh kan bukan saya.
- 15:25Tapi dokter yang meneliti. Saya menerima
- 15:28hasil saja.
- 15:30Pak Rocky enggak boleh makan daging
- 15:32kambing. Ya.
- 15:34Saya hanya terima pengetahuan saja bahwa
- 15:36saya enggak boleh makan daging kambing.
- 15:37Tapi si dokter sudah bikin penelitian.
- 15:40Dengan postur sekian
- 15:42ini sekian, ini sekian dilarang makan.
- 15:44Dia yang bikin penelitian.
- 15:47Nah, sampai ke saya jadi pengetahuan.
- 15:50Ya. Nah, ini yang kemudian
- 15:53kita bisa membedakan nanti
- 15:55kita turun di masyarakat
- 15:58informasi yang kita dapat pengetahuan
- 16:00atau ilmu pengetahuan.
- 16:02Karena nilai kebenarannya itu akan
- 16:05berbeda. Ya. Nilai kebenaran dari
- 16:07pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Cuma
- 16:09nanti itu akan dibahas secara tuntas
- 16:12dalam filsafat ilmu ya. Kita enggak akan
- 16:13masuk ke sana nanti eee jadi mata kuliah
- 16:16logika itu sebenarnya mata kuliah yang
- 16:18menakutkan.
- 16:19Karena kalau kita baca buku-buku logika
- 16:21saya punya beberapa nanti saya sharing
- 16:23ya ke apa ke STIH.
- 16:26Saya punya beberapa referensi buku
- 16:28logika yang sifatnya ebook ya. Nanti
- 16:30bisa saya sharing. Itu kalau dibaca dari
- 16:33awal sampai akhir
- 16:34itu membingungkan.
- 16:36Karena menggunakan kata, konsep dan
- 16:38segala macam yang enggak familiar bagi
- 16:40orang hukum.
- 16:42Jadi mata kuliah logika, mata kuliah
- 16:44filsafat ilmu itu mata kuliah yang
- 16:46menakutkan bagi orang hukum gitu ya.
- 16:49Padahal sebenarnya
- 16:51eee ilmu itu baru bisa menyenangkan
- 16:54kalau itu dipraktikkan.
- 16:57Oke. Nah, kemudian aksiologi.
- 17:00Aksiologi ini aksio. Aksio itu artinya
- 17:03nilai.
- 17:05Ya.
- 17:06Logi itu ilmu. Ya. Berarti aksiologi
- 17:09adalah ilmu pengetahuan
- 17:12salah satu cabang dari filsafat ilmu
- 17:14yang mempelajari nilai-nilai.
- 17:17Ya. Nilai itu bukan nilai satu, dua,
- 17:20tiga bukan ya. Nilai.
- 17:23Eee nilai itu sifatnya abstrak.
- 17:25Dia tersembunyi. Dan harus dicari nilai
- 17:28itu.
- 17:29Nah, apa saja nilai yang ada? Ya. Nilai
- 17:32itu ada tiga.
- 17:34Ada nilai kebenaran
- 17:35ada nilai kebaikan, ada nilai keindahan.
- 17:39Kok dipakain ini malah
- 17:41memang berantakan ya?
- 17:43Di situ juga?
- 17:46Oh iya ya.
- 17:47Padahal itunya enggak.
- 17:50Oke.
- 17:51Ada nilai kebenaran, kebaikan dan nilai
- 17:53keindahan. Nilai keindahan
- 17:56nilai keindahan itu
- 17:59nilai yang sifatnya sangat subjektif.
- 18:05Saya bisa mengatakan misalnya Mas Rizki
- 18:08ganteng
- 18:09misalnya ya.
- 18:11Enggak usah geer.
- 18:13Kan saya pakai saya pakai preposisi di
- 18:15awal misalnya kan gitu ya.
- 18:17Misalnya Mas Rizki ganteng itu
- 18:20subjektivitas saya.
- 18:23Karena pendapat saya belum tentu menurut
- 18:25Mbak siapa?
- 18:27Chelsea.
- 18:28Belum tentu menurut Mbak Chelsea.
- 18:31Ya.
- 18:32Kalau cuma kalau kita laki-laki kayaknya
- 18:34alergi ya ngomongin orang ganteng gitu
- 18:35ya. Ganteng loh. Beda kalau perempuan.
- 18:38Perempuan tuh enggak. Dia ngomongin laki
- 18:40ganteng oke, ngomongin perempuan cantik
- 18:42dia juga oke gitu.
- 18:43Kalau laki enggak.
- 18:45Dia cuma mau ngomongin perempuan cantik.
- 18:47Ngomongin laki itu ganteng dia enggak
- 18:48mau tuh biasanya.
- 18:49Agak alergi tuh. Enggak enggak tahu anak
- 18:50sekarang ya. Tapi di pikiran saya zaman
- 18:52dulu itu pantang nyebut laki-laki
- 18:54ganteng itu pantang gitu kan.
- 18:56Paling ya bagus gitu saja gitu kan.
- 18:59Nah, itu sifatnya sangat sangat sangat
- 19:01sangat subjektif.
- 19:03Saya suka misalnya dangdut koplo.
- 19:07Misalnya.
- 19:08Eh, kalau itu enggak misalnya memang
- 19:09suka gitu kan.
- 19:11Tapi kemudian Mas siapa? Rafi. Mas Rafi.
- 19:15Dia akan melakukan wah
- 19:18dokter, dosen kok senengannya dangdut
- 19:21koplo gitu kan.
- 19:24Ini jazz dong harusnya gitu kan. Atau
- 19:26metal lah gitu ya. Enggak tahu sekarang
- 19:28masih ada enggak metal?
- 19:30Masih ya? Itu zaman saya dulu metal tuh
- 19:32rame.
- 19:33Atau misalnya pop lah gitu kan.
- 19:36Itu subjektif. Ya. Sehingga pembentukan
- 19:39pengetahuan
- 19:41berdasarkan nilai estetik itu tidak bisa
- 19:44diperdebatkan.
- 19:46Ya.
- 19:47Wah, salah tuh Pak Rocky senengnya
- 19:49koplo. Enggak bisa dikatakan salah.
- 19:52Karena sifatnya subjektif, datang dalam
- 19:54diri
- 19:55masing-masing orang.
- 19:58Tapi Pak, kok ada kumpulan
- 20:00apa, kumpulan fans Noah misalnya.
- 20:03Katanya subjektif, itu
- 20:05subjektif-subjektif, subjek-subjek yang
- 20:07berkumpul.
- 20:09Karena kesamaan dalam nilai estetiknya.
- 20:13Bukan berarti kemudian kelompok ini
- 20:15dengan sengaja memunculkan, ah saya
- 20:18dengan sengaja menyukai Noah, enggak
- 20:19begitu.
- 20:20Dia muncul dari dalam diri
- 20:22masing-masing.
- 20:23Cuma memang biasanya nilai subjektif itu
- 20:26ada pembentukan karakter di dalam
- 20:29keluarga.
- 20:31Satu sebabnya.
- 20:32Misalnya yang bapaknya di sering nyetel
- 20:35gambus gitu ya, anaknya masih
- 20:37kecil-kecil, itu kalau sering disetel
- 20:39nanti ketika anak itu besar, walaupun
- 20:41dia suka lagu metal, tapi ketika dia
- 20:43dengar lagu gambus, dia akan teringat
- 20:45bapak saya dulu suka ini nih.
- 20:49Dan dia enggak melakukan apa gambus itu,
- 20:51karena dari kecil sudah
- 20:53sudah menikmati musik gambus ya,
- 20:56walaupun sifatnya juga subjektif.
- 20:58Nah, ilmu yang mempelajari namanya
- 21:01estetika.
- 21:03Ya.
- 21:04Jadi lukisan ya eh musik eh seni rupa
- 21:08dan segala macam, jangan dibahas pakai
- 21:11logika, enggak nemu.
- 21:13Saya kalau melihat lukisannya Picasso,
- 21:15pasti saya ngomong apa ini lukisan
- 21:17kotak-kotak doang.
- 21:19Tapi kalau orang yang punya jiwa seni,
- 21:20dia akan tahan berjam-jam berdiri
- 21:22menikmati lukisan itu.
- 21:25Sama kayak orang mancing.
- 21:27Yang sampai sekarang saya bingung, apa
- 21:29enaknya mancing itu, dia diam.
- 21:32Enggak gerak-gerak.
- 21:36Diam itu karena stroke bukan karena dia
- 21:38nikmati itu kan, tapi diam saja itu itu
- 21:40itu nilai yang enggak bisa saya nilai.
- 21:43Logika saya tuh profesor pun enggak bisa
- 21:46ngebantah itu.
- 21:48Nah itu sifatnya estetik ya.
- 21:51Kolektor.
- 21:52Ya.
- 21:56Perangko, enggak bisa enggak ada kerjaan
- 21:59amat, dulu saya ngomong begitu waktu
- 22:01belum
- 22:02belum kayak enggak ada kerjaan saja
- 22:04perangko dikumpulin gitu kan.
- 22:06Ternyata perangko dalam tahun tertentu
- 22:08nilainya puluhan
- 22:09ternyata begitu kan.
- 22:11Tapi kan untuk ngumpulin itu butuh
- 22:12passion kan.
- 22:14Hanya bisa dari dalam diri dia sendiri
- 22:16begitu. Nah itu estetik.
- 22:19Kemudian kedua etika.
- 22:21Ya.
- 22:22Jadi kalau nilai keindahan itu eh
- 22:24keputusannya
- 22:26indah atau tidak indah.
- 22:28Bagus atau tidak.
- 22:29Suka atau tidak, keputusannya.
- 22:32Nilai kebaikan itu keputusan akhirnya
- 22:35adalah baik buruk.
- 22:37Ya.
- 22:39Baik atau buruk itu tidak ditentukan
- 22:42oleh seseorang.
- 22:44Ya.
- 22:44Tapi ditentukan oleh komunitas.
- 22:48Ditentukan oleh
- 22:50adanya konsensus bersama.
- 22:52Biasanya masyarakat ya.
- 22:55Di sebelah
- 22:56lagi sakit gigi
- 22:58tetangganya setel musik nyaring-nyaring.
- 23:01Ya.
- 23:02Itu rasanya teng-teng kayak dipukulin
- 23:04kepala tuh. Saya bulan 2 bulan lalu
- 23:06sakit gigi, baru ngerasain tuh.
- 23:08Sakit gigi, jadi lagunya siapa tuh?
- 23:10Lebih baik sakit gigi daripada patah
- 23:12hati, lagu siapa itu?
- 23:14Itu salah tuh yang bikin lagu itu.
- 23:16Ada tuh lagunya zaman dulu tuh, coba
- 23:18nanti dicari tuh, sakit gigi itu.
- 23:20Lebih baik sakit hati deh daripada sakit
- 23:22gigi, sakit banget itu. Lagu dangdut.
- 23:24Lagu dangdut.
- 23:27Berarti ada giginya juga dia.
- 23:29Ada senang-senangnya juga gitu kan.
- 23:31Nah.
- 23:32Itu
- 23:34penilaiannya adalah komunitas ya,
- 23:36komunitas. Apakah perbuatan seseorang
- 23:39ini baik atau buruk.
- 23:41Nah.
- 23:41Orang yang berada dalam komunitas
- 23:43tertentu, itu tidak bisa melakukan
- 23:45perlawanan.
- 23:47Apa namanya, oh ini aturan ini enggak
- 23:50benar, ganti enggak bisa.
- 23:52Karena dia akan dikucilkan
- 23:54dari komunitas.
- 23:56Tapi bisa enggak berubah, bisa kalau
- 23:58semuanya akhirnya sepakat untuk merubah.
- 24:01Sehingga membutuhkan kesepakatan.
- 24:03Ya, misalnya kalau di kampus saya sering
- 24:05begini, ini pas contoh yang paling baik.
- 24:08Mas siapa namanya?
- 24:10Siapa?
- 24:11Farid.
- 24:12Di kampus tuh saya suka ngumpulin
- 24:13mahasiswa.
- 24:15Di kita di Pancasila ada banner ya.
- 24:19Pakai sendal coret, pakai satu centang
- 24:22gitu kan, pakai kaos coret, pakai kemeja
- 24:25centang. Saya suka berdiri saya lihatin
- 24:27saya gitu kan, ada mahasiswa lewat saya
- 24:29panggil dia sini-sini.
- 24:31Kalau kamu kuliah pakai sendal
- 24:34mana yang lebih pintar
- 24:35dengan mahasiswa yang kuliah pakai
- 24:36sepatu.
- 24:39Ada jaminan enggak?
- 24:41Enggak ada jaminan.
- 24:44Ya.
- 24:45Karena
- 24:46pintar atau tidak itu bermainnya di
- 24:48logika.
- 24:50Baik atau buruk bermainnya di etika,
- 24:52pantas tidak pantas.
- 24:54Dan itu kesepakatan, jadi saya katakan
- 24:56begini, jangan-jangan
- 24:58mahasiswa yang pakai sendal, tapi saya
- 24:59enggak nyuruh pakai sendal loh ya.
- 25:01Saya enggak nyuruh,
- 25:02saya cuma ngomong ke mahasiswa,
- 25:04jangan-jangan mahasiswa yang pakai
- 25:05sendal itu justru lebih pintar daripada
- 25:07mahasiswa yang pakai sepatu.
- 25:11Karena yang satu letaknya di kepala,
- 25:12yang satu letaknya di bawah.
- 25:15Perbedaannya sudah jauh itu.
- 25:17Dan logik enggak bisa kita katakan
- 25:20yang pakai sendal lebih benar, enggak
- 25:21bisa.
- 25:24Ataukannya adalah konsensus.
- 25:27Saya di kampus termasuk yang suka ini
- 25:30nih, kalau dulu saya berapa kali ditegur
- 25:32tuh, karena saya ke kampus pakai kaos.
- 25:35Dosen pakai kaos gitu, saya nanya
- 25:37aturannya mana?
- 25:39Kok nanya aturan, karena saya tahu kan,
- 25:41sebenarnya saya iseng saja itu, itu
- 25:42enggak perlu aturan, itu konsensus
- 25:44bersama gitu kan, aturannya mana?
- 25:47Mana pasalnya yang melarang saya pakai
- 25:48kaos.
- 25:50Diam, kamu dikasih tahu ngelawan mulu,
- 25:52ya sudah saya pakai kaos cuma ngajar
- 25:53doang saya pakai kemeja gitu.
- 25:56Jadi
- 25:57itu hal-hal yang harus kita pahami di
- 26:00sekeliling kita.
- 26:02Ketika kita masuk ke masyarakat sini,
- 26:04konsensusnya apa ini?
- 26:06Kita masuk ke masyarakat ini konsensus
- 26:08apa ini?
- 26:10Dan ternyata konsensus itu merupakan
- 26:13salah satu sumber hukum formil dalam
- 26:16hukum mata kuliah PIH, jangan lupa.
- 26:19Ya, sumber hukum formil itu nomor satu
- 26:22undang-undang, nomor dua kebiasaan.
- 26:25Nomor tiga yurisprudensi, malah lebih
- 26:27tinggi kebiasaan dibanding
- 26:28yurisprudensi.
- 26:29Gitu ya, baru habis itu doktrin baru
- 26:31perjanjian. Jadi konsensus itu juga
- 26:35merupakan sumber hukum.
- 26:39Ketika konsensus itu terjadi,
- 26:41kita enggak perlu tanya mana pasalnya.
- 26:44Mana pasalnya yang mengatakan pakai
- 26:46sendal itu dilarang.
- 26:47Enggak perlu tanya.
- 26:48Tapi kalau semua
- 26:50konsensus apa orang-orang yang ada dalam
- 26:52komunitas itu menerima.
- 26:55Dan itu
- 26:57bukan hal yang buruk.
- 26:58Karena semua menerima.
- 27:00Ya.
- 27:01Nah, ilmu yang mempelajari ini disebut
- 27:03sebagai etika.
- 27:06Ya.
- 27:08Nah, kemudian ada nilai kebenaran.
- 27:12Nilai kebenaran itu keputusan akhirnya
- 27:15adalah benar atau salah.
- 27:18Ya.
- 27:19Bagaimana cara mengolahnya. Ya, cara
- 27:21mengolahnya adalah melalui
- 27:23pola kerja
- 27:25akal.
- 27:26Nah, ini di kita
- 27:29suka ada yang salah menggunakan konsep,
- 27:31kan sering kadang gini kalau orang
- 27:33mungkin lebih ada lebih tua atau mungkin
- 27:35senior atau mungkin bapak
- 27:37ya orang tua
- 27:38mungkin bos kita gitu ya ngomong, kamu
- 27:41kerja enggak benar enggak punya otak ya
- 27:42kamu. Nah.
- 27:44Saya jelasin sekarang ya.
- 27:46Dalam diri manusia di bagian kepala
- 27:49itu ada tiga hal yang perlu kita
- 27:51cermati.
- 27:52Pertama otak ya.
- 27:54Kedua akal.
- 27:55Ketiga nalar.
- 27:58Ya.
- 27:58Ini tiga-tiganya dibungkus dengan
- 28:00istilah logika.
- 28:01Ya. Akal eh otak, akal, nalar ya. Otak
- 28:07itu wadahnya.
- 28:10Dia bersifat empirik, kenapa bersifat
- 28:12empirik, karena bisa disentuh.
- 28:14Ya ya walaupun dengan cara membongkar
- 28:16kepalanya gitu ya, tapi kan bisa
- 28:18disentuh otak itu ya.
- 28:20Kemudian kedua
- 28:22ya.
- 28:22Akal itu eh
- 28:26akal itu adalah
- 28:30cara bekerjanya
- 28:32pertimbangan-pertimbangan.
- 28:34Ya.
- 28:35Kemudian nalar.
- 28:37Nalar itu bungkusnya akal.
- 28:40Jadi cara memperoleh kalau tadi
- 28:43pertimbangan
- 28:45cara memperoleh kesimpulan-kesimpulan.
- 28:47Itu nalar ya, jadi kalau kamu dikatakan
- 28:50dasar kamu enggak punya otak, oh salah
- 28:52Bapak.
- 28:53Punya saya otak.
- 28:55Semua manusia punya otak, nalar mungkin
- 28:57kan, tapi kalau otak saya
- 28:59Bapak salah marahnya gitu.
- 29:01Bantah saja begitu ya, karena sudah jadi
- 29:04dia tidak bisa membedakan mana otak,
- 29:06mana akal, mana nalar.
- 29:07Ya, nah itu perlu dibedakan.
- 29:09Orang hukum itu selalu konsep.
- 29:12Ya.
- 29:13Eh
- 29:15salah satu
- 29:18tanda-tanda sesat dalam berpikir.
- 29:22Kesalahan berpikir. Kalau dalam filsafat
- 29:25ilmu disebut falasi, ini nanti juga kita
- 29:27pelajari cuma pertemuan
- 29:29kalau enggak ke keempat apa kelima gitu
- 29:31ya pertemuannya.
- 29:32Kita pelajari soal falasi.
- 29:34Salah satu penyebab terjadinya falasi
- 29:37sesat pikir gitu ya. Itu karena dia
- 29:40tidak memahami konsep.
- 29:43Konsep itu
- 29:45misalnya gini.
- 29:47Kursi adalah
- 29:49Nah, itu konsep.
- 29:52Eh, meja adalah
- 29:55Bantal adalah itu konsep.
- 29:57Nah, kita perlu orang kalau mau diskusi
- 30:00kayak gini
- 30:01ini konsepnya harus sama dulu.
- 30:04Kalau saya diskusi sama supir truk
- 30:07membahas soal bantal
- 30:09itu pasti berdebat.
- 30:11Karena buat saya bantal adalah sesuatu
- 30:13barang yang sifatnya lembut dan
- 30:15digunakan untuk tidur.
- 30:17Buat supir truk enggak. Oh, enggak.
- 30:20Sesuatu barang yang sifatnya lembut yang
- 30:22digunakan di pantat kalau lagi nyetir.
- 30:24Beda konsepnya.
- 30:26Ya.
- 30:27Jadi ketika Anda nanti berdebat dengan
- 30:28orang coba lacak
- 30:30konsepnya dia soal X itu apa?
- 30:34Disamakan dulu
- 30:35konsep itu. Makanya kalau Anda lihat
- 30:37Rocky Gerung ya di ILC
- 30:40itu persoalannya bukan karena Rocky
- 30:42Gerung lebih pintar, bukan.
- 30:44Rocky Gerung
- 30:45konsep lain terhadap satu istilah.
- 30:47Itu aja persoalannya.
- 30:49Ya.
- 30:50Dan si Rocky Gerung bermain di tataran
- 30:52konseptual dan filsafat. Yang lain
- 30:54enggak.
- 30:56Makanya selalu kelihatan berdebat gitu
- 30:57loh.
- 30:58Padahal coba sekali-kali kalau misalnya
- 31:00Anda
- 31:02diundang gitu ya atau di acaranya Karni
- 31:03Ilyas
- 31:05lagi berdebat selentukin aja coba
- 31:07konsepnya samain dulu
- 31:09berdua ya.
- 31:10Jangan berdebat karena ternyata beda
- 31:12konsep nih.
- 31:14Kalau konsep sudah sama
- 31:15berdebatnya enak gitu.
- 31:17Nah, ini kan
- 31:20bentar.
- 31:25Enggak, saya enggak mau ngangkat
- 31:25maksudnya.
- 31:27Mau saya silent.
- 31:34Nah, konsep itu salah satu
- 31:37salah satu ya berarti banyak sebenarnya.
- 31:39Salah satu
- 31:41dasar
- 31:42bisa melakukan
- 31:45Misalnya gini.
- 31:47Mbak siapa tadi? Chelsea ya?
- 31:51Saya tiap hari telepon dia.
- 31:54Dia mau ke kampus saya jemput.
- 31:57Dia mau makan saya traktir.
- 32:01Karena dia mau
- 32:03konsep di kepala saya muncul
- 32:05ah
- 32:06mau nih sama saya nih.
- 32:08Dijemput mau, saya traktir mau ya kan,
- 32:12saya anterin kuliah mau berarti mau nih
- 32:13sama saya.
- 32:16Saya baca tanda-tanda itu.
- 32:18Saya tembak, ternyata enggak mau gitu
- 32:20kan.
- 32:21Berarti apa? Ada tanda atau simbol yang
- 32:24lewat dari saya.
- 32:27Yang saya baca itu.
- 32:29Ya kan kalau mau
- 32:31awal-awal mau pacaran kan begitu kan.
- 32:32Apalagi kalau perempuan.
- 32:34Perempuan itu kan kalau bilang aku
- 32:36sayang kamu eh entar dulu buktinya apa
- 32:38gitu kan.
- 32:39Enggak bisa cuma ngomong aku sayang kamu
- 32:40enggak bisa.
- 32:41Walaupun semua sifatnya subjektif gua
- 32:43dijemput enggak?
- 32:45Berarti kasih makan enggak? Traktir
- 32:46enggak gitu kan. Pokoknya ke gua aja
- 32:48terus gitu kan.
- 32:49Jadi sayangnya laki-laki itu buktinya
- 32:51harus di diperlihatkan, diperlihatkan.
- 32:55Walaupun kita enggak ngomong karena ada
- 32:56orang pacaran tanpa kata kita pacaran
- 32:59yuk enggak ada loh.
- 33:00Ya. Dia enggak ngomong pakai statement
- 33:02itu.
- 33:03Tapi jalan aja. Ya. Kenapa? Dia membaca
- 33:06tanda-tanda bahwa ini suka sama gua dan
- 33:09ini juga membaca-baca ini ini suka sama
- 33:10gua gitu. Akhirnya jalan.
- 33:13Tanda-tanda, simbol-simbol,
- 33:15semua perkataan, semua gerak-gerik dia
- 33:18itu dibaca, diproses. Kalau dia ngasih
- 33:22misalnya enggak kalau zaman dulu kalau
- 33:25ngasih bunga sih masih
- 33:27masih oke ya gitu. Kalau sekarang
- 33:28kayaknya ngasih bunga udah enggak oke
- 33:30itu kayaknya. Enggak tahu masih mau
- 33:31enggak dikasih bunga?
- 33:34Masih. Berarti masih orang dulu ini gitu
- 33:35kan. Kalau sekarang apa? Coklat ya kali
- 33:37ya. Coklat misalnya.
- 33:39Wah, ini kok ngasih coklat gitu kan.
- 33:42Hah?
- 33:43Oh, ya.
- 33:46A
- 33:47andain ya berat ini kayaknya.
- 33:50Kasih coklat misalnya kemudian ngasih
- 33:53apalah gitu ya yang arahnya ke sana. Itu
- 33:56perempuan punya
- 33:57sebenarnya bukan cuma perempuan semua
- 33:59manusia punya yang namanya intuisi untuk
- 34:02membaca tanda-tanda yang sifatnya samar.
- 34:06Ya.
- 34:07Nah, dia akan membaca itu tuh.
- 34:09Akan diolah dalam pikirannya.
- 34:12Bukan bukan karena etika, etika enggak
- 34:14bisa mengolah itu. Logika yang bisa
- 34:16mengolah itu. Ya.
- 34:18Sampai ujungnya kesimpulan
- 34:20dia tunggu perempuan nunggu laki-laki
- 34:22ngomong. Gitu kan.
- 34:24Gua suka sama lu gitu kan. Tinggal
- 34:26perempuannya nyaut gitu. Tanda-tanda itu
- 34:27udah ada gitu kan. Nah, itu pola kerja
- 34:31akal manusia seperti itu.
- 34:34Enggak.
- 34:36Ada yang ingin bertanya?
- 34:39Enggak ada. Kalau ada yang ingin
- 34:40bertanya langsung potong aja enggak
- 34:41apa-apa ya.
- 34:44Oke. Nah, itu pola kerja dari logika.
- 34:47Ya.
- 34:48Yang
- 34:50eh, sangat tidak simpel sebenarnya ya.
- 34:53Sangat tidak simpel karena manusia itu
- 34:55dia akan
- 34:57dalam kehidupannya dia bertemu berbagai
- 35:00banyak orang, bertemu berbagai banyak
- 35:02peristiwa yang masing-masing itu harus
- 35:04ditafsirkan.
- 35:06Ya.
- 35:07Nah, itu sifatnya logika
- 35:09yang
- 35:10keputusan akhirnya adalah benar salah.
- 35:12Ilmunya namanya logika.
- 35:16Oke, lanjut.
- 35:21Oke.
- 35:22Nah
- 35:23bagaimana kita bisa belajar belajar
- 35:25logika? Tadi saya katakan kuasai dulu
- 35:27konsepnya. Nah, ini konsep logika ya.
- 35:31Pak, hukum itu kok enggak pernah satu
- 35:34suara Pak. Pasti
- 35:37ada yang ahli ngomong ini, ahli ngomong
- 35:39ini. Itu bukan cuma di hukum.
- 35:41Di mata kuliah filsafat pun sama.
- 35:44Untuk menterjemahkan kata logika ini ada
- 35:46berapa nih? Ini saya kumpulin 1 2 3 4 5
- 35:496 7.
- 35:51Tujuh pendapat tentang apa itu logika.
- 35:54Ya.
- 35:56Kalau Anda kuliah logika mungkin akan
- 35:58saya suruh hafal nih, hafalin gitu kan.
- 36:01Tapi kita enggak perlu.
- 36:03Ya, kalau saya sih cara ngajarnya minta
- 36:05Anda hafal tapi dari tujuh ini kita bisa
- 36:08saring nih sebenarnya.
- 36:10Apa sih yang dimaksud dengan logika? Ya.
- 36:12Atau kita bisa milih salah satu.
- 36:15Misalnya
- 36:17kayak saya ya, saya punya kelemahan
- 36:19dalam dalam menghafal.
- 36:21Saya enggak akan pilih ini.
- 36:23Saya akan pilih yang paling gampang.
- 36:27Ya.
- 36:29Itu tergantung kita juga.
- 36:30Cuma dosen-dosen kan kadang-kadang gini
- 36:32coba sebutkan logika menurut eh, Kelsen.
- 36:36Sebutkan logika menurut ini gitu. Kita
- 36:38disuruh menghafal gitu kan.
- 36:41Nah, menghafal itu ada kelemahannya.
- 36:42Kelemahannya apa? Kalau ujian Anda grogi
- 36:45hafalannya hilang, lupa.
- 36:48Itu kelemahan dari menghafal.
- 36:50Kalau tanya saya, Pak hafal enggak saya?
- 36:52Enggak hafal saya.
- 36:54Enggak hafal. Terus terang enggak hafal.
- 36:56Tapi dari ini semua saya belajar
- 36:59mengambil
- 37:01nya apa sih sebenarnya?
- 37:04Konsep logika itu.
- 37:09Akhirnya
- 37:10kita bisa membuat
- 37:12sendiri.
- 37:14Oh, logika itu adalah konsep yang
- 37:17mempelajari bagaimana orang itu
- 37:19melakukan penalaran, berpikir dengan
- 37:22cara-cara yang benar sehingga
- 37:24memunculkan kesimpulan yang benar.
- 37:27Cari di situ kan enggak ada.
- 37:29Yang saya omongin.
- 37:31Ya kan.
- 37:32Nah, itu menemukan pemahaman sendiri.
- 37:36Ya.
- 37:37Memang ada beberapa pemahaman yang
- 37:39basisnya hafalan ada memang ya. Tapi
- 37:42enggak semua berbasis hafalan.
- 37:44Enggak semua.
- 37:46Oke, nah eh
- 37:50tapi kalau Anda mau keren ya
- 37:52di depan pasangan gitu ya, depan teman.
- 37:54Nah, ini hafalin.
- 37:59Orang Indonesia paling senang kalau
- 38:02ngelihat orang itu hafal istilah-istilah
- 38:03asing
- 38:05Wah, keren loh Pak.
- 38:07Apalagi kalau udah disebut menurut ini
- 38:10kalau orang-orang filsafat ya menurut
- 38:12Gadamer
- 38:13nah, itu saya nyebutnya
- 38:15mahasiswa penurut.
- 38:18Ya, kalau menurut A, menurut B, menurut
- 38:21C namanya mahasiswa penurut.
- 38:23Dia enggak punya konsep sendiri.
- 38:26Kalau ada yang kayak gitu di kelas saya
- 38:28tanya, sekarang menurut kamu gimana?
- 38:30Diam.
- 38:31Berarti baru hafalan dia sampainya.
- 38:33Belum ke pemahaman.
- 38:36Bagus enggak? Bagus kalau dia sampai ke
- 38:39pemahaman.
- 38:41Tapi kalau berhenti hanya di hafalan itu
- 38:43waktu sidang skripsi sudah sidang belum
- 38:46ini?
- 38:46Sudah.
- 38:48Tahu ya teman-teman yang grogi ya.
- 38:50Itu hilang semua hafalannya.
- 38:52Ada yang motekin kuku gitu kan. Kalau
- 38:55perempuan itu biasanya eh, rusak kuku
- 38:57mental gitu kan.
- 38:59Udah grogi Pak, hilang semua.
- 39:03Paham?
- 39:04Itu dosen mau bertingkah apapun
- 39:06enggak akan grogi. Enggak akan grogi.
- 39:09Saya itu ujian skripsi 2 jam setengah.
- 39:13Waktu S1.
- 39:15Eh, tesis saya ujian
- 39:172 jam ya 2 jam juga.
- 39:20Eh, S3 3 jam lebih hampir 4 jam.
- 39:25Karena semua penguji saya ajakin debat.
- 39:29Walaupun saya harus
- 39:31eh, nahan marah ya.
- 39:33Itu sakit pinggang tuh nahan marah itu.
- 39:35Saya harus tahan marah saya
- 39:37karena saya tahu nih penguji
- 39:39sedang sedang ngetes yang
- 39:42yang macam-macam gitu.
- 39:43Konsepnya salah nih penguji gitu.
- 39:45Jadi saya jelaskan pelan-pelan, jelaskan
- 39:47pelan-pelan. Wah, itu lama itu saya
- 39:49ujian itu.
- 39:51Karena
- 39:52saya mampu menjawab dan mampu
- 39:54menyalahkan mereka, "Oh, enggak begitu
- 39:55Pak konsepnya, konsepnya begini begini
- 39:57begini begini." gitu.
- 39:59Jadi saya enggak pernah kalau ditanya
- 40:02"Eh, Pak Rocky IPK-nya pasti kumlot?"
- 40:04Enggak pernah.
- 40:06Cek IPK saya. S1 saya 2,
- 40:113.
- 40:142,3.
- 40:15S2 2,5.
- 40:19S3 baru 3 karena S3 itu kan nilai mata
- 40:22kuliahnya sedikit, ya. Jadi dia ter
- 40:24kalau dia ditotal akhirnya tinggi. Itu
- 40:26cuma 3,7.
- 40:28Saya enggak pernah tinggi. Teman-teman
- 40:30saya itu nilainya kumlot semua, saya
- 40:31enggak pernah.
- 40:33Tapi semua kalau konsultasi ke saya.
- 40:36"Kalau ini gimana Pak? Ini gimana Pak?
- 40:38Ini gimana Pak?"
- 40:41Karena mereka menguasai hafalan.
- 40:44Mahasiswa yang hafalan itu pasti IPK-nya
- 40:47tinggi.
- 40:49Sudah bisa dipastikan karena dosen itu
- 40:51bertanya itu hafalan waktu UAS.
- 40:55Tapi jangan coba-coba kuliah sama saya
- 40:58pertanyaan UAS atau UTS itu hafalan,
- 41:00saya enggak pernah.
- 41:02"Apa kaitan antara ini dengan ini?"
- 41:05"Apa hubungan ini dengan ini? Kalau ini
- 41:07begini ini bagaimana?" gitu.
- 41:09Nah, itu saya kalau buat soal seperti
- 41:11itu.
- 41:12Jadi saya kemarin
- 41:14oh, bukan kemarin justru.
- 41:15Awal pandemi
- 41:18eh, saya bikin
- 41:20pakai G Form.
- 41:22Multiple Choice
- 41:23saya bikin.
- 41:26Semua berharap itu hafalan.
- 41:28Ternyata Multiple Choice itu bisa dibuat
- 41:30logika.
- 41:32Nah, sebelum saya serahkan ke mahasiswa
- 41:34saya serahkan ke dosen-dosen.
- 41:36Jawab.
- 41:38Enggak ada yang dapat nilai 80.
- 41:41Husen.
- 41:42Mentok di 75.
- 41:45Marah-marah, "Loh, kamu pertanyaannya
- 41:47susah banget ini." Wah, "Ya, ini
- 41:48pertanyaan logika."
- 41:50Bukan hafalan.
- 41:52Saya kasih ke mahasiswa.
- 41:54Enggak ada yang sampai 50.
- 41:5730, 40, 50, dikit turun lagi 30, 40, 20,
- 42:0010 gitu ya.
- 42:02Jadi
- 42:03logikanya enggak main semua.
- 42:06Caranya dia itu cuma logika main tapi
- 42:09stop sampai di tahap hafalan.
- 42:12Bukan di tahap pemahaman.
- 42:15Kalau di kita sudah sampai kepada tahap
- 42:17pemahaman
- 42:19konsep-konsep begini enggak enggak perlu
- 42:20kita pakai.
- 42:22Kita bisa bikin konsep sendiri.
- 42:25Ya. Nah, tapi ini konsep dasar, ya.
- 42:27Artinya memang
- 42:29oh, logika itu memang mengarah kepada
- 42:31bagaimana cara membuat kesimpulan.
- 42:34Kesimpulan itu kalau di pejabat di pem
- 42:38artinya keputusan.
- 42:40Hakim buat putusan pengadilan itu
- 42:42kesimpulan.
- 42:43Dari seluruh proses
- 42:44maka kesimpulannya muncul putusan
- 42:46pengadilan.
- 42:47Jaksa memeriksa dari seluruh proses maka
- 42:50kesim
- 42:51puan.
- 42:52Jadi kesimpulan itu adalah kesimpulan
- 42:54dari keseluruhan cara dia memproses.
- 42:57Penyidik memproses dari penyelidikan
- 43:00sampai sidik sampai tahap P21 kesim ada
- 43:03di berkas perkara.
- 43:05Di resume perkara itu yang diajukan ke
- 43:08jaksa untuk disetujui di apa dinyatakan
- 43:11berkas lengkap.
- 43:12Kesimpulan.
- 43:13Ya.
- 43:14Jadi kesim
- 43:17kesimpulan apa
- 43:19Pak, sekedar kesimpulan itu ada dalam
- 43:21tesis, skripsi, kesimpulan, enggak. Di
- 43:24praktek kesimpulan itu adalah keputusan
- 43:27yang dikeluarkan.
- 43:29Ya.
- 43:30Nah,
- 43:31cara memperoleh kesimpulan yang benar.
- 43:34Nah, kan sudah beda lagi konsep yang
- 43:35saya omongin.
- 43:36Yang tadi saya sebutin
- 43:38iya kan? Sekarang saya ngomongnya beda
- 43:39lagi. Cara membuat kesimpulan
- 43:42nanti mungkin berapa menit lagi saya
- 43:44berubah lagi tuh
- 43:45arti logika.
- 43:47Nah, itu karena kita sudah mengerti
- 43:49sudah paham oh, logika itu. Jadi kita
- 43:51bolak-balik dan segala macamnya
- 43:54track-nya masih sama.
- 43:56Ya.
- 43:57Dan itu yang kemudian
- 43:59eh, menjadi kesulitan bagi mahasiswa
- 44:02ketika menulis.
- 44:04Efeknya ke situ, menulis.
- 44:07Kalau menulis itu kan kalau skripsi
- 44:09kita banyak ngutip ya.
- 44:11Terutama bab 2.
- 44:13Terutama bab 2.
- 44:14Pendapat ini tentang ini, pendapat itu
- 44:18Nah, itu kalau dimasukkan ke mesin
- 44:20plagiat
- 44:21dicek itu bisa 100% bab 2 doang itu bisa
- 44:24100%
- 44:25plagiasinya.
- 44:27Tapi kalau kita punya kemampuan memahami
- 44:30kita bisa bilang "Menurut misalnya,
- 44:33menurut Ruslan Saleh
- 44:35gitu ya
- 44:36mengatakan misalnya
- 44:38eh, hukum pidana merupakan fragmentasi
- 44:40dari eh, apa fragmentasi dari tingkah
- 44:44laku." Dia mengatakan. Kita bisa rubah.
- 44:47Kalimatnya rubah. Yang penting apa?
- 44:49Maknanya sama.
- 44:52Kalimatnya beda.
- 44:53Nah, dalam ilmu bahasa Indonesia itu
- 44:56yang disebut dengan istilah parafrase.
- 45:00Pernah dengar ya istilah parafrase?
- 45:03Dalam metodologi
- 45:05itu yang disebut sebagai kutipan tidak
- 45:08langsung.
- 45:09Kalau kutipan langsung pakai ada quote
- 45:11depan belakang.
- 45:12Tapi kalau kutipan tidak langsung enggak
- 45:14perlu pakai quote.
- 45:15Yang kita kutip
- 45:17kalimat seseorang
- 45:19isinya sama
- 45:21bentuk bahasanya berbeda.
- 45:24Nah, itu hanya bisa kita lakukan kalau
- 45:27sudah sampai ke taraf pemahaman.
- 45:30Ya.
- 45:30Oke, lanjut Mbak.
- 45:34Nah, ini fokusnya juga, ya.
- 45:37Jadi fokus kajiannya sori itu ada typo
- 45:40ya, menyusun
- 45:42fokus kajiannya ke argumen.
- 45:45Ya.
- 45:46Memang
- 45:48ending-nya adalah kesimpulan.
- 45:51Ending-nya adalah kesimpulan.
- 45:53Tapi tidak
- 45:54itu adalah cara bagaimana kita
- 45:56berargumen.
- 45:59Nah, kalau hukum nanti ada tekniknya,
- 46:01ya. Ada tekniknya kalau hukum.
- 46:03Nah, kalau di logika nanti ada satu bab
- 46:06judulnya tentang eh
- 46:08konsep dan definisi sama satu bab lagi
- 46:11tentang
- 46:12eh,
- 46:13falasi.
- 46:15Buat buku ini gitu ya.
- 46:17Tapi belum selesai.
- 46:19Nah, jadi fokusnya logika itu untuk
- 46:22menguji sebenarnya. Ini ini kutipan buku
- 46:25ya, tapi saya jelaskan begini.
- 46:27Fokusnya logika itu dia menguji apakah
- 46:31dua proposisi atau premis atau unsur
- 46:35kalau hukum
- 46:36bilangnya unsur, ya. Ini bahasa-bahasa
- 46:39filsafat ilmu premis, proposisi nanti
- 46:42ada presuposisi,
- 46:44ya. Ada lagi seperti itu.
- 46:46Makanya istilah-istilah itu yang
- 46:48kemudian bikin mahasiswa takut gitu.
- 46:50Kalimat apa gitu karena itu cuma
- 46:52didapatkan di mata kuliah logika.
- 46:54Tidak didapatkan di mata kuliah yang
- 46:55lain padahal sebenarnya sama.
- 46:58Hukum itu membahas unsur kan kalau
- 47:00pidana apalagi.
- 47:01Satu pasal itu ada unsur subjektif, ada
- 47:04unsur objektif.
- 47:07Sudah dapat ya hukum pidananya kan?
- 47:08Sudah pasti kan cuma dibagi dua. Nah,
- 47:11itu bahasa hukum pidana kalau bahasa
- 47:13filsafatnya apa? Bahasa filsafatnya
- 47:14premis.
- 47:16Premis subjektif, premis objektif sama
- 47:19cuma beda istilah.
- 47:22Nah, orang yang banyak baca ya, banyak
- 47:24baca buku Rocky Gerung itu termasuk
- 47:27dia itu tahu istilah-istilah lain yang
- 47:29sebenarnya artinya sama aja gitu.
- 47:33Artinya sama aja gitu
- 47:35Nah, jadi logika itu sebenarnya hanya
- 47:37untuk menguji ini.
- 47:39Apakah antara premis satu dengan premis
- 47:41yang lain itu bertentangan enggak?
- 47:44Ya.
- 47:44Saling
- 47:46saling berkaitan atau enggak gitu ya.
- 47:48Nah, kan
- 47:49nanti kemudian disimpulkan baru.
- 47:53Ya.
- 47:54Nah, yang yang bikin mahasiswa ketakutan
- 47:56juga akhirnya
- 47:58cara merumuskan dua premis ini, cara
- 48:01merumuskannya disebutlah dengan istilah
- 48:04lain.
- 48:05Ini aja kita sudah pusing apa itu
- 48:07proposisi. Nanti kalau saya tambahin
- 48:10presuposisi ada lagi. Presuposisi itu
- 48:13dugaan kuat.
- 48:15Padahal kalau saya pakai istilah
- 48:17peristiwa yang diduga kuat sebagai
- 48:18pidana kan ada kan ya.
- 48:20Dalam filsafat disebut sebagai
- 48:22presuposisi. Presuposisi.
- 48:25Ya.
- 48:25Kalau premis itu baru asumsi.
- 48:29Asumsinya ya. Ah, proposisi sama dengan
- 48:31premis berarti sama dengan asumsi.
- 48:34Nanti ada lagi istilah hipotesis.
- 48:37Ya. Dugaan yang masih perlu diuji. Nah,
- 48:40itu ya.
- 48:41Nah, ini cara mengambil kesimpulan
- 48:44berdasarkan dua premis ini yang bikin
- 48:47kepala kita pusing waktu dulu belajar
- 48:49karena diberi judul.
- 48:52Apa judulnya? Judulnya ini. Akhirnya
- 48:55kita ngapalin inferia in apa inferensia
- 48:58itu adalah pengambilan ke kesimpulan
- 49:01berdasarkan dua pro akhirnya itu yang
- 49:03dihafal ini.
- 49:08Kenapa sih kita berpikir atau orang dulu
- 49:11berpikir kenapa sih dibikin sesulit itu
- 49:13gitu ya nama-namanya dan macam-macamnya.
- 49:16Sebenarnya para filosof kita gitu
- 49:20membuat nama ya nama-nama itu itu
- 49:25tujuan mereka menginginkan supaya kita
- 49:27lebih mudah
- 49:29mempelajari.
- 49:31Karena memang
- 49:32filosof
- 49:33yang disebut filosof zaman
- 49:36ya zaman dulu
- 49:37itu cuma berasal dari dua ilmu
- 49:40rata-rata
- 49:41filosof itu kalau enggak dia ahli
- 49:43matematika
- 49:45pasti dia ahli geografi
- 49:47antara dua
- 49:50sampai abad ke-18
- 49:54akhir
- 49:56dunia filsafat itu dikuasai oleh ahli
- 49:58matematika, ahli geografi plus satu lagi
- 50:01ahli
- 50:04jadi wajar kalau
- 50:06matematik
- 50:09wajar, nah filosof yang berbasis dari
- 50:11ilmu sosial itu baru muncul di abad 19
- 50:16baru bisa mengatakan oh manusia itu
- 50:18bukan mesin, dia punya unsur yang yang
- 50:22tidak bisa terdeteksi
- 50:24hati misalnya
- 50:26itu enggak bisa
- 50:28di matematika kan enggak bisa
- 50:30panca indra bisa di matematikakan tapi
- 50:33hati ini itu enggak bisa, intuisi itu
- 50:36enggak bisa dan itu satu kesatuan dengan
- 50:38manusia itu, nah itu baru muncul 19
- 50:41selebihnya
- 50:44dan hari ini kita juga masih terjebak
- 50:46dengan hal itu
- 50:47semua berpikir
- 50:51hukum
- 50:53hukum itu berpikir secara matematika
- 50:55unsurnya 1 2 3, datanya apa? oh ini 1 2
- 50:593
- 51:00sudah cocok
- 51:01oke
- 51:02terpenuhi unsur
- 51:04masuk tindak pidana
- 51:06nah
- 51:07ada peristiwa di
- 51:08bagus banget peristiwa itu
- 51:10sempat saya tulis jadi artikel
- 51:13ada ibu-ibu
- 51:15ada ibu-ibu
- 51:16posting ke Facebook
- 51:19tentang di Malang, di Malang nih ya, ini
- 51:21tahun itu saya tulis 2018
- 51:25kejadiannya 2017
- 51:27ada ibu-ibu posting di Facebook ya suatu
- 51:30foto
- 51:31eh atau flyer lah
- 51:33hati-hati
- 51:35tentang
- 51:36rawan penculikan anak, kemudian ada foto
- 51:38orangnya di sini
- 51:39gambar orangnya
- 51:41rawan penculikan anak, jaga anak Anda
- 51:43gitu kan
- 51:44ternyata nih orang fotonya ada di sini
- 51:47komplain
- 51:48oh itu foto saya, lapor polisi gitu kan
- 51:51lapor polisi
- 51:53nah ditangkaplah ibu ini
- 51:55secara unsur masuk loh
- 51:58ya, pencemaran nama baik melalui IT
- 52:00masuk
- 52:01tapi ada unsur yang enggak terbahas oleh
- 52:03hukum pidana
- 52:04pertama apa? dia dapat gambar itu dari
- 52:07kakaknya
- 52:09kalau Anda dapat informasi dari
- 52:11keluarga, percaya enggak?
- 52:13percaya kan, itu unsur kepercayaannya
- 52:15tinggi loh
- 52:16ya, misal apalagi gini kalau suku Cina
- 52:19Cina sama Cina itu kalau berbisnis itu
- 52:21sudah kayak keluarga
- 52:24kalau mereka sudah percaya
- 52:26itu berapapun minta dikasih
- 52:28enggak pakai kuitansi
- 52:31Jepang juga gitu
- 52:33makanya Jepang itu enggak mau bikin
- 52:34perjanjian, kalau kita sudah deal kan
- 52:36jabat tangan aja, oke ya
- 52:38karena kepercayaannya di sini
- 52:40nah ibu ini dapat
- 52:42flyer itu dari kakaknya, kakak
- 52:44perempuannya
- 52:46satu
- 52:47terus kedua, ibu ini juga punya anak
- 52:49kecil dua
- 52:52jadi waktu ditanya polisi, kenapa Anda
- 52:55melakukan itu?
- 52:56ya saya dapat dari kakak saya gitu kan
- 52:59terus saya juga punya anak kecil, saya
- 53:00kan takut anak kecil saya juga kena,
- 53:02jadi saya juga enggak kepingin
- 53:04teman-teman saya kena, makanya saya
- 53:06sebarin ke teman-teman saya
- 53:10tapi jadi permasalahan, tiga alasan tadi
- 53:13itu enggak ada unsur
- 53:15enggak ada di pasal
- 53:17ya, nah kalau hukum pidana berpikir
- 53:19secara matematis
- 53:21ibu ini masuk juga
- 53:24ya
- 53:24nah peristiwa-peristiwa seperti ini yang
- 53:26kemudian membutuhkan viral gitu ya
- 53:30yang begini-begini membutuhkan viral
- 53:32gitu ya, bahwa dia sebenarnya enggak
- 53:34salah-salah amat gitu
- 53:36bahwa dia salah iya gitu ya
- 53:39kalau saya tetap mengatakan secara saya
- 53:40sebagai orang pidana saya akan
- 53:41mengatakan
- 53:43memang terpenuhi unsur pasalnya
- 53:46tapi logikanya dia
- 53:48waktu dia menarik kesimpulan
- 53:50untuk memposting itu
- 53:53pasal enggak jadi enggak jadi rujukan
- 53:55tuh
- 53:56iya kan
- 53:58dia enggak mungkin enggak kenal tuh
- 53:59pasal yang dia dia posting itu karena
- 54:01ketakutan dia
- 54:02gua punya anak kecil dan juga rasa care
- 54:05dia dengan teman-temannya, gua enggak
- 54:07mau teman-teman gua juga kena nih
- 54:08anaknya
- 54:10nah ini yang enggak diakomodir oleh
- 54:11hukum sehingga ilmu hukum ya waktu
- 54:14pertama kali muncul itu memang dibuat
- 54:16khusus hukum pidana
- 54:18memang dibuat secara sematematis mungkin
- 54:21jadi sangat matematika
- 54:24sangat matematik, karena tadi filosofnya
- 54:26adalah filosof matematika
- 54:29memang dibuat seperti itu
- 54:32nah itu yang kemudian menyebabkan
- 54:34hari ini banyak
- 54:36pemberontakan-pemberontakan
- 54:38pemberontakan
- 54:39perang gitu ya, tapi
- 54:40berpikir pola
- 54:4219 itu mulai memberontak tuh
- 54:44enggak bisa hukum itu memandang manusia
- 54:47seperti mesin
- 54:49manusia adalah manusia mesin ya
- 54:52nah ini yang kemudian
- 54:54eh
- 54:56pola berpikir
- 54:57silogisme atau inferensia gitu ya, nah
- 55:01ini kurang ajarnya filosof kan begini,
- 55:03sudah disebut namanya inferensia
- 55:05disebut lagi namanya silogisme, jadi
- 55:07kita ngapalin dua kali tuh
- 55:10inferensia adalah gitu ya, silogisme
- 55:12adalah gitu ya
- 55:14kenapa enggak di satu kali aja ini
- 55:15enggak usah disebut, itu kan pakai
- 55:16disebut lagi, ah silogisme gitu kan,
- 55:19yang cara mengambil cara mengambil
- 55:21kesimpulan dari dua premis disebutnya
- 55:24inferensia
- 55:25cara argumen inferensia disebutnya
- 55:27silogisme, mampus enggak lu ngapalin
- 55:29istilah-istilah begitu
- 55:32nah
- 55:33tapi ada tekniknya ya
- 55:35ada tekniknya, tadi saya katakan di awal
- 55:37saya bukan orang yang penghafal
- 55:41saya juga bukan orang yang kumel kumel
- 55:42semua tapi punya teknik
- 55:45satu apa tekniknya? praktik
- 55:48praktikkan
- 55:50ilmu
- 55:51yang tidak dipraktikkan
- 55:53itu tidak memberikan apa namanya,
- 55:56mungkin kalau memberikan manfaat terlalu
- 55:58ini ya tapi ya memang seperti itu ya,
- 56:00kalau dia tidak dipraktikkan paling
- 56:02tidak dia tidak memberikan manfaat buat
- 56:03kita sendiri
- 56:05walaupun tidak memberikan manfaat buat
- 56:06orang lain enggak apa-apa gitu ya
- 56:09saya waktu belajar
- 56:11eh apa hukum seperti ini
- 56:14itu saya enggak dari baca buku
- 56:16enggak, saya baca dari putusan
- 56:19saya ambil putusan pengadilan
- 56:23setiap orang punya nurani, punya naluri,
- 56:25punya intuisi, saya bekerja dari situ
- 56:27dulu
- 56:28bukan dari akal, bukan dari panca indra
- 56:32ya, tapi dari nurani, naluri, intuisi,
- 56:35imajinasi
- 56:37ya, empat hal itu yang perlu dipegang,
- 56:38saya baca putusan itu, karena hukum kan
- 56:40sudah ada di belakang saya konsepnya
- 56:42waktu saya kuliah gitu kan
- 56:43loh ini kok enggak pas
- 56:45menurut saya enggak pas
- 56:47baru saya buka buku sret
- 56:49cocokin
- 56:51ah kan menurut buku enggak begitu
- 56:54nah cuma kalau Anda berpikirnya
- 56:56dikotomis, praktik-praktik, ilmu-ilmu
- 56:59itu enggak Anda enggak akan bisa belajar
- 57:02itu harus ketemu praktik dan ilmu ya
- 57:06karena ilmu itu dibuat untuk praktik
- 57:09gitu ya
- 57:10nanti ilmu berkembang karena praktik
- 57:12jadi dua itu harus saling iya saling ini
- 57:16saling bersinergis, nah kita lihat nih
- 57:19nah kalau misalnya saya waktu itu ya, oh
- 57:21bukunya mengatakan ini, kok saya masih
- 57:23enggak cocok ya, saya cari lagi buku
- 57:25lain
- 57:26yang lebih tinggi derajatnya
- 57:28ah nanti saya ada sesi yang saya akan
- 57:31cerita soal derajat dari hukum, hukum
- 57:34itu ada derajat-derajatnya
- 57:35ada kastanya gitu
- 57:37ah ini
- 57:38wah ini pasti yang ini nih
- 57:40ya, nah saya ketemu, saya pilih yang
- 57:42ini, cocok nih
- 57:43nanti kasus lain gitu lagi
- 57:45oh ini kok enggak pas, jadi akhirnya
- 57:47gara-gara baca putusan
- 57:49saya yang dari orang pemalas, malas baca
- 57:53bapak saya itu sampai heran
- 57:55kok kamu mendadak punya buku sampai
- 57:571.500
- 58:00di ruangan saya
- 58:02terakhir itu buku saya sudah 3.000
- 58:05tapi yang 1.500 saya kasihin ke teman
- 58:09karena itu buku-buku perdata,
- 58:11perdata pokoknya hal-hal perdata saya
- 58:13kasihin ke teman
- 58:14jadi saya konsentrasi di bidang hukum
- 58:17publik aja
- 58:19jadi tinggal 1.000
- 58:23nah itu dari itu caranya tuh
- 58:26terus apa? ditulis
- 58:29itu cara mempraktikkannya
- 58:31cara mempraktikkannya apa lagi? diskusi
- 58:34orang hukum itu cuma tiga kuncinya
- 58:37baca
- 58:38nulis, diskusi
- 58:41cuma tiga
- 58:43nah yang yang jadi persoalan saya waktu
- 58:46itu, makanya saya kalau di kelas itu
- 58:48banyak menceritakan pengalaman pribadi,
- 58:49saya waktu itu enggak punya komunitas
- 58:52orang hukum
- 58:53jadi kalau walaupun yang
- 58:56jadi kalau nongkrong
- 58:58kalau enggak cewek, narkoba, miras gitu
- 59:00kan saya gitu saya akhirnya saya
- 59:03nongkrongnya sama
- 59:04saya nongkrongnya sama dosen
- 59:07karena begitu mahasiswa nongkrong sama
- 59:09dosen, dosen pasti kepingin disebut
- 59:12hebat
- 59:13dia pasti akan keluarin ilmunya semua
- 59:15tuh
- 59:16ah saya sebagai mahasiswa nampung aja
- 59:18dulu gitu kan
- 59:21kalau Anda diskusi dengan teman misalnya
- 59:23diskusi nih, eh Pak Rahmat tadi ngomong
- 59:24apa sih gini, ini enggak diskusi entar
- 59:27debat
- 59:28kenapa? levelnya sama
- 59:31diskusi itu Anda harus cari orang yang
- 59:32levelnya di atas.
- 59:34Fungsinya apa? Anda menerima masukan
- 59:37untuk diolah.
- 59:39Sudah menerima masukan untuk diolah,
- 59:41baru biasanya biasanya nih mahasiswa
- 59:43digunakan untuk ngantem temannya gitu
- 59:44kan.
- 59:45Biasanya begitu, tapi enggak apa-apa.
- 59:47Justru itu adalah cara mengolah
- 59:50logika,
- 59:51ya. Mulai dari baca,
- 59:53nulis, diskusi. Kalau
- 59:56Anda cuma lakukan dua,
- 59:58enggak komplit.
- 1:00:00Anda sebagai orang hukum enggak komplit.
- 1:00:02Anda harus lakukan tiga-tiganya, wajib.
- 1:00:04Jadi saya agak heran kalau ada pengacara
- 1:00:06ngomong, saya enggak bisa nulis
- 1:00:10Saya dulu kalau praktek itu
- 1:00:12saya enggak pernah dapat kasus, tapi
- 1:00:14saya selalu dipanggil oleh kantor
- 1:00:15pengacara teman-teman untuk buatin
- 1:00:18pledoi, eksepsi gitu-gitu kan. Kenapa lu
- 1:00:21enggak bisa buat gua? Gua enggak bisa
- 1:00:23nulis gua.
- 1:00:24Enggak ngerti gua caranya gitu.
- 1:00:27Tapi ngerti enggak maksudnya? Ngerti
- 1:00:28cuma nulis nuanginnya gua enggak bisa
- 1:00:30gitu.
- 1:00:30Ya sudah akhirnya gue yang nuangin.
- 1:00:33Masuk dalam tim gue yang nuangin.
- 1:00:35Tapi pengacara saya sudah 2014 saya
- 1:00:37sudah stop, enggak enggak pengacara
- 1:00:38lagi.
- 1:00:39Ya, nah ini
- 1:00:42eh ya ini saya tampilin
- 1:00:45untuk kepentingan akademi, tapi yang
- 1:00:48saya inginkan tadi yang saya ucapkan.
- 1:00:50Nah, kadang-kadang soal itu keluar bukan
- 1:00:53dari sini, tapi yang dari saya ucapkan.
- 1:00:56Itu kadang-kadang gitu ya. Kalau ini ada
- 1:00:58rekamannya, minta rekamannya gitu kan.
- 1:01:01Kemarin ngomong apa aja nih gitu kan.
- 1:01:04Jangan patokannya ke sini. Ya,
- 1:01:05patokannya ke sini enggak apa-apa, tapi
- 1:01:06kadang-kadang saya kalau nguji
- 1:01:08mahasiswa, mana ngomong kayak gini, ini
- 1:01:10logikanya ke mana?
- 1:01:11Sering begitu gitu ya.
- 1:01:13Oke, izin Pak Dosen. Ada yang mau
- 1:01:15didiskusikan?
- 1:01:17Izin Pak Dosen. Ya, silakan Mas.
- 1:01:20Ya, Gilwani Pak Dosen izin bertanya.
- 1:01:24Mana sih? Yang ini ya?
- 1:01:25Ini.
- 1:01:26Jelas suaranya Pak Dosen, izin. Ya,
- 1:01:28jelas jelas Mas.
- 1:01:30Ya, makin ke sini kok saya makin makin
- 1:01:32bingung nih Pak Dosen.
- 1:01:35Ya. Ini kalau kita lihat silogisme ini
- 1:01:38model yang bersumber dari inferensia.
- 1:01:40He eh. Kemudian inferensia ini sumbernya
- 1:01:43dari
- 1:01:44premis atau proposisi Pak Dosen.
- 1:01:47He eh. Kalau argumen ini sering saya
- 1:01:49dengar dan eh saya paham untuk argumen,
- 1:01:52tetapi untuk
- 1:01:53propors proposisi ini masih belum paham
- 1:01:57nih, apakah gini
- 1:01:58ini kan setidaknya terdiri dari dua
- 1:02:01proposisi. Apakah misalnya nih kalau
- 1:02:03kita eh berargumentasi tentang komunitas
- 1:02:05misalnya tadi, komunitas adalah
- 1:02:08sesuatu kelompok yang terdiri dari
- 1:02:11populasi misalkan begitu.
- 1:02:13Apakah populasi dan komunitas ini eh
- 1:02:16bisa diartikan eh dua argumen gitu Pak
- 1:02:19Dosen?
- 1:02:21Coba diulang kalimatnya.
- 1:02:25Eh untuk yang proposisi ini saya minta
- 1:02:28pencerahan Pak Dosen misalkan gini, ini
- 1:02:30kan
- 1:02:31kalau inferensia ini
- 1:02:35dia terdiri dari
- 1:02:37dua proposisi Pak Dosen. Ya, ya.
- 1:02:41Ya.
- 1:02:42Nah, yang ingin saya saya tanyakan ini
- 1:02:45eh proposisi ini yang seperti apa Pak
- 1:02:48Dosen?
- 1:02:49Oh, proposisi itu bahasa gampangnya itu
- 1:02:53unsur.
- 1:02:57Pernah dengar kata unsur enggak?
- 1:02:59Pernah pernah unsur.
- 1:03:00Ya. Unsur ini sesuatu hal yang yang yang
- 1:03:03apa ya? Yang membentuk gitu ya dan
- 1:03:06misalkan
- 1:03:07terdiri dari saja begitu ya.
- 1:03:09Betul. Jadi kadang gini, satu satu
- 1:03:12kesimpulan itu bisa berasal dari eh
- 1:03:16kalau kita pakai silogisme, maka satu
- 1:03:18kesimpulan
- 1:03:19itu harus berasal dari dua unsur.
- 1:03:22Nah, bahasa ilmu logikanya harus berasal
- 1:03:25dari dua premis.
- 1:03:27Itu artinya sama, unsur, premis,
- 1:03:29proposisi itu artinya sama.
- 1:03:35Baik, makasih Pak Dosen.
- 1:03:37Bisa diberikan contoh contoh lagi Pak
- 1:03:40Dosen?
- 1:03:41Contoh lagi eh
- 1:03:45saya misalnya gini, ya kita bicara soal
- 1:03:47silogisme ya.
- 1:03:49Silogisme itu
- 1:03:52selalu terdiri dari premis mayor dan
- 1:03:54premis minor.
- 1:03:56Ya.
- 1:03:58Premis mayor itu misalnya setiap manusia
- 1:04:02pasti mati.
- 1:04:04Itu premis mayor.
- 1:04:06Premis minornya
- 1:04:08Rocky adalah manusia.
- 1:04:12Konklusinya
- 1:04:13Rocky pasti mati.
- 1:04:17Jadi konklusi itu terdiri dari dua
- 1:04:19premis. Rocky
- 1:04:22mewakili premis satu yaitu manusia
- 1:04:25ya kan.
- 1:04:26Nah, eh sori eh premis minor, Rocky
- 1:04:30mewakili
- 1:04:31mewakili premis minor, mati tadi itu
- 1:04:34mewakili premis mayor.
- 1:04:37Jadi premis mayor itu selalu bersifat
- 1:04:39umum, premis minor selalu bersifat
- 1:04:42khusus.
- 1:04:43Dalam hukum pidana
- 1:04:45itu paling gampang. Premis mayor itu
- 1:04:47pasti pasal.
- 1:04:49Barang siapa dengan sengaja
- 1:04:50menghilangkan nyawa orang lain
- 1:04:52eh diancam pembunuhan dengan pidana
- 1:04:56paling lama misalnya gitu ya. Itu premis
- 1:04:58mayor. Premis minornya Rocky melakukan
- 1:05:01pembunuhan.
- 1:05:03Ya.
- 1:05:03Nah, premis eh apa? Kesimpulannya pasti
- 1:05:07Rocky diancam pidana sekian tahun.
- 1:05:13Sampai sini paham enggak?
- 1:05:15Itu silogisme, model-model silogisme.
- 1:05:18Paham Pak Dosen, terima kasih banyak.
- 1:05:20Ya.
- 1:05:21Jadi
- 1:05:22hukum itu khususnya hukum pidana
- 1:05:24khususnya ya
- 1:05:26memang akan selalu berpikir secara
- 1:05:28silogisme.
- 1:05:29Cuma ini ini ini saya enggak tampilin
- 1:05:31lagi, sebenarnya begini. Ini ada lagi
- 1:05:33nanti.
- 1:05:34Logika
- 1:05:36berdasarkan kepada silogisme disebut
- 1:05:38apa? Disebut deduksi.
- 1:05:41Ada lagi istilahnya, cuma saya lupa
- 1:05:43tampilin.
- 1:05:45Lupa saya muat satu poin lagi di sini.
- 1:05:47Ya, satu poin lagi di sini.
- 1:05:50Logika yang didasarkan kepada silogisme
- 1:05:53disebut deduksi.
- 1:05:57Nah, ya kan. Semakin banyak yang perlu
- 1:05:59dihafalin kan.
- 1:06:01Ada deduksi, ada silogisme, ada
- 1:06:04inferensia gitu kan.
- 1:06:05Nah, tapi pola pikir paling sederhana
- 1:06:07adalah kita lihat
- 1:06:10hukum pidana.
- 1:06:11Hukum pidana itu representasi
- 1:06:13pola berpikir deduksi. Itu diambil plek
- 1:06:16plekkan.
- 1:06:17Sama persis.
- 1:06:19Makanya premis mayor dalam hukum pidana
- 1:06:21itu pasti pasal.
- 1:06:24Premis minornya fakta konkrit.
- 1:06:27Hal yang terjadi.
- 1:06:29Kesimpulannya, nah tinggal dilihat
- 1:06:31kesimpulannya.
- 1:06:32Ya, nanti kalau penyidik kesimpulannya
- 1:06:34gimana? Karena kan dia harus membaca
- 1:06:37data ya, data, fakta, dan segala
- 1:06:39macamnya.
- 1:06:41Bukti-bukti ya, nanti jaksa
- 1:06:43kesimpulannya gimana gitu kan.
- 1:06:45Kesimpulannya aja yang beda-beda.
- 1:06:48Tapi
- 1:06:49cara membungkusnya pasti itu.
- 1:06:52Nah, cara cara berpikir deduksi deduk
- 1:06:57itu yang di abad 19 atau 20 ditentang.
- 1:07:02Ditentang tadi persis
- 1:07:05eh yang tadi itu.
- 1:07:07Manusia itu enggak matematika loh.
- 1:07:10Ada unsur lain
- 1:07:11yang perlu dipertimbangkan.
- 1:07:15Oke,
- 1:07:16ada lagi yang ingin ditanyakan? Mungkin
- 1:07:18yang dari Zoom?
- 1:07:22Kalau dari sini ada yang mau ditanyakan?
- 1:07:24Ya. Pak Dosen Pak Dosen tadi
- 1:07:26itu belum lengkap.
- 1:07:29Bisa diulang enggak Pak? Bisa diulang
- 1:07:30enggak Pak?
- 1:07:31Oh.
- 1:07:32Deduksi itu cara penga apa? Cara
- 1:07:35pengolahan eh logika secara silogisme.
- 1:07:39Deduksi.
- 1:07:41Cara pengolahan logika
- 1:07:43dengan silogisme.
- 1:07:45Itu disebut deduksi.
- 1:07:48Izin Pak Dosen. Eh apa bedanya deduksi
- 1:07:51dengan induksi Pak Dosen? Saya pernah
- 1:07:52dengar istilah induksi Pak Dosen. Ya,
- 1:07:54kalau
- 1:07:56kalau deduksi itu pengambilan kesimpulan
- 1:07:59dari hal yang umum ke yang khusus.
- 1:08:02Yang induksi itu dari hal yang khusus ke
- 1:08:04hal yang umum.
- 1:08:06Dibalik.
- 1:08:07Saya belum ngomong aja itu soal induksi.
- 1:08:10Nah, kita hukum jadi saya hukum itu
- 1:08:12enggak pakai induksi.
- 1:08:14Hukum itu pakainya deduksi.
- 1:08:17Induksi biasa dipakai oleh orang-orang
- 1:08:19ilmu alam.
- 1:08:21Induksi ya, orang IPA, fisika itu
- 1:08:24induksi. Tapi hukum eh sosial
- 1:08:28sosial pun kadang-kadang digabung
- 1:08:30induksi. Nah, hukum itu deduksi.
- 1:08:34Jadi
- 1:08:35teknik saya apa? Teknik pengambilan
- 1:08:38datanya.
- 1:08:40Kalau silogisme itu intinya di
- 1:08:42inferensiasi itu.
- 1:08:44Deduksi.
- 1:08:45Eh
- 1:08:46deduksi.
- 1:08:51Ya.
- 1:08:52Jadi gini, cara yang paling gampang
- 1:08:55ya
- 1:08:56pahami ini.
- 1:09:00Teknik mengambil kesimpulan
- 1:09:02berdasarkan dua premis
- 1:09:05itu disebut
- 1:09:07inferensia ya.
- 1:09:10Teknik berargumen
- 1:09:12berdasarkan inferensia disebut
- 1:09:14silogisme.
- 1:09:15Ya.
- 1:09:17Teknik mengambil kesimpulan
- 1:09:19berdasarkan silogisme disebut deduksi.
- 1:09:28Jadi deduksi itu teknik pengambilan
- 1:09:29kesimpulan.
- 1:09:31Tapi bukan itu sebenarnya ada lagi
- 1:09:34ngomong deduksi itu loh.
- 1:09:37Ada lagi yang ngomong.
- 1:09:39Ya, yang penting Anda yang mana?
- 1:09:42Anda mau pakai deduksi logika berfikir.
- 1:09:45Monggo karena memang ada bukunya yang
- 1:09:47bicara itu. Anda mau
- 1:09:50itu sebagai ee apa itu saya
- 1:09:53teknik
- 1:09:54Silahkan karena ada bukunya yang bicara
- 1:09:56itu. Jadi bebas.
- 1:09:59Nah, saya kalau ngajar begitu.
- 1:10:01Anda mau ngomong apa ini? Oh iya itu ada
- 1:10:02buku yang nulis soal itu. Boleh pakai.
- 1:10:06Ada
- 1:10:07aslinya yang nulis soal itu.
- 1:10:11Jadi enggak
- 1:10:12harus menurut saya gitu ya. Tapi dulu
- 1:10:15saya kuliah itu tadi paling gampang
- 1:10:17untuk dapat A.
- 1:10:18Gitu ya.
- 1:10:20Dulu saya punya waktu S2 ada dosen saya
- 1:10:22namanya Prof. Bambang Purnomo.
- 1:10:26Ya, orang UGM.
- 1:10:28Itu dia paling senang namanya kalau
- 1:10:29disebut. Jadi kita kalau jawab soal
- 1:10:32menurut Prof. Bambang Purnomo
- 1:10:34itu sudah pasti A itu.
- 1:10:36Sudah pasti A itu.
- 1:10:39Ya, ada dosen-dosen seperti itu ada.
- 1:10:40Tapi kalau saya lebih melihat dasar itu
- 1:10:42apa gitu.
- 1:10:43Dalilnya apa? Argumennya apa?
- 1:10:47Bahkan sampai skripsi pun saya bebaskan
- 1:10:49tuh mahasiswa. Anda mau ngomong apa
- 1:10:51sebenarnya?
- 1:10:52Waktu itu ngomong begini.
- 1:10:53Pak, saya enggak setuju
- 1:10:56tindak pidana pencucian uang
- 1:10:58itu kan ada
- 1:11:00katanya ada konsep. Saya maunya konsep
- 1:11:03ini sebenarnya harus digabung semua.
- 1:11:07Saya bilang kamu ngelawan arus. Iya Pak
- 1:11:09memang ngelawan arus. Ada enggak Pak
- 1:11:10teori yang membenarkan? Ada, ini
- 1:11:12teorinya Thomas Kuhn.
- 1:11:14Itu yang cara berfikirmu gitu kan. Saya
- 1:11:17enggak setuju tapi ini ada teorinya
- 1:11:18gitu.
- 1:11:20Saya pakai Pak? Ya pakai. Pakai dia.
- 1:11:23Pakai teori paradigma Thomas Kuhn.
- 1:11:25Silahkan, ada teorinya kok.
- 1:11:28Jadi jangan menyalahkan orang ketika
- 1:11:31berpendapat.
- 1:11:33Orang itu
- 1:11:35dia
- 1:11:36mampu berargumen.
- 1:11:42Yang pokoknya harus begini nah itu perlu
- 1:11:45kita salahkan itu.
- 1:11:47Harus saya itu nah itu perlu disalahkan.
- 1:11:49Tapi kalau Pak saya enggak setuju saya
- 1:11:51itu di kelas mahasiswa begitu.
- 1:11:53Kurang ajar.
- 1:11:54Kurang ajar ya tapi ini bukan kurang
- 1:11:55ajar nakal ya, kurang ajar lucu-lucuan
- 1:11:57aja gitu.
- 1:11:59Dia buka laptop saya lagi jelasin dia
- 1:12:01googling tuh.
- 1:12:03Menurut siapa Prof? Pak, menurut
- 1:12:05bukannya jadi bukannya begini-begini
- 1:12:07begini Pak, Bapak enggak salah
- 1:12:09ngejelasinnya begini.
- 1:12:10Saya langsung ngeh itu.
- 1:12:12Itu menurut Prof. ini ya gitu ya.
- 1:12:14Iya Pak gitu ya. Nah itu oh kamu lagi
- 1:12:16googling ya begitu.
- 1:12:19Enggak apa-apa justru itu menambah
- 1:12:21sana.
- 1:12:22Yang tadinya saya enggak dapat itu
- 1:12:24gara-gara dia ngomong saya jadi ingat.
- 1:12:27Prof. ini yang ngomong gitu.
- 1:12:28Enggak masalah gitu. Yang penting dia
- 1:12:30ada argumennya.
- 1:12:32Gitu ya. Nah, logika itu sebenarnya
- 1:12:34menjaga itu ilmu logika.
- 1:12:36Pendapat apapun sepanjang argumennya
- 1:12:38benar, datanya benar
- 1:12:41itu enggak ada istilah salah di situ.
- 1:12:44Ya.
- 1:12:45Oke, lanjutnya Pak kayaknya habis deh.
- 1:12:47Ya, selesai. Pak, izin bertanya Pak.
- 1:12:50Silahkan Mas.
- 1:12:52Ee dengan Agus Tori Pak.
- 1:12:54Pertanyaan saya Pak, apakah setiap orang
- 1:12:57memiliki pemahaman logika yang sama Pak?
- 1:13:00Apa Pak? Apakah setiap orang memiliki
- 1:13:02Apakah setiap orang memiliki pemahaman
- 1:13:04logika yang sama Pak?
- 1:13:06Oh tidak Mas.
- 1:13:07Kalau pemahaman logika sama berarti buku
- 1:13:10logika cuma satu.
- 1:13:12Oke baik Pak. Ini terkait dengan ee ini
- 1:13:16kan kebetulan yang kita pelajari ini kan
- 1:13:18ee
- 1:13:19hukum logika dan kaitannya nanti pada
- 1:13:21saat praktek kita pemahaman terhadap
- 1:13:23pasal-pasal ya Pak ya. Izin Betul.
- 1:13:25koreksi kalau salah Pak.
- 1:13:27Oke. Terkadang pemahaman terhadap ee
- 1:13:30pasal-pasal ini seperti yang Bapak tadi
- 1:13:32sampaikan bahwa
- 1:13:34setiap orang pasti akan berbeda-beda.
- 1:13:37Nah,
- 1:13:38pertanyaan saya Pak, kalau misalnya
- 1:13:39pemahaman ini berbeda apalagi yang
- 1:13:42terkadang kita menghadapi orang yang
- 1:13:43agak stubborn ya Pak ya, keras kepala
- 1:13:45segala macam dan mereka tetap
- 1:13:47berargumentasi mempertahankan apa yang
- 1:13:50menurut mereka benar sedangkan yang
- 1:13:51menurut kita logika kita ini benar gitu
- 1:13:54loh Pak. Ini salah satu contoh kasus
- 1:13:56saja Pak.
- 1:13:57Kasus misalnya ee
- 1:14:00bela diri Pak.
- 1:14:02Pasal dalam bela diri nah itu kan pasal
- 1:14:04dalam bela diri ini kan menurut saya kan
- 1:14:07agak bias nih Pak. Pada saat terjadi
- 1:14:09pembelaan itu mungkin dari sisi penyidik
- 1:14:13ee itu berpendapat beda.
- 1:14:16Makanya itu mereka dihukum semisal ee
- 1:14:19dalam konteks pembelaan diri ya Pak ya.
- 1:14:21Kalau di undang-undang lama itu kalau
- 1:14:23enggak salah
- 1:14:24KUHP lama 4 ee
- 1:14:2749 ya Pak kalau enggak salah 49.
- 1:14:2949 ya?
- 1:14:30Iya Pak betul Pak. Kalau yang baru kalau
- 1:14:32enggak salah ee 4 42 ya 52 42 atau 43
- 1:14:37gitu Pak pasalnya.
- 1:14:39Nah,
- 1:14:40mungkin dari sisi penyidik berfikirnya
- 1:14:42beda tapi dari sisi penuntut
- 1:14:45ee
- 1:14:46melihatnya juga berbeda gitu loh Pak.
- 1:14:48Nah, apabila terjadi kasus seperti ini
- 1:14:52ee
- 1:14:54ee pidana dalam kondisi terpaksa apalagi
- 1:14:58terkadang
- 1:15:00yang paling ironis itu sampai ee
- 1:15:02dibebankan dengan hukuman
- 1:15:04pembunuhan berencana. Nah, itu gimana
- 1:15:06menyikapinya Pak dalam sisi hukum
- 1:15:08logikanya Pak? Terima kasih Pak. Ya,
- 1:15:11oke.
- 1:15:13Saya minum dulu.
- 1:15:21Ini kalau sudah mulai batuk
- 1:15:23paru-parunya nagih.
- 1:15:25Nagih rokok.
- 1:15:27Oke, ee pertama ada dua kondisi ya.
- 1:15:31Ee waktu Mas menyampaikan kalimat
- 1:15:34pertama pertanyaan tadi ke saya
- 1:15:37saya
- 1:15:39sudah punya satu ee
- 1:15:43kesimpulan sementara
- 1:15:44kalau Mas orang praktek ya.
- 1:15:48Praktisi ya.
- 1:15:49Ee
- 1:15:50sedang belajar Pak. Ya.
- 1:15:52Paling tidak bersinggungan banyak dengan
- 1:15:54praktisi ya.
- 1:15:56Ya.
- 1:15:56Iya Pak izin Pak.
- 1:15:58Oke. Nah, jadi kita harus pisahkan
- 1:16:02mana
- 1:16:04dialektika dalam ranah keilmuan
- 1:16:07dan mana dialektika dalam ranah
- 1:16:10praktek.
- 1:16:12Dialektika dalam ranah keilmuan itu
- 1:16:14tanpa batas.
- 1:16:17Dalam ranah keilmuan tanpa batas.
- 1:16:20Karena kita tidak boleh menyalahkan
- 1:16:21orang yang berpendapat sepanjang punya
- 1:16:24argumen.
- 1:16:26Ya.
- 1:16:27Tapi dialektika dalam ee praktek
- 1:16:31khususnya penegak hukum penegakan hukum
- 1:16:32ya dalam penegakan hukum itu ada
- 1:16:35batasnya.
- 1:16:37Batasnya apa?
- 1:16:39Ee hukum acara kita sudah mengatur.
- 1:16:43Batasnya itu salah satu misalnya
- 1:16:45ciri-cirinya ciri-ciri batas itu
- 1:16:47ditentukan lamanya proses.
- 1:16:51Ya.
- 1:16:52Misalnya kalau hakim di PN
- 1:16:55di Pengadilan Negeri itu dibatasi 5
- 1:16:57bulan.
- 1:16:59Walaupun prakteknya lebih.
- 1:17:01PT 3 bulan.
- 1:17:03Mahkamah Agung 3 bulan walaupun
- 1:17:05prakteknya lebih. Tapi paling enggak itu
- 1:17:07batasnya batas untuk segera mengambil
- 1:17:10kesimpulan.
- 1:17:11Di jaksa di kejaksaan batasnya kalau
- 1:17:14saya enggak salah juga ada ya 12 hari
- 1:17:17atau 14 hari itu ee dakwaan harus masuk
- 1:17:19gitu ya.
- 1:17:20Kalau saya enggak salah nanti mohon
- 1:17:21dikoreksi. Tapi itu batas ee batas dari
- 1:17:24sisi hari.
- 1:17:26Yang yang agak aneh di penyidikan enggak
- 1:17:28ada batasnya gitu ya.
- 1:17:30Ee hanya di kejaksaan dan Mahkamah Agung
- 1:17:32yang dibatasi.
- 1:17:34Nah, itu batas dari sisi teknis
- 1:17:38ee peradilan.
- 1:17:40Kemudian batas yang lain adalah
- 1:17:42pengambilan keputusan
- 1:17:45dari masing-masing institusi.
- 1:17:49Tadi saya katakan
- 1:17:51penyidik
- 1:17:52itu batas pengambilan keputusan ketika
- 1:17:55munculnya resume perkara.
- 1:17:58Jaksa pengambilan batas keputusan itu
- 1:18:01ketika munculnya surat dakwaan.
- 1:18:04Hakim ketika munculnya putusan
- 1:18:06pengadilan.
- 1:18:07Itu batas akhir ketika ee apa namanya
- 1:18:11dalam berpendapat.
- 1:18:13Nah, ee
- 1:18:15bisa enggak kita pertentangkan? Enggak
- 1:18:16bisa.
- 1:18:18Enggak bisa dipertentangkan.
- 1:18:20Karena
- 1:18:21ee dua-duanya apa masing-masingnya itu
- 1:18:25punya aturannya sendiri-sendiri.
- 1:18:29Okelah dengan dengan pengadilan kita
- 1:18:32enggak bisa pertentangkan. Tapi yang
- 1:18:33menarik itu memang hubungan antara
- 1:18:35penyidik dengan kejaksaan.
- 1:18:38Di dalam
- 1:18:40ee beberapa tulisan saya
- 1:18:44saya banyak melakukan statement
- 1:18:47bahwa penyidik yang bukan sarjana hukum
- 1:18:51tidak punya kompetensi melakukan
- 1:18:54penyidikan.
- 1:18:57Sehingga saya lebih berpendapat harusnya
- 1:19:00jaksa itu sudah ada dalam ranah
- 1:19:02penyidikan.
- 1:19:04Untuk apa? Untuk mengontrol dari sisi
- 1:19:06keilmuan. Karena hanya jaksa yang
- 1:19:08basic-nya sarjana hukum.
- 1:19:11Penyidik belum tentu loh.
- 1:19:13Saya pernah ketemu penyidik itu gelarnya
- 1:19:15sarjana teknik.
- 1:19:17Iya.
- 1:19:19Ada sarjana teknik, ada sarjana bahasa,
- 1:19:21ada sarjana ini.
- 1:19:23Bayangkan sekarang
- 1:19:25penegak hukum yang tugasnya melakukan
- 1:19:28penegakan hukum tapi bukan orang hukum.
- 1:19:33Sedangkan ilmu hukum hanya diajarkan di
- 1:19:35S1.
- 1:19:37Makanya dalam posisi ini saya banyak
- 1:19:39membela kejaksaan untuk bisa masuk ke
- 1:19:42ranah penyidikan.
- 1:19:43Cuma kan lagi-lagi ini institusi ya.
- 1:19:46Ada resikonya di situ.
- 1:19:48Tapi persoalannya adalah bisa enggak
- 1:19:49jaksa kemudian
- 1:19:51melakukan revisi
- 1:19:53kesimpulan
- 1:19:55harusnya.
- 1:19:57Bisa, cuma tinggal nunggu keberanian.
- 1:20:00Karena seingat saya kejaksaan tuh punya
- 1:20:02satu proses namanya pemeriksaan
- 1:20:04tambahan.
- 1:20:05Satu itu. Tapi celakanya pemeriksaan
- 1:20:08tambahan tuh hanya dibatasi untuk
- 1:20:09perkara-perkara tertentu.
- 1:20:12Iya kan, Pak?
- 1:20:15Ya, itu celakanya. Andaikan pemeriksaan
- 1:20:18tambahan itu dibebaskan
- 1:20:21itu bisa direvisi semua itu hasil dari
- 1:20:23penyidikan.
- 1:20:26Ya.
- 1:20:27Jadi secara praktek
- 1:20:31menjadi tidak mungkin berdialektika
- 1:20:34tanpa batas.
- 1:20:37Karena akhirnya harus tunduk terhadap
- 1:20:38norma yang mengatur.
- 1:20:43Kalau saya lebih berpendapat
- 1:20:45ke situ, Mas.
- 1:20:51Tapi prinsipnya boleh.
- 1:20:53Apalagi jaksa kan punya ada P19. Itu kan
- 1:20:56P19 itu atau petunjuk, itu salah satu
- 1:20:59instrumen ya, kalau saya ya menafsirkan.
- 1:21:04Salah satu instrumen dari jaksa penuntut
- 1:21:06umum untuk mengkoreksi pola pikir
- 1:21:10yang ada di penyidikan.
- 1:21:12Ya, walaupun isinya coba cari data ini,
- 1:21:15coba periksa ini. Itu kan artinya
- 1:21:17sebenarnya jaksa melihat ada yang kurang
- 1:21:19nih gitu.
- 1:21:21Itu kan nyerang pola pikir tuh.
- 1:21:23Bahasa nya aja halus P19 petunjuk.
- 1:21:25Padahal
- 1:21:27salah lu.
- 1:21:28Yang ini belum
- 1:21:29data ini gitu kan.
- 1:21:31Nah, tapi dihaluskan administrasi eh
- 1:21:34institusi P19
- 1:21:36gitu kan, ada petunjuk.
- 1:21:39Kalau kita mau lebih lebih kritis
- 1:21:41sebenarnya P19 itu adalah kritik
- 1:21:44terhadap
- 1:21:45penyidikan.
- 1:21:47Makanya muncul P19.
- 1:21:50Oke, silakan yang sudah resen.
- 1:21:55Mas, siapa itu?
- 1:21:57Ya. Irawan izin, Pak Dosen.
- 1:21:59Ya, Mas.
- 1:22:00Ya, baik. Terima kasih, Pak Dosen. Eh
- 1:22:03saya mau
- 1:22:04eh apa namanya minta pendapat terkait
- 1:22:06logika hukum
- 1:22:08eh yang yang ada di pada pasal 46
- 1:22:14Undang-Undang tentang Rumah Sakit Nomor
- 1:22:1644.
- 1:22:17Yang bunyinya seperti ini, Pak Dosen.
- 1:22:20Rumah sakit bertanggung jawab secara
- 1:22:22hukum
- 1:22:24terhadap semua kerugian yang ditimbulkan
- 1:22:27atas kelalaian
- 1:22:29yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di
- 1:22:31rumah sakit.
- 1:22:33Nah, ini kan kalau kita lihat bunyinya
- 1:22:36mau enggak mau rumah sakit bertanggung
- 1:22:37jawab atas kelalaian tenaga kesehatan.
- 1:22:40Mau dan tidak mau. Ya, tetapi kalau
- 1:22:42dilihat di sini dalam proses penerimaan
- 1:22:46tenaga kesehatan
- 1:22:47kalau prosesnya semua sudah dilalui
- 1:22:49dengan benar
- 1:22:51kredensial tenaga kesehatan
- 1:22:53nah, di sini yang jadi pertanyaan apakah
- 1:22:56rumah sakit tetap bertanggung jawab atas
- 1:22:58kelalaian begitu, Pak Dosen? Ya.
- 1:23:01Terkecuali misalkan ada unsur saat
- 1:23:04penerimaan itu terlewatkan
- 1:23:07kredensialnya itu terlewatkan oleh rumah
- 1:23:09sakit sehingga kapabilitas, kewenangan
- 1:23:12dari tenaga kesehatan itu tidak
- 1:23:14dikredensial secara benar. Ya. Begitu,
- 1:23:16terima kasih, Pak Dosen. Saya mau
- 1:23:18tanggapan terkait logika hukum ini.
- 1:23:20Oke.
- 1:23:21Eh
- 1:23:23pasal
- 1:23:25yang tadi itu eh Mas sebutkan
- 1:23:29itu sebenarnya
- 1:23:32re apa representasi dari pasal 1367 KUH
- 1:23:37Perdata.
- 1:23:39Apapun kesalahan dari karyawan
- 1:23:42bos tanggung jawab, kira-kira begitu.
- 1:23:44Nah, dalam teori itu yang disebut
- 1:23:46sebagai vicarious liability.
- 1:23:49Ya, pertanggungjawaban yang apa eh
- 1:23:51diwakilkan oleh eh atasannya.
- 1:23:54Sehingga
- 1:23:56eh patokannya
- 1:23:59bukan persoalan kompetensi dari tenaga
- 1:24:01medis.
- 1:24:03Patokannya adalah apakah perbuatan itu
- 1:24:06eh apa namanya memunculkan kerugian atau
- 1:24:09tidak.
- 1:24:12Kalau kita mempermasalahkan kompetensi
- 1:24:14sebenarnya itu sudah selesai dari proses
- 1:24:16penerimaan dia sebagai tenaga medis. Ya.
- 1:24:19Kalau kita mempermasalahkan
- 1:24:21eh berkaitan dengan
- 1:24:25proses apakah dia sudah sesuai SOP atau
- 1:24:27enggak gitu kan.
- 1:24:29Kalau dia sesuai apa tidak sesuai SOP
- 1:24:32tentu gampang bicaranya, tanggung jawab
- 1:24:35lu kan gitu kalau enggak sesuai SOP.
- 1:24:38Tapi yang jadi persoalan kalau dia
- 1:24:39sesuai SOP gimana?
- 1:24:43Nah, yang itulah yang kemudian
- 1:24:46muncul premis
- 1:24:47minor.
- 1:24:49Pasien menderita kerugian.
- 1:24:52Jadi premis mayornya adalah pasal 56
- 1:24:54atau pasal berapa tadi?
- 1:24:57Pasal 46. 46, itu premisnya
- 1:25:00yang sifatnya umum. Kalau mau kita
- 1:25:02sederhanakan semua kerugian yang muncul
- 1:25:05akibat dari tenaga medis rumah sakit
- 1:25:07tanggung jawab.
- 1:25:10Maka premis minornya pasien men pasien
- 1:25:13menderita kerugian.
- 1:25:15Kesimpulannya apa? Pasti sudah bisa
- 1:25:17ditarik kan.
- 1:25:19Rumah sakit tanggung jawab terhadap
- 1:25:20kerugian.
- 1:25:21Gitu ya.
- 1:25:22Nah, memang ada sisi ketidakadilan di
- 1:25:25situ.
- 1:25:26Makanya deduksi itu dikritik gitu ya.
- 1:25:28Kenapa? Karena tadi orangnya sudah
- 1:25:31melakukan hal yang benar kok, tapi ada
- 1:25:33hal yang tidak bisa diprediksi
- 1:25:35ada hal yang enggak bisa diprediksi
- 1:25:37memunculkan kerugian. Sehingga pasal itu
- 1:25:40fokus bukan pada perbuatan
- 1:25:43tapi pada kerugian yang muncul.
- 1:25:46Muncul enggak kerugiannya?
- 1:25:49Jadi walaupun tenaga medis sudah benar
- 1:25:52secara SOP
- 1:25:54sudah benar secara keilmuan
- 1:25:56kalaupun tetap muncul kerugian
- 1:25:58ya rumah sakit tetap dimintakan
- 1:26:00pertanggungjawaban. Karena fokusnya
- 1:26:01bukan di perbuatan tapi fokusnya di
- 1:26:04kerugian.
- 1:26:05Ini yang disebut eh delik materiil.
- 1:26:10Kalau pidana ini delik materiil.
- 1:26:12Pokoknya muncul kerugian aja.
- 1:26:17Kayak gitu kira-kira, Mas.
- 1:26:19Ya, ya baik. Jadi ini poinnya di
- 1:26:22kerugian nih. Kalau misalkan tidak ada
- 1:26:25tidak ada kerugian berarti tidak ada
- 1:26:26yang bisa dituntut. Tanggung jawabkan.
- 1:26:29Tidak ada yang ditanggung jawabkan, Pak
- 1:26:30Dosen. Betul.
- 1:26:35Nah, ini posisi rumah sakit ini misalkan
- 1:26:39ini pasti ada kerugian gitu ya, Pak
- 1:26:41Dosen ya. Posisi rumah sakit ini saya
- 1:26:44masih eh meraba-raba nih, Pak Dosen. Apa
- 1:26:48ini yang dijelaskan, Pak Dosen?
- 1:26:50Posisi rumah sakit ini tadi dikatakan di
- 1:26:53asumsikan atau disamakan dengan yang
- 1:26:55majikan dengan bawahan begitu.
- 1:26:58Eh apapun kesalahan bawahan majikan
- 1:27:01bertanggung jawab, itu apabila ada
- 1:27:03kerugian. Kan begitu, Pak Dosen ya. Ya.
- 1:27:07Eh
- 1:27:08bawahannya misalkan eh dia sudah bekerja
- 1:27:12eh bekerja sesuai eh apa yang diberitahu
- 1:27:15yang dikasih tahu oleh majikannya sudah
- 1:27:19sesuai kemudian muncul kerugian. Nah,
- 1:27:21ini yang saya ingin memastikan nih.
- 1:27:24Apakah majikannya tetap bisa disalahkan
- 1:27:26nih kalau misalkan yang tadi Pak Dosen
- 1:27:28bilang itu?
- 1:27:30Ya, kalau itu ya yang mesti di kalau
- 1:27:33saya ya, kalau saya ya
- 1:27:36harus dapat dulu kepastian bahwa
- 1:27:38kerugian itu memang benar-benar muncul
- 1:27:40dari tindakan medis.
- 1:27:42Bukan dari yang lain.
- 1:27:45Walaupun tindakan medisnya benar.
- 1:27:51Kalau itu muncul benar-benar dari
- 1:27:53tindakan medis akibat dari tindakan
- 1:27:55medis
- 1:27:56memang rumah sakit harus bertanggung
- 1:27:58jawab.
- 1:27:59Saya bicara rumah sakit ya, bukan bicara
- 1:28:02direktur rumah sakit.
- 1:28:04Itu dua hal yang berbeda nanti.
- 1:28:11A asal itu, Mas. Kerugiannya benar-benar
- 1:28:13muncul dari tindakan medis. Bukan Jadi
- 1:28:15kadang-kadang begini, dia dioperasi hari
- 1:28:18ini terus misalnya nih ya, dia dioperasi
- 1:28:21hari ini misalnya jam jam 10.00 Malam
- 1:28:23selesai dioperasi dia pulang ke rumah
- 1:28:26makan duren
- 1:28:27gitu kan. Akhirnya lukanya makin
- 1:28:30bukannya makin kering malah makin basah.
- 1:28:32Nah, itu kerugian yang bukan muncul
- 1:28:34karena medis gitu, enggak bisa diklaim
- 1:28:36karena medis.
- 1:28:38Tapi kalau kita enggak tahu dia makan
- 1:28:40duren kita kan pasti beranggapan wah,
- 1:28:42ini karena medis. Nah, informasi makan
- 1:28:45duren itu harus diungkap.
- 1:28:49Benar enggak ini karena medis?
- 1:28:51Jangan-jangan Anda melakukan yang lain.
- 1:28:54Nah, itu harus diungkap itu. Kalau itu
- 1:28:56sudah terungkap oh, berarti bukan karena
- 1:28:58medis. Tapi kalau sudah semaksimal
- 1:29:00mungkin enggak terungkap ya, sudah usaha
- 1:29:02semaksimal mungkin enggak terungkap dan
- 1:29:04yang terpan terlihat secara indrawi
- 1:29:07adalah kerugian karena medis
- 1:29:10ya kalau secara hukum pidana ya unsurnya
- 1:29:13terpenuhi menjadi bertanggung jawab
- 1:29:15rumah sakitnya.
- 1:29:21Baik, makasih penjelasannya Pak Dosen.
- 1:29:24Ya, makasih Mas. Tadi kayaknya ada satu
- 1:29:26lagi tadi yang yang resen.
- 1:29:28Luar ya?
- 1:29:32Ya, oke. Ada yang ingin di
- 1:29:35tanyakan yang di sini?
- 1:29:40Cukup?
- 1:29:41Kalau mau diskusi, saya di luar kelas
- 1:29:44pun mau. Ini kalau dia dulu
- 1:29:46teman-temannya kalau diskusi di kantin.
- 1:29:48Wuis, kalau sudah di kantin itu pasti
- 1:29:50ngobrol kita, gitu kan. Ngobrolnya
- 1:29:51ngobrol hukum, gitu kan. Bukan ngobrol
- 1:29:52yang lain. Enak Pak.
- 1:29:54Karena saya tahu biasanya kalau di
- 1:29:55kantin
- 1:29:56agak-agak ini.
- 1:29:58Ya, gimana Mas?
- 1:29:59Enak Pak, diskusi hukum, logika sambil
- 1:30:02ngopi gitu di kantin.
- 1:30:03Eh, ya.
- 1:30:06Sayangnya di sini enggak ada kantin Mas,
- 1:30:07jadi enggak bisa ngobrol.
- 1:30:11Oke, kalau sudah
- 1:30:14Pak Dosen ngobrol di warung kopi dari
- 1:30:16pagi sampai sore enggak selesai-selesai.
- 1:30:22Saya itu kalau di kampus malah sampai
- 1:30:23malam itu.
- 1:30:25Khawatir ada mahasiswa mau bertanya.
- 1:30:28Jadi saya standby sampai, serius, setiap
- 1:30:30hari. Setiap hari. Saya itu selalu
- 1:30:32pulang jam 08.00.
- 1:30:34Karena kadang-kadang mahasiswa itu baru
- 1:30:36muncul keberanian untuk tanya itu sore,
- 1:30:38gitu ya. Atau dia malu dilihat
- 1:30:40dosen-dosen lain nanya.
- 1:30:43Jadi dia nungguin sepi, baru dia nongol
- 1:30:44ke ruangan saya. Jadi akhirnya jam
- 1:30:4607.00, malam itu malah sampai jam 10.00
- 1:30:48saya ngobrol.
- 1:30:50Ya, ya paling nyonya di rumah yang
- 1:30:51ngamuk-ngamuk, gitu kan.
- 1:30:56Oke, kalau sudah tidak ada lagi, ya,
- 1:30:58kita cukup sampai di sini. Nanti kita
- 1:31:00ketemu lagi minggu depan di jam yang
- 1:31:02sama. Terima kasih, asalamualaikum
- 1:31:04warahmatullahi wabarakatuh.
- 1:31:05Waalaikumsalam warahmatullahi
- 1:31:07wabarakatuh.
- 1:31:07wabarakatuh.
- 1:31:09Terima kasih Pak Dosen.
- 1:31:10Terima kasih Pak Dosen.
About this transcript
This page contains the full transcript of Logika Hukum 01: Pengenalan by Revolusi Hukum, generated from the public captions YouTube serves with the video. The transcript has 9,972 words across 2,362 segments, with the original timestamps preserved so you can click any line to jump to that moment in the embedded player.
What you can do with it
Use the transcript to take notes, quote the speaker, build a study guide, generate a summary with ChatGPT or Claude via the YouTube Summary tool, or export it as a timed subtitle file with YouTube to SRT. You can also re-open it in the transcriber to translate the transcript into 100+ languages.
Free YouTube transcript tool
YouTube2Text is a free YouTube transcript generator — no signup, no daily limit. Paste any YouTube link and get the full transcript instantly, with timestamps, click-to-jump, translation to 100+ languages, AI prompts for ChatGPT, Claude, and Gemini, and exports to TXT, SRT, VTT, or Markdown.