Ferry Latuhihin: Batas Intervensi Pemerintah dalam Ekonomi | Endgame #271 — Transcript
Full transcript
- 1:34GITA WIRJAWAN: Halo teman-teman,
- 1:35hari ini kita kedatangan teman saya, Ferry Latuhihin, seorang ekonom.
- 1:40Bro Ferry, terima kasih bisa datang.
- 1:42FERRY LATUHIHIN: Terima kasih sudah mengundang saya.
- 1:46- Lu sekolah lama di Belanda.
- 1:48- Kira-kira begitu ceritanya.
- 1:49- Ceritain deh, dari kecil di Indonesia di mana aja, terus kok bisa ke Belanda?
- 1:53- Enggak ada yang spesial, lah.
- 1:55Gua lahir di Jakarta, sekolah sampai SMA di Jakarta.
- 1:59SMA gua juga enggak terlalu benar, lah.
- 2:02Waktu itu zaman nakal.
- 2:05Tahu-tahu saya memutuskan pergi ke Belanda— waktu itu saya lebih tertarik mengambil filsafat.
- 2:14Singkatnya seperti itu.
- 2:16Tapi di tengah jalan ibu saya menelepon, "Apa kamu pulang mau jadi dukun?"
- 2:25Akhirnya, karena gua memang agak enggak suka keramaian,
- 2:28gua pilih jurusan yang memang enggak terlalu ramai, seperti filsafat.
- 2:33Gua juga suka seni, gua suka musik, budaya, dan teater.
- 2:38Musik klasik paling saya suka.
- 2:40Kalau ngomong musik klasik, yang paling gua suka itu musik klasik Prancis,
- 2:46terutama Debussy, misalnya, Chopin.
- 2:51- Oh, itu musisi klasik yang paling nge-jazz.
- 2:53- Iya.
- 2:54Maurice Ravel, Gaspard de la Nuit. Gua paling suka musik kayak gitu.
- 2:58Gua juga sempat sekolah musik, tapi enggak lanjut, waktu masih kecil di sini.
- 3:04- Oh, wow.
- 3:04- Waktu kecil gua sempat belajar gitar klasik sama almarhum Saleh Suwita (?),
- 3:10salah satu pendiri Yamaha Music School, kalau enggak salah.
- 3:14Lumayan jauh.
- 3:15Gua sempat main Recuerdos de la Alhambra, Capricho Árabe.
- 3:19- Asyik.
- 3:21- Jadi memang dari dulu gua benar-benar penginnya ke dunia seni.
- 3:25Cuma waktu itu ibu saya nelepon sambil ngeluh.
- 3:28Dia bilang, "Kamu harus ingat, kamu anak satu-satunya.
- 3:31Kamu enggak punya saudara. Jakarta mahal.
- 3:35Kalau nanti ada apa-apa, kamu sakit, susah kalau kita enggak punya penghasilan."
- 3:39Tiba-tiba gua beralih ke ekonometrika di Rotterdam.
- 3:44Awalnya di Amsterdam.
- 3:46Nah, sampai di Rotterdam gua ambil ekonometrika, terus financial economics.
- 3:52Selebihnya sempat juga ngambil S3 di bidang financial economics
- 3:58yang dikombinasikan dengan economic model, tapi enggak gua selesaikan.
- 4:03- Kenapa?
- 4:04Kenapa drop out atau kenapa berhenti?
- 4:06- Karena terlalu lama, malu gue.
- 4:10Maksa.
- 4:12Jadi sebetulnya melewati batas kemampuan kompetitif gue.
- 4:14- Kalau S3 di Belanda berapa lama?
- 4:17- Oh, bisa sampai 12 tahun.
- 4:19- Masyaallah.
- 4:19- Di Belanda memang banyak anak-anak Indonesia yang boleh dibilang enggak terlalu cepat.
- 4:25Ada yang 10 tahun, ada yang 12 tahun.
- 4:26Tergantung topik yang dipilih, berat atau enggak.
- 4:30Tapi waktu itu baru tiga tahun gua udah merasa mentok di tengah jalan.
- 4:34Akhirnya gua memutuskan pulang dengan alasan nanti bakal balik lagi.
- 4:39Tapi begitu sampai sini, ternyata malas.
- 4:41Lari ke pasar modal.
- 4:42Pertama gua jadi dosen dulu, kemudian lari ke pasar modal.
- 4:45Sewaktu jadi dosen, gua sempat ngajak anak-anak demo ke DPR tahun '98.
- 4:54Habis itu kebetulan ada kesempatan di Danareksa.
- 4:58Ketemulah sama Pak Raden Pardede, chief economist Danareksa waktu itu.
- 5:03Terus gua jadi analis pasar keuangan.
- 5:05Tahun 2003 BII berganti kepemilikan dari Sinarmas ke konsorsium Sorak.
- 5:14Ketemu Henry Ho sebagai presdir waktu show di Medan.
- 5:18Dia bilang, "Wah, begitu penuh warna. Boleh kartu nama kamu?"
- 5:22Lalu ditelepon buat gabung ke BII. Begitulah ceritanya.
- 5:26Gua jadi Chief Economist di BII sekitar lima tahun.
- 5:30Waktu diambil alih sama Maybank, gua mengundurkan diri,
- 5:34lalu bikin bisnis sendiri di bidang kelistrikan.
- 5:37Waktu itu sama Raden Pardede,
- 5:41kami bangun PLTBm di Kapuas berkapasitas 10 MW.
- 5:44Cuma sayang jadi mangkrak karena tiba-tiba regulasinya berubah.
- 5:49Tarif PPh diubah dari 17,55 menjadi 7,59, jauh di bawah HPP kami.
- 5:56Akhirnya memang negara ini tidak punya tanggung jawab terhadap investor.
- 6:01Gua sudah lolos seleksi sebagai IPP, enggak liar, sudah masuk RUPTL,
- 6:06tapi tiba-tiba menterinya diganti dari Sudirman Said ke Ignasius Jonan.
- 6:10Jonan mengubah tarifnya, padahal waktu itu gua sudah di tahap mau menandatangani PPA sama PLN.
- 6:18Singkat cerita, karena kita enggak masuk, terpaksa jadi mangkrak.
- 6:23Tahun 2017 gue diminta sama Pak Lulu, Presiden Direktur PPA, buat gabung ke PPA.
- 6:31Tapi sayang, baru seminggu di sana beliau sudah diberhentikan.
- 6:37Terus gua gabung sama Hanif di Tanamduit.
- 6:39Setelah itu gua bikin firma konsultan sendiri sampai sekarang.
- 6:43Fokusnya penggalangan dana dan restrukturisasi utang, bersama bekas murid-murid gua.
- 6:50Firma kecil, tapi ya ada aja kerjaannya.
- 6:54Kayak gitu sih singkatnya, cerita gua.
- 6:56- Lu ngelihat evolusi ekonomi Indonesia selama ini gimana?
- 7:01- Menurut gue semakin lama semakin memburuk.
- 7:04Lihat aja divestasinya.
- 7:05Kontribusi sektor manufaktur kita waktu Soeharto jatuh masih sekitar 29–30% dari PDB.
- 7:13Sekarang sudah turun ke bawah 20%, bahkan mungkin hari ini sekitar 17%.
- 7:18Banyak orang bilang ini deindustrialisasi prematur,
- 7:23yang memang terjadi di banyak negara.
- 7:25Tapi menurut gue bukan karena secara alami kita mengalami deindustrialisasi,
- 7:33tapi karena—
- 7:34Memang pergantian rezim dari yang boleh dibilang keras—
- 7:39tapi di sisi lain memang dibutuhkan investor,
- 7:45karena mereka tahu pemimpinnya enggak gampang diganti setiap lima tahun.
- 7:50Dia bisa melindungi bisnis mereka kalau masuk ke Indonesia.
- 7:54Regulasi juga enggak gampang diubah sehingga merugikan investor.
- 7:57Tapi begitu kita masuk ke demokrasi, ini memang pedang bermata dua.
- 8:02Di satu sisi, platform dan sistem politiknya bagus.
- 8:08Tapi di sisi lain, kalau setiap lima tahun orang enggak tahu siapa yang bakal jadi presiden,
- 8:13tentu itu bikin investor takut.
- 8:15Sekarang kita juga lihat banyak sekali investor—
- 8:21Apalagi setelah "Sell Indonesia". Itu sinyal keras.
- 8:27Dan yang ngomong bukan orang sembarangan, termasuk bank investasi.
- 8:34Kebetulan teman gue baru diundang JP Morgan ke Eropa.
- 8:40Mereka bilang dana pensiun di Belanda, Inggris, dan Jerman
- 8:47sekarang sudah menganggap Indonesia tidak lagi layak investasi.
- 8:51Jadi Indonesia sudah enggak menarik lagi.
- 8:53Alokasi aset taktis mereka dari 2% sekarang dikurangi sampai tinggal 0,5%.
- 8:59Jadi memang nyambung sekali dengan Sell Indonesia.
- 9:02- Apa alasan strukturalnya?
- 9:05- Ya gini.
- 9:06Masalah struktural tentu punya akar.
- 9:11Lebih bijak kalau dibilang akar dari semuanya itu masalah kelembagaan.
- 9:16Masalah kelembagaan inilah yang menyebabkan masalah-masalah struktural.
- 9:20Kalau kita ngomong kelembagaan,
- 9:22sekarang kita enggak tahu besok pemerintah ngeluarin regulasi apa lagi.
- 9:25Tiba-tiba dalam sekejap muncul PT DSI.
- 9:28Tiba-tiba biaya komisi ojol dipotong dari 20% jadi 8%.
- 9:33Semua serba tiba-tiba.
- 9:35Birokrasi begitu gemuk.
- 9:38Menteri sama wakil menterinya sampai 108 orang.
- 9:41Coba bayangin. Amerika aja, kalau enggak salah, cuma sekitar 15 menteri,
- 9:44padahal negaranya sebesar itu. Singapura juga.
- 9:47Sementara birokrasi kita sudah luar biasa gemuk.
- 9:50Yang paling parah di mata mereka adalah penegakan hukum dan korupsi.
- 9:55Kemarin bahkan Kamar Dagang Tiongkok saja...
- 9:59Diplomasi Tiongkok itu diplomasinya kayak gitu.
- 10:01Karena mereka sebisa mungkin enggak mau ada friksi.
- 10:05Apalagi mereka investasi di sini, harus baik dengan tuan rumah.
- 10:09Memang begitu cara Tiongkok, beda sama Amerika.
- 10:12Kalau sampai Tiongkok ngirim surat begitu, selesai.
- 10:17Terus kita juga lihat kualitas pemerintahan ini.
- 10:21Dari awal kabinetnya diumumkan, gua enggak kenal orang-orangnya.
- 10:26Maaf ya, gua enggak kenal.
- 10:29Jadinya seakan-akan kabinet, ternyata yang muncul orang-orang politik.
- 10:33Siapa yang mau investasi?
- 10:34Bahkan waktu itu gua langsung bilang, "Beli dolar."
- 10:37Karena gua yakin banget program-program yang gua lihat itu bakar duit luar biasa.
- 10:42Misalnya MBG, KDMP, program bangun tiga juta rumah.
- 10:46Padahal perumahan itu digerakkan oleh permintaan, bukan oleh pasokan.
- 10:50Jadi semua itu bakar duit, apa pun alasannya.
- 10:53Akhirnya apa yang gua prediksi terjadi.
- 10:56Dolar tembus Rp17.000, bahkan sempat menyentuh Rp18.000.
- 11:00Bulan Februari tahun lalu juga, waktu gua bicara soal Danantara,
- 11:04gua sudah bilang bahwa peringkat kita bakal diturunkan.
- 11:07Dan ternyata sembilan sampai sepuluh bulan kemudian benar terjadi.
- 11:11Moody's dan Fitch mengubah outlook kita dari stabil menjadi negatif.
- 11:15Begitu juga dengan Indeks Harga Saham Gabungan.
- 11:17Pada dasarnya semua yang gua sampaikan benar-benar terjadi.
- 11:22Nah sekarang pertanyaannya, sampai sekarang pun
- 11:26belum ada respons positif dari pemerintah mengenai ancaman penurunan peringkat.
- 11:32S&P kabarnya dua hari lagi juga akan mengumumkan peringkat kita.
- 11:37Sementara itu, apa yang mereka minta belum tentu dipenuhi oleh pemerintah.
- 11:43Memang kita lihat pasar seminggu terakhir naik luar biasa, IHSG naik hampir 20%.
- 11:48Kalau kita lihat di pasar valuta asing, BI mati-matian intervensi.
- 11:52Volatilitas pasar enggak mungkin begitu tinggi sampai naik-turun 100-200 poin.
- 11:57Itu jarang.
- 11:58Pasti BI sedang berperang melawan pasar.
- 12:01Kalau murni pasar, biasanya cuma bergerak satu, dua, tiga, atau empat poin,
- 12:05naik atau turun.
- 12:06Jadi dengan segala cara BI masih berusaha menguatkan rupiah.
- 12:12- Temuan dari MSCI menurut lu valid enggak?
- 12:17- Ya, valid aja.
- 12:19Kalau kita lihat pasar modal kita, betapa enggak transparannya.
- 12:21Betapa anehnya harga-harga saham,
- 12:24price-to-earnings ratio (PER)-nya sampai 300, 400, bahkan 500 kali.
- 12:27Free float-nya di bawah 5%, praktik bandar ada di mana-mana.
- 12:32Aneh aja kalau dapat teguran dari MSCI.
- 12:36Kalau enggak salah, tanggal 19 MSCI akan mengumumkan status Indonesia,
- 12:43apakah tetap dipertahankan sebagai emerging market atau diturunkan menjadi frontier market.
- 12:48Tapi menurut gua mereka kemungkinan akan menahan dulu keputusan itu.
- 12:51Artinya, "Gua belum menentukan. Gua masih mau lihat perkembangan enam bulan ke depan."
- 12:57Jadi statusnya belum dipastikan, apakah tetap emerging atau turun menjadi frontier.
- 13:02Ini justru lebih kejam.
- 13:04Sebab lebih baik diputuskan sekalian, selesai urusannya.
- 13:08Tapi kalau dibiarkan menggantung, artinya mereka memang belum percaya sama otoritas kita,
- 13:14walaupun sudah dirombak ke sana kemari.
- 13:17Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah soal UU P2SK,
- 13:20bagaimana independensi BI dipertaruhkan.
- 13:22Itu kan luar biasa.
- 13:24BI seolah-olah bisa dijadikan mesin pencetak uang pemerintah,
- 13:29padahal independensi bank sentral itu soal kepercayaan.
- 13:33Tapi kalau dipaksakan lewat DPR, undang-undangnya diubah
- 13:38sehingga BI tidak lagi independen, ya siapa yang mau masuk?
- 13:41- Isu dari luar atau kekhawatiran dari luar, baik itu MSCI atau lembaga peringkat,
- 13:47lebih karena begitu seringnya perubahan kebijakan,
- 13:52atau karena kekhawatiran mereka mengenai kompetensi pihak yang membuat kebijakan?
- 13:56- Menurut gua semuanya jadi satu.
- 13:58Semua masuk ke dalam satu penilaian, sehingga mereka mengambil kesimpulan,
- 14:03"Ini harus ditegur, atau enggak akan beres."
- 14:06MSCI itu bukan lembaga sembarangan.
- 14:08Pasti risetnya sangat mendalam, baik dari personel, kualitas institusi, segala macam.
- 14:17Bahkan mungkin mereka juga sudah mencium adanya hubungan yang kurang sehat
- 14:21antara emiten dan regulator. Itu juga bisa saja.
- 14:26Jadi lembaga seperti itu enggak bisa dibayar.
- 14:30Makanya apa pun pernyataan yang mereka keluarkan akan diterima oleh pasar.
- 14:37- Kalau masalah ini sebenarnya sudah lama terjadi, kenapa baru sekarang mereka angkat?
- 14:42- Ya mungkin karena kondisinya bukan makin baik, tapi justru makin buruk.
- 14:51Bisa juga diawali oleh lembaga pemeringkat yang menurunkan outlook Indonesia
- 15:00dari stabil menjadi negatif.
- 15:04Selain itu, selama lebih dari setahun terakhir banyak sekali saham yang memang mencurigakan.
- 15:13Menurut gua itu juga salah satu pemicunya.
- 15:15Enggak usah kita sebut nama emitennya, nanti malah mendiskreditkan.
- 15:20Tapi menurut hitung-hitungan kita sudah kegilaan,
- 15:25dengan saham yang PER-nya sampai 479 kali.
- 15:28Hal seperti itu memang pernah terjadi saat dot-com bubble tahun 1999 di Wall Street,
- 15:33pada saham-saham internet dan teknologi.
- 15:37Misalnya America Online waktu itu PER-nya sekitar 269 kali,
- 15:42Cisco sampai sekitar 600 kali.
- 15:44Tapi waktu itu bukan karena permainan bandar.
- 15:47Itu benar-benar mekanisme pasar.
- 15:49- Iya, dan likuiditasnya juga besar.
- 15:51- Betul.
- 15:52Bandar juga enggak bisa bermain.
- 15:56Sementara di sini free float-nya cuma sekitar 5%.
- 15:59Ya gampang sekali diobok-obok.
- 16:02Menurut gua itu salah satu alasannya.
- 16:04- Nah, menurut lu ini cuma fenomena sementara yang bisa dipulihkan,
- 16:08atau sudah enggak bisa dipulihkan?
- 16:09- Kalau menurut gua, dari sisi makro justru takutnya ini enggak bisa dipulihkan dengan mudah.
- 16:13Maaf mengatakan ini,
- 16:16di mata investor asing, rezim ini kelihatannya sangat anti-bisnis.
- 16:21Tidak ramah terhadap bisnis.
- 16:25Tadi kita sudah bahas soal operator ojek online seperti GoTo dan Grab.
- 16:31Grab bahkan pernah bilang akan keluar dari Indonesia
- 16:34kalau aturan biaya komisi dipotong dari 20% menjadi 8%,
- 16:38karena mereka enggak bisa lagi menutup biaya operasional.
- 16:42Selain itu, kita juga lihat kemarin muncul wacana PT DSI
- 16:47yang awalnya dipersepsikan akan menjadi satu perusahaan.
- 16:50Orang langsung berpikir, "Waduh, jangan-jangan semua ini mau dibentuk jadi BUMN,"
- 16:53seperti dulu BPPC pada era 1990-an.
- 16:55Akhirnya petani cengkeh mati semua.
- 16:59Banyak yang berpikir jangan-jangan nanti semua eksportir dimainkan,
- 17:03lalu akhirnya kolaps dan diambil alih menjadi BUMN. Orang bisa saja berpikir begitu.
- 17:07Walaupun kemudian sejauh ini sudah diklarifikasi oleh Dony.
- 17:10Katanya bukan begitu. Mereka hanya menjadi badan pengawas.
- 17:14Artinya, mereka mengawasi supaya eksportir enggak bermain
- 17:18menggunakan perusahaan cangkang di Singapura,
- 17:20melakukan transfer pricing atau under-invoicing.
- 17:23Makanya ada alasan juga kenapa saham- saham yang berkaitan dengan sawit
- 17:26dan tambang akhirnya kembali menguat.
- 17:29Tapi orang takut karena paradigma rezim ini adalah...
- 17:40"The rule of the state." Ini penting.
- 17:43Keinginannya adalah supaya negara punya kekuasaan sebesar mungkin.
- 17:50Mengatur ekonomi.
- 17:52Itu yang menurut gua salah banget.
- 17:54Makanya gua pernah bilang juga di TV, bagaimana pemerintah menurunkan pajak,
- 18:00misalnya PPN, seperti Vietnam yang menurunkannya menjadi sekitar 8%?
- 18:04Jangan terlalu banyak intervensi pemerintah, sebab dalam ilmu ekonomi,
- 18:08di buku teks juga ada yang namanya "government failure".
- 18:11Kita lihat bagaimana Tiongkok memberi ruang kepada pasar,
- 18:16dan pemerintah tahu perannya,
- 18:18kapan harus memberi insentif, kapan harus memberi sanksi.
- 18:23Itu sangat efektif.
- 18:25Bukan berarti pemerintah sama sekali enggak boleh berperan. Bukan.
- 18:29Tapi pemerintah harus tahu apa perannya.
- 18:33Kalau kita bicara kerangka kelembagaan, yang penting itu sistem insentif.
- 18:39Mau ekspor, mau membangun industri baru,
- 18:44semuanya bergantung pada bagaimana pemerintah memberikan insentif kepada para pengusaha.
- 18:49Kita kan enggak.
- 18:51Yang ada malah pajak terus.
- 18:54- Instrumen fiskal itu penting.
- 18:55Insentif dan sanksi itu penting.
- 18:58Tapi lu melihat ini sebagai narasi anti-pengusaha atau anti-oligarki?
- 19:05- Kalau ngomong anti-oligarki, gua merasa mungkin cara berpikirnya begini,
- 19:13"Lu sudah merampok kekayaan alam gua, sekarang giliran gua menghukum lu."
- 19:19Kalau ngomong oligarki, mungkin logikanya seperti itu.
- 19:22Makanya lu harus dihukum.
- 19:25Tapi selebihnya aromanya justru anti-bisnis.
- 19:30Anti-bisnis, enggak ada urusannya sama oligarki, kayak kasus ojol.
- 19:35Karena poinnya adalah, "Gua pro-rakyat."
- 19:38Seolah-olah ada dikotomi antara pro-rakyat dan pro-bisnis.
- 19:43Sementara sebetulnya kan bisa digabungkan.
- 19:46Kalau gua, penekanannya satu: lu harus pro-bisnis
- 19:49karena yang menciptakan lapangan kerja itu bisnis,
- 19:51bukan rakyat.
- 19:53Kita tidak bisa mengandalkan pemerintah, mereka enggak bisa menciptakan lapangan kerja.
- 19:58Ini luar biasa.
- 20:00Sekarang aja kita lihat dari sisi keuangan.
- 20:03Bagaimana sentralisasi terjadi dengan dikuranginya transfer ke daerah.
- 20:08Banyak daerah berontak.
- 20:10Bisa bayangin betapa mengerikannya.
- 20:12- Jadi gini. Kalau kita anggap premis lu benar,
- 20:16bahwa mereka memang kelihatannya anti-bisnis
- 20:23dan ada upaya untuk menyentralisasi aktivitas ekonomi.
- 20:26- Iya, betul.
- 20:28- Nah, apakah itu bagian awal dari upaya mereka di kemudian hari untuk mendesentralisasi
- 20:34tanpa adanya institusi oligarki?
- 20:38- Itu juga sesuatu yang enggak pasti, sangat berisiko.
- 20:41Contohnya hilirisasi.
- 20:45Cara berpikirnya seolah-olah semuanya mudah.
- 20:50Semuanya penuh ketidakpastian.
- 20:53Lu investment banker, lu tahu.
- 20:56Kalau kita membangun sebuah proyek, yang paling kita takutkan adalah
- 21:00kita enggak bisa tebak arus kasnya,
- 21:02enggak bisa tebak pembengkakan biayanya.
- 21:04Hilirisasi itu enggak gampang.
- 21:06Lihat aja waktu kita bicara soal hilirisasi nikel.
- 21:12UU Nomor 4 Tahun 2009, waktu itu gua sudah bilang kebijakan ini bisa membunuh.
- 21:17Larangan ekspor mineral mentah itu langsung membuat banyak perusahaan tambang terpuruk.
- 21:22Mereka belum siap. Belum tentu juga langsung ada investor masuk.
- 21:25Kalaupun memang mau hilirisasi, menurut gua di situlah momentumnya BUMN masuk,
- 21:33bukan memberikan pada asing.
- 21:35Kan kita bicara soal nilai tambah.
- 21:37Kalau yang masuk investor asing, mereka senang.
- 21:40Di negara mereka sendiri industri seperti itu dibatasi karena polusi.
- 21:46Ini boleh dibilang merusak iklim.
- 21:50Yang kedua, nilai tambahnya ke mereka.
- 21:53Waktu itu harapan gua, kalau bisa konsorsium Antam, PTBA, dan BUMN lain
- 22:00untuk menjalankan hilirisasi, karena memang sudah ada di sana.
- 22:03Tapi ternyata tidak.
- 22:04Dan waktu itu gua bilang ini bakal jadi bencana.
- 22:07Akhirnya apa yang terjadi? Di Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara
- 22:12muncul yang namanya "immiserizing growth".
- 22:15Pertumbuhannya tinggi, 28–30%, tapi rakyatnya tetap miskin karena lingkungannya tercemar.
- 22:20Pencemarannya sangat dahsyat.
- 22:23Apalagi kalau sampai pakai merkuri dan sebagainya.
- 22:25Gua enggak tahu sampai sejauh itu.
- 22:27Nelayan enggak bisa melaut.
- 22:29Petani juga mungkin terdampak pencemaran. Itu terjadi.
- 22:32Jadi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu bukan untuk kepentingan rakyat,
- 22:36tetapi untuk kepentingan pemilik modal.
- 22:41Artinya apa?
- 22:43Negara bikin undang-undang tanpa memikirkan dampaknya.
- 22:49- Iya.
- 22:49- Dengan gampang bilang, "Kita harus berhenti mengekspor bahan mentah.
- 22:53Kita harus memberi nilai tambah." Maka keluarlah UU Nomor 4 Tahun 2009.
- 23:00Waktu itu gua langsung terbang ke Kendari.
- 23:03Kendari kan kota tambang, banyak hotel dan karaoke.
- 23:09Gua demen banget, pada tutup semua.
- 23:13Pemandu lagunya juga jadi korban.
- 23:20Akhirnya gua turun dari Kendari ke Bombana.
- 23:25Terus ke Konawe, Kolaka.
- 23:28Gua nyebrang dari Bombana naik kapal kecil sekitar empat jam ke Kabaena.
- 23:34Ada satu pulau di bagian tenggara Sulawesi.
- 23:38Itu luar biasa.
- 23:39Hutannya habis, gundul habis-habisan, rusaknya parah.
- 23:43Tapi yang bikin gua heran, gua lihat banyak bule naik perahu layar kecil dari fiberglass.
- 23:52Padahal enggak ada fasilitas.
- 23:54Lu bayangin. Pulau itu ancur-ancuran, monyetnya lebih banyak daripada penduduknya.
- 23:59Jam 6 sore listrik nyala, jam 12 malam sudah mati.
- 24:02Begitu gua pulang, gua lihat banyak bule berlayar pakai perahu kecil itu.
- 24:09Padahal enggak ada fasilitas.
- 24:11Akhirnya gua berpikir, mereka nginap di mana?
- 24:13Ternyata yang menjadi keunggulan komparatif daerah itu adalah lautnya.
- 24:19- I see.
- 24:21- Nah, kenapa gua cerita itu?
- 24:24Karena seharusnya negara berpikir, kalau mau membangun bangsa ini,
- 24:28keunggulan komparatif kita apa?
- 24:30Semua pakai itu.
- 24:32Apa yang enggak bisa dibuat di sana, kita yang bikin.
- 24:35Lalu terjadi pertukaran dengan negara lain lewat perdagangan.
- 24:38Kalau kita bicara hilirisasi manufaktur,
- 24:42menurut gua kita harus memanfaatkan kekayaan alam yang kita miliki.
- 24:45Gua pernah mengusulkan pembangunan ekonomi hijau.
- 24:47Bagaimana kita bisa berdagang karbon
- 24:50itu sebagai titik awal industrialisasi.
- 24:52Itu pintu masuknya. Dan itu laku.
- 24:56Waktu gua masih di Dewan Pakar 02,
- 24:58Duta Besar Singapura tahu gua sibuk bikin "green fund" bersama tim ekonomi.
- 25:05Dia datang.
- 25:06Dia bilang, "Pak Ferry, begitu ini sudah jalan, hubungi saya.
- 25:09Kita kerja sama antara Singapura dan Indonesia untuk membangun pasar karbon di Asia."
- 25:14Serius. Minat mereka besar sekali.
- 25:16Karena menurut dia Indonesia luar biasa kaya.
- 25:18Hutan mangrove ada, lahan gambut ada, semuanya ada.
- 25:23Sayangnya hutan kita malah dikorbankan untuk "food estate" dan macam-macam.
- 25:28Begitulah cara permainan mereka.
- 25:31Ngomong apa adanya aja.
- 25:33Padahal minatnya banyak.
- 25:34Kayak Brasil dengan Amazonnya.
- 25:37- Kalau gua lihat, M2 atau uang beredar terhadap PDB kita baru sekitar 42–43%.
- 25:48Sementara negara-negara maju itu di atas 200%.
- 25:51Fulus kita kurang.
- 25:53Jadi mau enggak mau kita harus— kalau enggak nyetak ya narik dana dari luar.
- 25:58FDI kita...
- 26:01Gua selalu bilang, Asia Tenggara setiap tahun menarik sekitar 200 sampai 230 miliar dolar AS.
- 26:07Dari jumlah itu, Singapura bisa menarik 100 sampai 140 miliar dolar AS.
- 26:11Kita belakangan ini paling cuma dapat 30 sampai 50 miliar dolar AS.
- 26:14- Malah lebih rendah.
- 26:15Jadi kalau gua lihat sejak awal tahun,
- 26:18posisi investasi portofolio bersih turun dari sekitar 374 miliar dolar AS menjadi 300.
- 26:27- Oh, itu yang portofolio. - Betul. Iya.
- 26:29- Gua tadi ngomong yang di BKPM, yang buat bangun pabrik dan segalanya.
- 26:33Itu aja kurang.
- 26:35- Kemarin juga menurut gua ada perubahan metode
- 26:39dalam data pertumbuhan ekonomi dari BPS.
- 26:42Sebab pada kuartal I 2025 angkanya 4,87%, tiba-tiba melonjak jadi 5,12%,
- 26:50lalu kuartal II 5,04%, kuartal III terus sampai akhirnya kuartal IV 5,39%,
- 26:56sehingga setahun penuh menjadi 5,11%.
- 26:59Di situ banyak yang curiga.
- 27:02Karena banyak indikator lain, seperti deflasi, jumlah pemudik tahunan turun sekitar 24%,
- 27:11tapi kok pertumbuhan ekonomi di kuartal II justru melonjak ke 5,12%.
- 27:15Banyak yang kemudian membongkar datanya.
- 27:18Ada yang bilang terjadi double counting.
- 27:21Dari situ saja investor sudah mulai curiga.
- 27:26Jangan-jangan nanti angkanya pun dimainkan.
- 27:28Itu sah-sah aja, bukan gua menuduh.
- 27:30Investor berpikir begitu kan sah-sah aja
- 27:33karena enggak sesuai dengan indikator-indikator yang lain.
- 27:36Menurut hitung-hitungan gua, pertumbuhan ekonomi 5,11%
- 27:39itu butuh pertumbuhan kredit minimal 11–12% untuk mengangkatnya,
- 27:43karena kita tergantung pada bank. Kita enggak kayak Amerika.
- 27:46Korelasi antara pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan kredit di Indonesia sangat tinggi.
- 27:50Sori ya, gua boleh dong bilang angkanya enggak masuk akal.
- 27:55Setelah gua olah pakai formula gua sendiri, seharusnya enggak sampai 4%.
- 28:00- Betul.
- 28:01- Kalau menurut gua, ya.
- 28:02Kemarin juga pertumbuhan ekonomi 5,61%.
- 28:06Lu juga tahu bagaimana pemerintah melakukan belanja yang luar biasa besar,
- 28:12dengan pertumbuhan belanja sekitar 22%
- 28:1631% dibanding kuartal sebelumnya.
- 28:19Pertanyaannya, apakah belanja sebesar itu bisa terus dilakukan?
- 28:23- Kalau lu lihat kuartal pertama, belanja APBN naik sekitar 22% dibanding tahun lalu.
- 28:28Investasi sekitar 6%, impor sekitar 7%, sementara ekspor justru di bawah 1%.
- 28:35- Surplus perdagangan kita tinggal sekitar 90 jutaan dolar AS di bulan Mei.
- 28:40Gua khawatir udah mulai negatif.
- 28:42Kalau sampai terjadi defisit kembar (twin deficit), ngeri.
- 28:47Nah, dalam literatur ekonomi, itu bisa menjadi pemicu serangan spekulatif terhadap mata uang,
- 28:53seperti yang dilakukan Soros.
- 28:55- Apa yang bisa dilakukan supaya keadaan ini membaik?
- 29:01- Kemarin lucu...
- 29:02- Kalau dari nada lu kan sebenarnya narasi fiskal yang menyebabkan, bukan narasi moneter.
- 29:09- Iya, benar.
- 29:09Gua malah heran, kok semuanya seolah-olah menyalahkan BI waktu rupiah melemah.
- 29:16Tugas BI cuma satu.
- 29:18Kalau memang perlu intervensi, ya intervensi,
- 29:20tapi BI juga harus hati-hati terhadap cadangan devisanya.
- 29:23Yang kedua, BI juga harus hati-hati apakah intervensinya efektif atau tidak.
- 29:28Itu semua bergantung pada seberapa buruk fundamental ekonomi kita,
- 29:31dan itu lebih banyak berkaitan dengan fiskal.
- 29:34Sampai ada beberapa anggota DPR yang bilang,
- 29:36"Kenapa Pak Ferry enggak mundur aja?"
- 29:38Aduh, maaf aja.
- 29:40Mereka enggak tahu masalah sebenarnya.
- 29:41Mereka enggak tahu akar dari segala masalahnya.
- 29:43Ini semua akibat APBN yang kedodoran akibat program-program yang bakar duit.
- 29:48Itu saja. Kita batasi sampai di situ.
- 29:50Sekarang malah BI yang disalahkan.
- 29:51Gua juga enggak terlalu setuju.
- 29:54BI itu, kalau ekonomi kepanasan, direm dengan menaikkan suku bunga,
- 29:59Kalau ekonomi melambat, didorong dengan menurunkan suku bunga.
- 30:03Itu saja tugas BI.
- 30:05Tapi sekarang, sejak ada UU P2SK, BI juga diberi tugas membantu pertumbuhan ekonomi.
- 30:11Ayolah.
- 30:12Ujung-ujungnya apa?
- 30:13Kemarin SRBI naik sampai 7,57%.
- 30:18Tapi apa yang terjadi?
- 30:20Memang investor asing masuk, tapi mereka melakukan swap.
- 30:24Dia swap dengan biaya 2,5%
- 30:267,57%, hitungan kasarnya setelah dikurangi, masih dapat sekitar 5,1%.
- 30:32Dibandingkan US Treasury yang cuma sekitar 3,9%, itu masih menguntungkan.
- 30:36Masalahnya mereka melakukan swap.
- 30:39Kalau mereka enggak melakukan swap, artinya mereka percaya rupiah akan menguat.
- 30:45Kalau mereka melakukan swap, artinya mereka enggak percaya.
- 30:47Dan suatu saat BI harus mengembalikan dolar itu.
- 30:49Begitu kasarnya.
- 30:51Sementara imbal hasil SBN masih di bawah SRBI.
- 30:54Jadi sekarang kurva imbal hasil kita terbalik.
- 30:57Gua khawatir nanti terjadi perpindahan dana dari SBN ke SRBI.
- 31:05Kalau begitu, BI yang menanggung bebannya.
- 31:08Karena SRBI dijamin BI, bukan pemerintah.
- 31:11Akibatnya...
- 31:13Kalau memang terjadi migrasi tadi, mau enggak mau imbal hasil SBN harus naik.
- 31:17Lelang SBN terakhir saja sudah sekitar 7,2%.
- 31:21Kalau enggak salah lelang tanggal 9 Juni itu coverage ratio-nya cuma 1,6 kali.
- 31:27- Treasury 10 tahun 4 koma sekian, kan?
- 31:31- Treasury di Amerika masih 4,5.
- 31:34- Apa insentifnya bagi investor asing membeli SBN kita?
- 31:39- Ya enggak ada.
- 31:40Malah kalau kita lihat seminggu terakhir, asing keluar sekitar Rp10 triliun dari pasar modal kita.
- 31:46BI juga sudah menaikkan suku bunga 25 basis poin, tapi enggak ngefek.
- 31:52SRBI juga didongkrak sampai 7,57%, tapi dengan swap.
- 31:57Seharusnya kalau mereka tidak melakukan swap, kita senang
- 31:59karena berarti mereka berekspektasi rupiah akan menguat.
- 32:02Kalau mereka tetap swap, berarti mereka enggak mau mengambil risiko nilai tukar.
- 32:06Mereka menikmati keuntungan.
- 32:08Menurut gua, di situ BI menghalalkan segala cara
- 32:13supaya dapat dolar, supaya rupiah enggak dihajar.
- 32:17Semua yang dilakukan BI kalau menurut gua karena desakan.
- 32:25Gua ngeri akan terjadi seperti di Meksiko
- 32:29yang kemarin diturunkan peringkatnya.
- 32:31Kasusnya sama, ketidakseimbangan fiskal dan rezim yang semakin otoriter.
- 32:39Hal seperti itu tidak disukai lembaga pemeringkat.
- 32:41Kalau nanti BI benar-benar terus didorong mengikuti kemauan pemerintah,
- 32:47pokoknya apa pun yang diatur pemerintah harus diikuti,
- 32:49gua yakin intervensi besar-besaran itu menjadi perhatian World Bank.
- 32:53Kita harus waspada.
- 32:54Karena menurut gua sekarang cadangan devisa kita sekitar 144,9 miliar dolar AS,
- 32:58mungkin sekarang malah sudah lebih rendah setelah dipakai.
- 33:00Kalau sampai turun di bawah ambang 140 miliar dolar AS,
- 33:03tekanan terhadap rupiah akan semakin besar
- 33:08dan bisa memancing serangan spekulatif terhadap rupiah.
- 33:12Buat orang seperti Soros, itu sederhana, enggak pakai duit.
- 33:16Gua long dolar, short rupiah. Lu investment banker pasti paham.
- 33:23- Tapi gini, narasi fiskal kita sekarang sangat —bisa dibilang populis.
- 33:30Untuk mengedepankan MBG, Koperasi Desa Merah Putih,
- 33:35belum lagi subsidi energi.
- 33:38Kalau gua lihat, sampai akhir Mei saja subsidi energi sudah di atas Rp200 triliun.
- 33:43- Iya, 238 kalau enggak salah.
- 33:45- Jadi mungkin siapa pun Menteri Keuangannya,
- 33:50kalau memang pemimpinnya di atas menginginkan populisme,
- 33:55sangat kental narasi fiskal...
- 33:59- Enggak akan berubah.
- 34:00Kemarin sempat beredar nama Chatib Basri, beliau pulang ke Jakarta.
- 34:06Orang-orang berharap dia akan menggantikan Purbaya.
- 34:10Sebagai teman, gua bilang, "Lu kalau datang dari luar harus datang dengan syarat.
- 34:17Gua enggak akan sanggup menjalankan tugas kalau syarat-syarat ini enggak dipenuhi."
- 34:20Siapa juga yang sanggup?
- 34:22Mau ganti nama.
- 34:24Tapi lu benar.
- 34:25Intinya bukan orangnya, melainkan kebijakannya.
- 34:30Sekarang pertanyaan besarnya, seberapa kuat kondisi fiskal kita
- 34:38untuk lima sampai enam bulan ke depan?
- 34:41Kalau gua hitung dari APBN, kemarin defisit sekitar Rp180 triliun.
- 34:50Awalnya diproyeksikan Rp240 triliun, lalu turun jadi Rp160 triliun pada April,
- 34:54kemudian naik lagi jadi Rp180 triliun pada Mei.
- 34:57Gua masih bertanya-tanya karena enggak ada catatan
- 35:00apakah angka itu sudah bersih setelah restitusi pajak atau masih ada utang restitusi.
- 35:05Bisa aja, kan?
- 35:06Itu enggak ada catatannya.
- 35:08Kalau masih utang restitusi, bisa saja defisitnya sudah di atas Rp200 triliun.
- 35:11Artinya apa? Belanja pemerintah kita sudah enggak terkendali.
- 35:16Kalau dari kuartal I saja sudah 0,93% terhadap PDB,
- 35:20kalau dianualisasi secara linear hasilnya sekitar 3,72%.
- 35:23Padahal pemerintah berjanji menjaga defisit di bawah 3%.
- 35:26Tapi kenyataannya seperti itu.
- 35:28Kemarin juga penerbitan surat utang negara sudah sekitar Rp836 triliun, kalau enggak salah.
- 35:34Separuhnya buat bayar utang yang jatuh tempo, separuh lagi buat menutup defisit.
- 35:39Jadi dari sisi fiskal gua enggak yakin banget.
- 35:42Maaf aja ya, gua bisa salah, tapi rupiah bisa menguat,
- 35:48apalagi dengan kondisi BI yang seperti sekarang,
- 35:51benar-benar terpojok oleh pemerintah lewat UU P2SK.
- 35:56- Menurut lu, secara hipotetis, sejauh mana kita harus mengalibrasi ulang
- 36:02program-program populis supaya bisa menghentikan pelemahan rupiah?
- 36:07- Program populis sebenarnya enggak salah,
- 36:09kalau memang meningkatkan produktivitas.
- 36:13- Betul.
- 36:15Jadi mungkin dilemanya adalah sejauh mana lu mendukung program populis,
- 36:19tapi di saat yang sama memberikan kail kepada nelayan, bukan sekadar ikan.
- 36:25- Nah, itu poinnya.
- 36:27Bukan berarti semua program populis jelek,
- 36:28kalau memang benar bisa menciptakan rantai pasok
- 36:35sampai UMKM ikut merasakaan manfaatnya.
- 36:37Tapi hasil penelitian KPK menunjukkan yang bergulir ke UMKM cuma sekitar 5%.
- 36:41Artinya 95% mubazir.
- 36:43Lihat saja siapa yang punya SPPG?
- 36:46Lihat saja paketnya.
- 36:47Ada susu Ultra itu kan dari pabrik, bukan dari UMKM.
- 36:51Nah, itu poinnya.
- 36:53Program yang disebut populis ini justru bakar duit, bukan meningkatkan produktivitas.
- 37:01Kalau memang benar-benar meningkatkan produktivitas,
- 37:05gua rasa enggak ada yang menolak.
- 37:07UMKM jalan, margin mereka naik, rantai pasok jalan.
- 37:13Enggak akan ada yang menentang.
- 37:14Sekarang mahasiswa turun ke jalan karena ini bakar duit, dan dikorupsi pula duitnya.
- 37:20Jumlahnya sangat fantastis.
- 37:22Jumlahnya ratusan triliun.
- 37:23Bayangkan Rp275 triliun kalau dipakai membangun sistem transportasi itu luar biasa.
- 37:29- Pembangkit listrik, rel kereta, dan lain-lain.
- 37:32- Semuanya untuk menurunkan biaya logistik kita.
- 37:34- Atau guru yang berkualitas.
- 37:37- Nah, itu baru investasi.
- 37:39Kalau ini, uangnya malah dikorupsi lalu disebut investasi.
- 37:42Rasionalisasi saja.
- 37:43Kalau ada kemauan politik, menurut gua paling butuh Rp20 triliun.
- 37:48- 20 triliun, ya?
- 37:49- Paling banyak.
- 37:50- Kalau besok anggaran MBG dipotong dari Rp335 triliun menjadi Rp20 triliun,
- 37:56pasar bakalan...
- 37:57- Wah, gila itu.
- 37:58Karena setahu gua, salah satu pertimbangan Moody's Ratings - Wah, gila itu.
- 37:58Karena setahu gua, salah satu pertimbangan Moody's Ratings
- 38:02adalah MBG, yang masuk dalam bobot mereka.
- 38:06Perhitungannya, ini bakar duit, setahu gua, ya.
- 38:09Silakan dicek lagi.
- 38:11Di luar penilaian lembaga pemeringkat pun kita tahu kondisi fiskal kita.
- 38:16Gua ngerinya pertumbuhan belanja kita jauh lebih tinggi
- 38:21daripada pertumbuhan penerimaan negara.
- 38:22Itu yang paling berbahaya.
- 38:24Kalau belanja tumbuh 22%, gua enggak yakin itu bisa dipertahankan terus.
- 38:30Sementara penerimaan APBN mungkin cuma tumbuh sekitar 16–17%.
- 38:37Orang sering ribut soal rasio pajak.
- 38:40Gua enggak setuju.
- 38:41Negara ini enggak pantas mendapat rasio pajak yang tinggi,
- 38:45karena setiap belanja pemerintah tidak produktif.
- 38:47Lebih baik rasio pajaknya diturunkan.
- 38:50Kasih ruang buat sektor swasta berbelanja dan berinvestasi.
- 38:56Kalau perlu pajak penghasilan badan diturunkan dari 22% menjadi 17%, misalnya.
- 39:00PPN juga diturunkan dari 10%-11%.
- 39:04Kita butuh pemerintah yang lebih kecil dari sisi anggaran.
- 39:07- Iya.
- 39:08Tapi FDI kita masih kurang.
- 39:10Padahal FDI hanya akan datang kalau ada dua atribut.
- 39:14Pertama, penegakan hukum. - Pasti,
- 39:16- Kedua, kemampuan menerjemahkan ketidakpastian menjadi risiko.
- 39:23Risiko itu bisa diukur, bisa diperingkatkan, dan bisa diberi harga.
- 39:30Untuk meningkatkan kapasitas translasi,
- 39:34mau enggak mau pendidikan, STEM khususnya, harus ditingkatkan.
- 39:39Kalau gua lihat di Asia Tenggara, konversi STEM di kampus
- 39:44paling tinggi sekarang ada di Malaysia.
- 39:4640–43% mahasiswa memilih STEM.
- 39:52Singapura cuma 36%.
- 39:55Indonesia 22%.
- 39:57Vietnam lagi mikir mau menaikkan konversi STEM di kampus ke 50%.
- 40:02- Begini, gua ngerti poin lu.
- 40:08STEM apa pun itu hanyalah instrumen.
- 40:14Yang lebih mendasar lagi adalah institusi.
- 40:18- Iya.
- 40:18- Gua ngasih contoh.
- 40:20Zaman gue itu, zaman rame-ramenya Habibie ngirim anak-anak kita ke Delft
- 40:26ngambil dirgantara—dalam bahasa Belandanya <i>lucht- en ruimtevaart. </i>
- 40:33Begitu pulang ke tempat dia bermarkas,
- 40:46Mereka enggak tahu harus ngapain.
- 40:48Bisa dibayangkan, orang sudah capek- capek sekolah, selesai dari Delft,
- 40:53pulang enggak ada proyek, enggak ada apa-apa, main catur.
- 40:57Ini terjadi, loh, akhir 80-an, awal 90-an.
- 41:01Nah, artinya apa?
- 41:02Menyekolahkan orang adalah satu hal...
- 41:05- Tapi sisi penawarannya juga harus ada.
- 41:07- Iya. Makanya gua bilang, itu harus, diperlukan, tetapi belum cukup kalau institusinya...
- 41:15Jadi, harus dibedakan antara kondisi yang diperlukan dan kondisi yang cukup.
- 41:18- Laboratoriumnya harus ada, peralatannya harus ada, komputernya harus ada.
- 41:23- Itu enggak ada. Gimana?
- 41:24Mereka cabut lagi.
- 41:25Banyak yang keluar tuh, semacam "brain drain".
- 41:29Kembali lagi, masalah terbesar di negara ini adalah masalah institusional.
- 41:35Suprastruktur, birokrasi, regulasi, supremasi hukum.
- 41:41- Iya.
- 41:42Nah, jadi gimana untuk mengubah institusi?
- 41:45Ini ngomong yang lebih struktural lagi, pendidikan.
- 41:50Pembangunan institusi atau institusionalisasi hanya bisa terjadi kalau
- 41:55diisi dengan orang-orang yang berpendidikan.
- 41:59- Persis.
- 42:00- Perekrutan itu enggak bisa semata-mata berdasarkan loyalitas atau patronase.
- 42:05Harus berdasarkan meritokrasi.
- 42:08Jadi lu harus kompeten, baru masuk ke institusi.
- 42:11- Iya.
- 42:12Tapi kalau lu mau ngomong hilirisasi, institusionalisasi, lu harus mikirin—
- 42:16ini jangka panjang— pendidikannya.
- 42:19Dari Sabang sampai Merauke, 88% kepala rumah tangga enggak punya pendidikan S1.
- 42:27Udah gitu, dari Sabang sampai Merauke ada kurang lebih 5.000 kampus.
- 42:32- Pusing enggak?
- 42:35- Yang ngajar gajinya 2,8 juta.
- 42:39Mendingan gua kerja di Google, atau di Danantara atau di mana.
- 42:46Gajinya kan jauh lebih tinggi daripada 2,8 juta.
- 42:49Udah gitu, guru TK, SD, SMP, SMA, yang honorer gajinya 500.000.
- 42:56Jadi susah lu untuk menghasilkan produk pendidikan.
- 42:58Dan ini termanifestasi secara empiris.
- 43:01Skor PISA kita, yang mengukur profisiensi bahasa dan STEM
- 43:07anak usia 15 tahun, kita peringkat 69 dari 81.
- 43:11- Ya, gua terima ide lu, bahwa pendidikan itu harus menjadi pemicu ke depan.
- 43:18- Itu jangka panjang.
- 43:20- Tapi juga, jangan lupa, kadang-kadang pendidikan,
- 43:23kalau kita menggali lebih dalam ke budaya, itu juga tidak terlepas dari masalah budaya.
- 43:31Jadi, gua ambil contoh.
- 43:32Maaf, gua bukan bias, ya.
- 43:34Sekolah-sekolah negeri dibandingkan dengan sekolah-sekolah
- 43:37yang masih ada warisan Belanda, yang berbendera—maaf nih—
- 43:42berbendera Katolik.
- 43:44Kanisius, Aloysius, PL, segala macam.
- 43:48Ternyata, aduh, padahal mata pelajarannya sama, kurikulumnya sama,
- 43:53tapi maaf aja ya, gua bukan bias,
- 43:55kita lihat teman-teman gua yang di Belanda tuh kadang-kadang bingung.
- 43:59Anak-anak ini kok bisa ngalahin orang Belanda.
- 44:02Benar-benar, loh.
- 44:02Teman-teman gue dari sekolah-sekolah itu,
- 44:06orang Belanda dapat 6 susah, dia bisa dapat 10.
- 44:10Dia bisa lulus tiga setengah tahun cum laude.
- 44:12Anak Indonesia, dari sekolah yang benar.
- 44:14Artinya apa? Gua mau tekankan bahwa pendidikan tidak terlepas dari sejarah dan budaya.
- 44:23Jadi enggak bisa kita bilang, oke, anak-anak dikirim ngambil aerospace,
- 44:30beasiswa lima-enam tahun, mereka balik, ternyata sampai di sini main catur.
- 44:35Artinya apa? Kembali lagi, ini masalah yang berat.
- 44:39Makanya gua lebih milih satu titik awal yang bisa kita gunakan sebagai pemicu.
- 44:43Sebagai ekonom gua selalu berpikir Ricardian,
- 44:49keunggulan komparatif kita apa sih yang bisa menghasilkan uang?
- 44:53Misalnya ide gue jalan, kita bisa menjual alam kita.
- 44:57Orang beli kredit karbon dari kita.
- 44:59Kita bisa gaji dua kali UMR penjaga-penjaga hutan kita.
- 45:02Mereka punya penghasilan, mereka enggak khawatir hidupnya,
- 45:05bisa menyekolahkan anaknya dengan baik, tidak kepikiran macam-macam,
- 45:09"Aduh, besok gua makan apa?"
- 45:11Ini sebagai titik awal.
- 45:13Kita butuh titik awal. Di mana?
- 45:15Kalau kita ngomong, "Wah, ini terjadi deindustrialisasi, maka kita harus reindustrialisasi."
- 45:19Nenek gue juga tahu.
- 45:20Tinggal dibalikin aja.
- 45:23Tapi mulainya dari mana?
- 45:24Dan gue ngelihat perubahan iklim yang makin parah begini.
- 45:27Suatu hari nanti orang pasti akan membutuhkan...
- 45:31Bagaimana kita menghasilkan ekosistem yang menghasilkan kredit karbon, dan bisa kita jual?
- 45:37Sudah banyak contohnya kok kemarin dari beberapa anak yang berani nakal.
- 45:42Mereka bangun satu ekosistem, walaupun akhirnya bersengketa dengan KLHK,
- 45:46mereka sudah deal dengan Exxon, Volkswagen, Unilever, menghasilkan Rp6 triliun.
- 45:53Tapi karena ada sengketa mengenai kedaulatan kredit karbon, duitnya tertahan.
- 45:56Tapi setidaknya itu membuktikan bahwa model itu berhasil.
- 46:00Dan mereka gaji benar-benar loh.
- 46:02Jadi kalau punya satu area ekosistem yang lu bangun,
- 46:05itu kan kita nyewa orang supaya mereka enggak membabat lahannya.
- 46:11Mereka bisa bikin tambak segala macam karena mereka harus hidup.
- 46:15Tapi kalau kita gaji mereka dua kali UMR untuk menyelamatkan ekosistem, itu jalan.
- 46:21Kembali lagi sekarang yang menjadi pertanyaan,
- 46:24bagaimana negara bisa ikut membantu pemikiran seperti ini sebagai titik awal?
- 46:29Sebab nanti penggandanya baru jalan.
- 46:32Kita jangan ngomongin yang lain sebelum kita ngomongin— kalau gua kembali lagi—Ricardian,
- 46:36keunggulan komparatif kita.
- 46:37- Sepakat.
- 46:38Gua sepakat dengan lu, dalam arti ada beberapa hal yang sudah dilakukan
- 46:45yang perlu diubah segera.
- 46:48Secara fiskal dan secara institusional.
- 46:51Tapi ke depannya gua ngelihat kalau kita mau meyakinkan investor
- 46:57untuk membantu kita merangkak di rantai nilai—hilirisasi, mau bikin chip,
- 47:04mau bikin roket yang bisa digunakan kembali seperti SpaceX dan segalanya,
- 47:08mereka harus bisa menilai bahwa Indonesia besok akan lebih berpendidikan daripada hari ini.
- 47:14Betul. Lusa lebih berpendidikan daripada besok. Minggu depan lebih...
- 47:18- Pasti.
- 47:19Dua tahun lalu gua diundang sama seorang Amerika dari Kedutaan Besar Amerika.
- 47:25Dia bilang, "Pak Ferry, bisa enggak kita santai-santai, ketemu di suatu tempat?"
- 47:30Sama Raden juga.
- 47:32Dia ekonom di Kedutaan Besar Amerika.
- 47:34Minat untuk membangun FDI di sini, terutama yang terkait AI,
- 47:42kayak cip dan segala macam itu, memang satu kendalanya, tenaga kerja.
- 47:49Sedangkan untuk alih teknologi, misalnya kalau mereka diharuskan, ada tenaga kerjanya juga,
- 47:55akhirnya mereka lari ke Malaysia dengan tingkat partisipasi sekolah yang lebih tinggi.
- 47:59- STEM 43%
- 48:01- Nah, artinya apa?
- 48:02Untuk FDI datang aja, SDM lu itu tidak memenuhi persyaratan.
- 48:10Bagaimana gua bisa transfer teknologi
- 48:12kalau lu enggak punya tenaga kerja yang memenuhi persyaratan
- 48:14dan enggak bisa kerja di kantor gua? kalau lu enggak punya tenaga kerja yang memenuhi persyaratan
- 48:14dan enggak bisa kerja di kantor gua?
- 48:16Itu memang harus.
- 48:19Tapi lagi-lagi, kalau gue sih ngelihat itu syarat yang diperlukan, tetapi belum cukup.
- 48:24- Sepakat.
- 48:25- Sekarang kita coba cari opsi lain.
- 48:28Di mana titik awalnya?
- 48:30Ya gua kembali ke buku teks.
- 48:32Keunggulan komparatif lu di mana? - Sepakat.
- 48:34Nah, ini lu ngomong AI.
- 48:37Banyak yang enggak tahu bahwa kalau lu pakai DeepSeek, Gemini, Claude, atau apa pun,
- 48:43penggunaan energinya itu 10 sampai 50 kali lipat dibanding pencarian sederhana di Google.
- 48:50Apalagi kalau lu di perfilman.
- 48:54Lu menggunakan platform seperti Sora, penggunaan energinya itu 1.000 kali lipat
- 48:59lebih banyak daripada pencarian sederhana di Google.
- 49:02Problemnya, Indonesia itu elektrifikasi cuma 1.300 kilowatt-jam per kapita.
- 49:08Dan kalau mau jadi bangsa yang mampu mengembangkan AI,
- 49:14elektrifikasi per orang itu minimum 10.000 kilowatt-jam per kapita.
- 49:20Dan gua udah hitung. Untuk naik dari 1.300 ke 10.000 kilowatt-jam per kapita,
- 49:25Indonesia harus bangun 600.000 MW, atau 600 GW.
- 49:31Lu kebayang enggak?
- 49:32Kalau lu harus bangun 600.000 MW dan lu cuma bisa bangun 5.000 MW per tahun,
- 49:39lu butuh 120 tahun. - 120 tahun.
- 49:42- Ya, lu sama gua udah enggak ada lagi di sini. Iya kan?
- 49:45Dan itu adalah titik modernitas.
- 49:49Titik modernitas yang cukup supaya kita mampu mengembangkan AI.
- 49:53- Iya, betul.
- 49:54- Jadi, denominatornya harus dipercepat.
- 49:57Kita harus bangun lebih banyak daripada sekarang.
- 49:59- Hampir mustahil bisa dilakukan dalam semalam.
- 50:04Makanya gua selalu mencari opsi.
- 50:05Balik lagi ke pemikiran gua yang sederhana.
- 50:08Apa yang bisa kita jual dulu?
- 50:11Pertama, tadi seperti gua bilang, itu mungkin dilakukan, dan tidak sulit dilakukan.
- 50:16Yang dipentingkan adalah kemauan politik.
- 50:18Gua pernah bilang, kita memerlukan badan ekonomi hijau
- 50:22yang mendapatkan mandat dari KLHK untuk mendorong...
- 50:27Gua juga mau bikin green fund.
- 50:29Gua roadshow ke lembaga-lembaga besar kayak JP Morgan dan Morgan Stanley.
- 50:34Kalau memang mereka bilang oke,
- 50:36bukan enggak mungkin sedikit demi sedikit mereka ikut berkontribusi
- 50:39membangun ekosistem yang benar.
- 50:43Tapi malah sebaliknya yang dilakukan.
- 50:45Membabat hutan untuk food estate dan segala macam.
- 50:48Nah, ini menurut gua terbalik.
- 50:50Lu kira gampang membangun food estate?
- 50:52Curiganya begini.
- 50:55Lu dikasih konsesi jutaan hektare, lu turunin alat-alat berat,
- 50:58lu babat hutannya, lu jual kayunya.
- 51:01Setelah itu lu bilang, "Sobat, ternyata enggak layak.
- 51:04Kita enggak punya irigasi, logistiknya jauh."
- 51:08Moral hazard-nya tinggi dalam proyek-proyek kayak gini.
- 51:11Makanya gua skeptis banget.
- 51:13Sesuatu yang gampang dan banyak peminatnya.
- 51:16Kemarin malah gua didatangi orang Inggris yang lama tinggal di Malaysia.
- 51:20Dia bekas investment banker di Swiss.
- 51:23Dia datang ke tempat gua.
- 51:25Dia bilang, "Pak Ferry, sebetulnya kalau ini jadi, negara-negara seperti Yunani
- 51:31sudah kena pajak karena tidak punya kredit karbon untuk industri pelayarannya.
- 51:35Lu gampang dapat pendanaan dari mereka.
- 51:38Lu kerja sama Verra untuk sertifikasinya dan segala macam."
- 51:41Pada dasarnya itu bisa dilakukan. - Oh iya.
- 51:43- Cuma masalahnya, yang gua harapkan itu kemauan politik kok enggak ada?
- 51:48Malah mimpinya mau ini, mau itu.
- 51:51Sesuatu yang boleh dibilang berisiko tinggi dan belum tentu berhasil pada akhirnya.
- 51:56Ini gampang. Lu punya alam.
- 52:00Bangun aja ekosistemnya.
- 52:03Kalau ngomong, "Oke, bagaimana gua sebagai negara mengklaim
- 52:06bahwa gua punya kredit karbon yang berdaulat," itu bisa diatur.
- 52:10- Modal alam kita itu gede banget.
- 52:12- Gede banget.
- 52:13Nah, maksud gua gini.
- 52:14Oke, lu ngomong reindustrialisasi. Masalahnya kita enggak punya duit.
- 52:19Mau narik FDI juga belum tentu mau karena risikonya tinggi.
- 52:22Persoalan kita ada di suprastruktur.
- 52:24Nah, sekarang bagaimana lu akalin, enggak langsung reindustrialisasi,
- 52:28tapi dari situ kita bisa masuk ke sana dengan penggandanya.
- 52:33- Kita ngomong modal alam. Salah satunya adalah mangrove.
- 52:37Mangrove di Indonesia itu ada sekitar 3,3 sampai 3,5 juta hektare.
- 52:41- Iya, benar. Kita sudah petakan semuanya.
- 52:44- Potensi penyerapan karbonnya konon sekitar 1.000 ton per hektare.
- 52:49Jadi kalau 3,5 juta hektare, ya sekitar 3,5 gigaton. Gila.
- 52:54- Gila.
- 52:55- Emisi karbon seluruh dunia per tahun itu sekitar 40 gigaton.
- 53:01- Kalau kita benar-benar bisa memanfaatkannya, kita enggak ada alasan untuk miskin.
- 53:06Tapi supaya itu bisa dimonetisasi, harus ada akuntabilitas,
- 53:10keterukuran, tanggung jawab, dan verifikasi.
- 53:14Ini balik lagi ke poin lu mengenai institusionalisasi.
- 53:17- Kalau udah ketahuan kita mulai dari sini, ya tolong beresin yang lain-lain juga.
- 53:26Ini udah kelihatan bakal jadi duit gede. Masa sih lu kagak mau?
- 53:30Ayolah!
- 53:31Ini win-win untuk semua orang.
- 53:35Gampang kok. Bisa diatur.
- 53:36Orang kan pengennya gitu, "Gampang lah, buat gua apa, nih?"
- 53:43Kayak gitu.
- 53:44Kita harus tahu konturnya.
- 53:47- Gambarannya gimana kalau langkah-langkah yang menurut lu harus dilakukan tidak dilakukan,
- 53:55nilai tukarnya, terus indeks ekonomi...
- 54:01Perkiraan gua secara objektif, gua enggak terlalu bearish untuk jangka pendek,
- 54:07tapi juga agak bearish untuk jangka panjang.
- 54:09Coba kita ambil APINDO misalnya.
- 54:1250% harus dari anggotanya, lima tahun ke depan enggak akan belanja modal.
- 54:1767% dari mereka bilang satu tahun ke depan gua enggak akan rekrut orang lagi.
- 54:24Syukur-syukur gua bisa mempertahankan karyawan yang sudah ada.
- 54:28Enggak melakukan PHK.
- 54:29Dari pengusaha aja kita sudah dapat gambaran bahwa mereka juga enggak terlalu senang.
- 54:35Sekarang kalau kita ngelihat bagaimana pemerintah juga tidak patuh
- 54:40dengan tuntutan-tuntutan lembaga pemeringkat
- 54:43mengenai APBN, mengenai kekuatan fiskalnya,
- 54:46gua ngeri cepat atau lambat akan didowngrade,
- 54:48dan ini bencana.
- 54:49Sebab turun satu tingkat itu lebih gampang daripada nanti naik lagi satu tingkat.
- 54:54Proses meyakinkan mereka itu lama banget.
- 54:57Artinya apa?
- 54:58Itu akan mengarah pada kurangnya investasi nantinya.
- 55:02Kita enggak punya tabungan, sementara asing yang kita harapkan masuk juga ogah.
- 55:06"Sell Indonesia" kemarin itu, waduh, gila banget.
- 55:10Itu kan sebel banget artinya.
- 55:12Dari situ kita sudah bisa tarik kesimpulan, enggak gampang menarik investor asing masuk lagi.
- 55:16Nah, kenapa?
- 55:17Masalahnya kembali lagi ke politik, institusi, dan segala macam yang bikin mereka enggak senang.
- 55:22Kalau masalahnya cuma jalanan becek atau jembatan rusak, itu gampang.
- 55:27Itu infrastruktur. Lu taruh aja duit di situ, selesai.
- 55:31Tapi kalau lu berurusan dengan birokrasi dan penegakan hukum,
- 55:34bayangin, lu mendirikan bisnis di sini, lalu punya sengketa dengan perusahaan lain,
- 55:39lu enggak tahu apakah nanti lu bakal dilayani dengan baik atau enggak.
- 55:43Itu hal yang sederhana aja pada level yang sama.
- 55:46Apalagi kalau lu berurusan dengan pemerintah.
- 55:48Aduh, ngeri.
- 55:50Jadi gua benar-benar ngelihat Indonesia Emas ini sesuatu yang mustahil.
- 55:55Ya, gua bisa salah.
- 55:56Tapi gua juga berhak memberikan pendapat gua setelah ngelihat semua angkanya,
- 56:00ngelihat bagaimana institusi bekerja,
- 56:03jauh dari norma-norma akuntabilitas, tanggung jawab, transparansi, dan sebagainya.
- 56:11Gua enggak ngelihat.
- 56:12Gua ngelihat negara ini kayak semacam dikuasai segelintir elite di tataran politik.
- 56:19Gua enggak nyebut orang ya, ini institusinya.
- 56:21Yang mana setelah demokrasi, setelah Soeharto jatuh, mereka berbondong-bondong.
- 56:26Lu boleh ngomong soal oligarki, tapi jangan lupa,
- 56:30oligarki enggak akan bisa bekerja sendiri tanpa ada gandengannya
- 56:35dengan tataran elite yang membuat keputusan.
- 56:37Enggak mungkin.
- 56:38Nah, jadi di sisi lain, oke, ada oligarki.
- 56:43Tapi lu lihat juga sisi satunya lagi, wah mereka bekerja seperti ini.
- 56:48Nah, struktur kekuasaan— kita masuk ke ranah sosial—
- 56:54struktur kekuasaan di dalam komunitas kita, bangsa kita ini, sudah seperti itu,
- 56:59sehingga akan sulit sekali kita mendapatkan perubahan pada suprastruktur,
- 57:06karena mencari rente.
- 57:08Itulah kenapa gua bearish.
- 57:11Enggak gampang mengubahnya.
- 57:13Dulu mungkin zaman Soeharto mereka masih bilang, "Wah, kita harus tahu diri."
- 57:17Lagi pula ada ketakutan seorang diktator.
- 57:20Kalau berlebihan dia bisa digoyang.
- 57:22Tapi sekarang, kalau lu enggak suka, ya tunggu lima tahun.
- 57:28Jadi itulah.
- 57:31- Kalau kita ngelihat Tiongkok, ada sosialisme dengan karakteristik Tiongkok.
- 57:37Kita ngelihat Rusia, komunisme dengan karakteristik Rusia.
- 57:42Gua ngelihat dua negara itu sebagai institusi yang otoritas politiknya
- 57:49berada di atas kapitalisme.
- 57:53Dibanding negara-negara lain yang kapitalismenya berada di atas otoritas politik.
- 57:59Enggak usah sebut negara, lah.
- 58:00Salah satunya mungkin Amerika Serikat.
- 58:02Itu yang akhir-akhir ini sering disebut plutokrasi.
- 58:06Kapitalisme berada di atas otoritas politik.
- 58:10Mungkin enggak sih yang sekarang terjadi di sini
- 58:12adalah upaya menempatkan otoritas politik di atas kapitalisme?
- 58:16Tapi di Tiongkok sama Rusia itu terjadi penjembatanan antara sosialisme dengan kapitalisme,
- 58:24antara komunisme dengan kapitalisme, sehingga roda ekonominya berputar.
- 58:30Mungkin enggak di Indonesia ada aspirasi untuk menempatkan otoritas politik
- 58:34di atas kapitalisme?
- 58:36Hanya saja mungkin kita belum masuk ke bab berikutnya,
- 58:39yaitu penjembatanan antara otoritas politik dan kapitalisme.
- 58:44- Kalau gua sih ngelihatnya, setelah hampir 30 tahun reformasi,
- 58:53kita lihat dari data-data ekonomi, kita lihat bagaimana sektor...
- 59:00- Kita sudah tua, Bro. - Iya.
- 59:02Sektor yang menciptakan lapangan kerja, yaitu manufaktur bernilai tambah,
- 59:07terus turun secara sistematis.
- 59:10Yang kedua, sekarang ekonomi kita semakin bersifat ekstraktif.
- 59:15Kita mengandalkan komoditas, entah itu sawit, tambang, batu bara, nikel.
- 59:21Kalau lu baca bukunya Daron Acemoglu dan James A. Robinson, Why Nations Fail,
- 59:26lu tahu bahwa itu semua ekonomi ekstraktif.
- 59:28Nah, dalam ekonomi yang ekstraktif itu...
- 59:30- Dan tidak ada pelembagaan.
- 59:35- Nah, dampak dari ekonomi yang mengandalkan sumber daya alam yang sifatnya ekstraktif
- 59:43pasti akan membentuk elite politik yang menguasainya.
- 59:47Makanya gua bilang, Belanda datang dulu untuk menguasai alam kita.
- 59:51Begitu kita merdeka, datang lagi "Belanda" yang kulitnya hitam,
- 59:54bangsa kita sendiri, yang menguasai sumber daya alam.
- 59:57Dan itu proses yang natural, terlepas dari masalah Tiongkok.
- 1:00:01Nah, waktu kita merdeka, bayangin aja, berapa sih orang yang sekolah waktu itu?
- 1:00:06Karena pendidikan diskriminatif pada zaman Belanda.
- 1:00:08Kalau bukan bangsawan, enggak akan dapat akses ke pendidikan.
- 1:00:12Akhirnya memang cuma sekitar dua ratus sekian orang yang menguasai negara ini.
- 1:00:16Elite politik kita, mulai dari kasus Pertamina dulu dan segala macam.
- 1:00:21Pada saat harga minyak naik, Pertamina malah meninggalkan utang 12 miliar dolar AS.
- 1:00:26Nah, ini semua tidak lain adalah godaan sumber daya alam
- 1:00:30yang akhirnya membentuk struktur kekuasaan di dalam suatu negara.
- 1:00:34Dan ini makin parah setelah Soeharto jatuh,
- 1:00:37dengan belasan partai politik yang setiap entitasnya mungkin tujuannya adalah
- 1:00:43bagaimana merebut kekuasaan.
- 1:00:45Enggak ada yang berpikir bagaimana membangun bangsa, kalau menurut gua.
- 1:00:49Dulu mungkin masih ada di zaman Soekarno,
- 1:00:51PSI sebagai tempat berkumpulnya para intelektual.
- 1:00:54Sekarang enggak ada.
- 1:00:56Kalau kita lihat peta sosial-politik kita sekarang, kok gua enggak optimis ya?
- 1:01:04Artinya lu bikin apa aja kayaknya basi deh.
- 1:01:07Akhirnya kita menjadi ekonomi pencari rente.
- 1:01:10Semua orang pengin mencari rente.
- 1:01:13Proyek di-mark up dan segala macam.
- 1:01:16Jadi kalau ngelihat Indonesia Emas dari kacamata yang berbeda,
- 1:01:20dari kacamata sosiologi atau politik, bukan cuma ekonomi—
- 1:01:24ekonomi sebenarnya jangkauannya juga luas—
- 1:01:27wajar kalau manufaktur kita terus turun dan semakin mengandalkan sumber daya alam.
- 1:01:35- Ngeri, Bro.
- 1:01:36- Ngeri.
- 1:01:37- Kenapa ya seakan-akan teknokrasi sudah menjadi spesies yang terancam punah?
- 1:01:45- Waduh.
- 1:01:46Sekarang malah kalau lu benar, ya celaka.
- 1:01:52Mendingan lu salah.
- 1:01:54- Iya.
- 1:01:54Teknokrasi, meritokrasi itu seperti spesies langka.
- 1:01:59- Benar.
- 1:02:00- Dan kasihan loh anak cucu kita ke depan.
- 1:02:02- Betul.
- 1:02:03Ya itulah.
- 1:02:04Kita bisa berkaca pada negara yang mengandalkan kekayaan alamnya, akhirnya bangkrut.
- 1:02:09Venezuela.
- 1:02:10Venezuela dengan populismenya, akhirnya jadi negara miskin sekarang.
- 1:02:15Dia menasionalisasi semua perusahaan.
- 1:02:17Supermarket juga dinasionalisasi. Gila itu.
- 1:02:20- Atau Tiongkok dan Rusia yang beda.
- 1:02:23Gua akhir-akhir ini ngelihat akuntabilitas Tiongkok jauh lebih besar kepada rakyat,
- 1:02:30bukan kepada kelompok elite.
- 1:02:32Dan mereka jauh lebih berhasil mendemokratisasikan barang publik.
- 1:02:36Jauh lebih baik daripada banyak negara demokrasi di seluruh dunia.
- 1:02:40Demokrasi sering kali hanya termanifestasi dalam distribusi suara dan kekuasaan,
- 1:02:46bukan distribusi barang publik, termasuk kesehatan, kesejahteraan,
- 1:02:50pendidikan, intelektualitas, nilai moral, maupun nilai sosial.
- 1:02:54Tapi di Tiongkok jelas.
- 1:02:55Lu sakit, MRI, CT scan, diperiksa dokter, paling 17 dolar AS.
- 1:03:04Di Amerika, lu belum disentuh dokter aja sudah bayar 1500 dolar.
- 1:03:07- Gila ya.
- 1:03:08- Di situ kan lu bisa lihat mereka jago mendistribusikan barang publik.
- 1:03:13Nah, mungkin bisa dibilang mereka agak demokratis.
- 1:03:19- Enggak...
- 1:03:21- Memang sistem politiknya otokrasi.
- 1:03:24- Yang memaksakan demokrasi di Tiongkok itu kan pihak Barat.
- 1:03:27Demokrasi itu produk Barat.
- 1:03:29Orang Tiongkok sendiri mungkin enggak pernah...
- 1:03:33- Mereka enggak mikir konsep.
- 1:03:35Mereka cuma mikir tata kelola yang baik vs tata kelola yang buruk.
- 1:03:38- Betul.
- 1:03:39Jadi, enggak penting mau demokrasi atau apa, yang penting hasilnya seperti apa.
- 1:03:43- Betul.
- 1:03:44Akuntabilitas kepada rakyat.
- 1:03:45- Betul.
- 1:03:46Boleh dibilang Tiongkok itu keajaiban.
- 1:03:48Dalam 40 tahun mereka bisa mengangkat 700 juta orang keluar dari jurang kemiskinan.
- 1:03:54Sementara Eropa perlu sekitar 200 tahun kalau melihat sejarahnya.
- 1:03:58Tapi jangan lupa, Tiongkok itu bukan nation-state,
- 1:04:02Tiongkok adalah civilization-state.
- 1:04:05Memang akar peradabannya sudah tua.
- 1:04:07Budaya mereka sudah begitu maju sejak 5.000 tahun yang lalu.
- 1:04:11Mereka cuma mengalami satu fase pergolakan,
- 1:04:19yaitu dari abad ke-18 ke abad ke-19,
- 1:04:20ketika menjadi bulan-bulanan Inggris karena Perang Candu,
- 1:04:24lalu menjadi sasaran Jepang. Itu saja.
- 1:04:25Padahal akar peradabannya memang sudah kuat.
- 1:04:27- Jepang dan Inggris.
- 1:04:291840. Century of Humiliation.
- 1:04:33- Mereka marah banget, merasa terhina banget.
- 1:04:36Kita juga kaget waktu Hong Kong kembali ke Tiongkok.
- 1:04:40Kita enggak nyangka ternyata Hong Kong tetap berkembang pesat.
- 1:04:44- Gua kemarin ke Shenzhen.
- 1:04:46Di sana mesen kopi dan croissant, diantar pakai drone, Bro.
- 1:04:51Terus gua lagi makan di kawasan finansial yang baru,
- 1:04:56di atas itu drone semua.
- 1:04:57Nganterin dokumen, makanan, minuman, obat, segala macam.
- 1:05:01Udah kayak nonton Blade Runner.
- 1:05:03- Gila ya.
- 1:05:05- Terus gua naik mobil dari Shenzhen ke Hong Kong, rasanya kayak kembali ke masa lalu.
- 1:05:13Jadinya, kita sudah melihat transformasi Tiongkok yang gila-gilaan,
- 1:05:18tapi mereka punya modal investasi dari dalam,
- 1:05:22bisa menarik modal dari luar juga, dan talentanya luar biasa.
- 1:05:26Nah, kalau ngomong nation building,
- 1:05:29gua akhir-akhir ini sering bilang ada empat cara membangun bangsa dan negara.
- 1:05:33Dari sisi pengelolaan talenta.
- 1:05:36Yang pertama <i>brain train. </i>
- 1:05:38<i> Brain train</i> itu seperti Jepang.
- 1:05:41Kalau lu lihat, sekitar 80% pemenang Nobel Jepang enggak pernah sekolah di luar negeri.
- 1:05:47Karena pendidikan dalam negerinya bagus banget.
- 1:05:49Produk pendidikannya keren.
- 1:05:51Jadi talenta dari dalam negerinya luar biasa.
- 1:05:55Yang kedua, <i>brain gain</i>, seperti Australia.
- 1:05:58Mereka membuka pintu bagi talenta dari seluruh dunia.
- 1:06:01Indonesia, India, Tiongkok, Bhutan, Singapura.
- 1:06:05Suruh datang, suruh kerja, mendukung industrialisasi.
- 1:06:09Yang ketiga, <i>brain circulation,</i> seperti Tiongkok.
- 1:06:13Sejak tahun 1978 sampai sekarang mengirim lebih dari 9 juta.
- 1:06:17Mayoritas belajar STEM. Mayoritas pulang lagi.
- 1:06:20Lalu mereka membangun BYD, Xiaomi, dan lain-lain.
- 1:06:26Nah, yang keempat, <i>brain linkage,</i> seperti India.
- 1:06:31Mereka mengirim lebih dari 7 juta orang selama 50 tahun.
- 1:06:34Mayoritas enggak mau pulang, Bro.
- 1:06:36Termasuk yang di Pasar Baru.
- 1:06:38Nah, tapi beberapa jadi Satya Nadella, Sundar Pichai.
- 1:06:43Tapi setiap hari mereka kirim WhatsApp ke keponakannya di Gujarat,
- 1:06:47ke teman SMP-nya di Kolkata. Terjadi keterhubungan.
- 1:06:51Indonesia ke depan sebetulnya kalau mau maju tinggal pilih aja.
- 1:06:57Mau <i>brain train, brain gain, brain circulation,</i> atau <i>brain linkage?</i>
- 1:07:02Kalau gua sih ngelihatnya<i> brain gain</i> sama <i>brain circulation. </i>
- 1:07:05Karena <i>brain train</i> kita enggak ada.
- 1:07:07Diaspora kita enggak lebih dari sekitar 300 ribu orang dalam 50 tahun terakhir.
- 1:07:12Tiongkok 9 juta orang, India 7 juta.
- 1:07:15Jadi kalau ngomong keunggulan komparatif, bagaimana kita bersaing
- 1:07:20dengan negara-negara berskala?
- 1:07:22Kita harus mengelola otak dan talenta.
- 1:07:24- Iya. Makanya gua bilang kita harus kembali ke alam.
- 1:07:27Karena pada dasarnya, modal utama kita adalah sumber daya alam.
- 1:07:32Sumber daya manusia, kita kalah.
- 1:07:36Sekarang yang kita punya adalah alam.
- 1:07:38Bagaimana kita memanfaatkannya.
About this transcript
This page contains the full transcript of Ferry Latuhihin: Batas Intervensi Pemerintah dalam Ekonomi | Endgame #271 by Gita Wirjawan, generated from the public captions YouTube serves with the video. The transcript has 7,876 words across 1,053 segments, with the original timestamps preserved so you can click any line to jump to that moment in the embedded player.
What you can do with it
Use the transcript to take notes, quote the speaker, build a study guide, generate a summary with ChatGPT or Claude via the YouTube Summary tool, or export it as a timed subtitle file with YouTube to SRT. You can also re-open it in the transcriber to translate the transcript into 100+ languages.
Free YouTube transcript tool
YouTube2Text is a free YouTube transcript generator — no signup, no daily limit. Paste any YouTube link and get the full transcript instantly, with timestamps, click-to-jump, translation to 100+ languages, AI prompts for ChatGPT, Claude, and Gemini, and exports to TXT, SRT, VTT, or Markdown.